KOTA

Showing posts with label KOTA. Show all posts
Showing posts with label KOTA. Show all posts

Dec 3, 2013

Ribuan Pohon Emas, Ribuan Keributan





Mungkin, salah satu alasannya adalah karena di sana banyak pohon emas bergelantungan. Sehingga tempat tersebut penuh dengan kerumunan orang. Mereka mencari impian akan emas. Atau juga mereka yang berkedok mencari pengalaman untuk berpetualang. Lantas, apakah impian akan emas itu benar nyata? Atau hanya sebuah mimpi yang imajiner?

Banyak orang rela berpanas-panas dan bermacet-macet di Jakarta. Kata orang, kota metropolitan. Alasan klasiknya adalah perihal karir. Bahkan ada juga yang rela atau mungkin terpaksa berkarir sebagai gelandangan karena ternyata impian emas begitu sulit didapat karena alasan status sosial dari berbagai latar belakang yang kurang mumpuni.

Nyatanya bus jurusan Jakarta dari terminal Leuwi Panjang, Bandung akan selalu penuh di Senin subuh. Ternyata mereka pun rindu kampung halaman dan juga keluarganya. Rata-rata dari mereka turun di pusat-pusat perkantoran. Jakarta mungkin memang menyimpan sejuta peluang.

Katanya, Jakarta adalah kota yang sangat keras. Apa yang keras? Seperti besi? Tapi Jakarta tidak cocok bagi mereka yang keras kepala yang dengan bangganya selalu mengagungkan idealisme.

Banyak cerita yang saya dapat dari kota Jakarta. Salah satunya cerita dari salah seorang pengamen jalanan. Mereka bercerita bahwa sesungguhnya penghasilan mengamen di Jakarta lebih menggiurkan daripada di Bandung. “Di san amah enggak ada yang ngasih receh dua ratusan. Minimal juga lima ratusan..”. Begitulah seorang kawan bercerita. Bahkan Jakarta pun cukup menggiurkan bagi para pengamen yang menaruh sebagian hidupnya di jalanan.

Namun tak ayal, pada akhirnya mereka pun kembali ke Kota Bandung. Mungkin alasan utamanya adalah kejenuhan atas hectic-nya sang Jakarta. Siapa yang tidak akan jenuh dengan kemacetan atau semrawutnya lalu lintas dan jalanan yang harus dilewati setiap harinya?

Perkembangan di Jakarta memang sangat pesat. Termasuk salah satunya perkembangan penjualan kendaraan bermotor, khususnya mobil. Bahkan pengadaan busway pun dirasa tidak terlalu berpengaruh. Bagaimanapun, Jakarta akan tetap menjadi Jakarta. Si kota emas dengan berjuta keributan. Keributan polusi udara, keributan klakson mobil, keributan demonstrasi, dan keributan-keributan lainnya. Sampai keributan para sosialita yang gemar merumpi di café-café papan atas dengan air mineral seharga lima ribu rupiah atau lebih.

Begitulah.. Biarpun ditantang dengan berjuta keributan, tapi tetap menawarkan berjuta pohon emas. Jakarta. Kota yang kusambangi hari kemarin.  

Jun 6, 2013

Kicau Ironi dari Keringat yang Mengucur



Jalanan yang ramai, penuh dengan lalu lalang masyarakat yang hilir mudik kesana kemari. Sampah-sampah yang berserakan menjadi pemandangan yang selalu saya lihat dari menit ke menit. Tidak! Saya bukan bermaksud untuk menceritakan tentang daerah yang kotor penuh dengan sampah. Ada hal menarik yang saya dapatkan tempo hari, ketika saya harus mengunjungi kantor redaksi salah satu media massa yang berlokasi di ujung Kota Bandung. Hal menarik itu saya dapatkan dari balik jendela angkutan kota.

Angkot dengan rute Caringin - Dago adalah angkot dengan rute terpanjang di Kota Bandung (setidaknya begitu yang saya rasakan selama bertahun-tahun menjajaki angkot-angkot di Bandung). Namun dengan panjangnya rute, panjang juga pengalaman yang didapat. Kalau boleh saya berkata, jalur angkot ini adalah jalur yang sangat merakyat. Bagaimana tidak? Lebih dari dua pasar harus dilewati. Mulai dari pasar tradisional sampai pasar-pasar dadakan di pinggir jalan. Tak lupa, sampah-sampah yang menumpuk pun harus berkali-kali saya lewati. Dan di tempo hari itu, saya menjadi penumpang setia.

----------

Namanya Sukir. Saya memanggilnya Pak Sukir. Seorang supir angkot dengan rute Caringin - Dago. 

"Haduh euy.. Macet kieu atuh jalanan teh.."

Tiba-tiba Pak Sukir mengoceh pelan sambil menggaruk kepalanya yang mungkin sudah penuh dengan keringat lengket karena kelelahan. Lantas, terjadilah obrolan panjang yang menemani setengah perjalanan saya di dalam angkot tersebut.

Sebagai seorang supir angkot dengan rute perjalanan yang begitu panjang, tentunya Pak Sukir merasa terganggu dengan kondisi jalanan yang selalu macet. Masyarakat Bandung pasti tahu, daerah-daerah yang dilewati oleh angkot Caringin-Dago ini adalah daerah-daerah yang sudah terbiasa dengan kemacetan. Menurutnya, pemukiman penduduk di daerah Bandung Barat, Bandung Selatan (daerah-daerah yang dilewati angkot) terlalu padat, sementara lapangan pekerjaan selalu terletak di pusat kota. Seperti masalah klasik yang dialami Indonesia, mengapa pembangunan selalu terjadi di pusat sehingga yang terletak di pinggiran selalu terlupakan? 

"Ah Neng.. Biar saya orang nggak punya cuma bisa jadi supir angkot, tapi saya juga pengen atuh nyaman tinggal di Bandung."

Kenyamanan tinggal di kotanya pasti menjadi keinginan setiap orang. Tapi bagaimana bisa nyaman jika pada kenyataannya kondisi yang ada selalu membuat mereka gundah? 

"Coba Neng, kenapa masyarakat Bandung yang tinggal di daerah Barat atau daerah pinggir yang lain terkesat lebih rendah dibanding yang tinggal di tengah kota?" Saya menggelengkan kepala dan bertanya mengapa. Ternyata jawabannya kembali lagi pada jawaban sebelumnya, karena pembangunan yang tidak merata di seluruh Kota Bandung. Ia bercerita tentang anaknya yang berhasil ia kuliahkan namun sulit mendapatkan pekerjaan. Menurutnya, di daerah pinggir Kota Bandung, pekerjaan yang ada paling mentok menjadi pegawai pabrik atau tidak pegawai toko. Benarkah begitu? Ah saya baru sadar jika saya kurang peka terhadap kondisi kota yang saya tinggali saat ini. Tapi tiba-tiba kami mendengar suara tin.. tin.. tin.. Klakson kendaraan yang seolah-olah berlomba mana yang paling keras. Dan nyatanya, macet lagi dan lagi. 

Dalam hati saya mengumpat, mengapa terus macet. Padahal saya harus mengejar waktu untuk cepat sampai ke tujuan. Akhirnya kembali saya membuka obrolan. Obrolan mengenai kendaraan yang begitu banyak menumpahi jalanan. Saya mengeluh pada Pak Sukir, mengapa banyak sekali motor dan mobil saat ini. Padahal coba perhatikan, di dalam setiap mobil mewah yang kinclong itu hanya terdapat satu penumpang saja. Begitu juga dengan mobil-mobil kinclong yang lain. Mungkin itulah mereka, yang jika anggota keluarganya berjumlah empat orang, maka mobil yang dimiliki pun harus empat biji. 

Laju pertumbuhan penjualan kendaraan di Indonesia memang kencang. Bayangkan, menurut data yang ada, penjualan mobil tumbuh di atas 15% selama tiga tahun belakangan ini. Saya mengumpat terus menerus dalam hati. Sayangnya, malam umpatan kasar yang keluar dari mulut. "Dasar orang kaya! Gampang sekali mengeluarkan uang untuk membeli mobil yang pada akhirnya membuat jalanan semakin padat dan semrawut. Untung mereka orang kaya duit, bukan orang kaya kambing." Pak Sukir tertawa mendengar umpatan saya yang mungkin terlihat menggebu-gebu. Tapi ternyata ia pun setuju dengan apa yang saya katakan. "Bener Neng.. Kalau beli mobil makin gampang, ya orang-orang yang kaya saya ini yang tepuk jidat. Makin kosong deh setoran.. Hahaha."

Dalam kepalanya, Pak Sukir berpikir bahwa laju pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor yang terus menerus meningkat dari tahun ke tahun tersebut sangat merugikan pihaknya sebagai supir angkot. Terbukti, menurutnya semakin kemari, jumlah penumpang angkot semakin sepi. Dan pada ujungnya hal itulah yang membuat para supir angkot memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, lantas menunggu lama untuk mencari penumpang yang dalam istilah sehari-harinya "ngetem". Kebiasaan "ngetem" yang tidak disukai penumpang seperti saya. "Mau bagaimana lagi, saya kan harus nyetor.. Yah harap saling pengertian aja dari penumpang mah. Namina ge milarian cicis, Neng" Saya tersenyum. Dalam hati saya berpikir, benar juga, setiap orang mempunyai jalannya masing-masing dalam mencari uang. 

