CERPEN

Showing posts with label CERPEN. Show all posts
Showing posts with label CERPEN. Show all posts

Oct 5, 2014

Lelaki Fiksi Penyembur Ludah dan Perempuan Gila Berkacamata Hitam


Credit by 'tempotantrum'

Mulutnya kocar kacir. Entah sudah berapa banyak ludah yang disemburkannya, kepada perempuan gila berkacamata hitam yang merasa dirinya patetik. Bak seorang superhero, ia berdiri pongah di depan pintu kamar si perempuan gila. Ia dekati si perempuan gila berkacamata hitam, yang lantas dikecupnya. 

"Kamu akan baik-baik saja. Aku di sini, di sampingmu," ucapnya. 

Itu ludah pertama. Ludah yang bagaikan tiupan angin segar di telinga si perempuan gila berkacamata hitam. Yang lantas membuat perempuan gila itu melepas kutangnya. Tanpa melepas kacamata hitamnya, ia berikan wujudnya pada sang superhero. Ciuman mesra didapatnya saat itu juga. Birahi tanpa rasa yang mengisi ruang kamar berukuran tiga kali tiga meter.

Kulit penuh keringat tertembak sedikit cahaya kuning redup. Dinding seolah menjadi layar tempat gambar bayangan maju-mundur yang ditembak oleh proyektor di depannya. Bayangan hitam, tak terlihat percis gambar wajahnya. Hanya lekukan tubuh dan gerak maju-mundur.

Tak dinyana, dalam waktu yang cukup singkat, terasa juga akhirnya tembakan jitu sang superhero. "Aku sayang kamu," kata si perempuan gila yang masih saja menggunakan kacamata hitamnya. Sang superhero menjawab : hanya dengan sebuah anggukan kepala dan senyuman yang kali ini tidak berludah, mungkin.

Tujuh puluh delapan hari terasa sungguh sangat berwarna bagi si perempuan gila. Anehnya, biarpun warna kian terlihat, si perempuan gila tidak juga melepas kacamata hitamnya. Pasalnya, sang superhero pernah berkata : "Kamu terlihat begitu cantik dengan kacamata hitam-mu". Siapa yang tidak gembira? Terbang ke langit bersama burung-burunglah akhirnya si perempuan gila. Berharap masih banyak lagi kegembiraan-kegembiraan lain yang bisa dirasakan.

"Aku ingin bercinta denganmu, di bulan," ujar si perempuan gila.
"Kenapa tidak di bumi saja?" tanya sang superhero.
"Di bulan lebih indah. Bercinta sambil melihar kerlarp-kerlip cahaya. Lagipula, kata temanku, di bulan masih ada coklat," jawab si perempuan gila.
"Tapi aku ingin coklat buatanmu, bukan coklat yang ada di bulan," kata sang superhero yang sekaligus menutup perbincangan kali itu, yang juga menciptakan senyum simpul dari wajah si perempuan gila.

******

Sore ini, si perempuan gila menyiapkan secangkir kopi hitam untuk sang kekasih - sang superhero - yang berjanji akan datang. Katanya, ia berjanji akan bercerita tentang putri salju yang bangun dari tidur lamanya oleh ciuman seorang pangeran. 

Dua cangkir kopi hitam siap disantap. Di depannya, dua tubuh yang duduk berhadapan siap bermain drama tentang putri salju. "Kamu jadi putri salju, aku jadi pangeran. Anggaplah bahwa di sekelilingmu ada tujuh kurcaci," kata sang superhero. 

Setelah bermain-main dengan tujuh kurcaci yang abstrak, si perempuan gila melentangkan tubuhnya di atas kasur. "Kacamatamu tidak usah dilepas, agar tetap cantik," ucap sang superhero sembari bersembunyi di balik tembok kamar mandi. Lantas, mereka lanjutkan juga drama Putri Salju. Sang Superhero berlari pendek, duduk di samping kasur. Ia mencium bibir mungil si perempuan gila dengan begitu lembut. Percis seorang pangeran. Ciuman lembut seorang pangeran yang lagi-lagi membuat si perempuan gila harus melepas kutangnya. 

Hai, bukankah cerita Putri Salju berakhir sebuah roman bahagia? Namun dalam sore dimana sinar matahari menembus kaca jendela memberi barik-barik lembut pada udara, cerita Putri Salju berakhir dengan birahi. Fiksi yang dibuat menjadi semakin fiksi. 

Hari-hari terus berlanjut. Hari-hari dimana si perempuan gila tidak bisa membedakan mana yang hitam dan mana yang putih, mana yang fiksi dan mana yang bukan fiksi. Ia gundah. Ia lempar semua bonekanya (boneka-boneka pemberian sang superhero) hingga membuat kamarnya seolah menjadi istana boneka yang baru kedatangan maling. Tapi beberapa saat kemudian, ia peluk lagi bonekanya satu persatu. Lalu, ia lempar lagi dan peluk lagi. Lempar lagi dan peluk lagi. Gambaran fluktuatif dari dirinya yang sedang dirundung tanda tanya. 

