MEREKA

Showing posts with label MEREKA. Show all posts
Showing posts with label MEREKA. Show all posts

Dec 5, 2013

Petuah Kecil Dari Sang Preman Kecil




Tanah masih basah oleh air Tuhan yang baru saja turun dari langit. Nyatanya aroma lengket Jakarta membawaku ke sini. Dalam sebuah tenda putih ditemani oleh tiga pria kesepian. Ada aroma segelas kopi yang kami minum bersama-sama, ada aroma asap yang membumbung dari sebatang kala, ada juga aroma tanah basah yang berhasil membuat hidung kami mengendus-ngendus jenaka. Ternyata hidup itu indah. Seindah semangat yang berpacu.

Di tengah obrolan di depan segelas kopi, tiba-tiba muncul seorang anak laki-laki yang telah lama kami kenal. Nyengir, ekspresi pertama yang dikeluarkannya. Namanya Adit. Aku mengenalnya sejak tiga tahun yang lalu. Dulu aku masih mengenalnya sebagai bocah berusia 14 tahun. Tapi kini ia telah berhasil memiliki satu lembar KTP. 

Dengan sebatang rokok di sela-sela jarinya, ia memamerkan gelang berbahan dasar wagu yang dikeringkan yang mengait di tangan kanannya. Di situlah petuah singkat dimulai..

Yeuh.. Adit nyieunan gelang ti wagu. Nyieun gelang ti wagu mah leuwih gampang daripada nyieun gelang tina awi..” Begitulah Adit membuka petuahnya. Selanjutnya, ia mengajarkan kami bagaimana cara membuatnya. Ajaib memang, ketika sebatang wagu bisa melengkung sesempurna itu.

Tak disadari, satu gelas kopi telah habis. Tanpa menunggu hujan turun lagi, salah satu dari kami pun pergi untuk menyeduh kopi kedua. Apa daya, gelas pun hanya satu. Maka jadilah gelas tersebut sebagai gelas kebersamaan. Mungkin segala jenis air liur bercampur di sana. Seperti campuran diksi yang keluar dari mulut sang preman kecil. Katanya, suatu karya seni tidak bisa dinilai dengan uang. “Karya seni mah enggak bisa dinilai sama uang, tapi dinilainya sama rasa”, celotehnya sembari melakukan transaksi barter gelang wagunya dengan cincin tulang yang diukir milik salah seorang dari kami. “Tah..jiga kieu. Adit mah teu ngajual gelang, tapi barter aja sama karya lain,” tambahnya semakin percaya diri.

“Seni tidak bisa dinilai dengan uang”. Sebuah teori yang keluar dari mulut sang preman kecil. Aku teringat obrolan  bersama seorang kawan yang dengan kerasnya menganggap bahwa seni adalah produksi yang memiliki nilai mata uang. Bisakah ia melawan sang preman kecil? Mungkin ia bisa berargumen bahwa teori yang keluar dari mulut sang preman kecil itu adalah semata-mata semangat yang membara. Tapi sekali lagi, semangat itu indah, kawan!

Sembari menunggu kopi kedua habis, kami terus biarkan si preman kecil itu berceloteh. Hingga muncul celoteh yang berisi: “Sebenarnya mah apa aja pasti bisa, asal ada niat kuat mah.”Seperti niat untuk menghargai alam, salah satunya.

Tak ada salahnya jika kita memburu batang pohon. Asalkan, menurut si preman kecil, sebelumnya kita pun harus mampu menghargai batang pohon yang akan kita tebang. “Batang pohon juga makhluk hidup euy, bernyawa eta teh..”. Lantas kami pun kompak memberikan tepuk tangan untuk si preman kecil. Atau mungkin itu pertanda rasa malu karena kalah oleh anak 17 tahun?

Karena malu, aku pun menawarinya sebatang rokok dengan alibi agar terasa lebih santai. Tapi nyatanya darah yang mengalir di dalam tubuhnya terus mendidih. Seperti seorang kakek tua yang selalu punya kisah tentang hidupnya. Mulutnya terus berkicau tanpa tahu di mana ia harus berhenti. Kami pun kompak memujinya. Ia makin bangga. “Aslina Teh, Adit mah di rumah sampai disangka gelo ku tatangga..”, kembali ia melanjutkan ceritanya. Ternyata banyak orang yang menyangkanya tidak waras karena banyak berpikir terlalu dalam. “Tapi da kumaha? Da Adit mah hayang terus mikiran naon deui nu bisa dijadikeun karya ti alam.”  

Hei, preman kecil, sesungguhnya aku malu pada diriku melihat dirimu sekarang. Aku ingat, tiga tahun yang lalu bahkan membaca pun kamu tidak bisa. Kegiatanmu hanya mengamen di persimpangan jalan. Aku ingat melihatmu belajar membaca dengan sembunyi-sembunyi meminjam buku-buku yang kusediakan. Tapi bahkan sekarang kamu mampu menciptakan sebuah puisi yang kamu tulis sebagai status facebook-mu. Terlebih, kamu pun mampu berorasi di tengah-tengah kami muda-mudi gila yang hanya bisa menghabiskan bergelas-gelas kopi dan berbatang-batang rokok.

Ah da Adit mah belajarna ge tina internet. Jang naon atuh aya internet mun teu diajar mah? Sambil ngetik status, sambil belajar..”

Seperti ada tangan-tangan halus yang menampar pipi kami. Siapalah kami? Hanya dua orang pria yang lihai menggesek senar hingga membentuk suatu harmoni, seorang pria pencipta rupa-rupa imajiner dalam lapisan kulit, dan seorang perempuan si juru tulis curahan hati. Bahkan, kami pun tak layak jika dibandingkan dengan semangat si preman kecil.

Nov 24, 2013

Hilangnya "Rumah Senang", Datangnya Lingkaran Hitam



Pernahkah terlihat kebahagiaan di "Rumah Senang"? Ya, kebahagiaan seperti menyaksikan orkes dangdut bernada minor. Geliat tawa dan canda, semua bersatu dalam sekumpulan jiwa yang meringis kesakitan. Ada transaksi di sana. Transaksi yang menyajikan sejuta layanan duniawi. Mereka dipandang bak sampah yang tertimbun berhari-hari, busuk.

Ada kaum yang menganggap bahwa mereka harus diselamatkan. Mereka berlomba-lomba mengajukan program. Program pelatihan keterampilan kerap menjadi sasaran. Ada juga kaum yang mengganggap bahwa mereka harus diberantas. Mereka dihina dan dimaki. Mereka dipandang dengan sepasang mata yang setengah buta. Mereka dilupakan dari eksistensinya sebagai sejatinya seorang manusia. 

Bisnis tubuh adalah bisnis yang cukup menjanjikan. Alasan klasik minimnya lapangan pekerjaan dan rendahnya tingkat pendidikan menjadi alibi kuat para pelaku bisnis tubuh. Cobalah tanya pada mereka, para PSK, maukah mereka menjual tubuhnya dengan cuma-cuma? Jawabannya akan sama seperti halnya kita bertanya pada para pengamen di persimpangan jalan, maukah mereka menjadi seorang pengamen? Jawabannya adalah tidak. Adakah jawaban lain yang lebih pantas dan masuk akal?

Menilik pada wacana ditutupnya Gang Dolly sebagai salah satu lokalisasi terbesar di kawasan Asia Tenggara, pro dan kontra akan selalu hadir. Alasan pemerintah Kota Surabaya untuk menutup lokalisasi Gang Dolly memang dapat ditangkap oleh nalar. Bahwa banyak efek yang akan muncul dari kian merebaknya lokalisasi tersebut. Mulai dari tersebarnya virus HIV/AIDS dan dampak lain yang didapat dari segala diorama praktek prostitusi.