Perjalanan terus berlangsung. Perempatan demi perempatan saya lewati. Cuaca terik menyengat kulit saya yang bersembunyi dari balik jendela. Pak Sukir terus meneriakkan "Caringin Neng..Caringin..Hayu!" pada setiap orang yang dilihatnya berdiri di pinggir jalan. Penumpang di dalam angkot pun silih berganti. Mereka datang dan pergi lalu berganti dengan penumpang lainnya. Dan sampailah kami di sebuah pasar tradisional yang begitu kotor. Melihat proses tawar menawar antara pembeli dan penjual. Menyenangkan, angkot yang saya tumpangi harus menyusuri jalanan pasar yang becek dan bau. Pasar Ciroyom. 

Sekalipun sudah dibangun sebuah gedung yang lebih bersih ternyata masih saja ada pedagang-pedagang nakal yang memaksakan diri berjualan di pinggir jalan hingga jalanan menjadi kotor dan becek. Entah apa alasan mereka yang memaksakan diri untuk berjualan di luar gedung pasar. Saya jadi teringat cerita mengenai kawan-kawan saya di Purwokerto sana. Cerita mengenai sekelompok pedagang yang biasanya berjualan di pinggir jalan yang terus menerus mengakibatkan kemacetan. Pada akhirnya pemerintah setempat membangun sebuah gedung untuk mereka. Memang, letaknya agak menjorok ke dalam. Para pedagang pun menolak. Alasannya karena merasa takut akan kehilangan pelanggan jika harus berpindah tempat. Pada suatu hari mereka memaksakan untuk tetap berjualan di pinggir jalan. Akhirnya terjadilah bentrokan antara pedagang, masyarakat dan Satpol PP. Saya menceritakan hal tersebut pada Pak Sukir. Beliau tersenyum sambil berkata..

"Yah Neng, nggak munafiklah saya juga pasti pengen nyaman. Tapi buat orang-orang kaya kita mah, nyaman atau nggak nyaman mah nggak begitu penting. Yang penting itu kita mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari. Saya juga capek ngurilingan Bandung, keringat ngucur. Tapi da kumaha deui atuh Neng.. Kehidupanlah, Neng."

Mungkin benar adanya. Mereka mencari kehidupan. Mereka mencari nafkah. Sampah-sampah yang menggunduk itu membuat saya termenung seketika. Ternyata gundukan sampah pun tidak membuat mereka menyerah dan mengeluh. Ah.. Ironi yang tersimpan di balik bangku lusuh dalam angkot.

----------

Roda mobil yang saya tumpangi terus berputar. Dari spion mobil, saya melihat wajah-wajah yang kelelahan menahan panas. Berganti-ganti wajah saya lihat dari tempat saya duduk. Mereka memberikan beberapa lembar ribuan atau bahkan beberapa keping koin receh. Ternyata, hiruk pikuk kicau-kicau mulut di bagian belakang yang sedari tadi ramai semakin menghilang ditelan tujuan. Dan saya, terus menunggu kapan saya bisa melihat kantor redaksi yang saya tunggu sedari tadi? Ternyata sayalah si penumpang setia. 

Bersama Pak Sukir saya mengadu kicau. Bersama saya, Pak Sukir mengadu kicau. Kicauan polos dari seorang supir angkot yang tak pernah berhenti mengelap keringatnya yang kian mengucur. 


May 26, 2013

Metropolhectic: Perlahan Mati


Aku berdiri di sini. Di tengah persimpangan jalan. Jika kamu melangkah ke utara, kamu akan menemukan berbagai macam mall-mall tempat mereka memamerkan gaya hidup. Dan jika kamu memilih untuk melangkah ke barat, kamu akan menemukan gedung-gedung tinggi perusahaan-perusahaan besar tempat mereka mencuri tenaga mereka-mereka yang kecil. Lalu, apabila kamu melangkah ke timur, kamu akan bertemu dengan gedung yang orang sebut gedung tempat menuntut ilmu namun jadinya gedung untuk mencari jodoh dan menghabis-habiskan uang orang tua. Dan terakhir, jika kamu memilih untuk berjalan ke selatan, kamu akan melihat mobil-mobil mewah yang keluar masuk gerbang sebuah gedung megah tempat mereka-mereka yang katanya mengatur kebijakan Negara.

Bukan aku tak tau mau ke mana. Namun aku bingung. Aku bingung dengan ledakan apa yang ada di kota ini. Mengapa mobil-mobil mengkilap ada di mana-mana? Dan kau tahu, mobil-mobil mengkilap itu dihiasi oleh warna-warni bis-bis kecil yang juga ikut menyemarakkan kota. Ditambah dengan kepulan asap hitam yang menyapu bersih udara segar yang seharusnya kita hirup.

Aku hanyalah seorang pekerja biasa. Aku bekerja di sebuah perusahaan, di mana para pekerjanya hanya diberi upah satu juta lima ratus ribu rupiah per bulan. Padahal jam kerjanya mencapai dua belas jam. Bagiku, itu tidak sebanding dengan pengeluaran sebulanku. Aku harus membayar harga sewa kost kamar, mengirim uang ke kampung, dan juga untuk makan. Di mana ditemukan makan satu piring seharga empat ribu rupiah, di sini?

Selain itu, teman-teman kantorku pun senantiasa mengajakku keluar di malam minggu. Hanya untuk sekedar nongkrong di cafe-cafe ala perkotaan yang artinya, aku pun harus mengeluarkan budget lebih.

Untungnya, hari ini bukan hari Sabtu. Tapi hari Senin, di mana aku harus memulai lagi rutinitasku setelah berleha-leha selama dua hari. Ini pukul tujuh pagi. Lihatlah, bahkan kota ini pun sudah penuh sesak di waktu yang sepagi ini. Di kotaku dulu, jam tujuh pagi adalah waktu yang bagus untuk kita berjalan-jalan. Di sini pun aku berjalan-jalan, menuju kantorku.

Sebenarnya aku masuk pukul sembilan pagi. Namun karena kemacetan yang selalu melanda kota ini, aku harus mengambil ancang-ancang lebih cepat. Lagipula bis yang akan aku tumpangi selalu penuh sesak. Walaupun hanya telat sepuluh menit, bersiaplah kau akan tertinggal oleh bis. Maka dari itu, daripada hanya terus memandangi semrawutnya mobil-mobil berjalan, lebih baik aku bergegas mencari bis-bis yang sedang menunggu penumpang.


"Dimulai ketika ayah pergi.. Kami hidup dalam keterbatasan.. Hal itulah yang membuat aku harus hidup di jalanan.. Saat kami tak mengerti apa arti perceraian.."

SEORANG anak muda dengan pakaian seadanya mendendangkan sebuah lagu sambil memainkan gitar kecilnya. Lirik yang begitu jujur dan apa adanya keluar dari mulut seorang remaja yang terpaksa harus menjadi seorang pengamen karena segala keterbatasan dalam keluarganya. Beberapa orang memberinya receh demi receh, termasuk aku. Bahkan masih banyak juga orang yang acuh tak acuh terhadapnya.

Aku tak menyangka, di kota yang segembira ini, ternyata jumlah pengamen jalanan masih mencapai angka tiga ribu lebih. Dulu, sewaktu masih di kampung, aku berpikir bahwa kota ini adalah kota di mana semua orang bisa mendapatkan kemakmuran dan kesejahteraan materi. Termasuk aku, yang jauh-jauh dari kampung sana pergi ke kota ini untuk mendapatkan uang sebesar satu juta lima ratus ribu rupiah per bulan. Namun ternyata, di sini masih saja ada orang-orang yang tidak bisa mendapatkan kesejahteraannya, bahkan banyak.

Bis ini begitu sesak. Dan benar saja, aku tak kebagian kursi untuk duduk. Aku hanya bisa berdiri sambil menciumi bau-bau tubuh penat setiap orang. Tak apalah, setidaknya aku bisa memperhatikan orang. Dan aku melihat seorang pria dengan tubuh kurus dan mata yang memerah masuk ke dalam bis. Aku tak tahu siapa dia. Namun, aku menaruh perhatian terhadapnya.

Sepanjang perjalanan, aku perhatikan orang-orang yang ada di dalam bis. Dan juga pria bermata merah itu. Dan tiba-tiba saja, di tengah perjalanan, aku melihat pria itu merogoh salah satu tas milik seorang perempuan. Baru kusadari ia adalah seorang pencopet. Aku tak bisa melakukan apa-apa, karena aku pun takut jika ia menyerangku balik. Lagipula aku tak peduli. Aku masih aman dan tidak dirugikan sama sekali. Biarkan saja orang lain yang rugi. Toh kata orang, di sini adalah kota yang dimana orang-orangnya sangat individualis.

"Eh, nanti pas jam istirahat kamu antar aku ke mall ya. Ada tas keluaran terbaru yang ingin kubeli," sahut seorang perempuan di sebelahku kepada temannya.
"Oke, nanti juga aku sekalian mau membeli krim-krim untuk wajahku. Krim wajah dari dokterku habis, aku tak mau wajahku bermegaran," jawab si teman sambil terus memandang ke arah handphone canggih yang sedang digenggamnya. "Eh aku dapat invitation untuk malam minggu nanti di club, untuk dua orang. Kamu mau ikut?", lanjutnya. Dan si teman menjawab dengan anggukan kepala tanpa sedikit pun melepas perhatiannya dari seluler pintar yang terus menerus ia genggam erat.


