RACAU

Showing posts with label RACAU. Show all posts
Showing posts with label RACAU. Show all posts

Nov 10, 2015

Ode Untuk Kata


Foto diambil dari indestructibleideas.com


Dia itu gadis binal. Ia cerdik untuk berintrik. Tatapan matanya terlalu tajam untuk dipandang dalam-dalam. Seringkali ia mengedipkan matanya, isyarat sebuah ajakan bermain.

Kamu tahu? Pelan-pelan ia sudah mengincarmu sejak vagina Ibumu belum mau mengeluarkanmu. Lantas, setelah kamu keluar dari dalam tubuh Ibumu, ia akan memaksamu untuk memahaminya. Katanya, ia adalah barang terpenting dalam hidupmu. Lalu dengan terbata-bata kamu pun perlahan memahaminya.

Ia akan terus tumbuh di dalam tubuhmu. Menjadi seorang gadis binal dengan peluru-peluru yang ia kumpulkan semasa hidupmu. Ia akan menjadi kekasihmu. Tanpanya, kamu kaku.

Berhati-hatilah dengannya. Ia adalah virus yang suatu waktu bisa saja membekukan darahmu. Membuatmu kejang-kejang. Membuatmu sesak nafas. Membuatmu rabun. Membuatmu kencing darah. Membuatmu disleksia.

Karea ia akan senantiasa membiarkan dirinya keluar dari mulutmu kapanpun kamu mau. Ketika kamu marah. Ketika kamu bersedih. Ketika kamu mabuk.

Dan terkadang, ia akan memintamu bertanggungjawab karena telah mengeluarkannya dari mulutmu. Ia adalah kekasih terbaik yang senantiasa menuntut.

Kata, kamu adalah cintaku. Tapi juga sekaligus musuhku.

Damn you, words!



Kalibata,
11 November 2012

Mar 18, 2015

Un(talk) : Mencari Kekasih




Halo! Bisa aku bicara dengan Siapa? 
Aku mau bertanya kepada Siapa, kekasihku dimana? 
Sebentar saja aku ingin berbicara dengan Siapa. 
Halo.. Halo.. Tolong cepat panggilkan Siapa. Jangan diam terus. Koinku sudah mau habis.
Tolonglah.. Aku hanya ingin Siapa mengatakan padaku dimana letak kekasihku saat ini.
Ayolah, koinku sudah mau habis. 
Siapa kekasihku dimana.


tutt.. tutt.. tutt.. 
-- sambungan telepon mati --



Rawajati, 18 Maret 2015




Jan 19, 2015

Siang Santai dan Kartinah Gadis Kontemporer



Perkenalkan! Namanya Kartinah. Seorang gadis kontemporer yang muncul tak terduga di siang yang membosankan. Kami tak tahu mengapa ia bisa tiba-tiba muncul. Mungkin ia bentuk kejenuhan laknat di hari Sabtu. Perlahan dari kantung mata yang masih mengantuk karena terpaksa bangun pagi buta. Dari kelelahan setelah mengikuti tugas kantor untuk mengikuti tes yang entah berapa nilainya. Dari benang-benang rajut yang baru saja dibeli tapi belum berfungsi sepenuhnya. Dari keinginan untuk menggerakkan tubuh yang kaku. Jadi, begini ceritanya.......









Adalah Kartinah. Seorang gadis yang kusut. Wajahnya tak pernah sumringah. Kusut selalu yang diperlihatkannya. Seperti gulungan benang yang habis dipakai. Entah apa yang membuat wajahnya begitu kusut. Ah ternyata ia merasa dirinya adalah manusia paling merana di dunia. "Bukankah semakin kamu merana maka penghargaanmu semakin tinggi. Maka kamu pun akan mendapat perhatian orang lain. Begitu bukan?" Kartinah berbisik pada dirinya sendiri dalam hati. 

Setiap hari ia bingung. Setiap hari ia bimbang. Setiap hari ia gundah. Pun setiap hari ia galau. Keluhan-keluhan ala iklan pemutih kulit pun tampil setiap hari di akun Twitter-nya. Ia juga selalu berpikir bahwa Tuhan akan membacanya. Maka tak jarang pula ia memanggil Tuhan lewat Twitter. 

Ia merasa dirinya tidak cantik. Melihat gambar Pevita Pearce di siaran gosip televisi, maka ia akan membayangkan bahwa dirinya secantik artis muda berlian itu. Mungkin karena itu juga, kekasihnya belakangan diketahui berselingkuh dengan seorang gadis muda yang mirip Nikita Willy. Ia selalu mengeluh, bertanya mengapa, mengapa, dan mengapa. 

Ia lupa arah. Atau mungkin tak tahu arah.


Semakin hari, semakin ia merasa bahwa ia adalah manusia terburuk yang pernah ada. Buruk rupa, kusut, bodoh, tak tahu apa-apa. "Ah, da apa atuh aku mah ngan kaleng kurupuk," katanya. Tapi, di suatu siang yang membosankan, muncul sesosok makhluk yang tak diketahui identitasnya. Dengan seuntai tali, ia menawarkan sebuah topeng cantik berwarna merah mengkilap. Begitu cantik! Begitu glamor! Kartinah pikir jika ia memakainya maka ia akan berubah. Tapi teman-temannya selalu memberinya semangat untuk tetap menjadi diri sendiri. Maka ia bimbang. Ia bingung untuk mengambilnya atau tidak. "Ambil.. Enggak.. Ambil.. Enggak.." ucapnya dalam hati sambil menghitung jari.