Pasti masih segar dalam ingatan akan sebuah cerita mengenai seorang balita lanang yang merokok. Kenyataannya bocah lugu tersebut tinggal di kawasan Dolly. Hal tersebut jelas membuktikan bahwa begitu banyak akibat dari merebaknya praktek prostitusi di Gang Dolly dan di manapun. Alasan-alasan tersebut jugalah yang berhasil meyakinkan pemerintah untuk menertibkan kawasan lokalisasi Gang Dolly.

Di luar alasan-alasan yang masuk akal tersebut, tersembunyi sebuah kenyataan bahwa sesungguhnya mereka, para PSK, adalah rantai kehidupan. Dengan tubuh yang dimilikinya, bahkan mereka mampu memberikan kehidupan bagi segala unsur yang berada di lingkungan sekitarnya. Mulai dari pemilik warung rokok, tukang parkir hingga tukang ojek atau para pengangguran yang memilih untuk menjadi calo. Dan tak patut untuk dilupakan bahwa mereka memberikan sumbangsih yang sangat besar terhadap para germo. Lantas, salahkah jika ada yang berpendapat bahwa efek terbesar dari ditertibkannya sebuah praktek prostitusi adalah tumbulnya sebuah lingkaran hitam kehidupan?

Telah banyak upaya-upaya yang dilakukan pemerintah daerah untuk menertibkan praktek prostitusi, seperti halnya penertiban Kramat Tunggak di Jakarta dan Saritem di Bandung. Di Bandung sendiri, kenyataan yang ditemukan setelah ditutupnya lokalisasi Saritem adalah lahirnya prostitusi-prostitusi liar. Saritem memang telah mati, namun para pelakunya terus berupaya untuk berjuang hidup demi sesuap nasi. Karena toh nyatanya untuk menjadi seorang pekerja apalagi dengan latar belakang pendidikan yang tidak mumpuni tetaplah menjadi suatu hal yang sulit didapat. Lalu, siapa yang patut disalahkan?

Dari segi kemanusiaan, mungkin bisa dilihat bahwa praktek prostitusi adalah hal yang sangat tidak manusiawi. Apalagi mengingat pola hubungan eksploitatif yang terjalin antara para PSK dan sang germo. Bagaimana bisa seseorang dengan bangganya mendapati kehidupan mewah dari tubuh para perempuan yang dipaksa menjadi robot untuk melayani para pria yang haus birahi? Dari segi moral, sebutlah bahwa mereka adalah kaum yang mengkhianati moral. Mereka melucuti "tubuh moral" hingga tak bersisa. Tapi apa lacur, semua itu mereka lakukan atas dasar kebutuhan. Sebuah dilema yang pada akhirnya menimbulkan pendapat bahwa menjadi seorang pelacur adalah sebuah solusi atas keterhimpitan ekonomi. Terjun pada lubang hitam pun pada akhirnya.

Dari realita yang bisa diambil saat ini, akuilah bahwa mereka, para PSK, akan tetap eksis bagaimanapun caranya pemerintah melakukan upaya untuk memberantasnya. Lagipula kata "memberantas" tampaknya kurang cocok untuk penanganan sebuah praktek prostitusi. Semua unsur yang ada di dalamnya melakukan kesalahan, pun kebenaran atas dasar alasan realita. Apapun upaya pemerintah, tentunya masyarakat berharap akan sebuah penanganan yang seadil-adilnya. 

Tidak cukup jika dengan hanya pelatihan keterampilan. Lagipula mereka, para perempuan yang menjadi PSK, berhak atas tubuh mereka sendiri. Dan perlu diingat bahwa bisnis tubuh adalah sebuah jaringan. Bukan hanya para PSK yang harus ditangani, tapi jangan pernah lupa pada "jaringan" yang melingkupinya. Selain itu, rasanya sebuah pendekatan personal dan penyadaran pun dirasa lebih baik dalam menangani praktek prostitusi. Maka dekatilah, telusurilah kehidupan mereka. Capailah suatu masa ketika mereka, para PSK, memilih untuk berhenti atas keinginannya sendiri, bukan atas sebuah paksaan yang lengkap dengan iming-iming lainnya. 

Jun 1, 2013

Perempuan di Titik Nol (Nawal El Saadawi) : Perempuan Sadar dan Melawan




Permasalahan gender adalah permasalah yang tak pernah tampak usang untuk dibicarakan. Penindasan terhadap perempuan kerap menjadi salah satu isu yang seringkali diteriakan mereka para kaum feminis. Salah satunya adalah kisah dalam novel "Perempuan di Titik Nol" karya Nawal El Sadaawi. 


Adalah Firdaus, seorang perempuan cerdas dengan masa kecil yang menyedihkan dan memutuskan untuk menjadi seorang pelacur ketika dewasa. Berbagai penindasan yang diberikan oleh kaum lelaki kepadanya dikisahkan di sini. Baginya semua perempuan adalah korban penipuan yang dipaksakan. Bahkan seringkali hingga tertindas sampai ke tingkat yang terbawah. 



Dalam perjalanannya sebagai pelacur yang berganti-ganti nasib, terdapat suatu titik ketika Firdaus merasa sangat terhormat dengan segala kemewahan dan kebebasan yang dimilikinya. Hingga akhirnya kemewahan itu menjadi congkak seketika ketika seseorang berkata padanya bahwa ia adalah seorang perempuan tidak terhormat yang melayani setiap "pasien"nya seperti Dokter. 



Setelah segala penindasan yang didapatnya, pada akhirnya Firdaus memutuskan untuk menjadi seorang pelacur terhormat. Ya, terhormat dengan sebuah perlawanan. Ia menancapkan sebuah pisau pada leher seorang germo yang telah mengintimidasinya. Sampai akhirnya ia membuat pengakuan dan ditahan oleh polisi. Sempat ada kesempatan untuk bebas bagi Firdaus, namun ia terang-terangan menolaknya.



"Saya lebih suka mati karena kejahatan yang saya lakukan daripada mati untuk salah satu kejahatan yang kau lakukan. Ketika saya membunuh. Saya lakukan hal dengan kebenaran bukan dengan pisau. Kebenaran saya itulah yang menakutkan mereka. Kebenaran yang menakutkan ini telah memberikan kepada saya kekuatan yang besar"



Masalah kebudayaan masyarakat Arab dewasa ini adalah permasalahan inti yang diangkat dalam "Perempuan di Titik Nol". Budaya patriarki begitu mendominasi dalam setiap sendi-sendi kehidupan. Suara-suara perempuan dibungkam begitu rupa atas nama tradisi dan agama. Perempuan seolah menduduki posisi terendah dalam sebuah kehidupan. Bahkan tanpa ragu-ragu, Nawal El Sadaawi menyamakan status para istri di Arab dengan seorang pelacur, bahkan lebih buruk.



Menurut el-Saadawikaum perempuan tidak akan terbebaskan dari sistem patriarki kecuali dari diri mereka sendiri yang mulai mengubahnya dan berusaha untuk mengangkat harkat dan martabatnya dengan mengusung gagasan perubahan dan modernisasi.



Lewat Firdaus, Saadawi menunjukkan bentuk protesnya secara lantang akan penindasan yang dirasakan kaum wanita di Mesir. Hal tersebut dinyatakan dengan sikap Firdaus yang merasa bahwa menjadi pelacur adalah pekerjaan yang lebih baik ketimbang menjadi istri yang tertindas. Sindiran tersebut juga jelas terlihat dari kerinduan Firdaus pada tali gantungan yang akan mengakhiri hidupnya. Ia menerima hukum mati yang dijatuhkan kepadanya ketimbang menerima grasi dari presiden karena enurutnya ini adalah jalan menuju kebebasan sejati.



Jan 19, 2012

Kampung Gembira


Di sini tidak ada tangis yang tersedu-sedu. Di sini tidak ada marah yang membabibuta. Atau tidak ada anak-anak muda yang lantang menyuarakan kegalauan. Tidak ada beban yang harus dipikul. Di sini semua bergembira.