DUA koran pertama telah aku habiskan. Ya, aku memang rajin membaca koran. Bukan karena ingin, tapi karena memang inilah pekerjaanku. Meringkas semua berita dari koran-koran yang ada. Banyak berita-berita yang berasal dari kota ini. Mataku mendadak miring ketika membacanya. Bukan karena aku juling, tapi sungguh, percayalah, berita-berita ini membuatku bosan. Selalu ini dan itu. Tidak akan jauh dari berita yang berkisar mengenai pejabat yang dinilai lalai dari tugasnya.

Aku tutup koran yang kedua, karena sekarang waktunya istirahat.

"Gi, ayo kita cari makan siang bersama. Anak-anak mau makan siang di Starducks. Kau mau ikut?" seorang teman mengajakku untuk makan siang bersama. Ah, sebenarnya aku malas. Makan siang di Starducks bisa menguras kantongku. Tapi bagaimana, jika aku menolak, nanti bisa-bisa aku disebut sebagai orang yang tidak bisa bergaul. Maka dengan terpaksa aku mengangguk.


SATU gelas Peppermint Mocca Frappucino dan satu box Tuna Salad sudah ada di depan mataku. Aku tak habis pikir, mengapa aku sampai hati mau-maunya melahap makanan-makanan semacam ini. Dulu, sewaktu di kampung, aku biasa makan dengan sayur bening dan telur dadar. Tapi sekarang, karena pergaulanlah aku sedikit demi sedikit meninggalkan sayur bening dan telur dadar.

"Hei, malam minggu nanti kita mau kemana?" tanya Ringgo, si lelaki berbadan besar, namun pasti kau tak akan menyangka jika aku bilang dia menggenggam empat wanita di tangannya. Aku sendiri tak tahu apa kelebihannya sampai-sampai ia bisa mempacari empat wanita sekaligus. Dengan bermodalkan empat handphone alakadarnya, ia berhasil menghindari sebuah kecelakaan yang dinamakan 'salah sms'. Dan setelah itu, terjadilah percakapan remeh temeh yang berhasil membuatku cukup menjadi pendengar yang baik dan pengangguk kepala yang cekatan. Begini, aku salinkan percakapan remeh temehnya.

"Memangnya kamu tak ada janji dengan pacar-pacarmu itu?"
"Oh tenang.. Nanti aku akan pergi bersama Syila."
"Lalu yang lain?"
"Aku bilang saja aku ada acara bersama keluarga, beres kan? Jadi kemana kita nanti?"
"Kita ke club tempat biasa kita main. Gimana?"
"Oke! Setuju."

Dan menganggukkan kepala, lantas tersenyum.


TAK terasa aku sudah berada di hari Sabtu. Hari terakhir dalam satu minggu di mana setiap orang memanfaatkannya untuk bersenang-senang. Ya, dengan alasan lelah dan penat dengan rutinitas sehari-hari yang membosankan. Memang tidak semua, tetapi kebanyakan. Dan aku menjadi bagian dari yang kebanyakan. 

"Gi, siap-siap ya. Satu jam lagi saya sampai di depan kostan, kita langsung berangkat ke club." Begitulah isi pesan singkat yang kuterima dari Ringgo. Aku tak lupa, bahwa hari ini aku akan menjadi yang 'kebanyakan', melepas penat setelah lelah dengan rutinitas sehari-hari.

Satu jam berlalu, dan sekarang aku berada di dalam mobil mewah ber-AC. Aku bisa merasakan nyaman, tidak seperti hari-hari kemarin yang selalu bertarung dengan bau keringat yang berteriak ingin cepat sampai pada tujuan. Lama kunikmati perjalanan yang isinya hanyalah barisan mobil-mobil mewah dan gedung-gedung tinggi menjulang yang seolah-olah hendak mencakar langit. Dan, akupun sampai pada tujuan, sebuah club malam di mana aku akan bersenang-senang di sana.


HENTAKAN tempo musik cepat membuat rona merah di pipiku. Hentakan itu membuat perutku terasa bergoncang kuat. Hentakan itu membuatku merasa mengangkat kepalaku ke atas menuju lampu-lampu yang menari bergoyang ke kiri dan ke kanan. Hentakan itu membuatku lengah, mungkin hampir tak sadarkan diri. Tapi tunggu, selintas kuingat mungkin beberapa jam yang lalu, seorang teman dan teman lainnya membuka tutup botol sambil tertawa terbahak-bahak. Apa aku ikut meminumnya? Sudah tentu.


LEMAS kurasa badanku. Terkapar lemah di kasur kecil yang aku tak tahu siapa pemiliknya. Yang aku ingat, aku rasa tadi ada mobil yang hampir menabrakku ketika aku berjalan tergopoh-gopoh di pelataran gedung, dan mungkin aku ikut masuk ke dalamnya. Dan sekarang, yang kulihat adalah seorang perempuan yang tubuhnya hanya terbungkus kain selimut memandangku sambil berkata, "Mana bayaran saya? Saya harus bekerja lagi.".

Terpaksa aku keluarkan lembar-lembar terakhirku, dan kuberikan padanya. Tinggal menunggu telepon dari istriku di kampung yang mengomel tentang uang yang belum juga kukirim dari sini.

Ya, kota ini membuatku perlahan mati.


Mar 14, 2012

Risa(u)lah Ruki


Namanya Ruki. Ia datang kemari bersama anaknya, Ruka. Ia dan anaknya adalah penduduk asli dari sebuah kampung yang sangat tersembunyi di bawah tanah kutub utara. Begitu tersembunyi, pintu masuknya pun sampai sekarang masih menjadi misteri para peneliti hal-hal misterius di dunia. Ia bersama warga lainnya hidup tanpa pakaian. Tapi jangan anggap mereka kaum nudist.

Suatu hari, kampung itu didatangi oleh manusia-manusia modern. Warga sentak keheranan. Siapa mereka? Mengapa tubuh mereka ditutupi oleh kain? Padahal tidak indah sekalipun dilihat. Entah apa tujuan manusia-manusia modern itu datang kesana. Yang pasti, tidak untuk meneliti ataupun datang sebagai petualang. Mereka datang untuk mencari korban.

Manusia-manusia modern dengan sengaja membuat sebuah kontes model untuk masyarakat asli kampung tersebut. Pertama-tama mereka memberikan doktrin-doktrin berbahaya tentang pentingnya penampilan bagi seorang wanita. Karena itu, penampilan adalah nomor satu. Alhasil, masyarakat kampuang tersebut, khususnya kaum hawa, terpengaruh dengan begitu mudahnya. Kontes model dilaksanakan. Ruki menjadi salah satu kontestan. Ia berhasil berlenggak lenggok dengan kain yang digunakan seadanya. Dan, betapa keberuntungan memang berpihak padanya. Ruki pun dinobatkan sebagai pemenang. Dan ia diberi hadiah uang senilai lima ratus juta rupiah. Wow, betapa bahagianya dia, walaupun sebenarnya ia tak mengerti apa arti dari kertas-kertas kecil yang memenuhi koper yang ada di depannya sekarang. Selain itu, ia juga mendapatkan liburan gratis di Jakarta selama satu bulan penuh.

Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Ruki berpamitan dengan keluarganya menggunakan salam ala masyarakat kampung tersebut. Saling berpunggungan sambil menggoyangkan pantat masing-masing. Lalu, ia berangkat bersama anaknya yang masih balita dan orang-orang modern menuju Jakarta, kota yang didamba.

Setibanya di Jakarta, Ruki begitu gagap. Gagap segalanya. Oh ya, aku lupa menceritakan bahwa Ruki dan anaknya dibekali beberapa pasang baju pemberian dari orang-orang modern yang memberinya hadiah. Ruki dan anaknya ditempatkan di sebuah apartemen mewah khas perkotaan. Dan ia pun langsung diperkenalkan dengan beberapa perempuan khas perkotaan.

Sebagai warga baru, tentunya Ruki belajar memahami bagaimana sebenarnya masyarakat di kota-kota besar seperti ini. Ruki pun belajar dari teman-teman yang ia jumpai dalam beberapa waktu. Ia melihat baju-baju yang dikenakannya, tak lupa, ia juga melihat label baju yang tertera di kerah baju. Dan ia juga memperhatikan barang-barang yang dibawa teman-temannya.

Dalam waktu tidak lebih dari seminggu, Ruki telah berubah, layaknya Usagi yang hanya dengan berkata "Berubah!" lalu ia bisa berubah menjadi Sailor Moon dengan dua telur di kepalanya. Ternyata selama ini ia diam-diam pergi ke mall-mall dan butik-butik besar yang ada di Jakarta. Fashion-fashion mulai dari pakaian, tas dan sepatu berlabelkan Zara, Vogue, Marc Jacobs, Louis Vuitton dan lain-lain dibelinya dengan cuma-cuma. Tak lupa ia juga mampir ke pusat pertokoan barang-barang elektronik untuk membeli Blackberry Bold Touch 9900 seharga enam juta lima ratus ribu rupiah. Dan barang-barang pergaulan yang lain.

Selain itu, hampir setiap hari Ruki mengunjungi resto-resto ternama di Jakarta. Tak lupa, ia update status lewat smartphone terbarunya, "@ Starbucks Cafe, yuk ah kita santai-santai ngopi sambil ngeceng cowok-cowok kece". Dan begitulah terus sehari-harinya selama ia di Jakarta. Sampai-sampai ia pun berhasil melupakan anaknya demi sebuah eksistensi diri.