Di hari ke delapan puluh lima, telepon genggamnya berdering. Nama "superhero" muncul di layarnya. Katanya :

"Kamu tidak akan baik-baik saja. Aku tidak akan ada di sampingmu."
"Aku tidak menganggukan kepala ketika kamu bilang sayang. Aku hanya membenarkan leherku yang pegal."
"Kamu tidak cantik dengan kacamata hitammu. Kamu aneh, seperti orang buta."
"Aku tidak suka coklat buatanmu. Terlalu manis."
"Tapi aku menyayangi kutangmu."

Nada bicaranya naik turun. Mungkin di seberang sana, ia berbicara sembari menyemburkan ludah kesana kemari. Suaranya keras hingga tak sedikit pun memberikan kesempatan si perempuan gila untuk bicara. 

Tepat pukul dua belas siang, mata si perempuan gila menyeringai. Mungkin sinar matahari terlalu terik untuk menyorotnya dengan begitu biadab. Matanya pegal. Ia lepas juga kacamata hitamnya, tanpa harus menyeringai karena sorot matahari. Badannya berputar-putar. Berputar di antara angka satu hingga angka ke delapan puluh lima. 

Dalam jurnal hariannya, ia tulis :

Delapan puluh empat hari kamu adalah fiksi, satu hari kamu adalah fakta. Iya, delapan puluh empat hari kamu hanya cerita fiksi yang hanya muncul dalam khayalku, yang nyatanya batang hidungmu saja tidak bisa kusentuh. Tapi hari ini kamu adalah fakta yang pantas menjadi headline surat kabar. Ah dasar, lelaki fiksi.


Rawajati, 5 Oktober 2014


** Sedang mencoba belajar membuat cerita cinta yang sehari-hari mungkin bisa kita lihat di kehidupan nyata. Maaf jika cerita cintanya terasa membingungkan. Salam bahagia!

Jun 1, 2013

Pahlawan Kebisingan


Tersebutlah sebuah kota kecil di Semenanjung Intan bernama Mara. Penduduknya saling kenal satu sama lain. Apa yang bisa diharapkan dari populasi yang sedemikian erat? Konflik dan masalah tidak menjadi bagian hidup Kota Mara, benarkah demikian? Sebut saja Dom si tukang roti, sedemikian baiknya ia sering membagikan roti segar setiap pagi pada tetangganya. Atau Seti si penjual bunga, jika ada yang berduka maupun bahagia, dia selalu siap membantu membuat karangan bunga yang indah yang ia ambil sendiri dari kebun bunga miliknya. Bahkan Bapak Walikota Sera pun merupakan cerminan teladan, betapa baiknya ia menjalankan pemerintahan di kota berpenduduk lima ribu jiwa itu.

Namun, setiap bagian sempurna dari sebuah cerita tidak lepas dari borok bukan? Di bagian ujung belakang kota, tempat yang tertutup dan terabaikan. Dimana cahaya matahari tidak selalu sampai di sana. Penyebabnya kepadatan, walaupun tidak bisa disebut miskin total. Nyonya Merau membuka salon kecantikan sejak 20 tahun lalu di daerah kumuh itu, Salon Bising namanya. Di sinilah segala ketidaksempurnaan terjadi, cerita-cerita bergulir secara cepat. Pelanggan-pelanggan si Nyonya bisa disebut sebagai biang gossip kelas wahid Kota Mara. Mereka selalu tahu apa yang sedang dan akan terjadi. Yah walaupun cerita mereka belum terbukti kebenarannya.

Nyonya Merau memperkerjakan tiga orang karyawan, dua perempuan Sali dan Emi, serta seorang, uhm, waria bernama Talia. Mungkin kehidupan mereka tidak lebih baik, tapi setidaknya Nyonya memperlakukan ketiganya dengan baik. Sali dan Emi tadinya wanita panggilan, bukan karena ingin, mereka terpaksa hanya untuk bertahan hidup dan menghidupi keluarga. Merau menyelamatkan mereka dari pelabuhan nelayan, keduanya ditemukan dalam keadaan kurus, kotor, dan mengenaskan. Sudah tidak ada harga dalam diri mereka jika bukan karena Merau.

Sementara Talia, ayolah, siapa yang akan menerima dirinya. Keluarganya sudah mengasingkan dirinya karena merasa ada yang salah dengan fisik dan gayanya. Bagian depan dan tengah kota terdiri dari keluarga terpandang dan baik-baik. Sistem norma Kota Mara – dari warga mayoritas tentunya – tidak mengijinkan hal-hal menyimpang terjadi. Wanita panggilan ditambah waria bukan sesuatu yang dianggap baik. Sementara Talia tahu betul dirinya tidak cocok menjadi lelaki, dia lebih senang berpakaian dan berkelakuan seperti wanita. Anggun dan cantik dengan rambut panjang yang tersibak lembut kala ditiup angin. Aku ini cantik. Begitulah dia bergumam pada dirinya sendiri.

Ketiganya ditawari pekerjaan di Salon Bising, sempurna menurut Merau, karena tidak ada yang perduli juga dengan latar belakang mereka di sini. Pelayanan yang baik jadi yang terpenting. Dengan begitu pelanggan merasa senang dan tidak segan berbicara hal-hal yang sebaiknya kau tahu tidak dibicarakan.