Lihatlah pria yang sedang jongkok di pinggiran sungai yang penuh sampah itu. Bajunya lusuh dan robek-robek. Sandal jepit yang sudah tampak usang karena dipakai untuk berjalan di tengah-tenah lumpur tanpa dicuci. Tapi, pria itu tentu tak lupa dengan kacamata hitam berlabel Oakley. Namanya Mamat. Tapi setiap bertemu orang, dia selalu berkata, "Hai, saya Johnny."

Mamat atau Johnny adalah salah seorang di antara mereka yang berada di kawasan itu. Kawasan yang selalu ramai. Ramai dengan tawa, dengan marah, dengan tangis, yang tanpa memerlukan kesadaran. Banyak orang enggan memasuki kawasan tersebut. Banyak yang bilang kawasan itu angker. Ya, angker. Setidaknya angker bagi mereka yang ketakutan ketika dikejar-kejar seseorang berambut gimbal tak beraturan, tanpa busana, yang berhasil memperlihatkan seluruh tubuhnya tanpa terkecuali, penisnya yang menghitam dan dekil.

Tapi tak usah takut. Percayalah, pria bugil itu tidak berbahaya. Ia tidak akan membuatmu mati atau terluka sedikit pun. Namun, teriakan histeris orang-orang yang melewati kawasan tersebut berhasil membuat hampir semua orang percaya bahwa kawasan tersebut angker dan berbahaya. Sampai-sampai, di ujung jalan menuju kawasan ini, di sela-sela rimbunnya pepohonan, terdapat sepotong kayu tipis bertuliskan, Hati-hati, kawasan berbahaya!

"Aku tak mengerti mengapa semua orang berteriak-teriak ketakutan ketika aku berlari ke arahnya. Padahal aku hanya mencium bau kentut mereka yang seperti malu-malu untuk dikeluarkan. Dan aku hanya ingin bilang pada mereka, jika kalian malu mengeluarkan bunyi dan bau kentut di depan orang banyak, aku akan dengan senang hati bersedia menampungnya." keluh Faka, si pria berambut gimbal yang ditakuti oleh hampir semua orang. Namanya memang Faka. Dulu, sangat dahulu kala, teman-teman sepermainannya memanggilnya Fak, atau kadang beberapa temannya jahil menuliskan namanya dengan ejaan lain, yaitu Fuck. Dan nama itu pun berhasil membuatnya menjadi santapan nikmat teman-temannya yang haus mencela. Tak jarang ia ditelanjangi di toilet pria sekolahnya. Tak jarang juga alat kelaminnya dipermainkan seenaknya. Jika anak-anak itu ditanya, anak itu akan menjawab, "Namanya Fuck. Artinya hubungan intim telah mendapatkan izin dari raja. Kami tidak salah, kami hanya mengartikan namanya saja."

Namun sekarang, keadaan sudah berbeda. Ia tidak lagi menjadi santapan nikmat teman-teman sepermainan. Ia tidak lagi dipanggil Fuck. Ia tidak lagi ditelanjangi, namun menelanjangi diri sendiri. Dan alat kelaminnya tidak lagi dipermainkan seenaknya. Sekarang ia hanya mengejar aroma kentut. Karena entah mengapa, dulu ketika teman-temannya memainkan alat kelaminnya, bukannya ingin mengeluarkan sperma, namun ia selalu ingin mengeluarkan gas yang meracuni pikiran sesaat yang dinamakan kentut. Ia selalu bilang pada teman-temannya, "Kentutku wangi lavender kan?" Teman-temannya pun spontan tertawa. Dari situ, baru ia sadari, puncak kenikmatan bukan hanya air sperma yang keluar, tapi adalah kentut. Dan sekarang, ia bertekad untuk hidup tanpa busana dan mengejar kentut.

Seperti yang dilakukannya sekarang. Jika Jean-Baptiste Grenouille memiliki indra penciuman yang tajam khususnya terhadap aroma-aroma yang memikat, seperti aroma wanginya perawan, maka saat ini, Faka pun berhak disejajarkan dengannya. Bedanya, indra penciuman Faka tajam terhadap aroma kentut. Itulah yang membuatnya selalu mengejar-ngejar banyak orang.

"Apakah aku setan? Apakah aku setan?", ucap Faka sambil menggeleng-gelengkan kepala, membulatkan mata, mengendus-ngendus seperti babi. Dan tepat di belakang Faka berjongkok, seseorang melakukan hal yang sama sepertinya. Ia menggelengkan kepala, mengendus seperti babi, dan membulatkan mata, walaupun yang terakhir ini tidak dapat dibuktikan karena bentuk matanya tertutup oleh kacamata hitam bermerk Oakley. Johnny atau Mamat berjongkok di belakang Faka, mengikuti gerakan Faka. "Setan itu cinta.. Cinta itu setan.. Setan itu cinta.. Cinta itu setan.." Faka tak memperdulikannya. Ia terus menggeleng-gelengkan kepala, sambil berucap, "Apakah aku setan? Apakah aku setan?" Dan Johnny terus membalasnya dengan Setan itu cinta.. Cinta itu setan.. Begitu seterusnya dan begitu seterusnya. Mereka terus mengeluarkan racau yang itu-itu saja. Seolah-olah seperti dua orang yang sedang bermain pantun. Sampai akhirnya Faka lelah. Ia undur diri, membalikkan badan dan membungkukkan badan lalu melesat pergi.

"Setan itu cinta. Cinta itu perempuan. Perempuan itu setan. Setan itu menakutkan. Perempuan itu setan. Perempuan itu menakutkan. Aku takut melihat setan. Setan itu perempuan. Aku takut melihat perempuan. Aku memakai kacamata." Mamat yang takut melihat setan. Mamat yang takut melihat perempuan. Mamat pernah mencintai seorang perempuan bernama Jenifer. Perempuan cantik dan bahenol yang menampilkan foto di friendsternya dengan pose setengah berbungkuk, memakai tank top, ditambah belahan dada yang begitu molek. Tak lupa, senyumannya yang bagai senyuman bidadari ala Nikita Willy pun berhasil menggiurkan hati Mamat untuk meraihnya.

Seiring berjalannya waktu, Mamat tak kunjung juga mendapatkan cinta sang bidadari. Jenifer selalu berkata, "Nama kok Mamat? Mbo ya bagusan dikit gitu kalau punya nama.. Robert misalnya." Selain itu, setiap kali mereka pulang dari acara menonton film-film Bollywood yang diputar oleh bioskop-bioskop ternama di malam minggu, Jenifer selalu meminta Mamat untuk mengajaknya makan di restoran yang terletak di atas bukit dengan secercah sinar lilin dan dengan satu botol mineral water seharga sepuluh ribu rupiah. Spontan Mamat menolaknya. Apa daya? Rupiah di kantong hanya cukup membelikan dua bungkus cilok yang bisa dipilih mau memakai bumbu kacang atau saus merah. Karena itulah, Jenifer pun menolak cintanya. Namun, ia tak pernah menolak jika Mamat mengajaknya menonton film Bollywood di bioskop. Dan biarpun cinta tak kunjung dibalas, Mamat tetap menikmati acara nonton bioskop bersama Jenifer. Tentunya, bukan karena tak ingin ketinggalan film-film terbaru, tapi karena tak ingin ketinggalan perkembangan besarnya payudara Jenifer yang aduhai.