Hari ke-29, ia tetap bepergian kesana kemari mengelilingi kota Jakarta, menghabiskan uang. Namun tak disangka-sangka, apartemennya dimasuki oleh sekomplotan pria bertopeng. Pria-pria bertopeng itu mengambil semua barang-barang yang dimiliki Ruki dan anaknya. Tak lupa, pakaian dalam pun diambilnya. Dan semua barang di apartemen itu lenyap seketika. Termasuk rambut Ruka, yang tadinya lebat, menjadi hanya jambul kecil di depan. Ternyata komplotan pria bertopeng itu pun berhasil mencukur rambut Ruka, sampai yang tersisa hanya jambul di depan.

Dan di luar, Ruki yang sedang asyik berjalan-jalan pun ditangkap oleh sekomplotan pria yang juga bertopeng. Ia dibawa ke sebuah rumah kosong, lalu diperkosa. Ruki yang tidak tahu bahwa ia sedang diperkosa, malah menikmati setiap dorongan-dorongan yang diberikan si pria bertopeng. Ia menjadi teringat lelakinya di kampung yang pernah melakukan hal yang sama terhadapnya sehingga hadirlah Ruka. Ia mendesah tanpa henti. Dan tanpa disadarinya, ketika ia sedang bergumul dengan salah satu pria bertopeng yang dinikmatinya itu, semua barang-barang bawaan Ruki diambil oleh pria-pria bertopeng lainnya. Termasuk pakaian yang digunakan Ruki hari itu. Ketika mereka selesai bergumul, Ruki langsung tertidur. Dan ketika ia terbangun, Ruki begitu kaget melihat semua barang-barangnya hilang, termasuk pakaian dan smartphonenya.

Ruki bingung, bagaimana caranya ia pulang. Padahal tadi dia sudah menyisakan satu lembar seratus ribu untuk ongkos dia pulang ke apartemen. Karena besok ia dan Ruka akan dijemput untuk pulang kembali ke kampungnya. Tapi apa lacur, uang lima ratus juta ludes tanpa jejak sedikit pun. Akhirnya ia berjalan menuju apartemennya tanpa pakaian. Semua orang menganggapnya biasa, mungkin Ruki dikira sebagai orang gila yang berkeliaran di jalan. Sesampainya di apartemen, Ruki dibuat kaget kembali. Semua barangnya hilang. "Benar-benar, uang lima ratus jutaku hilang tanpa jejak.." Kekagetannya pun bertambah histeris ketika ia melihat Ruka yang tidur dengan dua jambul di depannya. Ruki menangis sambil memeluk Ruka. Mereka tertidur bersama.

Keesokan harinya, Ruki dan Ruka menunggu sekelompok manusia modern yang dulu membawanya ke tempat ini. Sampai malam ditunggunya, namun tak kunjung datang. Ruki bingung, Ruka menangis. Sampai pada akhirnya ada seseorang yang mengetuk pintu apartemen. Begitu gembira Ruki dan Ruka, itu pasti mereka si orang-orang modern, mereka pasti akan mengembalikan aku dan Ruka ke kampung, pikir Ruki dalam hati. Dibukanya pintu apartemen, kecewa ia melihat yang datang bukanlah sekelompok orang modern yang ia nanti-nanti, melainkan petugas apartemen.

"Maaf, Bu. Waktu sewa kamar sudah habis, silahkan keluar dari apartemen ini. Kecuali kalau Ibu sanggup membayar lagi harga sewa apartemen."

Ruki pasrah. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya. Ia keluar bersama anaknya. Ia berjalan kesana kemari sambil menggendong Ruka. Dan, sampai akhirnya mereka tertangkap media. Di media itulah akhirnya Ruki mengeluarkan keluh kesahnya. Ia bercerita panjang lebar di media itu, sampai muncullah tulisan berjudul, "Risa(u)lah Ruki: Aku ditipu.." Dan sejak itu, foto Ruki bersama Ruka lengkap dengan kisahnya tersebar ke seluruh pelosok dunia, menjadi sebuah kisah motivatif yang dicari-cari.

Jan 19, 2012

Kampung Gembira


Di sini tidak ada tangis yang tersedu-sedu. Di sini tidak ada marah yang membabibuta. Atau tidak ada anak-anak muda yang lantang menyuarakan kegalauan. Tidak ada beban yang harus dipikul. Di sini semua bergembira.

Lihatlah pria yang sedang jongkok di pinggiran sungai yang penuh sampah itu. Bajunya lusuh dan robek-robek. Sandal jepit yang sudah tampak usang karena dipakai untuk berjalan di tengah-tenah lumpur tanpa dicuci. Tapi, pria itu tentu tak lupa dengan kacamata hitam berlabel Oakley. Namanya Mamat. Tapi setiap bertemu orang, dia selalu berkata, "Hai, saya Johnny."

Mamat atau Johnny adalah salah seorang di antara mereka yang berada di kawasan itu. Kawasan yang selalu ramai. Ramai dengan tawa, dengan marah, dengan tangis, yang tanpa memerlukan kesadaran. Banyak orang enggan memasuki kawasan tersebut. Banyak yang bilang kawasan itu angker. Ya, angker. Setidaknya angker bagi mereka yang ketakutan ketika dikejar-kejar seseorang berambut gimbal tak beraturan, tanpa busana, yang berhasil memperlihatkan seluruh tubuhnya tanpa terkecuali, penisnya yang menghitam dan dekil.

Tapi tak usah takut. Percayalah, pria bugil itu tidak berbahaya. Ia tidak akan membuatmu mati atau terluka sedikit pun. Namun, teriakan histeris orang-orang yang melewati kawasan tersebut berhasil membuat hampir semua orang percaya bahwa kawasan tersebut angker dan berbahaya. Sampai-sampai, di ujung jalan menuju kawasan ini, di sela-sela rimbunnya pepohonan, terdapat sepotong kayu tipis bertuliskan, Hati-hati, kawasan berbahaya!

"Aku tak mengerti mengapa semua orang berteriak-teriak ketakutan ketika aku berlari ke arahnya. Padahal aku hanya mencium bau kentut mereka yang seperti malu-malu untuk dikeluarkan. Dan aku hanya ingin bilang pada mereka, jika kalian malu mengeluarkan bunyi dan bau kentut di depan orang banyak, aku akan dengan senang hati bersedia menampungnya." keluh Faka, si pria berambut gimbal yang ditakuti oleh hampir semua orang. Namanya memang Faka. Dulu, sangat dahulu kala, teman-teman sepermainannya memanggilnya Fak, atau kadang beberapa temannya jahil menuliskan namanya dengan ejaan lain, yaitu Fuck. Dan nama itu pun berhasil membuatnya menjadi santapan nikmat teman-temannya yang haus mencela. Tak jarang ia ditelanjangi di toilet pria sekolahnya. Tak jarang juga alat kelaminnya dipermainkan seenaknya. Jika anak-anak itu ditanya, anak itu akan menjawab, "Namanya Fuck. Artinya hubungan intim telah mendapatkan izin dari raja. Kami tidak salah, kami hanya mengartikan namanya saja."

Namun sekarang, keadaan sudah berbeda. Ia tidak lagi menjadi santapan nikmat teman-teman sepermainan. Ia tidak lagi dipanggil Fuck. Ia tidak lagi ditelanjangi, namun menelanjangi diri sendiri. Dan alat kelaminnya tidak lagi dipermainkan seenaknya. Sekarang ia hanya mengejar aroma kentut. Karena entah mengapa, dulu ketika teman-temannya memainkan alat kelaminnya, bukannya ingin mengeluarkan sperma, namun ia selalu ingin mengeluarkan gas yang meracuni pikiran sesaat yang dinamakan kentut. Ia selalu bilang pada teman-temannya, "Kentutku wangi lavender kan?" Teman-temannya pun spontan tertawa. Dari situ, baru ia sadari, puncak kenikmatan bukan hanya air sperma yang keluar, tapi adalah kentut. Dan sekarang, ia bertekad untuk hidup tanpa busana dan mengejar kentut.

Seperti yang dilakukannya sekarang. Jika Jean-Baptiste Grenouille memiliki indra penciuman yang tajam khususnya terhadap aroma-aroma yang memikat, seperti aroma wanginya perawan, maka saat ini, Faka pun berhak disejajarkan dengannya. Bedanya, indra penciuman Faka tajam terhadap aroma kentut. Itulah yang membuatnya selalu mengejar-ngejar banyak orang.

"Apakah aku setan? Apakah aku setan?", ucap Faka sambil menggeleng-gelengkan kepala, membulatkan mata, mengendus-ngendus seperti babi. Dan tepat di belakang Faka berjongkok, seseorang melakukan hal yang sama sepertinya. Ia menggelengkan kepala, mengendus seperti babi, dan membulatkan mata, walaupun yang terakhir ini tidak dapat dibuktikan karena bentuk matanya tertutup oleh kacamata hitam bermerk Oakley. Johnny atau Mamat berjongkok di belakang Faka, mengikuti gerakan Faka. "Setan itu cinta.. Cinta itu setan.. Setan itu cinta.. Cinta itu setan.." Faka tak memperdulikannya. Ia terus menggeleng-gelengkan kepala, sambil berucap, "Apakah aku setan? Apakah aku setan?" Dan Johnny terus membalasnya dengan Setan itu cinta.. Cinta itu setan.. Begitu seterusnya dan begitu seterusnya. Mereka terus mengeluarkan racau yang itu-itu saja. Seolah-olah seperti dua orang yang sedang bermain pantun. Sampai akhirnya Faka lelah. Ia undur diri, membalikkan badan dan membungkukkan badan lalu melesat pergi.