Akhirnya ia kalah. Konflik batin dalam dirinya tentang topeng sempat memanas lantas mereda pada pilihan : "Aku akan pakai topeng itu". Maka ia ambil topengnya. Ah, halus sekali permukaan topengnya. Ia memutar-mutar topengnya. Ia pikir, topeng itu bagus juga. Cukup lama ia memandangi topengnya. Bahagia rasanya. Bahagia yang tidak ada sedikit senyum pun yang tersungging. 

Setelah puas menikmati penemuannya, ia pun perlahan memakainya. Bak ratu pesta yang memakai topeng berharap bertemu seorang pangeran tampan yang kelak akan jadi pasangannya berdansa. 




Dan, Ha! Akhirnya terpasang pun topeng itu di wajahnya. Biarpun tetap menyedihkan, setidaknya kini ada wajah baru yang menempel di kepalanya. Wajah sang topeng baru. Lihat, ia bisa berpose sesukanya. Ia berpose seperti hendak berlari. Semoga topeng itu tidak membuatnya lari dari kenyataan. Ia juga bisa bergaya layaknya seorang model profesional dengan jari jemarinya yang lentik. Begitulah, topeng membuat hidupnya lebih indah. Ia baha666ia! Tidak seperti Kartinah yang sedianya, gadis murung. 



Tapi.. Lama-lama ia lelah juga. Ternyata hidup memakai topeng demi memenuhi persyaratan zaman dirasanya cukup melelahkan. Kepalanya harus terus berkerut karena tertutupi topeng. Lihat, matanya pun menyipit. Mungkin ia kelelahan. Entah berapa pria yang ia beri kedipan mata. Kedipan mata di balik topengnya. Ia kembali galau. Ia kembali gundah. Ia kembali bimbang. Ia kembali bingung. "Haruskah aku terus menggunakan topeng?" tanyanya.

Ia berpikir, dan......


Ia pun melepas topengnya.....


"Maaf topeng.. Aku harus membuangmu. Aku tidak bisa lagi hidup bersamamu," kata Kartinah.


Kartinah pun bebenah. Ia bertekad untuk membenahi hidupnya. Ia telah melepas topengnya. Lalu sekarang ia tak mau lagi menjadi Kartinah yang kusut kemusut. Setelah mendengar ceramah Mario Teguh di salah satu stasiun televisi swasta, ia bertekad untuk menjadi lebih baik. Mario Teguh bilang, cobalah hal yang baru dan keluarlah dari zona nyamanmu. Baiklah, selama ini Kartinah hanya berada di situ-situ saja. Mungkin memang saatnya ia mencoba hal yang baru. Iya, hal baru itu adalah menjadi seorang wirausahawan. 


Atas motivasi Mario Teguh dan atas inspirasi dari benang-benang yang melilit acak di kepalanya,akhirnya Kartinah memutuskan untuk menjadi seorang wirausahawan pernak-pernik wanita. Setelah ia susah payah hidup dengan topengnya untuk menjadi wanita tulen dambaan pria. Kini, ia menghasilkan kalung model terbaru yang berseliweran di pasaran. Siapa sangka, mahakaryanya yang ciamik itu jadi idola semua wanita yang ingin berpenampilan eksentrik. Kini juga, giliran Kartinah benar-benar menjadi idola, baik pria maupun wanita. Ia menjadi idola tanpa topeng. Dan, dalam hatinya ia berdoa: semoga kalung eksentrik buatanku ini bisa menghasilkan topeng-topeng baru. Ha..Ha..Ha..

**********

Begitulah kisah Kartinah Gadis Kontemporer di siang santai yang membosankan ini. Kisah tiba-tiba, dibuat asal-asalan dan apa adanya. Selamat menikmati! Kalau mau langsung tutup halamannya juga boleh. 

Dan ini sedikit gambaran behind the scene. Persiapan saya menjadi seorang Kartinah Gadis Kontemporer. Bersusah payah melilit-lilitkan benang (yang tadinya akan saya pakai untuk variasi di dompet) di kepala saya. Tapi apa daya, siang santai yang membosankan pun membuat saya rela melilit-lilitkan benang di kepala. 




Oya, tak lupa juga memperkenalkan orang-orang di balik kisah ngasal ini. Ada kami. Bapak Hidayat Adhiningrat yang mengambil semua foto yang ada di halaman ini. Juga saya sebagai model dadakan dan pencerita ngasal ini. Dan tak lupa juga sebagai produser, pemerhati, pengkritik, dan penonton setia pertunjukan ini :


Terimakasih kami ucapkan kepada Bapak Asbak yang begitu setia. Begitu tabah juga menerima puntung-puntung rokok yang di ujungnya terdapat air liur kami. Terimakasih banyak!


Salam! Ciao!