“Kau tahu tidak, ada yang bilang Seti itu sebenarnya sudah pisah ranjang dengan Sera sejak bertahun-tahun lalu!” seru seorang wanita gemuk berdada gempal, semangat. Teman baiknya segera menyahut, “Aku juga dengar itu, kabarnya Sera suka mengunjungi si penyanyi tenor Marla di rumahnya pada malam hari. Bukankah setiap ada acara di Gedung Kota dia selalu tidak absen diundang.”

Oh Sera, si walikota yang sedang berada dalam puncak gairahnya. Tampan dengan rambut ikal keabuan, hidung mancung dan mata bulat hitam. Kabar-kabar burung yang beredar dia suka melancong sana-sini. Tapi ya itu tadi, namanya juga gosip tidak ada yang tahu pasti kebenarannya. Kalau prestasinya memimpin Mara sih sudah tidak perlu diragukan lagi deh.

“Hmm nampaknya aku harus sering dan gencar bertanya pada pembantu-pembantu di Keresidenan, walalupun sebenarnya aku juga kasihan pada Seti, selalu murung dan muram durja.” balas si gempal.

Simpulan yang bisa diambil oleh para pekerja salon adalah sebenarnya hal-hal tidak sempurna itu juga terjadi di bagian depan dan tengah kota. Hanya dalam batasan yang berbeda, pandangan yang berbeda. Namun tidak dengan Talia, ada poin tambahan yang bisa didapatnya. Siapakah yang akan mengembalikan segala kekacauan ini pada tempatnya? Jika dia menjadi waria, itu sudah kodrat. Jika Sali dan Emi menjadi pelacur, itu karena nasib. Tapi, bagaimana dengan walikota yang berselingkuh? Bagaimana dengan tukang roti yang suka meracuni rotinya? Loh kok jadi panjang sih persoalannya? Makanya dibaca dulu ya cerita selanjutnya.

******

Di malam, di mana bintang-bintang di langit marah dan urung untuk menampakkan diri, Talia duduk bersimpuh di atas kasur kapuknya yang sudah berbolong. Ia teringat cerita yang bergulir di Salon Bising beberapa hari yang lalu. Tentang betapa kejamnya seorang ‘mami’ yang tinggal di perbatasan antara tengah dan belakang Kota Mara. Namanya Ketam, atau biasa dipanggil Mami Ketam.

Aku sering melihatnya. Bisik Talia dalam hati. Hmm.. ia adalah wanita berdada gempol yang tidak pernah lepas dari bumbu-bumbu yang menghiasi wajahnya. Apakah wajah seperti makanan, seperti daging anjing misalnya, yang jika diberikan bumbu, maka akan terasa lebih enak.

Bagi Talia, Mami Ketam bagaikan seekor anjing yang pantas diberi makian-makian berbahasa anjing. Ketam adalah iblis berbadan montok, yang menyiksa ‘anak-anak asuhnya’ sesuka hati. Bayangkan, menurut kabar yang bergulir beberapa hari lalu, para pelacur di sana, dipaksa harus melayani lebih dari tujuh pria dalam sehari. Ditambah setoran yang harus diberikan pada Ketam, yang jumlahnya tidak sedikit. Jika si pelacur mendapatkan upah lima puluh keping, maka mereka harus menyetor pada Ketam sebesar tiga puluh keping. Sisanya bisa mereka simpan untuk dikirim pada keluarga yang entah kapan bisa mereka sambangi.

Lebih parah lagi, Ketam memberikan perlakuan yang tidak sama pada anak-anak asuhnya. Untuk pelacur-pelacur berbadan bak biola tak berdawai, kulit seputih salju, hidung mancung walaupun mancungnya tidak melebihi hidung Pinokio, Ketam memberikan fasilitas khusus, seperti sebuah kamar dengan kasur empuk untuk melayani pelanggan. Dan tidak lupa, kamar mandi dalam. Sementara bagi pelacur yang tak berupa, tentunya kebalikan dari pelacur spesial tadi, Ketam hanya memberikan tempat di bawah solokan berbau pesing, yang hanya berbatas oleh kardus bekas.

Talia geram. Ia komat-kamit di dalam kaca. “Eh gila ya, sinting banget itu Mami. Talia, ayo dong.. Mampusin itu Mami. Kasihan dong pelacur-pelacur di sana. Apalagi yang harus ngelayanin om-om di bawah selokan. Mending kalau om-nya ganteng, ekeu juga mau. Gimana kalau yang datang itu supir truk yang membawa daging anjing untuk kota sebelah. Aaaaa ngga deh yeyyy.. Yang pasti ya, yey harus mampusin itu orang. Biar ngga ada lagi pelacur-pelacur yang kesiksa di sana. Biarin deh, mereka bisa usaha apa dari uang tabungannya. Atau kerja sama Nyonya Merau. Ah, dasar anjing bergincu merah kau Ketam!”