Dan suatu waktu, seakan-akan ada buldozer yang menggilingnya. Mamat ingin mati, setelah mendapat undangan pernikahan Jenifer dengan pria bernama Johnny. Layaknya di sinetron, saat dilanda putus cinta, ia ingin bunuh diri. Namun dia beruntung. Karena berkali-kali ia melakukan percobaan bunuh diri, Tuhan terus menggagalkannya. Sebagai gantinya, Tuhan mengacak-ngacak otaknya. Tak lupa juga, sempat suatu saat ia mencuri kacamata bermerk Oakley dari seorang turis yang sedang berjemur di pinggir pantai. Dan sekarang, atas izin Tuhan, dia bereinkarnasi menjadi Johnny dengan kacamata hitam sebagai pelindung matanya agar terhindar dari gambaran wanita-wanita aduhai.

"Setan itu cinta. Cinta itu perempuan. Perempuan itu setan. Setan itu menakutkan. Perempuan itu setan. Perempuan itu menakutkan. Aku takut melihat setan. Setan itu perempuan. Aku takut melihat perempuan. Aku memakai kacamata", gumam Mamat yang perlahan terlelap.


MALAM semakin larut. Pasukan bintang berkumpul membuat koloninya masing-masing. Bulan terbangun dari tidur. Jangkrik semakin riuh bersuara. Katak melompat kesana kemari. Dan di luar semuanya, berpuluh-puluh manusia berkumpul di sebuah lapang. Lapang yang penuh dengan sampah. Mereka berkumpul setelah melakukan aktivitasnya masing-masing. Hingar bingar terasa. Mamat dan Faka ada di tengah-tengah kerumunan.

"Haw ar yuuuuuuuuuu?", terdengar salam sapa yang manis dari tengah-tengah kerumunan yang entah berasal dari siapa. Kerumunan pun menjawabnya dengan bersorak gembira. Ada yang sambil menari-nari, ada yang melompat-lompat, ada juga yang hanya berdiri mematung. Di tengah kerumunan yang penuh sesak, tampak dua manusia seperti sedang berbincang-bincang atau berdebat tentang suatu hal.

"Hartaku dicuri. Hahahaha hartaku dicuri! Ada tikus-tikus berseragam yang mencurinya. Aku sedih. Aku merana.."
"Di sana ada setan. Setan itu mengintaiku sedari dulu. Seperti wanita, namun tak berambut. Matanya merah, bibirnya berdarah biru. Payudaranya mengecil sebelah. Mengerikan! Ia terus menerus mengejarku.."
"Oh para pegawai Bank, mengapa kalian mencuri hartaku? Mengapa tidak hatiku saja yang kalian curi?"
"Dia mendekatiku.. Dari mulutnya keluar darah berwarna biru. Ia muntah. Hah? Apa ia sakit?"

Dan, lantas mereka tertawa. Ha Ha Ha.

Suasana malam terus riuh ramai. Mereka berbagi tawa, berbagi kegembiraan. Ada seseorang yang menangis, namun sejenak kemudian ia tertawa. Ada juga seseorang yang tampak asyik mengunyah makanan yang ditemukannya di tempat sampah di depan jalan. Lalu, tiba-tiba seseorang yang lain ikut mengunyah. Mereka tidak bertengkar. Tidak seperti pengusaha-pengusaha yang marah dan melakukan perlawanan ketika lahannya direbut oleh orang lain.

Malam itu, tak satupun kesedihan yang tampak. Seperti hari-hari biasanya, kesedihan selalu tertutupi oleh tawa, oleh luapan kegembiraan. Tanpa seorang pun tahu, bahwa sebenarnya merekalah korban-korban kesedihan. Korban-korban dari sesuatu yang orang bilang penderitaan hidup. Seperti menari di atas warna mejikuhibiniu namun badan tertimbun tanah. Tidak ada warna hitam dan abu-abu. Di sana hanya ada mejikuhibiniu. Warna pelangi yang terlihat ceria setelah gelapnya hujan turun.

Malam semakin larut. Mereka terlelap di atas tanah basah, di dahan-dahan pohon, di atas karung bekas, di atas kayu yang patah, di atas batu pinggir sungai. Mereka tidur sembarangan, di tempat yang didapatkan secara cuma-cuma.


MATAHARI menguap. Ia bangun dari tidur. Mereka pun terbangun. Ada juga yang memilih untuk tidak tidur karena masih ingin mencari setan-setan yang bergentayangan di malam hari. Mereka membuka mata. Lantas mereka tertawa. Ha Ha Ha.

Tertawa bagaikan suatu kegiatan rutin bagi mereka penghuni kampung itu. Bangun tidur pun harus disambut oleh tawa. Namun ada juga yang langsung menangis, dan juga melamun, atau bergumam ini dan itu tanpa tahu siapa yang menjadi lawan bicara.

Tidak seperti manusia-manusia di luaran sana, yang selepas bangun tidur, mereka melaksanakan rutinitas pagi seperti mandi, sarapan, atau membersihkan halaman rumah bagi mereka yang memiliki halaman rumah. Mereka hanya berdiri, lalu pergi entah kemana. Ada yang keluar dari kawasan tersebut. Ada juga yang kembali bersembunyi di balik semak-semak. Segala macam aktivitas yang tidak dapat ditemui di kehidupan sehari-hari manusia pada umumnya yang terasa monoton.

Ada seorang wanita yang selalu duduk di pinggir tempat sampah. Ia selalu ditemani oleh koleksinya yang berupa tas-tas merk dunia. Setiap hari ia rapikan tas-tas tersebut walau tak kunjung rapih. Ia bersihkan walau tak kunjung bersih. Juga, lihat di pinggir sungai yang kotor itu. Ada seorang pria yang terus menerus menatap ke arah langit. Sambil menatap langit, ia bergumam tak karuan. Padahal, sebenarnya ia mengalami gangguan penglihatan. Namun ia selalu membayangkan awan-awan itu membentuk payudara wanita. Dan sesekali ia tersenyum.

Itulah yang dinamakan gembira. Gembira tanpa harus berpura-pura. Gembira tanpa embel-embel.

Dan ketika semuanya sedang disibukkan oleh kegiatannya masing-masing. Tiba-tiba muncul seorang wanita berbadan tinggi kurus, hanya tulang yang tampak. Sedikit sinar terpancar dari kulitnya yang tampak putih mulus namun berkedok kotoran. Tangan dan kakinya tampak lelah menahan pasungan. Sebenarnya, ia adalah perempuan rupawan. Karena satu dan lain hal, secara tiba-tiba ada yang mengganggu kejiwaannya. Dan membuatnya harus hidup dalam kurungan dengan kaki dan tangan terpasung. Sampai pada akhirnya ia berhasil membebaskan diri dari kurungan. Dan ia bergelandang kemana-mana. Sampai suatu saat ia dibawa oleh sekumpulan orang, dan ia dibuang di dekat kawasan ini. Ia muncul secara tiba-tiba. Dari wajahnya tersirat kebingungan. Ia tak tahu mengapa ia bisa sampai kepada daerah yang tak pernah dikenalnya ini.

Dan seseorang menghampirinya. Berdiri di depannya. Tersenyum padanya. Lalu memberikan jari telunjuk tepat di hidung si perempuan baru sembari membuka mulutnya. Pertanda ia berkata, "Siapa kamu?"

"Aku tak tahu. Aku lupa. Aku hanya ingat bahwa aku dibuang oleh sekumpulan pria berseragam coklat di suatu tempat tadi malam. Dan pagi ini aku tiba-tiba ada di sini. Ini di mana?", tanyanya.

Orang itu tidak menjawabnya. Ia hanya tertawa. Ha Ha Ha. Ia gerakan seluruh tubuhnya, seperti seorang anak kecil yang meluap-luap gembira. Gerakan tubuhnya mengisyaratkan bahwa ia berkata, "Di sinilah kampungmu. Kampung di mana kamu tidak perlu berpura-pura. Kampung di mana tidak ada embel-embel rumitnya kehidupan. Selamat datang di Kampung Gembira.."
















Untuk mereka, para penghuni Kampung Gembira.