Rawajati, 17 Januari 2015

Jan 6, 2015

Sisa Hujan Bulan Desember


From : www.thewallpapers.org


Tik.. Tik.. Tik.. Begitu katanya bunyi hujan di kala ia mulai turun. Siapa sangka bunyi itu bisa menggelegar buat suara kita jadi parau?
Jika ia semakin mengamuk, suaranya akan jadi BYARRR! Kepalaku lantas tertunduk dibuatnya. Ssstt.. Jangan bilang-bilang, aku malu pada hujan. 

Tik.. Tik.. Tik.. Begitu katanya bunyi hujan di kala ia mulai turun. Seperti suara protes yang parau dari mulut sang komandan. 
Jika ia semakin mengamuk, suaranya akan jadi BYARRR! Kututup wajahku mendengar protes parau itu. Ssstt.. Jangan bilang-bilang, aku malu padanya.

Tik.. Tik.. Tik.. Begitu katanya bunyi hujan di kala ia mulai turun. Seperti suara pekikan tawa para pasukan ketika burung-burung membawa kabar parau.
Jika ia semakin mengamuk, suaranya akan jadi BYARRR! Kututup telingaku mendengar pekikan tawa itu. Ssstt.. Jangan bilang-bilang, aku malu padanya.

Tik.. Tik.. Tik.. Begitu bunyi hujan di bulan Desember. Mengawali orkestra musik bernada minor. Mengantarkan diri pada sebundel cerita buram.
Dan perlahan-lahan, waktu berjalan.
Jika ia semakin mengamuk, suaranya akan jadi BYARRR! Kututup bukuku tentang hujan di bulan Desember. Ssstt.. Jangan bilang-bilang, aku malu pada hujan di bulan Desember.


Selamat datang, Januari!
Ssstt.. Diam-diam hujan tetap mengeluarkan gaungnya.
Hujan, jangan berisik! Sekarang kamu hanyalah hujan sisa bulan Desember!



Rawajati, 5 Januari 2014

Oct 2, 2014

Kamu, Yang Banyak Rupa


Foto : Asri Wuni

Rawajati, 1 Oktober 2014

Kepada Yth,
Kamu Yang Banyak/Satu Rupa


Kepada Kamu Yang Banyak Rupa...

Tahukah kamu jika kamu memancing api untuk membara? Iya, api yang membara atas nama seorang pejuang yang (hampir) mati di tengah pertempuran. Kamu dorong aku untuk berani membakar istana milik juragan minyak, yang juga begitu kamu benci. Tapi kamu di mana? Adakah kamu di sampingku? Bahkan kamu hampir hilang dalam hari-hariku. Doronganmu nyata, wujudmu begitu sulit kutemukan. Jika pun bertemu, mungkin itu hanya satu kesempatan tak terduga yang sontak muncul di balik kejenuhan bernama rutinitas. Tapi, diam-diam aku membutuhkanmu, sayang...


Kepada Kamu Yang Banyak Rupa...

Tahukah kamu jika kamu memberiku gambaran akan diriku sendiri? Melihatmu, seperti melihat gambar dalam cermin yang dimana aku berdiri di depannya. Seseorang pernah berkata bahwa kita layaknya dua wujud yang tak bisa terpisahkan. Kembar siam, katanya. Aku menemukanku dalam dirimu. Namun, kamu seperti melayang, di awang-awang. Setiap kali aku mencoba menangkapmu, kamu selalu pintar berpindah tempat ke udara yang lain. Kapan aku bisa menangkapmu basah? Tapi, diam-diam aku memujamu, sayang...


Kepada Kamu Yang Banyak Rupa...

Tahukah kamu jika kamu seperti bapak peri yang menghidupkanku kembali? Kamu melawan Izrail yang sebelumnya sempat mengambil hidupku. Atau, bila tadinya aku hanyalah sebuah robot, kini aku menjadi manusia kembali. Lagi-lagi, itu karena kamu. Kamu memberikanku hidup dengan gula-gula manis yang selalu membumbui setiap gerak yang keluar dari mulut dan tubuhmu. Tapi, tampaknya kamu begitu bangga akan keberhasilanmu menghidupkanku kembali. Pongah! Lagi pun, ibu peri menunggumu di sana. Di suatu tempat yang diam-diam sering aku amati. Yang tanpa sadar membuatku jengah. Tapi, diam-diam aku menyukaimu, sayang...


Kepada Kamu Yang Banyak Rupa...

Tahukah kamu jika kamu seperti malaikat kecil dengan sayapnya yang berwarna kuning yang selalu membuatku tersenyum-senyum? Tingkahmu membuatku geli bukan kepayang. Terkadang, fase perbincangan antara kita membuatku mengeluarkan senyum simpul sedikit malu-malu. Ataupun hati yang berdebat-debar manis ketika sosokmu menghampiriku. Mungkin bagimu aku ini seperti perempuan kecil yang bisa digoda dengan setiap candamu yang (ini rahasiaku) membuat senyumku makin merekah. Ah, tapi godamu itu kadang kala menggantung di langit-langit rumah. Kamu tidak lantas loncat ke bawah untuk mendekapku. Tapi, aku diam-diam memerhatikanmu, sayang...


Aku melihatmu terus berputar, dari rupa yang satu ke rupa yang lainnya. Berputar dalam distorsi gerak yang menjadi bayang-bayang. Perlahan aku tahu, bahwa di balik gerak berputarmu, ada titik yang satu rupa. Ternyata kamu, kamu, kamu, dan kamu, adalah sama. Dan diam-diam, aku makin menyadari bahwa kamu adalah satu rupa.. Aku menyayangi yang satu rupa, untuk jadi satu pasang.