Jarum jam menunjukkan pukul setengah lima pagi. Waktu di mana para pelacur di perkampungan Mami Ketam sedang tertidur pulas bersimpuh di atas dada sang petualang terakhir di euphoria sejenak dalam malam itu. Begitu juga dengan Ketam. Ah ia juga sedang tertidur pulas dengan tangan seorang pria muda yang melingkar pada pinggangnya. Seolah menghabiskan sisa tenaga yang dikeluarkannya semalam tadi. Dan Talia berada di sana, di kompleks pelacuran kelas kakap Kota Mara. Kompleks yang terdiri dari pondok-pondok kecil dengan lampu yang berwarna-warni. Ada hijau, merah, biru, dan kuning. Tempat yang terlihat sepi tanpa kehidupan, namun di dalamnya tersimpan sejuta gejolak birahi yang saling sentil di sana dan di sini.
Talia mencari satu pondok paling istimewa. Pondok tempat Ketam dan pria mudanya beradu mimpi dalam liur yang keluar dari sela-sela kaki. Ha! Ia menemukannya. Sebuah pondok yang terletak agak menjorok ke dalam, terbuat dari rangkaian kayu jati yang dingin, dengan tirai merah yang lihai menyembunyikan pertarungan primitif antara dua binatang liar di dalamnya.

Talia pun bergegas mendekati pondok tersebut dengan perlahan. Berhati-hati jangan sampai ada yang melihatnya. Ah, lagipula siapa yang mau melihat. Di waktu yang begitu aneh ini, seluruh orang di sini sedang terlelap mendengkur di balik tubuh-tubuh yang telanjang. Ia sampai pas di depan pintu pondok kayu tersebut. Inilah waktunya. Bisik Talia dalam hati. Momen yang ia sebut sebagai momen “hap hap huray”. Hap! Ia menerkam mangsanya tanpa belas kasih. Lantas ia berteriak huraaaaaayyyyy.

Ya, momen yang sudah sering ia lalui. Seperti sebulan yang lalu, ketika ia memasukkan larutan hemlock ke dalam teh hangat yang ia berikan untuk Dom, si tukang roti. Yang tanpa menunggu waktu lama, meledakkan seluruh sel-sel yang berfungsi di dalam tubuh Dom. Sehingga ia lumpuh, lumpuh dari hidupnya. Ah suruh siapa! Dia sendiri yang mencari masalah, menyisipkan formalin ke dalam roti jualannya. Sudah banyak warga Kota Mara yang menjadi korbannya. Kalau dia terus dibiarkan hidup, harus berapa jiwa lagi yang melayang karena rotinya? Begitu teriak Talia dalam hati.

*****

Di dalam pondok kayu yang dingin dan remang-remang tersebut, Talia tersenyum beringas melihat dua monyet jantan dan betina yang sedang berlomba untuk mendengkur lebih keras. Di kedua tangannya sudah tersimpan dua bilah pisau tajam yang akan ia gunakan untuk menghabisi si anjing bergincu merah. Bodohnya, Ketam dan si pria pun malah tetap asyik dengan dengkurannya. Tanpa tunggu waktu lama, Talia langsung menerkam mangsanya. Ia tusukkan kedua pisau yang ada di kedua tangannya langsung ke tubuh bahenol Ketam dan perut pria di sebelahnya. HAP! HAP! HAP!

Berkali-kali ‘HAP’ ia keluarkan dari mulutnya. Yang berarti berkali-kali tusukan ia berikan kepada Ketam dan pria teman kencannya. Tak lupa, ia tusukkan pisau di leher keduanya, yang disusul dengan muncratan darah yang keluar dari kedua leher tersebut. Sambil terus berpesta tusuk menusuk, Talia berkata: “Mampus kau Ketam.. Ekeu sebel banget sama yeyyyy.. Auch, maaf pria ganteng, tapi sayang kamu malah bobo sama Ketam, jadi ketusuk juga deh..”

Semerbak wangi darah segar menghiasi pondokan tersebut. Setelah semalam pondokan tersebut penuh dengan wangi sperma yang bercak-bercaknya masih menempel di kasur berlapis kain sutera, sekarang wangi itu berubah menjadi wangi darah segar.

Setelah puas dengan pesta tusuk menusuk yang meriah, dan setelah yakin bahwa Ketam dan si pria sudah tidak bernyawa lagi, Talia bergegas meninggalkan pondokan. Dengan cekatan, ia lari menjauh dari area kompleks pelacuran yang mungkin sebentar lagi akan mati. Ataukah akan ada pemimpin baru yang lebih kejam? Entahlah.. Jikapun ada, maka bersiaplah dengan pesta meriah persembahan Talia. “HURAY”. Talia pergi menjauh.

*****

Keesokan harinya Mara gempar. Penemuan dua tubuh tanpa busana, yang satu dikenal sebagai Mami Ketam. Tidak ada yang heran kalau dia ditemukan mati tanpa busana. Tapi pria yang ditemukan mati bersamanya tanpa busana. Sera! Ya ampun benar saja geger satu kota karena penemuan itu. Ternyata benar apa yang digosipkan oleh ibu-ibu di Bising. Kalau Sera suka melancong. Ih rusak semua repitasi baik-baik Sera sebagai walikota.

Sementara itu, kabar mengenai kematian Ketam dan Sera tersebar cepat bagaikan semut menemukan gula. Talia juga sudah mendengarnya“Bok ya ampuuun gak nyangka deh kalau yang semalam eike bunuh tuh salah satunya si Sera. Mampus aja tuh orang, ketahuan deh sekarang belangnya, selamat tidur dalam kubur sayang! Hahahahah.” Talia yakin setidaknya dua keadaan sudah terkendali, tidak perlu ada gunjingan lagi soal Walikota yang hobinya selingkuh. Tidak ada lagi mami germo yang suka menyiksa anak buahnya.