Dipublikasikan di Kumcer : Kisah Cinta Manusia dan Setan Pemangsa Berak

Jan 9, 2012

Kami Dan Peluru Bertanduk


Aku melihatnya berdiam diri di tengah kerumunan manusia. Entah apa yang dilakukannya. Ia hanya diam. Namun, mata bertanduknya begitu cekatan mencari-cari apa yang dicari. Seperti mencari musuh. Musuh yang harus dimusnahkan. Musuh yang harus diberantas habis. Musuh yang harus diluluhlantahkan. Sampai musuh-musuh itu mati. Sampai menjadi puing-puing abu yang nantinya berteriak kemanusiaan.

Aku tak pernah mengenalnya, tapi aku mengetahuinya. Ia hanya sebutir peluru dengan mata bertanduk. Gigi-giginya tajam seakan siap menggerogoti setiap tubuh yang melawan. Ia hidup di tengah-tengah masyarakat. Menjadi sebuah kebiasaan.


SEORANG pria dengan kaus lusuh berteriak-teriak di tengah jalan. Aku tak begitu jelas mendengarkan apa yang diteriakkannya. Yang pasti ia berhasil membuat keributan di persimpangan jalan. Perlahan aku mendengar ia berteriak, "Saya gila! Negeri ini gila!". Terus menerus kalimat tersebut diteriakkannya.

Tidak ada yang dirugikan. Toh ia hanya berteriak-teriak saja. Tidak pun ada yang meluncurkan protes kepadanya. Malah sebagian orang menjadikannya sebagai tontonan yang mengasyikkan.

Di ujung sana, di depan sebuah pintu besar pertokoan, aku melihat peluru memantaunya dari jauh. Aku tak tahu pasti apa yang dirasakannya. Namun tatapannya begitu dingin. Bola matanya semakin bulat hitam membesar. Tanduknya pun semakin menantang. Apa dia marah? Ah, tidak mungkin. Setahuku ia hadir untuk memberikan perlindungan dari yang jahat. Tapi di sini tidak ada penjahat. Mana penjahatnya? Lelaki gila itu? Dia tidak jahat. Aku rasa ia hanya mengeluarkan apa yang ia rasakan. Tidak ada yang protes.

Aku rasa tak perlu ada yang dikhawatirkan. Baik bagi peluru dan bagi lelaki gila itu. Sejenak, kulepaskan pandanganku dari peluru. Dan aku pun kembali menonton aksi si lelaki gila. Menarik. Ia berani malu di depan orang banyak untuk mengeluarkan pendapatnya. Aksi lelaki gila itu semakin menjadi-jadi. Ia semakin lincah dan semakin menarik perhatian orang yang melewatinya.

Lalu, aku alihkan kembali perhatianku menuju pintu besar pertokoan di ujung sana. Tempat tadi peluru memantau. Namun, kutemukan peluru yang sudah tak berada di sana. Di mana dia? Mengapa ia tiba-tiba menghilang? Aku memutar kepalaku, melihat sekeliling. Semakin kutajamkan penglihatanku agar aku bisa menemukan peluru. Aku cari ia di sela-sela kaki yang melangkah. Mungkin ia menyusup di antara kaki-kaki manusia yang saling menyapa. Aku perhatikan aspal peluru yang sepertinya mau meleleh terkena sinar matahari. Namun tak juga kutemukan peluru.

Aku palingkan wajahku menuju trotoar tempat lelaki gila itu beraksi. Dan di sanalah kutemukan peluru. Ia sudah merayap mendekati kaki si lelaki gila. Mendorong tubuhnya menembus telapak kaki si lelaki gila. Ia masuk ke dalam tubuh si lelaki gila. Merayap di dalamnya.

Aku melihat di kaki lelaki gila itu ada tonjolan kulit yang merayap, bergerak semakin ke atas. Aku tahu, itu adalah peluru. Ia terus merayap. Sementara si lelaki gila makin hilang kesadaran. Ia terus dan terus merayap ke atas. Dan sekarang aku tak tahu sudah sampai bagian tubuh yang mana ia merayap.

Yang jelas tiba-tiba saja aku mendengar suara ledakan. Bukan ledakan bom molotov ataupun granat. Namun terdengar seperti suara sebuah pistol polisi yang meluncurkan pelurunya. Namun di mana? Aku tak melihat ada polisi di tempat ini. Yang aku lihat hanya dada si lelaki yang tiba-tiba meledak. Tubuhnya menyemburkan darah. Seperti darah leher yang dipenggal. Menjadi warna merah yang menghiasi udara. Tubuhnya meledak. Dan seketika, aku melihat peluru keluar dari dalam tubuh si lelaki gila yang hampir hancur. Ia bersimbah darah. Ia berjalan meninggalkan si lelaki gila dan kerumunan.

Aku melihatnya berjalan. Aku yakin, orang lain pun melihatnya berjalan. Melihat peluru berjalan dengan tubuh yang penuh darah. Karena aku dan mereka tahu peluru. Kami tahu, ia hidup di tengah-tengah kami.

Dec 21, 2011

Negeri Barbar


Aku ada di mana? Apa-apaan ini? Di sini begitu gersang! Kenapa di sini banyak darah? Lihat di ujung sana, ada lemari kecil yang terbuka. Di dalamnya banyak benda-benda tajam. Ada pisau, ada belati, ada pedang, ada tombak, dan ada golok. Lihat juga di belakang, ada kepala-kepala manusia bersimbah darah bergelantungan. Dan di depannya, ada ban yang baru saja terbakar. Baunya gosong!

Lihat juga di gerobak itu! Ada tubuh yang gosong termakan ganasnya api. Tubuh gosong itu hancur lebur. Organ-organ tubuhnya bercucuran keluar. Ususnya menjalar melingkari gerobak. Hei, lihat lagi di sebelah! Ada baju seragam berwarna hijau dan abu, di atasnya ada senapan yang kehabisan peluru. Dan di depannya, ada topi camping petani yang tampak lelah menahan teriknya matahari. Mereka saling bertatap panas. Ada amarah di dalamnya. Apakah mereka akan beradu? Mungkin.

Ah apalagi ini yang kulihat! Ada pedang berlilit kain sorban. Lihat mata pedangnya yang tersimpan di sela-sela kain sorban yang robek. Matanya seperti mengamuk pada tubuh-tubuh beku yang sedang duduk di hadapan patung-patung. Matanya juga mengamuk pada gambar wanita berkepala kelinci yang tanpa sehelai kain di tubuhnya. Dan ini, ini lagi.. Ada jenggot yang berterbangan, ia terbang melawan merpati putih. Mengapa ada perang antara jenggot dan seekor burung?


"Aku ada di mana?"
"Kau ada di tanah kelahiranmu. Negerimu tercinta."

Apa dia bilang? Negeriku tercinta? Tanah kelahiranku? Yang aku tahu, tanah kelahiranku ada Negeri yang begitu indah. Terdiri dari pulau-pulau yang tersusun dengan cantik. Yang di dalamnya terdapat keunikan tersendiri.

Benarkah ini tanah kelahiranku? Bukankah tanah kelahiranku adalah sebuah Negeri yang damai? Yang orang bilang, bhineka tunggal ika, berbeda-beda namun tetap satu. Di tanah kelahiranku terdiri dari berbagai macam suku dan agama dengan kebudayaannya masing-masing. Mereka berbeda, namun mengapa sekarang perbedaan bagaikan momok yang mengerikan? Seperti perang antara jenggot dan burung merpati putih.

Benarkah ini tanah kelahiranku? Bukankah tanah kelahiranku adalah sebuah Negeri yang damai? Yang orang bilang, gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo. Negeriku adalah Negeri yang kaya. Negeri yang subur, makmur, dan sentosa. Jika dilihat dari atas, Negeriku adalah Negeri yang hijau. Namun, kemana arahnya hijau? Kemana pohon sawit yang turut menghiasi lukisan Negeri ini? Mengapa sekarang pohon-pohon itu telah berubah menjadi pohon besi, pohon industri yang juga ikut melahap ketentraman masyarakatnya?