Current playlist :

Sep 11, 2014

59 Detik Untuk Rasa Yang Dikosongkan


From : www.flickr.com




Berlari ia kemana
Dibelainya selembar kain usang dan bolong,
tanpa ada satu pun bagian tubuhnya yang bergetar

Bernafas ia sampai ujung
Ditiupnya tumpukan kapas putih hingga bercerai berai,
tanpa sedikitpun siulan manis keluar dari mulutnya

Berjaga ia menuju akhir
Ditamparnya hembusan-hembusan nafas kecintaan,
tanpa dilihatnya ruas-ruas jari ternyata sudah berkerut


Suaranya parau
Seperti suara angin yang meniup pohon tanpa daun
Pandangannya buram
Buat dirinya terbang dengan frekuensi radikal bebas
Gerak tubuhnya kaku
Layaknya pohon yang berdiri pongah dengan daun yang perlahan meninggalkannya


Ia bumbu asmara yang,
Mengusir rasa yang terus merana
Menginjak rasa yang terus mencoba mencinta
Menangkap apa yang dirasakan Durga
untuk berlaku keparat padahal kepalanya penuh rasa


Ah, apalah arti rasa. Begitu katanya.
Kubuang jauh saja sang rasa. Katanya lagi.

Aku tak punya radar yang bisa menangkap gelombang rasa. Begitu katanya dengan lunglai.
Aku mati rasa. Katanya sambil membunuh rasa. 

Di balik pohon tanpa daun. Di bawah burung-burung yang terbang bersiul mesra.
Dalam 59 detik, ia bertanya : kosongkah itu?


Rawajati, 11 September 2014 | 00:08 WIB

Aug 28, 2014

Kubungkuskan Sekotak Senja Untuk Kekasih Gelapku




Layung di ufuk barat tak tahu lagi harus bagaimana melihat tingkahnya bersama sang kekasih gelap. Kekasih gelap yang ia sembunyikan di balik rumput ranum. Rumput semakin ranum karena tersiram oleh peluh. Pasalnya, mereka sering bercinta di sana. Dalam senja. 

Gesekan kulit terasa semakin candu oleh efek pancaran matahari senja. Kaki-kaki telanjang saling menginjak tanpa sadar ada semut-semut kecil yang menggigitnya. Tanpa pun ada orang yang melihatnya. Para istri mungkin sedang sibuk menyiapkan makan malam dan para suami mungkin sedang menikmati kemacetan jalan selepas kerja. Karena mereka bercinta, dalam senja. 

Senja, adalah ketika yang terang bertransisi menuju yang gelap. Tidak bahagia, tidak juga suram. Tapi cantik, bukan? Menikmati segala yang tanggung. 

Kini, mungkin kekasih gelapnya hanya ingin hidup di siang hari. Selebihnya, ia hanya ingin mati. Tak ada lagi senja yang ranum. Ia harus kembali menikmati senja dengan musik-musik langit. "Akan kubungkuskan sekotak senja untuk kekasih gelapku, yang mungkin bisa dipajang di dinding kamarnya sebagai cerita" katanya dari balik senja yang perlahan menghilang.


Rawajati, 28 Agustus 2014


Maaf, judulnya memang terinspirasi atau ikut-ikutan Seno Gumira Ajidarma (Sepotong Senja Untuk Pacarku). Tapi yang ini hanya proses meracau.



Aug 27, 2014

Namanya : Keya





Perkenalkan! Aku memberi namanya Keya. Nama yang terlintas begitu saja di kepalaku. Aku tak tahu berapa usianya. Walaupun ia tampak kecil, tapi ia sudah menemaniku selama hampir lima tahun. Dulu, ia menjadi penjaga jendela kamarku bersama seekor burung kertas yang sekarang kutinggal di kampung halamanku. Sekarang, ia menggantungkan dirinya di pintu kamarku. Ia bukan ingin bunuh diri, tapi ia menjaga pintu kamarku. Jangan pernah berani menyerobot masuk ke dalam kamarku tanpa seizinnya. Bisa-bisa ia jatuh dan terlepas, lalu terluka. 

Aku menyayanginya. Sama seperti aku menyayangi kekasihku, seekor burung kertas di kampung halamanku. Di sini Keya bisa menghiburku tiap kali aku pulang bekerja. Menghibur lelah atau juga menghibur gundah yang disebabkan oleh ini dan itu. Dank u well, Keya!


Rawajati, 27 Agustus 2014 - 5:28 AM

Lagi-lagi aku meracau sembari menunggu gaji bulanan. Tapi foto dan tulisan ini kudedikasikan khusus untuk Keya-ku tersayang.  

Euforia Rasa




Siapa sangka denyut jantung berdegup ketika kamu nyalakan api dari korekmu? Malam buram rasanya tak mengurangi semangat untuk menenggelamkan asap bersama di bawah lampu yang sengaja dimatikan.