Pemakaman Sera dilakukan secara sederhana, aib sudah tersebar, tidak ada warga yang sudi mendatangi penguburannya. Tapi Talia sengaja datang untuk melihat bagaimana reaksi janda Sera, Seti, di pemakaman. Ya amplopp, ternyata dia nangis kenceng banget! “Eh Seti, guwe kasih lu pelajaran nih, jangan terlalu cinta sama orang mau aja yey ditipu selama bertahun-tahun. Lekong yey tuh gak pantes hidup. Kebanyakan cita-cita tanpa ada perbaikan deh.” cerocos Talia sambil berbisik dari balik pohon.

Kalau saja hidup bisa diatur seperti apa yang diinginkan Talia, Mara pastinya sudah menjadi kota paling becus di dunia. Tapi Talia sungguh naif, dia bisa mengerjai Dom dan membunuh Ketam serta Sera karena merasa mereka memang pantas menerimanya. Tapi dalam hidup setiap manusia, bahkan yang paling keras sekalipun akan ada satu momen dimana kenyataan bisa jadi lebih menyebalkan dari hidup manusia itu sendiri.

*****

Suatu pagi yang cerah, suasanan hati Talia sedang bagus, tapi setiap hari juga begitu. Selalu heboh dan ceria siap membuka salon. Sebenarnya sih salon baru buka pukul 10, tapi okelah demi kepuasan pelanggan dan Nyonya Merau, Talia sengaja datang lebih pagi untuk membersihkan salon. Dia tahu Sali dan Emi habis berkencan dengan pelaut-pelaut dari Laut Seberang semalam, jadi mereka sudah pasti tidak akan datang tepat waktu untuk berbenah.

Jalanan masih sepi, berkas debu menari tertimpa sinar matahari. Dua belokan lagi sebelum sampai salon, tepat di lorong besar penuh dengan sampah dan jemuran, Talia melihat Merau tergesa keluar dari rumah peracik obat sambil membawa bungkusan hitam besar. “Eh mau kemana tuh si Nyonya? Pagi-pagi gini udah ada di jalan ajah.” pikir Talia heran dengan penuh selidik. Diputuskannya untuk mengikuti kemana Merau pergi, salon bisa menunggu.

Seperti detektif, Talia semakin mahir membuntuti orang, sukses dia mengikuti Merau yang ternyata kembali ke rumahnya. “Kok mencurigakan gitu sih. Gak kaya orang abis belanja dari pasar deh, lagian pasar kan bukan di situ tadi.”

Dengan cekatan Talia memanjat tembok pagar rumah dan mengintip ke dalamnya. Dia bisa melihat pemandangan dapur Merau dari situ. Eh apa itu? Tampak Merau sedang mengeluarkan paket-paket bungkusan yang lebih kecil, Talia memicingkan matanya. IDIIIH! Jadi ternyata ternyata…selama ini Nyonya yang jualan obat terlarang pada para penduduk kota! Talia pun tertegun, kepalanya pening, tubuhnya seolah membeku. Haruskah dia mengerjai Nyonya Merau yang selama ini telah begitu baik padanya? Nyonya yang telah memberi kesempatan pada Talia yang hampir dikalahkan oleh kodrat. Segera kau putuskan ya Talia…


(Asri Wuni & Yasmina Anindyajati | Dari Awiligar menuju Gegerkalong)

May 26, 2013

Metropolhectic: Perlahan Mati


Aku berdiri di sini. Di tengah persimpangan jalan. Jika kamu melangkah ke utara, kamu akan menemukan berbagai macam mall-mall tempat mereka memamerkan gaya hidup. Dan jika kamu memilih untuk melangkah ke barat, kamu akan menemukan gedung-gedung tinggi perusahaan-perusahaan besar tempat mereka mencuri tenaga mereka-mereka yang kecil. Lalu, apabila kamu melangkah ke timur, kamu akan bertemu dengan gedung yang orang sebut gedung tempat menuntut ilmu namun jadinya gedung untuk mencari jodoh dan menghabis-habiskan uang orang tua. Dan terakhir, jika kamu memilih untuk berjalan ke selatan, kamu akan melihat mobil-mobil mewah yang keluar masuk gerbang sebuah gedung megah tempat mereka-mereka yang katanya mengatur kebijakan Negara.

Bukan aku tak tau mau ke mana. Namun aku bingung. Aku bingung dengan ledakan apa yang ada di kota ini. Mengapa mobil-mobil mengkilap ada di mana-mana? Dan kau tahu, mobil-mobil mengkilap itu dihiasi oleh warna-warni bis-bis kecil yang juga ikut menyemarakkan kota. Ditambah dengan kepulan asap hitam yang menyapu bersih udara segar yang seharusnya kita hirup.

Aku hanyalah seorang pekerja biasa. Aku bekerja di sebuah perusahaan, di mana para pekerjanya hanya diberi upah satu juta lima ratus ribu rupiah per bulan. Padahal jam kerjanya mencapai dua belas jam. Bagiku, itu tidak sebanding dengan pengeluaran sebulanku. Aku harus membayar harga sewa kost kamar, mengirim uang ke kampung, dan juga untuk makan. Di mana ditemukan makan satu piring seharga empat ribu rupiah, di sini?