Tapi mengapa dia bilang bahwa ini adalah tanah kelahiranku, Negeriku tercinta? Apa aku memang lahir di Negeri di mana orang-orang haus akan rasa perikemanusiaan? Apa aku memang lahir di tanah gersang yang banal ini? Oh ya? Bahkan aku pun baru tahu.

"Benarkah? Sungguh, aku tak pernah meminta dilahirkan di Negeri yang banal ini."

Dec 14, 2011

Di Sini, Di Tempat Ini : Kenangan Yang Tergusur Oleh Tangan Besi







Di tempat inilah kami bertemu.
Di tempat inilah kami mengasah tawa.
Di tempat inilah kami menyimpan sebongkah harap.







Akhir tahun 2010. Saya ingat, saat itu adalah kali pertama saya menapakkan kaki di tempat ini. Saat itu pula seorang pria yang tidak pernah mau menyebutkan nama aslinya mengajak saya bergabung bersamanya dan kawan-kawan lainnya. Saat itu pula saya mulai mengasah tawa.

Adalah sebuah kampung seni dan budaya yang kami bentuk untuk pertama kalinya di akhir tahun 2010. Di dalamnya terdapat berbagai macam manusia. Ada mereka para seniman-seniman, baik dari ranah seni tradisi, seni rupa, seni musik, dan lain-lain. Ada mereka yang berlatarkan akademis, dan ada mereka juga yang berlatarkan jalanan. Namun, perbedaan-perbedaan itu tidak menjadi sekat di antara kami. Seperti yang selalu Kepala Suku katakan, "Anak jalanan yang ada di kampung ini harus ganti 'baju'. Mereka bukan anak jalanan, tapi mereka adalah orang-orang yang mau berproses dan berkreasi!".

Seperti halnya sebuah pembangunan, banyak gangguan-gangguan dari berbagai macam pihak memekikkan telinga kami. Namun apa daya, gangguan itu tidak pun kami hiraukan terlalu sulit. Tidak juga menyurutkan semangat kami yang menggebu-gebu.

Atas nama melestarikan budaya-budaya lokal, khususnya di tatar Sunda, dengan penuh semangat berbagai macam usaha kami lakukan. Walaupun secara pribadi, saya tahu hal itu hanyalah sebuah distopia yang patut dipertanyakan.

Namun, begitu membanggakan ketika kami menyadari bahwa ini adalah kami yang berjuang di balik celah-celah jerami kering dalam cengkraman pohon batu yang di dalamnya terdapat sebongkah kisah masa lalu yang kini pun sudah menjadi museum tanpa lampu.
Bahwa ini adalah kami yang berjuang memperjuangkan sesuatu yang telah 'terlupakan' di tengah-tengah dunia yang sudah tak bisa berkompromi dengan sejarah.
Bahwa ini adalah kami yang bersama meneriakkan cinta pada kekayaan leluhur di tengah modernisasi yang membabibuta.
Bahwa ini adalah kami yang merangkak di bawah kekuasaan yang buta akan hati atas nama budaya yang masih bermata tanda tanya.

Hey kalian, yang berseliweran di sekitarnya, sadarkah kalian bahwa kami adalah orang-orang kaya? Orang yang kaya akan bambu-bambu yang masih kami tancapkan dengan megah? Orang yang kaya akan jerami-jerami yang kami simpan dengan cantik?

Namun, apa daya. Kekayaan-kekayaan itu terpaksa harus tergusur oleh tangan-tengan besi yang haus akan kekuasaan. Perjuangan itu terpaksa harus luluh lantah bersama dengan debu yang menjadi saksi mereka yang berjuang. Kebersamaan itu pun terpaksa harus hilang direbut oleh mereka yang berseragam.

Mereka berontak. Mereka kepalkan tangan demi sebuah kemerdekaan. Namun, apa lacur, kepalan tangan itu sama sekali tidak menakutkan mereka para pembuat kebijakan yang terhormat. Hey, para pembuat kebijakan yang terhormat, perlukah saya ingatkan kembali, mungkin satu tahun yang lalu ketika kalian meminta kepada seseorang di antara kami untuk membangun sebuah kampung seni budaya di tempat ini? Tapi sudahlah, saya tidak marah sedikit pun. Saya sadar bahwa kalian akan selalu menjadi para pembuat kebijakan yang terhormat. Dan saya akan hormat kepada kalian. Namun, saya yakin, perjuangan kami tidak hanya berhenti di situ. Saya hanya meminta doa restu dari kalian, wahai paduka yang terhormat.


















DAN sekarang, mungkin beberapa bulan atau bahkan satu tahun berlalu. Saya merindukanmu wahai suasana. Suasana di mana saya bisa bercandagurau di sebuah saung yang di depannya berdiri dengan gagah seorang pocong, dan di dalamnya terdapat itik berwarna-warni, merah kuning dan hijau. Suasana di mana saya bisa saling berbagi cerita dengan kawan di dalam saung berlapiskan lembar koran demi koran yang di dalamnya bertebaran buku-buku yang tersimpan acak. Suasana di mana saya mengikuti rapat di sebuah saung yang di dalamnya berjejer alat-alat musik tradisional, mulai dari karinding, celempung, hingga jijeriju. Suasana di mana saya dibuatkan segelas teh oleh seorang Ibu di dalam saung yang penuh dengan lukisan-lukisannya. Atau suasana ketika saya mengikuti sebuah diskusi dadakan di sebuah meja yang terbuat dari kayu yang dikelilingin oleh dedaunan. Ah, terlalu banyak kenangan yang harus saya ceritakan. Karena kenangan itu sekarang telah tergusur oleh tangan-tangan besi yang ingin dihormati.

































DAN, beberapa hari kemarin, sesuai dengan perbincangan dengan beberapa di antara mereka, mari rapatkan kembali jejak-jejak yang pernah menempel di telapak kaki kita. Mari kita buat sesuatu. Tak usahlah muluk-muluk dengan impian sebuah kampung. Mulailah dari yang terkecil. Mari, kawan! Tak usah kita bermain dengan kepalan tangan, mari kita bermain dengan sebuah semangat. Karena sesungguhnya, semangat itu masih membutuhkan jiwanya.


Kampung Seniman Bangun Pagi, Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (2010-2011)

Dec 12, 2011

Balada Telepon Genggam : Sebuah Refleksi Kecil Tentang Perkembangan Zaman


"Mari kita adakan perkumpulan telepon-telepon genggam. Ada yang ingin saya bicarakan. Undang seluruh kaum bodoh dan kaum pintar!" ujar salah seorang dari kaum 'bodoh'.

MALAM itu dilaksanakan Kongres Telepon Genggam. Seluruh telepon genggam berkumpul di atap salah satu rumah mewah milik bangsawan terkemuka masa kini. Bukan tanpa alasan. Mereka para telepon genggam dari kaum 'bodoh' sudah cukup jengah dengan bermunculannya telepon-telepon genggam dari kaum 'pintar'. Bukan hanya karena kebermunculannya, tapi karena banyak manusia yang lebih memilih untuk memakai manfaat telepon genggam dari kaum 'pintar'.

"Wahai kalian para telepon genggam dari kaum 'pintar', apa tujuan dari kebermunculan kalian saat ini? Kalian tahu, tidak sedikit dari kami yang akhirnya dilupakan. Tidak sedikit pula dari kami yang pada akhirnya hanya menjadi sampah, menjadi rongsokan yang dipampang di etalase-etalase pinggir jalan", ujar salah satu telepon genggam dengan penuh semangat. Para perwakilan telepon genggam dari kaum 'pintar' masih berdiam diri. Mungkin mereka merasa lebih hebat, sehingga terlihat pongah. "Ya, pada akhirnya kami dipaksa mati!" teriak salah satu telepon genggam dari kaum 'bodoh' yang lain. Ia begitu berapi-api. Memang benar, mereka dipaksa mati. Karena sang pemilik sebelumnya telah menjualnya kepada bapak-bapak di pasar loak.