Asap itu milik kita. Begitu juga dengan malam buram. Kita, aku dan kamu. Atau mungkin hanya aku, mungkin hanya kamu. Asapnya lincah bergerak memenuhi ruang. Ruang yang berjalan dalam waktu yang sangat singkat. Ruang yang tak pernah kupikir akan datang dalam hari-hari menuju gila. 

Ruang singkat itu, kita yang buat bukan? Sekali lagi aku bertanya. Kita? Atau hanya aku? Atau hanya kamu?

"Aku ingin berjalan 92 juta kilometer dari Bumi. Ayo, kita pergi ke Merkurius!" katamu.
"Tidak! Bawa aku ke Venus. Di sana Bumi bisa melihat kita-atauhanyaaku-atauhanyakamu dengan mata telanjang," sanggahku.
"Aku tidak ingin kita-atauhanyaaku-atauhanyakamu menjadi barang tontonan. Di Merkurius kita bisa merasa panas yang sangat panas dan dingin yang sangat dingin. Sesuai waktu yang berjalan di alamku sendiri," kamu lagi-lagi membantahku.

Begitulah kita selalunya. Bergumam sesukanya, berdebat semuanya. Bagimu kosong, bagiku penuh. Bukan debat kusir, tapi debat yang secara tak sadar muncul di titik pusat antara aku dan kamu yang berdiri berhadapan tanpa bicara. 

Kamu bilang bahwa aku tidak mengenalmu. Siapa bilang aku mengenalmu? Buktinya aku tak tahu kalau kamu ingin pergi ke Merkurius. Walaupun diam-diam, perlahan aku tahu.

Ah kawan, tapi sungguh kamu begitu manis. Seperti permen karet yang selalu kukunyah dengan rasa manisnya. Tapi memang, begitu rasa manis di permen karet itu hilang, maka akan kubuang. Aku masih ingat ketika kita-atauhanyaaku-atauhanyakamu berjalan di bawah Matahari. Matamu dan mataku sama-sama menyeringai. Tapi apa yang kita lakukan? Tertawa! Tertawa layaknya sedang menikmati komedi putar dengan alunan musiknya yang riang, pun yang tanpa sadar membuat kita mual. Tapi itu dulu, dalam ruang singkat yang mendadak eksis. Iya, dulu. Ruang singkat yang masih dipenuhi ledak tawa dan cerita.

Yang ada sekarang, adalah kita saling membungkus kepala kita dengan kantong keresek dan melipat seluruh bagian tubuh agar tak tertebak. Padahal, dulu kita sering saling pandang dalam kepolosan. Iya, dulu. Kepolosan dalam ruang singkat yang masih dipenuhi rayuan manis.

Nyatanya, kita-atauhanyaaku-atauhanyakamu membentuk ruang yang begitu singkat. Seperti rasa yang meledak sesaat, hanya dalam ruang singkat itu. Aku menyebutnya, euforia rasa. 


Now Playing:
Love Cult - Lust Undone
Terranova - Plastic Stress
Screen Vinyl Image - Night Trip



Rawajati, 27 Agustus 2014 - 3:49 AM

Maaf ini isi racauan menunggu kabar masuknya gaji bulanan. 
Selamat meracau! Selamat menikmati gaji bulanan!


Jun 27, 2014

Ssstt... Banyak Yang Bercinta Pagi Ini.



Ssstt... Banyak yang bercinta pagi ini.
Ssstt... Banyak yang bercinta pagi ini. Di pinggir danau.
Ssstt... Banyak yang bercinta pagi ini. Di pinggir danau. Di bawah awan mendung.

Mungkin hujan bisa buat buyar konsentrasi mereka yang sedang bercinta pagi ini. Burung-burung saja urung dari peredarannya di udara. Mungkin mereka takut jika di kala mereka terbang, maka dilihatnya lah sepasang manusia yang bercumbu di bawahnya. Atau mungkin mereka pun ingin ikut bercinta sembari terus mengepakkan sayapnya yang setengah patah ke arah burung betina cantik yang bertengger di batang pohon Angsana?

Sepertinya pasangan-pasangan manusia itu bahagia sekali. Sesekali melepas senyum, saling rayu dan saling cubit. Ada satu, dua, tiga, dan empat. Empat pasang manusia di pinggir danau. Tanpa burung yang sewaktu-waktu bisa saja memergoki bibir-bibir sedang saling berpagut. Tanpa hujan yang bisa buat buyar konsentrasi.

Seorang perempuan muda berjilbab duduk malu di pinggir danau. Seperti daun Putri Malu. Sesekali mulutnya merekah ketika tangan seorang pria bertopi menyentuh pundaknya dengan lembut. Di balik pohon, sepasang kekasih duduk berhadap-hadapan sambil saling mengelus wajah. Di dalam pos satpam, seorang satpam nampak tengah menikmati segelas jamu dengan riangnya. O, ternyata jamu itu racikan khusus dari Mbok Jamu, sang kekasih. Dan, di atas papan skateboard, sepasang bocah laki-laki dan perempuan tampak duduk berdampingan. Hih, terkadang mereka saling memukul manja.

Lalu, aku? Aku bercinta dengan pagi. Tanpa burung yang bisa saja memergoki mata binarku memandangi nuansa pagi di depanku. Tanpa hujan yang bisa buat buyar konsentrasi penglihatanku. Di pinggir danau ini. Sendiri, bersama Pagi.