Selain itu, teman-teman kantorku pun senantiasa mengajakku keluar di malam minggu. Hanya untuk sekedar nongkrong di cafe-cafe ala perkotaan yang artinya, aku pun harus mengeluarkan budget lebih.

Untungnya, hari ini bukan hari Sabtu. Tapi hari Senin, di mana aku harus memulai lagi rutinitasku setelah berleha-leha selama dua hari. Ini pukul tujuh pagi. Lihatlah, bahkan kota ini pun sudah penuh sesak di waktu yang sepagi ini. Di kotaku dulu, jam tujuh pagi adalah waktu yang bagus untuk kita berjalan-jalan. Di sini pun aku berjalan-jalan, menuju kantorku.

Sebenarnya aku masuk pukul sembilan pagi. Namun karena kemacetan yang selalu melanda kota ini, aku harus mengambil ancang-ancang lebih cepat. Lagipula bis yang akan aku tumpangi selalu penuh sesak. Walaupun hanya telat sepuluh menit, bersiaplah kau akan tertinggal oleh bis. Maka dari itu, daripada hanya terus memandangi semrawutnya mobil-mobil berjalan, lebih baik aku bergegas mencari bis-bis yang sedang menunggu penumpang.


"Dimulai ketika ayah pergi.. Kami hidup dalam keterbatasan.. Hal itulah yang membuat aku harus hidup di jalanan.. Saat kami tak mengerti apa arti perceraian.."

SEORANG anak muda dengan pakaian seadanya mendendangkan sebuah lagu sambil memainkan gitar kecilnya. Lirik yang begitu jujur dan apa adanya keluar dari mulut seorang remaja yang terpaksa harus menjadi seorang pengamen karena segala keterbatasan dalam keluarganya. Beberapa orang memberinya receh demi receh, termasuk aku. Bahkan masih banyak juga orang yang acuh tak acuh terhadapnya.

Aku tak menyangka, di kota yang segembira ini, ternyata jumlah pengamen jalanan masih mencapai angka tiga ribu lebih. Dulu, sewaktu masih di kampung, aku berpikir bahwa kota ini adalah kota di mana semua orang bisa mendapatkan kemakmuran dan kesejahteraan materi. Termasuk aku, yang jauh-jauh dari kampung sana pergi ke kota ini untuk mendapatkan uang sebesar satu juta lima ratus ribu rupiah per bulan. Namun ternyata, di sini masih saja ada orang-orang yang tidak bisa mendapatkan kesejahteraannya, bahkan banyak.

Bis ini begitu sesak. Dan benar saja, aku tak kebagian kursi untuk duduk. Aku hanya bisa berdiri sambil menciumi bau-bau tubuh penat setiap orang. Tak apalah, setidaknya aku bisa memperhatikan orang. Dan aku melihat seorang pria dengan tubuh kurus dan mata yang memerah masuk ke dalam bis. Aku tak tahu siapa dia. Namun, aku menaruh perhatian terhadapnya.

Sepanjang perjalanan, aku perhatikan orang-orang yang ada di dalam bis. Dan juga pria bermata merah itu. Dan tiba-tiba saja, di tengah perjalanan, aku melihat pria itu merogoh salah satu tas milik seorang perempuan. Baru kusadari ia adalah seorang pencopet. Aku tak bisa melakukan apa-apa, karena aku pun takut jika ia menyerangku balik. Lagipula aku tak peduli. Aku masih aman dan tidak dirugikan sama sekali. Biarkan saja orang lain yang rugi. Toh kata orang, di sini adalah kota yang dimana orang-orangnya sangat individualis.

"Eh, nanti pas jam istirahat kamu antar aku ke mall ya. Ada tas keluaran terbaru yang ingin kubeli," sahut seorang perempuan di sebelahku kepada temannya.
"Oke, nanti juga aku sekalian mau membeli krim-krim untuk wajahku. Krim wajah dari dokterku habis, aku tak mau wajahku bermegaran," jawab si teman sambil terus memandang ke arah handphone canggih yang sedang digenggamnya. "Eh aku dapat invitation untuk malam minggu nanti di club, untuk dua orang. Kamu mau ikut?", lanjutnya. Dan si teman menjawab dengan anggukan kepala tanpa sedikit pun melepas perhatiannya dari seluler pintar yang terus menerus ia genggam erat.


DUA koran pertama telah aku habiskan. Ya, aku memang rajin membaca koran. Bukan karena ingin, tapi karena memang inilah pekerjaanku. Meringkas semua berita dari koran-koran yang ada. Banyak berita-berita yang berasal dari kota ini. Mataku mendadak miring ketika membacanya. Bukan karena aku juling, tapi sungguh, percayalah, berita-berita ini membuatku bosan. Selalu ini dan itu. Tidak akan jauh dari berita yang berkisar mengenai pejabat yang dinilai lalai dari tugasnya.

Aku tutup koran yang kedua, karena sekarang waktunya istirahat.