"Hahaha kalian iri kan kepada kami? Memang sudah sepatutnya begitu. Hey, ini namanya perkembangan zaman. Tidak ada yang tidak mungkin saat ini. Dengan kami, manusia akan mendapatkan berbagai macam kemudahan dalam hal memperoleh informasi", jawab salah satu telepon genggam dari kaum 'pintar'.

Harus diakui, dengan adanya para telepon genggam dari kaum 'pintar', manusia lebih dipermudah dalam hal mendapatkan informasi. Hanya dengan memanfaatkan layar lebarnya, manusia bisa berjalan-jalan keliling dunia. Atau, manusia juga tidak perlu lagi membeli pulsa untuk mengirim pesan. Banyak paket yang ditawarkan. Namun, telepon genggam dari kaum 'pintar' terlalu membabi buta. Tidak jarang juga dari mereka yang pada akhirnya membuat manusia semakin bodoh. Ya, telepon pintar yang memperbodoh manusia.

"Apa kau bilang? Perkembangan zaman? Perkembangan zaman yang membuat manusia semakin bodoh dan tak mau berusaha?" tanya salah satu telepon genggam dari kaum 'bodoh'. Tidak mau berusaha, seperti halnya seseorang yang malas berjalan kaki karena merasa saat ini sudah ada sepeda motor yang tinggal dinyalakan lalu kita bisa bebas pergi kemana saja, bahkan dalam jarak seratus meter sekalipun. Ah, betapa malasnya manusia-manusia saat ini. "Bukannya tidak mau berusaha. Tapi, kalau memang ada cara lain yang lebih mudah, mengapa kita harus mencari cara lain yang lebih susah?" jawab salah satu telepon genggam dari kaum 'pintar' dengan tenang. Seakan-akan semakin bangga akan segala kelebihan yang dimilikinya.

Zaman memang akan terus berkembang. Peradaban juga akan berjalan maju. Itu sudah menjadi aturan alam. Semakin banyak ilmuwan-ilmuwan hebat, semakin banyak juga orang gila yang bertebaran di jalanan. Semakin juga para manusia dihipnotis oleh segala produk dari perkembangan zaman. Semakin juga para manusia dibuat gila olehnya.

Dunia ini memang sudah gila. Korban berjatuhan dalam rangka memperebutkan barang hasil perkembangan zaman dengan harga miring. Bocah-bocah yang belum tahu apa-apa pun sudah dengan bangganya menggenggam telepon genggam pintar. Sementara di samping itu, masih banyak rakyat yang meronta-rontah pedih di perkampungan kumuh. Masih banyak anak-anak kecil yang harus rela bergumul dengan kerasnya kehidupan di jalan. Mereka tidak bisa menikmati manfaat dari sebuah produk hasil perkembangan zaman.

Kontradiksi bukan? Lalu, apakah perkembangan zaman atau sebut saja perkembangan teknologi hanya dapat dinikmati oleh mereka-mereka yang berduit?

Dec 10, 2011

Perdebatan di Depan Secangkir Teh Hangat


Ada sebuah kasus yang baru terjadi beberapa hari ini. Kasus yang diberitakan oleh semua media massa. Kasus yang menggemparkan, yang menguak hati nurani. Seorang mahasiswa membakar diri di depan Istana Negara.

Hampir semua media mengatakan bahwa kejadian itu sarat dengan muatan politik. Hal ini tentu dikaitkan oleh profil si pembakar diri yang bisa dikatakan seorang aktivis HAM. Namun, siapa tahu jika ternyata penyebabnya bukanlah seperti yang dibicarakan tiap media? Tidak ada yang tahu, dan belum ada yang tahu.

"Saya salut akan perjuangannya. Demi membela rakyat, dia berani mengorbankan dirinya sendiri," begitu kira-kira katanya. Kata seorang lelaki, sebut saja namanya Ranu. Namun, dengan lantang saya menolaknya. Untuk apa salut pada orang-orang yang tidak berpikir panjang? Bahkan saya menyebutnya sebagai hal yang konyol. Ketika seseorang, atas nama kekecewaan terhadap pemerintah, lalu ia membakar dirinya. Saya berpikir mungkin dia memang sudah bosan hidup. Dan, hal inilah yang mengawali perbincangan kami.

Saya tahu, hal seperti membakar diri sudahlah sebuah hal yang wajar. Banyak aksi-aksi yang terjadi di negara-negara lain yang berdasar atas kekecewaan terhadap pemerintah. Namun, haruskah seperti itu?

Itulah yang membuat saya kontra terhadap gerakan-gerakan masyarakat yang mengatasnamakan membela rakyat. Mungkin ini hanya pandangan saya semata. Tapi banyak saya menemukan kisah seperti ini. Saya selalu menentang aksi anarkis, atau setidaknya aksi yang merugikan orang lain. Seperti cerita di sebuah kota di Jawa Tengah sana. Terlibat konflik antara pedagang pasar dengan pemerintah. Beberapa aktivis masyarakat dengan semangat membela para pedagang. Sampai akhirnya mereka harus bentrok dengan Satpol PP, mereka kalah, dan beberapa dari mereka ada yang dilarikan ke rumah sakit. Atau seperti yang sering kita lihat di televisi. Aksi mahasiswa-mahasiswa yang turun ke jalan. Dan tidak jarang dari mereka yang melakukan aksi brutal. Seperti membakar ban dan lain sebagainya. Dan baru saja kemarin, ketika Indonesia mendapatkan masalah perbatasan wilayah negara dengan Malaysia. Ada sebuah wacana yang mengatakan bahwa kita harus perang melawan Malaysia. Haruskah saya menyebut negara ini sebagai negara 'barbar'?

Pernyataan itulah yang membuat Ranu naik pitam. Ia sangat menyetujui perang, karena menurutnya semua harus diberantas. "Sampai kapan kita akan diam jika mereka-mereka para pejabat tidak peduli pada kita?" begitu jawabnya. Sungguh, saya pun sama dengannya. Menginginkan hal yang sama. Namun, saya hanya bertanya-tanya, apakah cara yang harus ditempuh hanya dengan kekerasan? Namun, saya akui itu benar adanya. Terbukti pada tragedi Mei 1998. Ketika korban berjatuhan, banyak orang yang hilang entah kemana, akhirnya Indonesia mengalami pergantian rezim. Mungkin, saya harus berkata, masalah pemerintah-rakyat adalah masalah yang tak akan pernah ada habisnya. Jika mau habis, jatuhkanlah korban terlebih dahulu. Maka dari itu, lakukanlah perang! Tapi sekali lagi, anggap saja saya seorang pecinta damai. Saya tidak suka kekerasan. Atau ada pihak-pihak yang sebenarnya tidak tahu menahu, lalu menjadi korban. Seperti, ada seorang anak berseragam putih-biru, di tengah-tengah kerumunan massa yang berorasi.

Dan, sekali lagi, dia menyanggah saya. Baginya tak ada cara lain selain melawan dan berontak. Cara dialog pun dirasanya sudah tidak berguna. Seperti mungkin yang dilakukan oleh si pembakar diri. Dia sudah mengalami titik buntu, karena pemerintah tidak pernah melaksanakan tuntutan-tuntutannya. "Lagipula jika kita melihat kasus di pembakar diri, siapa yang dirugikan? Toh dia hanya merugikan dirinya sendiri." Saya menjawab, bahwa memang tidak ada yang dirugikan secara fisik. Tapi bisakah kita membayangkan bagaimana perasaan keluarganya yang tiba-tiba saja mendengar kabar naas tersebut. Hal kecil memang, tapi menyentuh.