Lelagu :


Danau TMP Kalibata,
Kamis, 26 Juni 2014

Dec 3, 2013

Simbiosis Lendir


Sembelih aku dengan belatimu yang kau pakai kemarin untuk menusuk vagina seorang jalang yang habis kau tiduri. Lalu kau tusuk, dia puas.

Bukan hal yang tabu, ketika seorang perempuan mengharapkan lendir sperma untuk memuaskan birahinya yang memanas. Birahi, satu kata yang tak mudah untuk ditolak. Birahi, tak mengenal laki-laki ataupun perempuan.

Belatimu sangat indah, tampan.Tetap inda, biarpun aku tahu di dalamnya bersemayam bekas-bekas penjajahan sel telur yang berkedip nakal. Aku tahu, kau selalu dijajah. Kau selalu dituntut untuk satu kata, kepuasan. Gagahi mereka, puasi mereka.

Kemarilah, tampan.. Menarilah denganku. Kau tak perlu takut harus mengeluarkan seluruh energi tubuhmu. Karena malam ini, izinkanlah aku untuk menggagahimu. Akulah yang akan bekerja sebagai pelayan semalammu. Aku akan menggelinjang dalam keringat basahmu. Karena aku juga manusia. Manusia perempuan. Manusia berbirahi yang tak mengenal kelamin. Aku membutuhkanmu, tampan..

Nov 21, 2013

Purnama Ada di Utara



"Di mana Purnama?", seorang perempuan seraya berkata pada seekor kambing yang sedang memunguti rerumputan di kaki gunung. "Purnama ada di utara. Ia sedang mengumpulkan bintang untuk ia sinari", jawab sang Kambing. Sang perempuan muda pun mengikuti arahan sang Kambing untuk pergi ke utara mencari Purnama.

Ada banyak jalan untuk menemui Purnama. Sang perempuan bertemu rimba. Di sana ia hampir limpung lupa arah. Banyak pohon tinggi tanpa tuan berbuah emas. Tak kuasa ia diterpa kilau keemasan yang terpancar. Tangannya hampir menggenggam bebuahan. Namun seekor burung merpati datang menyampaikan pesan bahwa Purnama sudah menunggunya di utara. Urung pun pada akhirnya sebuah niat untuk menggenggam emas. 

Sang perempuan kembali melanjutkan perjalanan. Tak harus menunggu waktu lama, seekor harimau datang menghampiri. "Hei kau, sombong sekali dirimu ingin bertemu Purnama! Kau pikir kau bisa? Bahkan kau pun akan mati jika kupanggilkan segerombolan semut yang berkoloni untuk merayapi tubuhmu!", tantang sang harimau. Tak lama segerombolan semut merayapi tubuhnya dengan lihai. Sakit dirasanya. Apa lacur, tubuhnya pun lunglai oleh gigitan semut-semut merah. "Haha! Kau ini tidak pantas untuk bertemu Purnama. Kau terlalu buruk rupa untuk menemui Purnama!", kembali sang Harimau menantang. Mendidih darahnya, namun ia tetap gigih. Sang harimau geram melihat tingkahnya hingga tak henti-hentinya untuk menantang hingga bosan dan melesat pergi.

Dengan tubuh lunglai, sang perempuan terus berjalan. Tak jauh dari utara, datang seekor elang menawarkan sebuah tumpangan untuk pergi ke utara. Elang mampu terbang tinggi dengan cepat dan memberinya jalan pintas. Namun ia menolak dan mengucapkan terimakasih. Sampai akhirnya ia menemukan sinar yang benderang. Itukah Purnama? Tanyanya dalam hati. Lantas ia berlari kencang menuju tempat darimana sinar itu berasal. 

Ah Purnama.. Purnama ada di utara. Aku mendekap Purnama. Aku menyinari bintang.

Mar 11, 2013

SU(REAL)IS




Semua warna bercampur di sana, di atas kanvas kusam yang sudah bernoda. Tampaknya, cat dengan segala warna telah sengaja menumpahkan diri di atasnya. Bercampur menjadi satu. Membentuk segala rupa yang tak tertebak. Rupa yang sulit dimengerti. Beribu makna tersembunyi di balik semua coretan di dalamnya. Menjadi sebuah tanda tanya yang tak kumengerti. Hingga sekarang aku masih mempertanyakan maknamu, Ji.
Ji. Begitulah aku memanggilmu. Bahkan aku tak tahu siapa namamu sebenarnya.

Bercerita tentang sore yang kelam di mana air Tuhan akan turun dari langit yang katanya berwarna biru. Sore setelah aku bercinta dengan Valiumku. Sore setelah aku bertemu dengan setan pemangsa pikiran manusia-manusia pongah sepertiku. Sore setelah siang yang hampir terbunuh oleh ribuan serangan optik yang menjalar di sekeliling tubuhnya. Sore di mana aku harus berkata, ANJING! Dan sore, di mana pertemuan pertamaku denganmu, Ji.

Kamu sedang tersenyum. Kamu sangat bercahaya. Tubuhmu mengeluarkan seluruh warna yang dimiliki dunia. Warna cerah yang jarang sekali kujumpai. Lantas kamu tertawa. Bertegur sapa dengan sekawanan tikus yang terus mencicit tak henti-henti. Ah, andai aku seekor kucing, akan kumakan tikus-tikus itu sampai habis. Sungguh, cicitan-cicitan mereka langsung meleleh terbunuh oleh penyaring di dalam otakku.