"Gi, ayo kita cari makan siang bersama. Anak-anak mau makan siang di Starducks. Kau mau ikut?" seorang teman mengajakku untuk makan siang bersama. Ah, sebenarnya aku malas. Makan siang di Starducks bisa menguras kantongku. Tapi bagaimana, jika aku menolak, nanti bisa-bisa aku disebut sebagai orang yang tidak bisa bergaul. Maka dengan terpaksa aku mengangguk.


SATU gelas Peppermint Mocca Frappucino dan satu box Tuna Salad sudah ada di depan mataku. Aku tak habis pikir, mengapa aku sampai hati mau-maunya melahap makanan-makanan semacam ini. Dulu, sewaktu di kampung, aku biasa makan dengan sayur bening dan telur dadar. Tapi sekarang, karena pergaulanlah aku sedikit demi sedikit meninggalkan sayur bening dan telur dadar.

"Hei, malam minggu nanti kita mau kemana?" tanya Ringgo, si lelaki berbadan besar, namun pasti kau tak akan menyangka jika aku bilang dia menggenggam empat wanita di tangannya. Aku sendiri tak tahu apa kelebihannya sampai-sampai ia bisa mempacari empat wanita sekaligus. Dengan bermodalkan empat handphone alakadarnya, ia berhasil menghindari sebuah kecelakaan yang dinamakan 'salah sms'. Dan setelah itu, terjadilah percakapan remeh temeh yang berhasil membuatku cukup menjadi pendengar yang baik dan pengangguk kepala yang cekatan. Begini, aku salinkan percakapan remeh temehnya.

"Memangnya kamu tak ada janji dengan pacar-pacarmu itu?"
"Oh tenang.. Nanti aku akan pergi bersama Syila."
"Lalu yang lain?"
"Aku bilang saja aku ada acara bersama keluarga, beres kan? Jadi kemana kita nanti?"
"Kita ke club tempat biasa kita main. Gimana?"
"Oke! Setuju."

Dan menganggukkan kepala, lantas tersenyum.


TAK terasa aku sudah berada di hari Sabtu. Hari terakhir dalam satu minggu di mana setiap orang memanfaatkannya untuk bersenang-senang. Ya, dengan alasan lelah dan penat dengan rutinitas sehari-hari yang membosankan. Memang tidak semua, tetapi kebanyakan. Dan aku menjadi bagian dari yang kebanyakan. 

"Gi, siap-siap ya. Satu jam lagi saya sampai di depan kostan, kita langsung berangkat ke club." Begitulah isi pesan singkat yang kuterima dari Ringgo. Aku tak lupa, bahwa hari ini aku akan menjadi yang 'kebanyakan', melepas penat setelah lelah dengan rutinitas sehari-hari.

Satu jam berlalu, dan sekarang aku berada di dalam mobil mewah ber-AC. Aku bisa merasakan nyaman, tidak seperti hari-hari kemarin yang selalu bertarung dengan bau keringat yang berteriak ingin cepat sampai pada tujuan. Lama kunikmati perjalanan yang isinya hanyalah barisan mobil-mobil mewah dan gedung-gedung tinggi menjulang yang seolah-olah hendak mencakar langit. Dan, akupun sampai pada tujuan, sebuah club malam di mana aku akan bersenang-senang di sana.


HENTAKAN tempo musik cepat membuat rona merah di pipiku. Hentakan itu membuat perutku terasa bergoncang kuat. Hentakan itu membuatku merasa mengangkat kepalaku ke atas menuju lampu-lampu yang menari bergoyang ke kiri dan ke kanan. Hentakan itu membuatku lengah, mungkin hampir tak sadarkan diri. Tapi tunggu, selintas kuingat mungkin beberapa jam yang lalu, seorang teman dan teman lainnya membuka tutup botol sambil tertawa terbahak-bahak. Apa aku ikut meminumnya? Sudah tentu.


LEMAS kurasa badanku. Terkapar lemah di kasur kecil yang aku tak tahu siapa pemiliknya. Yang aku ingat, aku rasa tadi ada mobil yang hampir menabrakku ketika aku berjalan tergopoh-gopoh di pelataran gedung, dan mungkin aku ikut masuk ke dalamnya. Dan sekarang, yang kulihat adalah seorang perempuan yang tubuhnya hanya terbungkus kain selimut memandangku sambil berkata, "Mana bayaran saya? Saya harus bekerja lagi.".

Terpaksa aku keluarkan lembar-lembar terakhirku, dan kuberikan padanya. Tinggal menunggu telepon dari istriku di kampung yang mengomel tentang uang yang belum juga kukirim dari sini.

Ya, kota ini membuatku perlahan mati.


Feb 17, 2013

Lendir Pertama untuk Layung


Pantai ini adalah pantai tak berpenghuni. Pantai tanpa gaduh suara bising. Putih pasirnya isyaratkan kesunyian yang disembunyikan di balik batu karang yang terbalik. Sungguh pantai yang kosong. Seperti diriny, Layung yang kosong. Layung yang warna merahnya memudar oleh jeritan burung-burung gagak yang terbang mencari mangsa. Layung yang sinarnya sejenak memecahkan pandangan dalam pupil yang mengecil. Layung dengan hamparan air laut yang airnya telah tercampur oleh peluh dengan rasa sendu.