"Setan itu cinta. Cinta itu perempuan. Perempuan itu setan. Setan itu menakutkan. Perempuan itu setan. Perempuan itu menakutkan. Aku takut melihat setan. Setan itu perempuan. Aku takut melihat perempuan. Aku memakai kacamata." Mamat yang takut melihat setan. Mamat yang takut melihat perempuan. Mamat pernah mencintai seorang perempuan bernama Jenifer. Perempuan cantik dan bahenol yang menampilkan foto di friendsternya dengan pose setengah berbungkuk, memakai tank top, ditambah belahan dada yang begitu molek. Tak lupa, senyumannya yang bagai senyuman bidadari ala Nikita Willy pun berhasil menggiurkan hati Mamat untuk meraihnya.

Seiring berjalannya waktu, Mamat tak kunjung juga mendapatkan cinta sang bidadari. Jenifer selalu berkata, "Nama kok Mamat? Mbo ya bagusan dikit gitu kalau punya nama.. Robert misalnya." Selain itu, setiap kali mereka pulang dari acara menonton film-film Bollywood yang diputar oleh bioskop-bioskop ternama di malam minggu, Jenifer selalu meminta Mamat untuk mengajaknya makan di restoran yang terletak di atas bukit dengan secercah sinar lilin dan dengan satu botol mineral water seharga sepuluh ribu rupiah. Spontan Mamat menolaknya. Apa daya? Rupiah di kantong hanya cukup membelikan dua bungkus cilok yang bisa dipilih mau memakai bumbu kacang atau saus merah. Karena itulah, Jenifer pun menolak cintanya. Namun, ia tak pernah menolak jika Mamat mengajaknya menonton film Bollywood di bioskop. Dan biarpun cinta tak kunjung dibalas, Mamat tetap menikmati acara nonton bioskop bersama Jenifer. Tentunya, bukan karena tak ingin ketinggalan film-film terbaru, tapi karena tak ingin ketinggalan perkembangan besarnya payudara Jenifer yang aduhai.

Dan suatu waktu, seakan-akan ada buldozer yang menggilingnya. Mamat ingin mati, setelah mendapat undangan pernikahan Jenifer dengan pria bernama Johnny. Layaknya di sinetron, saat dilanda putus cinta, ia ingin bunuh diri. Namun dia beruntung. Karena berkali-kali ia melakukan percobaan bunuh diri, Tuhan terus menggagalkannya. Sebagai gantinya, Tuhan mengacak-ngacak otaknya. Tak lupa juga, sempat suatu saat ia mencuri kacamata bermerk Oakley dari seorang turis yang sedang berjemur di pinggir pantai. Dan sekarang, atas izin Tuhan, dia bereinkarnasi menjadi Johnny dengan kacamata hitam sebagai pelindung matanya agar terhindar dari gambaran wanita-wanita aduhai.

"Setan itu cinta. Cinta itu perempuan. Perempuan itu setan. Setan itu menakutkan. Perempuan itu setan. Perempuan itu menakutkan. Aku takut melihat setan. Setan itu perempuan. Aku takut melihat perempuan. Aku memakai kacamata", gumam Mamat yang perlahan terlelap.


MALAM semakin larut. Pasukan bintang berkumpul membuat koloninya masing-masing. Bulan terbangun dari tidur. Jangkrik semakin riuh bersuara. Katak melompat kesana kemari. Dan di luar semuanya, berpuluh-puluh manusia berkumpul di sebuah lapang. Lapang yang penuh dengan sampah. Mereka berkumpul setelah melakukan aktivitasnya masing-masing. Hingar bingar terasa. Mamat dan Faka ada di tengah-tengah kerumunan.

"Haw ar yuuuuuuuuuu?", terdengar salam sapa yang manis dari tengah-tengah kerumunan yang entah berasal dari siapa. Kerumunan pun menjawabnya dengan bersorak gembira. Ada yang sambil menari-nari, ada yang melompat-lompat, ada juga yang hanya berdiri mematung. Di tengah kerumunan yang penuh sesak, tampak dua manusia seperti sedang berbincang-bincang atau berdebat tentang suatu hal.

"Hartaku dicuri. Hahahaha hartaku dicuri! Ada tikus-tikus berseragam yang mencurinya. Aku sedih. Aku merana.."
"Di sana ada setan. Setan itu mengintaiku sedari dulu. Seperti wanita, namun tak berambut. Matanya merah, bibirnya berdarah biru. Payudaranya mengecil sebelah. Mengerikan! Ia terus menerus mengejarku.."
"Oh para pegawai Bank, mengapa kalian mencuri hartaku? Mengapa tidak hatiku saja yang kalian curi?"
"Dia mendekatiku.. Dari mulutnya keluar darah berwarna biru. Ia muntah. Hah? Apa ia sakit?"

Dan, lantas mereka tertawa. Ha Ha Ha.

Suasana malam terus riuh ramai. Mereka berbagi tawa, berbagi kegembiraan. Ada seseorang yang menangis, namun sejenak kemudian ia tertawa. Ada juga seseorang yang tampak asyik mengunyah makanan yang ditemukannya di tempat sampah di depan jalan. Lalu, tiba-tiba seseorang yang lain ikut mengunyah. Mereka tidak bertengkar. Tidak seperti pengusaha-pengusaha yang marah dan melakukan perlawanan ketika lahannya direbut oleh orang lain.

Malam itu, tak satupun kesedihan yang tampak. Seperti hari-hari biasanya, kesedihan selalu tertutupi oleh tawa, oleh luapan kegembiraan. Tanpa seorang pun tahu, bahwa sebenarnya merekalah korban-korban kesedihan. Korban-korban dari sesuatu yang orang bilang penderitaan hidup. Seperti menari di atas warna mejikuhibiniu namun badan tertimbun tanah. Tidak ada warna hitam dan abu-abu. Di sana hanya ada mejikuhibiniu. Warna pelangi yang terlihat ceria setelah gelapnya hujan turun.

Malam semakin larut. Mereka terlelap di atas tanah basah, di dahan-dahan pohon, di atas karung bekas, di atas kayu yang patah, di atas batu pinggir sungai. Mereka tidur sembarangan, di tempat yang didapatkan secara cuma-cuma.


MATAHARI menguap. Ia bangun dari tidur. Mereka pun terbangun. Ada juga yang memilih untuk tidak tidur karena masih ingin mencari setan-setan yang bergentayangan di malam hari. Mereka membuka mata. Lantas mereka tertawa. Ha Ha Ha.

Tertawa bagaikan suatu kegiatan rutin bagi mereka penghuni kampung itu. Bangun tidur pun harus disambut oleh tawa. Namun ada juga yang langsung menangis, dan juga melamun, atau bergumam ini dan itu tanpa tahu siapa yang menjadi lawan bicara.

Tidak seperti manusia-manusia di luaran sana, yang selepas bangun tidur, mereka melaksanakan rutinitas pagi seperti mandi, sarapan, atau membersihkan halaman rumah bagi mereka yang memiliki halaman rumah. Mereka hanya berdiri, lalu pergi entah kemana. Ada yang keluar dari kawasan tersebut. Ada juga yang kembali bersembunyi di balik semak-semak. Segala macam aktivitas yang tidak dapat ditemui di kehidupan sehari-hari manusia pada umumnya yang terasa monoton.

Ada seorang wanita yang selalu duduk di pinggir tempat sampah. Ia selalu ditemani oleh koleksinya yang berupa tas-tas merk dunia. Setiap hari ia rapikan tas-tas tersebut walau tak kunjung rapih. Ia bersihkan walau tak kunjung bersih. Juga, lihat di pinggir sungai yang kotor itu. Ada seorang pria yang terus menerus menatap ke arah langit. Sambil menatap langit, ia bergumam tak karuan. Padahal, sebenarnya ia mengalami gangguan penglihatan. Namun ia selalu membayangkan awan-awan itu membentuk payudara wanita. Dan sesekali ia tersenyum.

Itulah yang dinamakan gembira. Gembira tanpa harus berpura-pura. Gembira tanpa embel-embel.

Dan ketika semuanya sedang disibukkan oleh kegiatannya masing-masing. Tiba-tiba muncul seorang wanita berbadan tinggi kurus, hanya tulang yang tampak. Sedikit sinar terpancar dari kulitnya yang tampak putih mulus namun berkedok kotoran. Tangan dan kakinya tampak lelah menahan pasungan. Sebenarnya, ia adalah perempuan rupawan. Karena satu dan lain hal, secara tiba-tiba ada yang mengganggu kejiwaannya. Dan membuatnya harus hidup dalam kurungan dengan kaki dan tangan terpasung. Sampai pada akhirnya ia berhasil membebaskan diri dari kurungan. Dan ia bergelandang kemana-mana. Sampai suatu saat ia dibawa oleh sekumpulan orang, dan ia dibuang di dekat kawasan ini. Ia muncul secara tiba-tiba. Dari wajahnya tersirat kebingungan. Ia tak tahu mengapa ia bisa sampai kepada daerah yang tak pernah dikenalnya ini.

Dan seseorang menghampirinya. Berdiri di depannya. Tersenyum padanya. Lalu memberikan jari telunjuk tepat di hidung si perempuan baru sembari membuka mulutnya. Pertanda ia berkata, "Siapa kamu?"

"Aku tak tahu. Aku lupa. Aku hanya ingat bahwa aku dibuang oleh sekumpulan pria berseragam coklat di suatu tempat tadi malam. Dan pagi ini aku tiba-tiba ada di sini. Ini di mana?", tanyanya.