“Glo, perkenalkan ini temanku, Ji”, teriak salah satu tikus yang sedari tadi ingin kuterkam.

“Hai Glo, aku Ji”, sahut Ji sambil tersenyum bak malaikat kecil yang begitu lucu dengan kedua sayap berwarna kuning yang terlihat mungil di pundaknya.

Itulah pertemuan pertamaku denganmu, Ji. Terlihat cerah dan penuh warna. Seperti pasar malam yang penuh dengan lampu bersama kuda-kuda plastik yang berputar. Seperti seorang bocah kecil yang menjilati permen gulali yang berwarna-warni sambil tertawa-tawa. Menggemaskan.

Ternyata, kita bertemu lagi, Ji. Sungguh, aku tak pernah mengira bahwa kita akan bertemu lagi untuk kedua kalinya. Di sebuah gedung tua. Namun, kali kedua, kita tidak bergabung dengan tikus-tikus si tukang cicit, melainkan dengan singa dan harimau. Ya, singa dan harimau, raja rimba. Apakau kau pikir mereka jahat dan akan menerkam kita? Aku rasa tidak.

“Lihatlah bulan itu, Ji. Ada mata di dalamnya. Begitu bulat. Bagaimana menurutmu, bulan itu cantik bukan?”, tanyaku. Sejenak, Ji menengadahkan kepalanya ke arah mata yang membulat di dalam bulan yang terang itu. Lantas ia tersenyum manis. Manis sekali.

“Mari kita nikmati malam di balik karung goni ini. Tadi sore, aku membelinya dari pasar”, ujar Ji mengajakku beristirahat. “Mandikan matamu dengan cahaya bulan di atas sana, Ji. Selamat malam”, balasku sembari semakin mendekatkan tubuhku dengannya. Lantas, Ji tersenyum dan memasukkan tubuhnya ke dalam karung goni.

Kau tinggal dalam sebuah gudang tua di sebuah perbukitan berkaktus. Mungkin perbukitan itu menyimpan banyak ranjau duri kaktus yang lantas membuat orang-orang yang melewatinya berdarah karena tertusuk oleh duri kaktus. Tapi aku tak peduli, Ji. Aku senang mengunjungi gudang tuamu. Gudang tua yang di dalamnya penuh dengan aroma dupa yang kau bakar tiap hari. Gudang tua tempat kita berpeluh. Gudang tua tempat kita menaruh gejolak yang sifatnya sementara.

Ada pancaran sinar merah yang kulihat dari matamu tiap kali kau menatapku. Matamu bertanduk, Ji. Seperti iblis yang mengerang puas setelah Tuhan mengizinkannya turun ke bumi untuk menggoda manusia-manusia sepertiku. Ada apa di balik matamu yang memerah, Ji? Mungkinkah kau menyembunyikan salah satu duri kaktus dari perbukitan ini di dalam matamu?

Seolah bahaya. Kau beringas seperti macan yang siap menerkam mangsanya. Dan akulah mangsamu. Berbagai warna yang bercampur aduk di dalam tubuhmu menerkamku hidup. Dari tubuhmu muncul duri-duri kaktus tajam yang kau dekap erat tak kau lepas. Mungkin mereka ingin keluar, Ji. Tapi kau tak kunjung melepasnya. Kau hanya mendekapnya. Kau hanya membiarkan warna-warni tubuhmu yang menerkamku.

Dalam waktu yang singkat, tubuhku pun tertular warna tubuhmu. Warna apa yang kau beri, Ji? Kauberi aku merah. Membuatku berani melawanmu. Akupun beringas. Kau pikir aku takut melawanmu? Namun sontak merahmu pudar. Merah matamu melepuh. Beringasmu menipis. Lantas kau tersenyum. Seperti pertemuan pertamaku denganmu. Senyuman bak malaikat kecil dengan kedua sayap kuning di punggungmu.


JI, seperti apakah dirimu sebenarnya? Sudah cukup lama aku mengasingkan diri di gudang tuamu. Berteman dengan sekawanan duri kaktus dan jaring laba-laba yang terkadang menjebakku tersesat. Kau nyata, namun tak cukup nyata. Aku mengenal tubuhmu. Aku mengenal baumu. Namun, aku tak mengenal warna-warna yang tercoret di dalam tubuhmu. Di dalam kanvas usang yang sudah bernoda oleh berbagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang terus kau sembunyikan.

Feb 17, 2013

Lendir Pertama untuk Layung


Pantai ini adalah pantai tak berpenghuni. Pantai tanpa gaduh suara bising. Putih pasirnya isyaratkan kesunyian yang disembunyikan di balik batu karang yang terbalik. Sungguh pantai yang kosong. Seperti diriny, Layung yang kosong. Layung yang warna merahnya memudar oleh jeritan burung-burung gagak yang terbang mencari mangsa. Layung yang sinarnya sejenak memecahkan pandangan dalam pupil yang mengecil. Layung dengan hamparan air laut yang airnya telah tercampur oleh peluh dengan rasa sendu.