IA berdiri tegak di tengah hamparan pasir putih. Angkuh. Merah kulihat warnanya. Seperti rona pipinya yang memerah ketika kusentuh pundaknya yang suci. Kuning kulitnya setengah tertutup oleh bubuk-bubuk pasir putih yang berterbangan terbawa angin dari selatan. Seluruh tubuhnya diselimuti oleh pertempuran matahari yang memaksa masuk ke bawah permukaan air laut yang biru.

Dari samping, kulihat biru bola matanya melepuh oleh panasnya air mata yang tergenang. Air mata itu hanya tergenang. Tak bisa menetes bebas. Seperti terkungkung oleh benteng batu yang keras. Bahkan aku tak tahu apa yang ditangisinya. Haruskah aku mencari tahu?



"Di depan kau lihat air laut berwarna biru. Ia cukup tenang. Tapi kau tahu? Sekali kau menjamahnya dalam-dalam, kau akan tenggelam ke dasar laut. Itulah perempuan", ucapnya tanpa getar. Tak tega rasanya aku untuk membalasnya. Itulah perempuan. Selalu terlihat tenang. Namun, jangan sampai kau koyahkan sedikitpun ketenangannya.

 
Cukup lama kami terdiam. Memandang pertempuran antara merah menyala dan biru tenang di depan mata kami berdua. Akankah mereka menjadi ungu? Seperti kami. Menyala mataku melihat kedua kaki telanjangnya yang seperti hembusan udara melayang di atas pasir tak bernyawa. Tenang dirinya memandang adu ombak yang perlahan membasahi kedua telapak kakinya. Mungkinkah kami pun menjadi ungu?




Metafora ini tersimpan dalam makna yang serba tak terduga. Ungu, bagaikan metafora yang datang tanpa direncakan. Sekali lagi, akankah kami menjadi ungu?


Pemandangan di depan kami tak kunjung menjadi ungu. Namun, aku sudah bisa merasakan hembusan nafasnya dari jarak terdekat yang kami miliki. Kurasakan sedikit basah di bibirku yang ternyata telah memagut bibirnya yang layu. Tapi ternyata, pertempuran antara merah menyala dan biru tenang masih belum tuntas. Mereka malu-malu. Bersembunyi di balik bibir kami yang saling memagut.


Pasir putih terasa hangat kuraba. Tak sadar, kami sudah terlentang di atas pasir putih yang kelak menjadi saksi. Kuraba kedua kakinya yang murni. Kudekap pinggangnya yang polos. Kubelai wajahnya yang asli. Kusentuh pundaknya yang suci. Yang kelak kutahu, pundak yang tak pernah diraba oleh lelaki manapun.  



KURASA biru ketika aku menciumnya dalam. Kurasa abu ketika kuangkat bibirku perlahan. "Ini yang pertama. Akankah menyenangkan?", tanyanya pelan sembari memalingkah wajahnya ke batu kerikil yang telah setia menjadi penonton adegan demi adegan yang kami buat.
 

Adalah dirinya, yang dengan keras mempertahankan kemurnian mahkotanya. Adalah dirinya, yang terpaksa menganggukkan kepalanya ketika ia diminta untuk menyerahkan mahkotanya pada seorang pria tua demi hutang keluarga. Dan, adalah dirinya, yang lari dari kenyataan yang baru saja terjadi satu hari yang lalu. Ketika seorang pria tua berbadan gemuk mencoba untuk menggerayangi tubuhnya sampai habis. Ia lari. Lepas. Dan pantai sunyi inilah yang ia temukan.

Sekilat cahaya abu melewati pandanganku perlahan. Sekilas, wajahnya nampak semu. Kosong kulihat sorot matanya. Apakah kerikil itu bagaikan kerikil di antara pohon kaktus? Begitu susah dilewati.
               

Kuangkat sedikit gaun merahnya. Sejenak aku tak mengerti apa yang akan kulakukan. Kuraih tubuhnya yang mungil. Kugerayangi perlahan. Polos.

Ia menggerayangi tubuhku. Lembut. Tidak kasar. Aku terkungkung oleh campuran energi positif dan negatif saat ini. Apa jadinya?

Aku lumat bibirnya. Kuharap air liur kami bercampur menjadi satu. Menjadi keunguan, seperti yang kuinginkan.

Zat kimia apa saja yang terdapat di dalam air liur? Apa yang akan terjadi jika air liurku bercampur dengan air liurnya? Ungu, kaukah itu?

Kurasa basah tubuhnya menggerayangi tubuhku. Basah di sela-sela kaki..

Gerakan aneh ini seperti memberikan aliran listrik pada tubuhku. Badanku gemetar. Namun peluhku menjadi saksi keindahan. Apakah ini sementara?



INI basah. Peluh kami bersatu. Pertempuran sengit antara merah menyala dengan biru yang tenang mendadak hilang. Kami tak sadar pertempuran itu sudah hilang. Tergantikan oleh rona keunguan di balik tubuh kami yang berbalut peluh. Pertanda gelap sudah datang.

"Namaku Layung. Terimakasih untuk lendir pertama yang kau berikan."

Layung menghilang. Menjadi sinar keunguan yang tampak dari celah-celah langit malam.
"Layung, akankah ada layung berikutnya di pasir putih ini?