Orang itu tidak menjawabnya. Ia hanya tertawa. Ha Ha Ha. Ia gerakan seluruh tubuhnya, seperti seorang anak kecil yang meluap-luap gembira. Gerakan tubuhnya mengisyaratkan bahwa ia berkata, "Di sinilah kampungmu. Kampung di mana kamu tidak perlu berpura-pura. Kampung di mana tidak ada embel-embel rumitnya kehidupan. Selamat datang di Kampung Gembira.."
















Untuk mereka, para penghuni Kampung Gembira.

Dipublikasikan di Kumcer : Kisah Cinta Manusia dan Setan Pemangsa Berak

Jan 9, 2012

Kami Dan Peluru Bertanduk


Aku melihatnya berdiam diri di tengah kerumunan manusia. Entah apa yang dilakukannya. Ia hanya diam. Namun, mata bertanduknya begitu cekatan mencari-cari apa yang dicari. Seperti mencari musuh. Musuh yang harus dimusnahkan. Musuh yang harus diberantas habis. Musuh yang harus diluluhlantahkan. Sampai musuh-musuh itu mati. Sampai menjadi puing-puing abu yang nantinya berteriak kemanusiaan.

Aku tak pernah mengenalnya, tapi aku mengetahuinya. Ia hanya sebutir peluru dengan mata bertanduk. Gigi-giginya tajam seakan siap menggerogoti setiap tubuh yang melawan. Ia hidup di tengah-tengah masyarakat. Menjadi sebuah kebiasaan.


SEORANG pria dengan kaus lusuh berteriak-teriak di tengah jalan. Aku tak begitu jelas mendengarkan apa yang diteriakkannya. Yang pasti ia berhasil membuat keributan di persimpangan jalan. Perlahan aku mendengar ia berteriak, "Saya gila! Negeri ini gila!". Terus menerus kalimat tersebut diteriakkannya.

Tidak ada yang dirugikan. Toh ia hanya berteriak-teriak saja. Tidak pun ada yang meluncurkan protes kepadanya. Malah sebagian orang menjadikannya sebagai tontonan yang mengasyikkan.

Di ujung sana, di depan sebuah pintu besar pertokoan, aku melihat peluru memantaunya dari jauh. Aku tak tahu pasti apa yang dirasakannya. Namun tatapannya begitu dingin. Bola matanya semakin bulat hitam membesar. Tanduknya pun semakin menantang. Apa dia marah? Ah, tidak mungkin. Setahuku ia hadir untuk memberikan perlindungan dari yang jahat. Tapi di sini tidak ada penjahat. Mana penjahatnya? Lelaki gila itu? Dia tidak jahat. Aku rasa ia hanya mengeluarkan apa yang ia rasakan. Tidak ada yang protes.

Aku rasa tak perlu ada yang dikhawatirkan. Baik bagi peluru dan bagi lelaki gila itu. Sejenak, kulepaskan pandanganku dari peluru. Dan aku pun kembali menonton aksi si lelaki gila. Menarik. Ia berani malu di depan orang banyak untuk mengeluarkan pendapatnya. Aksi lelaki gila itu semakin menjadi-jadi. Ia semakin lincah dan semakin menarik perhatian orang yang melewatinya.

Lalu, aku alihkan kembali perhatianku menuju pintu besar pertokoan di ujung sana. Tempat tadi peluru memantau. Namun, kutemukan peluru yang sudah tak berada di sana. Di mana dia? Mengapa ia tiba-tiba menghilang? Aku memutar kepalaku, melihat sekeliling. Semakin kutajamkan penglihatanku agar aku bisa menemukan peluru. Aku cari ia di sela-sela kaki yang melangkah. Mungkin ia menyusup di antara kaki-kaki manusia yang saling menyapa. Aku perhatikan aspal peluru yang sepertinya mau meleleh terkena sinar matahari. Namun tak juga kutemukan peluru.

Aku palingkan wajahku menuju trotoar tempat lelaki gila itu beraksi. Dan di sanalah kutemukan peluru. Ia sudah merayap mendekati kaki si lelaki gila. Mendorong tubuhnya menembus telapak kaki si lelaki gila. Ia masuk ke dalam tubuh si lelaki gila. Merayap di dalamnya.

Aku melihat di kaki lelaki gila itu ada tonjolan kulit yang merayap, bergerak semakin ke atas. Aku tahu, itu adalah peluru. Ia terus merayap. Sementara si lelaki gila makin hilang kesadaran. Ia terus dan terus merayap ke atas. Dan sekarang aku tak tahu sudah sampai bagian tubuh yang mana ia merayap.

Yang jelas tiba-tiba saja aku mendengar suara ledakan. Bukan ledakan bom molotov ataupun granat. Namun terdengar seperti suara sebuah pistol polisi yang meluncurkan pelurunya. Namun di mana? Aku tak melihat ada polisi di tempat ini. Yang aku lihat hanya dada si lelaki yang tiba-tiba meledak. Tubuhnya menyemburkan darah. Seperti darah leher yang dipenggal. Menjadi warna merah yang menghiasi udara. Tubuhnya meledak. Dan seketika, aku melihat peluru keluar dari dalam tubuh si lelaki gila yang hampir hancur. Ia bersimbah darah. Ia berjalan meninggalkan si lelaki gila dan kerumunan.

Aku melihatnya berjalan. Aku yakin, orang lain pun melihatnya berjalan. Melihat peluru berjalan dengan tubuh yang penuh darah. Karena aku dan mereka tahu peluru. Kami tahu, ia hidup di tengah-tengah kami.

Dec 21, 2011

Negeri Barbar


Aku ada di mana? Apa-apaan ini? Di sini begitu gersang! Kenapa di sini banyak darah? Lihat di ujung sana, ada lemari kecil yang terbuka. Di dalamnya banyak benda-benda tajam. Ada pisau, ada belati, ada pedang, ada tombak, dan ada golok. Lihat juga di belakang, ada kepala-kepala manusia bersimbah darah bergelantungan. Dan di depannya, ada ban yang baru saja terbakar. Baunya gosong!

Lihat juga di gerobak itu! Ada tubuh yang gosong termakan ganasnya api. Tubuh gosong itu hancur lebur. Organ-organ tubuhnya bercucuran keluar. Ususnya menjalar melingkari gerobak. Hei, lihat lagi di sebelah! Ada baju seragam berwarna hijau dan abu, di atasnya ada senapan yang kehabisan peluru. Dan di depannya, ada topi camping petani yang tampak lelah menahan teriknya matahari. Mereka saling bertatap panas. Ada amarah di dalamnya. Apakah mereka akan beradu? Mungkin.

Ah apalagi ini yang kulihat! Ada pedang berlilit kain sorban. Lihat mata pedangnya yang tersimpan di sela-sela kain sorban yang robek. Matanya seperti mengamuk pada tubuh-tubuh beku yang sedang duduk di hadapan patung-patung. Matanya juga mengamuk pada gambar wanita berkepala kelinci yang tanpa sehelai kain di tubuhnya. Dan ini, ini lagi.. Ada jenggot yang berterbangan, ia terbang melawan merpati putih. Mengapa ada perang antara jenggot dan seekor burung?


"Aku ada di mana?"
"Kau ada di tanah kelahiranmu. Negerimu tercinta."

Apa dia bilang? Negeriku tercinta? Tanah kelahiranku? Yang aku tahu, tanah kelahiranku ada Negeri yang begitu indah. Terdiri dari pulau-pulau yang tersusun dengan cantik. Yang di dalamnya terdapat keunikan tersendiri.

Benarkah ini tanah kelahiranku? Bukankah tanah kelahiranku adalah sebuah Negeri yang damai? Yang orang bilang, bhineka tunggal ika, berbeda-beda namun tetap satu. Di tanah kelahiranku terdiri dari berbagai macam suku dan agama dengan kebudayaannya masing-masing. Mereka berbeda, namun mengapa sekarang perbedaan bagaikan momok yang mengerikan? Seperti perang antara jenggot dan burung merpati putih.

Benarkah ini tanah kelahiranku? Bukankah tanah kelahiranku adalah sebuah Negeri yang damai? Yang orang bilang, gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo. Negeriku adalah Negeri yang kaya. Negeri yang subur, makmur, dan sentosa. Jika dilihat dari atas, Negeriku adalah Negeri yang hijau. Namun, kemana arahnya hijau? Kemana pohon sawit yang turut menghiasi lukisan Negeri ini? Mengapa sekarang pohon-pohon itu telah berubah menjadi pohon besi, pohon industri yang juga ikut melahap ketentraman masyarakatnya?

Tapi mengapa dia bilang bahwa ini adalah tanah kelahiranku, Negeriku tercinta? Apa aku memang lahir di Negeri di mana orang-orang haus akan rasa perikemanusiaan? Apa aku memang lahir di tanah gersang yang banal ini? Oh ya? Bahkan aku pun baru tahu.

"Benarkah? Sungguh, aku tak pernah meminta dilahirkan di Negeri yang banal ini."

Dec 14, 2011

Di Sini, Di Tempat Ini : Kenangan Yang Tergusur Oleh Tangan Besi







Di tempat inilah kami bertemu.
Di tempat inilah kami mengasah tawa.
Di tempat inilah kami menyimpan sebongkah harap.







Akhir tahun 2010. Saya ingat, saat itu adalah kali pertama saya menapakkan kaki di tempat ini. Saat itu pula seorang pria yang tidak pernah mau menyebutkan nama aslinya mengajak saya bergabung bersamanya dan kawan-kawan lainnya. Saat itu pula saya mulai mengasah tawa.