IA berdiri tegak di tengah hamparan pasir putih. Angkuh. Merah kulihat warnanya. Seperti rona pipinya yang memerah ketika kusentuh pundaknya yang suci. Kuning kulitnya setengah tertutup oleh bubuk-bubuk pasir putih yang berterbangan terbawa angin dari selatan. Seluruh tubuhnya diselimuti oleh pertempuran matahari yang memaksa masuk ke bawah permukaan air laut yang biru.

Dari samping, kulihat biru bola matanya melepuh oleh panasnya air mata yang tergenang. Air mata itu hanya tergenang. Tak bisa menetes bebas. Seperti terkungkung oleh benteng batu yang keras. Bahkan aku tak tahu apa yang ditangisinya. Haruskah aku mencari tahu?



"Di depan kau lihat air laut berwarna biru. Ia cukup tenang. Tapi kau tahu? Sekali kau menjamahnya dalam-dalam, kau akan tenggelam ke dasar laut. Itulah perempuan", ucapnya tanpa getar. Tak tega rasanya aku untuk membalasnya. Itulah perempuan. Selalu terlihat tenang. Namun, jangan sampai kau koyahkan sedikitpun ketenangannya.

 
Cukup lama kami terdiam. Memandang pertempuran antara merah menyala dan biru tenang di depan mata kami berdua. Akankah mereka menjadi ungu? Seperti kami. Menyala mataku melihat kedua kaki telanjangnya yang seperti hembusan udara melayang di atas pasir tak bernyawa. Tenang dirinya memandang adu ombak yang perlahan membasahi kedua telapak kakinya. Mungkinkah kami pun menjadi ungu?




Metafora ini tersimpan dalam makna yang serba tak terduga. Ungu, bagaikan metafora yang datang tanpa direncakan. Sekali lagi, akankah kami menjadi ungu?


Pemandangan di depan kami tak kunjung menjadi ungu. Namun, aku sudah bisa merasakan hembusan nafasnya dari jarak terdekat yang kami miliki. Kurasakan sedikit basah di bibirku yang ternyata telah memagut bibirnya yang layu. Tapi ternyata, pertempuran antara merah menyala dan biru tenang masih belum tuntas. Mereka malu-malu. Bersembunyi di balik bibir kami yang saling memagut.


Pasir putih terasa hangat kuraba. Tak sadar, kami sudah terlentang di atas pasir putih yang kelak menjadi saksi. Kuraba kedua kakinya yang murni. Kudekap pinggangnya yang polos. Kubelai wajahnya yang asli. Kusentuh pundaknya yang suci. Yang kelak kutahu, pundak yang tak pernah diraba oleh lelaki manapun.  



KURASA biru ketika aku menciumnya dalam. Kurasa abu ketika kuangkat bibirku perlahan. "Ini yang pertama. Akankah menyenangkan?", tanyanya pelan sembari memalingkah wajahnya ke batu kerikil yang telah setia menjadi penonton adegan demi adegan yang kami buat.
 

Adalah dirinya, yang dengan keras mempertahankan kemurnian mahkotanya. Adalah dirinya, yang terpaksa menganggukkan kepalanya ketika ia diminta untuk menyerahkan mahkotanya pada seorang pria tua demi hutang keluarga. Dan, adalah dirinya, yang lari dari kenyataan yang baru saja terjadi satu hari yang lalu. Ketika seorang pria tua berbadan gemuk mencoba untuk menggerayangi tubuhnya sampai habis. Ia lari. Lepas. Dan pantai sunyi inilah yang ia temukan.

Sekilat cahaya abu melewati pandanganku perlahan. Sekilas, wajahnya nampak semu. Kosong kulihat sorot matanya. Apakah kerikil itu bagaikan kerikil di antara pohon kaktus? Begitu susah dilewati.
               

Kuangkat sedikit gaun merahnya. Sejenak aku tak mengerti apa yang akan kulakukan. Kuraih tubuhnya yang mungil. Kugerayangi perlahan. Polos.

Ia menggerayangi tubuhku. Lembut. Tidak kasar. Aku terkungkung oleh campuran energi positif dan negatif saat ini. Apa jadinya?

Aku lumat bibirnya. Kuharap air liur kami bercampur menjadi satu. Menjadi keunguan, seperti yang kuinginkan.

Zat kimia apa saja yang terdapat di dalam air liur? Apa yang akan terjadi jika air liurku bercampur dengan air liurnya? Ungu, kaukah itu?

Kurasa basah tubuhnya menggerayangi tubuhku. Basah di sela-sela kaki..

Gerakan aneh ini seperti memberikan aliran listrik pada tubuhku. Badanku gemetar. Namun peluhku menjadi saksi keindahan. Apakah ini sementara?



INI basah. Peluh kami bersatu. Pertempuran sengit antara merah menyala dengan biru yang tenang mendadak hilang. Kami tak sadar pertempuran itu sudah hilang. Tergantikan oleh rona keunguan di balik tubuh kami yang berbalut peluh. Pertanda gelap sudah datang.

"Namaku Layung. Terimakasih untuk lendir pertama yang kau berikan."

Layung menghilang. Menjadi sinar keunguan yang tampak dari celah-celah langit malam.
"Layung, akankah ada layung berikutnya di pasir putih ini?