Adalah sebuah kampung seni dan budaya yang kami bentuk untuk pertama kalinya di akhir tahun 2010. Di dalamnya terdapat berbagai macam manusia. Ada mereka para seniman-seniman, baik dari ranah seni tradisi, seni rupa, seni musik, dan lain-lain. Ada mereka yang berlatarkan akademis, dan ada mereka juga yang berlatarkan jalanan. Namun, perbedaan-perbedaan itu tidak menjadi sekat di antara kami. Seperti yang selalu Kepala Suku katakan, "Anak jalanan yang ada di kampung ini harus ganti 'baju'. Mereka bukan anak jalanan, tapi mereka adalah orang-orang yang mau berproses dan berkreasi!".

Seperti halnya sebuah pembangunan, banyak gangguan-gangguan dari berbagai macam pihak memekikkan telinga kami. Namun apa daya, gangguan itu tidak pun kami hiraukan terlalu sulit. Tidak juga menyurutkan semangat kami yang menggebu-gebu.

Atas nama melestarikan budaya-budaya lokal, khususnya di tatar Sunda, dengan penuh semangat berbagai macam usaha kami lakukan. Walaupun secara pribadi, saya tahu hal itu hanyalah sebuah distopia yang patut dipertanyakan.

Namun, begitu membanggakan ketika kami menyadari bahwa ini adalah kami yang berjuang di balik celah-celah jerami kering dalam cengkraman pohon batu yang di dalamnya terdapat sebongkah kisah masa lalu yang kini pun sudah menjadi museum tanpa lampu.
Bahwa ini adalah kami yang berjuang memperjuangkan sesuatu yang telah 'terlupakan' di tengah-tengah dunia yang sudah tak bisa berkompromi dengan sejarah.
Bahwa ini adalah kami yang bersama meneriakkan cinta pada kekayaan leluhur di tengah modernisasi yang membabibuta.
Bahwa ini adalah kami yang merangkak di bawah kekuasaan yang buta akan hati atas nama budaya yang masih bermata tanda tanya.

Hey kalian, yang berseliweran di sekitarnya, sadarkah kalian bahwa kami adalah orang-orang kaya? Orang yang kaya akan bambu-bambu yang masih kami tancapkan dengan megah? Orang yang kaya akan jerami-jerami yang kami simpan dengan cantik?

Namun, apa daya. Kekayaan-kekayaan itu terpaksa harus tergusur oleh tangan-tengan besi yang haus akan kekuasaan. Perjuangan itu terpaksa harus luluh lantah bersama dengan debu yang menjadi saksi mereka yang berjuang. Kebersamaan itu pun terpaksa harus hilang direbut oleh mereka yang berseragam.

Mereka berontak. Mereka kepalkan tangan demi sebuah kemerdekaan. Namun, apa lacur, kepalan tangan itu sama sekali tidak menakutkan mereka para pembuat kebijakan yang terhormat. Hey, para pembuat kebijakan yang terhormat, perlukah saya ingatkan kembali, mungkin satu tahun yang lalu ketika kalian meminta kepada seseorang di antara kami untuk membangun sebuah kampung seni budaya di tempat ini? Tapi sudahlah, saya tidak marah sedikit pun. Saya sadar bahwa kalian akan selalu menjadi para pembuat kebijakan yang terhormat. Dan saya akan hormat kepada kalian. Namun, saya yakin, perjuangan kami tidak hanya berhenti di situ. Saya hanya meminta doa restu dari kalian, wahai paduka yang terhormat.


















DAN sekarang, mungkin beberapa bulan atau bahkan satu tahun berlalu. Saya merindukanmu wahai suasana. Suasana di mana saya bisa bercandagurau di sebuah saung yang di depannya berdiri dengan gagah seorang pocong, dan di dalamnya terdapat itik berwarna-warni, merah kuning dan hijau. Suasana di mana saya bisa saling berbagi cerita dengan kawan di dalam saung berlapiskan lembar koran demi koran yang di dalamnya bertebaran buku-buku yang tersimpan acak. Suasana di mana saya mengikuti rapat di sebuah saung yang di dalamnya berjejer alat-alat musik tradisional, mulai dari karinding, celempung, hingga jijeriju. Suasana di mana saya dibuatkan segelas teh oleh seorang Ibu di dalam saung yang penuh dengan lukisan-lukisannya. Atau suasana ketika saya mengikuti sebuah diskusi dadakan di sebuah meja yang terbuat dari kayu yang dikelilingin oleh dedaunan. Ah, terlalu banyak kenangan yang harus saya ceritakan. Karena kenangan itu sekarang telah tergusur oleh tangan-tangan besi yang ingin dihormati.

































DAN, beberapa hari kemarin, sesuai dengan perbincangan dengan beberapa di antara mereka, mari rapatkan kembali jejak-jejak yang pernah menempel di telapak kaki kita. Mari kita buat sesuatu. Tak usahlah muluk-muluk dengan impian sebuah kampung. Mulailah dari yang terkecil. Mari, kawan! Tak usah kita bermain dengan kepalan tangan, mari kita bermain dengan sebuah semangat. Karena sesungguhnya, semangat itu masih membutuhkan jiwanya.


Kampung Seniman Bangun Pagi, Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (2010-2011)

Dec 12, 2011

Balada Telepon Genggam : Sebuah Refleksi Kecil Tentang Perkembangan Zaman


"Mari kita adakan perkumpulan telepon-telepon genggam. Ada yang ingin saya bicarakan. Undang seluruh kaum bodoh dan kaum pintar!" ujar salah seorang dari kaum 'bodoh'.

MALAM itu dilaksanakan Kongres Telepon Genggam. Seluruh telepon genggam berkumpul di atap salah satu rumah mewah milik bangsawan terkemuka masa kini. Bukan tanpa alasan. Mereka para telepon genggam dari kaum 'bodoh' sudah cukup jengah dengan bermunculannya telepon-telepon genggam dari kaum 'pintar'. Bukan hanya karena kebermunculannya, tapi karena banyak manusia yang lebih memilih untuk memakai manfaat telepon genggam dari kaum 'pintar'.

"Wahai kalian para telepon genggam dari kaum 'pintar', apa tujuan dari kebermunculan kalian saat ini? Kalian tahu, tidak sedikit dari kami yang akhirnya dilupakan. Tidak sedikit pula dari kami yang pada akhirnya hanya menjadi sampah, menjadi rongsokan yang dipampang di etalase-etalase pinggir jalan", ujar salah satu telepon genggam dengan penuh semangat. Para perwakilan telepon genggam dari kaum 'pintar' masih berdiam diri. Mungkin mereka merasa lebih hebat, sehingga terlihat pongah. "Ya, pada akhirnya kami dipaksa mati!" teriak salah satu telepon genggam dari kaum 'bodoh' yang lain. Ia begitu berapi-api. Memang benar, mereka dipaksa mati. Karena sang pemilik sebelumnya telah menjualnya kepada bapak-bapak di pasar loak.

"Hahaha kalian iri kan kepada kami? Memang sudah sepatutnya begitu. Hey, ini namanya perkembangan zaman. Tidak ada yang tidak mungkin saat ini. Dengan kami, manusia akan mendapatkan berbagai macam kemudahan dalam hal memperoleh informasi", jawab salah satu telepon genggam dari kaum 'pintar'.

Harus diakui, dengan adanya para telepon genggam dari kaum 'pintar', manusia lebih dipermudah dalam hal mendapatkan informasi. Hanya dengan memanfaatkan layar lebarnya, manusia bisa berjalan-jalan keliling dunia. Atau, manusia juga tidak perlu lagi membeli pulsa untuk mengirim pesan. Banyak paket yang ditawarkan. Namun, telepon genggam dari kaum 'pintar' terlalu membabi buta. Tidak jarang juga dari mereka yang pada akhirnya membuat manusia semakin bodoh. Ya, telepon pintar yang memperbodoh manusia.

"Apa kau bilang? Perkembangan zaman? Perkembangan zaman yang membuat manusia semakin bodoh dan tak mau berusaha?" tanya salah satu telepon genggam dari kaum 'bodoh'. Tidak mau berusaha, seperti halnya seseorang yang malas berjalan kaki karena merasa saat ini sudah ada sepeda motor yang tinggal dinyalakan lalu kita bisa bebas pergi kemana saja, bahkan dalam jarak seratus meter sekalipun. Ah, betapa malasnya manusia-manusia saat ini. "Bukannya tidak mau berusaha. Tapi, kalau memang ada cara lain yang lebih mudah, mengapa kita harus mencari cara lain yang lebih susah?" jawab salah satu telepon genggam dari kaum 'pintar' dengan tenang. Seakan-akan semakin bangga akan segala kelebihan yang dimilikinya.

Zaman memang akan terus berkembang. Peradaban juga akan berjalan maju. Itu sudah menjadi aturan alam. Semakin banyak ilmuwan-ilmuwan hebat, semakin banyak juga orang gila yang bertebaran di jalanan. Semakin juga para manusia dihipnotis oleh segala produk dari perkembangan zaman. Semakin juga para manusia dibuat gila olehnya.

Dunia ini memang sudah gila. Korban berjatuhan dalam rangka memperebutkan barang hasil perkembangan zaman dengan harga miring. Bocah-bocah yang belum tahu apa-apa pun sudah dengan bangganya menggenggam telepon genggam pintar. Sementara di samping itu, masih banyak rakyat yang meronta-rontah pedih di perkampungan kumuh. Masih banyak anak-anak kecil yang harus rela bergumul dengan kerasnya kehidupan di jalan. Mereka tidak bisa menikmati manfaat dari sebuah produk hasil perkembangan zaman.

Kontradiksi bukan? Lalu, apakah perkembangan zaman atau sebut saja perkembangan teknologi hanya dapat dinikmati oleh mereka-mereka yang berduit?

Dec 10, 2011

Perdebatan di Depan Secangkir Teh Hangat


Ada sebuah kasus yang baru terjadi beberapa hari ini. Kasus yang diberitakan oleh semua media massa. Kasus yang menggemparkan, yang menguak hati nurani. Seorang mahasiswa membakar diri di depan Istana Negara.

Hampir semua media mengatakan bahwa kejadian itu sarat dengan muatan politik. Hal ini tentu dikaitkan oleh profil si pembakar diri yang bisa dikatakan seorang aktivis HAM. Namun, siapa tahu jika ternyata penyebabnya bukanlah seperti yang dibicarakan tiap media? Tidak ada yang tahu, dan belum ada yang tahu.

"Saya salut akan perjuangannya. Demi membela rakyat, dia berani mengorbankan dirinya sendiri," begitu kira-kira katanya. Kata seorang lelaki, sebut saja namanya Ranu. Namun, dengan lantang saya menolaknya. Untuk apa salut pada orang-orang yang tidak berpikir panjang? Bahkan saya menyebutnya sebagai hal yang konyol. Ketika seseorang, atas nama kekecewaan terhadap pemerintah, lalu ia membakar dirinya. Saya berpikir mungkin dia memang sudah bosan hidup. Dan, hal inilah yang mengawali perbincangan kami.

Saya tahu, hal seperti membakar diri sudahlah sebuah hal yang wajar. Banyak aksi-aksi yang terjadi di negara-negara lain yang berdasar atas kekecewaan terhadap pemerintah. Namun, haruskah seperti itu?

Itulah yang membuat saya kontra terhadap gerakan-gerakan masyarakat yang mengatasnamakan membela rakyat. Mungkin ini hanya pandangan saya semata. Tapi banyak saya menemukan kisah seperti ini. Saya selalu menentang aksi anarkis, atau setidaknya aksi yang merugikan orang lain. Seperti cerita di sebuah kota di Jawa Tengah sana. Terlibat konflik antara pedagang pasar dengan pemerintah. Beberapa aktivis masyarakat dengan semangat membela para pedagang. Sampai akhirnya mereka harus bentrok dengan Satpol PP, mereka kalah, dan beberapa dari mereka ada yang dilarikan ke rumah sakit. Atau seperti yang sering kita lihat di televisi. Aksi mahasiswa-mahasiswa yang turun ke jalan. Dan tidak jarang dari mereka yang melakukan aksi brutal. Seperti membakar ban dan lain sebagainya. Dan baru saja kemarin, ketika Indonesia mendapatkan masalah perbatasan wilayah negara dengan Malaysia. Ada sebuah wacana yang mengatakan bahwa kita harus perang melawan Malaysia. Haruskah saya menyebut negara ini sebagai negara 'barbar'?

Pernyataan itulah yang membuat Ranu naik pitam. Ia sangat menyetujui perang, karena menurutnya semua harus diberantas. "Sampai kapan kita akan diam jika mereka-mereka para pejabat tidak peduli pada kita?" begitu jawabnya. Sungguh, saya pun sama dengannya. Menginginkan hal yang sama. Namun, saya hanya bertanya-tanya, apakah cara yang harus ditempuh hanya dengan kekerasan? Namun, saya akui itu benar adanya. Terbukti pada tragedi Mei 1998. Ketika korban berjatuhan, banyak orang yang hilang entah kemana, akhirnya Indonesia mengalami pergantian rezim. Mungkin, saya harus berkata, masalah pemerintah-rakyat adalah masalah yang tak akan pernah ada habisnya. Jika mau habis, jatuhkanlah korban terlebih dahulu. Maka dari itu, lakukanlah perang! Tapi sekali lagi, anggap saja saya seorang pecinta damai. Saya tidak suka kekerasan. Atau ada pihak-pihak yang sebenarnya tidak tahu menahu, lalu menjadi korban. Seperti, ada seorang anak berseragam putih-biru, di tengah-tengah kerumunan massa yang berorasi.

Dan, sekali lagi, dia menyanggah saya. Baginya tak ada cara lain selain melawan dan berontak. Cara dialog pun dirasanya sudah tidak berguna. Seperti mungkin yang dilakukan oleh si pembakar diri. Dia sudah mengalami titik buntu, karena pemerintah tidak pernah melaksanakan tuntutan-tuntutannya. "Lagipula jika kita melihat kasus di pembakar diri, siapa yang dirugikan? Toh dia hanya merugikan dirinya sendiri." Saya menjawab, bahwa memang tidak ada yang dirugikan secara fisik. Tapi bisakah kita membayangkan bagaimana perasaan keluarganya yang tiba-tiba saja mendengar kabar naas tersebut. Hal kecil memang, tapi menyentuh.

"Lalu, jika kamu memang tidak ingin ada kekerasan, bagaimana caranya? Bahkan berdialog pun rasa-rasanya sudah tak berguna. Akankah kamu terus menjadi orang yang apatis, tak pernah peduli pada apa yang dirasakan rakyat bawah?"

Sambil meneguk secangkir teh hangat, saya diam sejenak. Dan saya menjawab, tidak. Saya memang tidak bisa berorasi di depan kantor-kantor pemerintahan. Saya juga tidak begitu paham dengan wacana-wacana politik yang begitu membabibuta. Saya juga malas harus berpanas-panasan berdemonstrasi di jalanan. Lagipula, saya merasakan begitu bencinya ketika saya hendak berpergian, lalu tiba-tiba saja ada kelompok masyarakat yang sedang berdemonstrasi, macet! Ya, saya memang malas melakukan semuanya. Tapi perlu kita tahu, sesungguhnya aksi yang dibutuhkan rakyat bukan hanya aksi dengan turun ke jalan menuntut kebijakan pemerintah lalu disiarkan ke seluruh penjuru negara. Pernahkah kita berpikir untuk do something pada mereka, yang kita sebut sebagai rakyat bawah? Apakah pengabdian kita pada rakyat bawah harus selalu dilakukan dengan berteriak menuntus kebijakan pemerintah atas nama rakyat? Saya menjawab, tidak.

Saya memang tidak bisa berorasi atas nama revolusi reformasi. Tapi, saya hanya bisa ikut turun ke jalan untuk 'membantu' mereka. Saya mencoba bergabung dengan mereka-mereka, kawan-kawan dari jalan. Pernah juga, saya bersama beberapa teman menyediakan perpustakaan kecil-kecilan yang dikhususkan untuk kawan-kawan jalanan. Saya juga dengan senang hati akan menjawab bila ada seseorang dari mereka bertanya suatu hal yang tidak mereka mengerti. Atau sekedar memberikan pelajaran mewarnai gambar pada mereka bocah-bocah yang terpaksa harus bergumul dengan kerasnya kehidupan di jalan tanpa bisa membaca dan menghitung. Dan mungkin, berkunjung ke sebuah perkampungan kumuh, memberi bantuan ala kadarnya. Dan mencoba bergaul bersama mereka. Menjadi teman yang baik bagi mereka. Menunjukkan pada mereka, bahwa tidak pernah ada batas antara kita dan mereka.

Atau juga, jika saat ini negara kita sedang goyah karena masalah-masalah budaya lokal negara kita yang seringkali dengan mudahnya direbut oleh negara-negara tetangga. Dan cukup banyak saya mendengar orang-orang berteriak, "Lestarikan kebudayaan lokal Indonesia!". Saya pun melakukannya dengan turut aktif berpartisipasi membantu teman-teman para penggiat seni tradisi dalam menggelar berbagai kegiatan-kegiatan kecil.

Memang, yang kami lakukan hanyalah hal-hal dalam lingkup kecil. Mungkin, tidak ada yang mengetahuinya. Kami juga tidak masuk ke dalam layar televisi. Tapi, kami melakukannya dengan tulus. Biar hanya dalam lingkup kecil, tapi kami melakukannya secara langsung dan berguna.

Seperti perbincangan saya dengan salah seorang seniman sekaligus aktivis di Bandung. Saya ingat, dulu dia sering melakukan aksi di mana-mana. Namun sekarang, dia membangun sebuah kampung budaya dan industri di perkampungan di mana ia tinggal. Ia sadar akan SDM yang ada di wilayah tersebut. Ia mengolah SDM-SDM yang ada di sana untuk bisa produktif. Ketika saya bertanya, mengapa ia jadi lebih fokus di kampung ini, ia menjawab, "Ah, saya capek terus-terusan aksi, nggak ada gunanya. Mending langsung saja aksi dalam bentuk nyata."

Begitulah kira-kira yang saya ambil. Aksi dan orasi tidak menyelesaikan masalah. Memang, jika aksi dan orasi-orasi itu berhasil, akan membawa pengaruh yang sangat besar untuk seluruh lapisan masyarakat. Namun, entah kapan. Dan, bagi saya, lebih baik kita turun untuk melakukan sebuah aksi nyata dan langsung menyentuh mereka yang kita bela. Setidaknya, itu jawaban saya pada Ranu.

Malam semakin dingin, air teh dalam cangkir semakin menyusut. Mungkin sudah waktunya perdebatan ditutup. Pada akhirnya, secangkir teh hangat menjadi saksi perdebatan malam tadi.


Bandung-Sokaraja, 091211