"Lalu, jika kamu memang tidak ingin ada kekerasan, bagaimana caranya? Bahkan berdialog pun rasa-rasanya sudah tak berguna. Akankah kamu terus menjadi orang yang apatis, tak pernah peduli pada apa yang dirasakan rakyat bawah?"

Sambil meneguk secangkir teh hangat, saya diam sejenak. Dan saya menjawab, tidak. Saya memang tidak bisa berorasi di depan kantor-kantor pemerintahan. Saya juga tidak begitu paham dengan wacana-wacana politik yang begitu membabibuta. Saya juga malas harus berpanas-panasan berdemonstrasi di jalanan. Lagipula, saya merasakan begitu bencinya ketika saya hendak berpergian, lalu tiba-tiba saja ada kelompok masyarakat yang sedang berdemonstrasi, macet! Ya, saya memang malas melakukan semuanya. Tapi perlu kita tahu, sesungguhnya aksi yang dibutuhkan rakyat bukan hanya aksi dengan turun ke jalan menuntut kebijakan pemerintah lalu disiarkan ke seluruh penjuru negara. Pernahkah kita berpikir untuk do something pada mereka, yang kita sebut sebagai rakyat bawah? Apakah pengabdian kita pada rakyat bawah harus selalu dilakukan dengan berteriak menuntus kebijakan pemerintah atas nama rakyat? Saya menjawab, tidak.

Saya memang tidak bisa berorasi atas nama revolusi reformasi. Tapi, saya hanya bisa ikut turun ke jalan untuk 'membantu' mereka. Saya mencoba bergabung dengan mereka-mereka, kawan-kawan dari jalan. Pernah juga, saya bersama beberapa teman menyediakan perpustakaan kecil-kecilan yang dikhususkan untuk kawan-kawan jalanan. Saya juga dengan senang hati akan menjawab bila ada seseorang dari mereka bertanya suatu hal yang tidak mereka mengerti. Atau sekedar memberikan pelajaran mewarnai gambar pada mereka bocah-bocah yang terpaksa harus bergumul dengan kerasnya kehidupan di jalan tanpa bisa membaca dan menghitung. Dan mungkin, berkunjung ke sebuah perkampungan kumuh, memberi bantuan ala kadarnya. Dan mencoba bergaul bersama mereka. Menjadi teman yang baik bagi mereka. Menunjukkan pada mereka, bahwa tidak pernah ada batas antara kita dan mereka.

Atau juga, jika saat ini negara kita sedang goyah karena masalah-masalah budaya lokal negara kita yang seringkali dengan mudahnya direbut oleh negara-negara tetangga. Dan cukup banyak saya mendengar orang-orang berteriak, "Lestarikan kebudayaan lokal Indonesia!". Saya pun melakukannya dengan turut aktif berpartisipasi membantu teman-teman para penggiat seni tradisi dalam menggelar berbagai kegiatan-kegiatan kecil.

Memang, yang kami lakukan hanyalah hal-hal dalam lingkup kecil. Mungkin, tidak ada yang mengetahuinya. Kami juga tidak masuk ke dalam layar televisi. Tapi, kami melakukannya dengan tulus. Biar hanya dalam lingkup kecil, tapi kami melakukannya secara langsung dan berguna.

Seperti perbincangan saya dengan salah seorang seniman sekaligus aktivis di Bandung. Saya ingat, dulu dia sering melakukan aksi di mana-mana. Namun sekarang, dia membangun sebuah kampung budaya dan industri di perkampungan di mana ia tinggal. Ia sadar akan SDM yang ada di wilayah tersebut. Ia mengolah SDM-SDM yang ada di sana untuk bisa produktif. Ketika saya bertanya, mengapa ia jadi lebih fokus di kampung ini, ia menjawab, "Ah, saya capek terus-terusan aksi, nggak ada gunanya. Mending langsung saja aksi dalam bentuk nyata."

Begitulah kira-kira yang saya ambil. Aksi dan orasi tidak menyelesaikan masalah. Memang, jika aksi dan orasi-orasi itu berhasil, akan membawa pengaruh yang sangat besar untuk seluruh lapisan masyarakat. Namun, entah kapan. Dan, bagi saya, lebih baik kita turun untuk melakukan sebuah aksi nyata dan langsung menyentuh mereka yang kita bela. Setidaknya, itu jawaban saya pada Ranu.

Malam semakin dingin, air teh dalam cangkir semakin menyusut. Mungkin sudah waktunya perdebatan ditutup. Pada akhirnya, secangkir teh hangat menjadi saksi perdebatan malam tadi.


Bandung-Sokaraja, 091211


Nov 30, 2011

Membeli Eksistensi


Inilah aku! Lihatlah aku! Perhatikan aku!

EK-SIS-TEN-SI. Percayakah, bila ada seseorang berkata, "Aku melakukannya bukan karena menginginkan eksistensi. Aku melakukannya hanya karena ingin memuaskan diriku"? Ya, memuaskan diri atas pengakuan orang lain.

Siapa yang tidak tahu bahwa manusia adalah makhluk sosial? Siapa juga yang tidak mau diperhatikan oleh sesamanya? Manusia memanglah makhluk sosial. Ia hidup di tengah-tengah masyarakat yang terikat dengannya secara sosial. Dan sudah hal yang paling pasti, manusia selalu ingin diakui oleh orang-orang lain di sekitarnya.

Mudah kita temui pada para kaum sosialita di kota-kota besar. Betapa relanya mereka mengluarkan rupiah demi rupiah agar dirinya bisa tampil dalam sebuah acara bergengsi lengkap dengan gaun berbahan sutra yang elegan dan mahal. Ia berjalan bak ratu-ratu kecantikan, seakan-akan semua mata memandangnya. Dengan anggun, ia berjalan di karpet merah, melirik kanan dan kiri, memamerkan senyum, tak lupa kilat-kilat foto menyambar dari segala arah.

Atau juga bisa dengan mudah ditemukan di kalangan anak muda yang memanfaatkan dunia maya untuk mengejar eksistensinya, termasuk saya sendiri. Semakin eksentrik seseorang, maka semakin eksislah dia.

Tak lupa, pengakuan diri seseorang sebagai anggota dari sebuah komunitas. Saya pernah mendapati sebuah percakapan lucu dengan seorang teman yang mengaku dirinya adalah bagian dari sebuah komunitas yang cukup segmented namun memiliki nilai jual tersendiri. Nilai jual eksistensi. "Support our local scenes!", begitu kira-kira dia berkata. Dan saya menjawab, "Oke, support your local scenes, not our!". Dengan semangat empatlima, ia berteriak-teriak untuk mendukung SCENE-NYA. Sebuah scene di mana ia berada, di mana ia berkumpul dengan rekan-rekan sejawat, di mana ia mengejar eksistensinya.

Tak perlulah kita pungkiri hal itu. Sesungguhnya eksistensi adalah sesuatu yang tertanam dalam diri manusia. Bukan saja, eksistensinya di dunia, tapi eksistensinya di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat. Hello people, it's me! Look at me! Watch me! I can do it! Tidak ada yang salah, bukan? Karena pada dasarnya pun, manusia akan selalu membutuhkan pengakuan dari kehidupan bermasyarakatnya.

Lihatlah, aku ada di tengah-tengah kalian. Aku ingin kalian melihatku. Aku ingin kalian memperhatikanku. Akui aku! Dan jika Seno Gumira Ajidarma menjual kelas sosial, atau Djaenar Mesa Ayu menjual moral, maka saya mencari penjual eksistensi.

Tolong, saya ingin membeli eksistensi. Ada yang menjualnya?

Nov 28, 2011

Jambu Jinambu


Aku mencintaimu..
Aku mencintaimu..
Aku mencintaimu..

CAESAR mendekatkan mulutnya ke sepotong telinga di depannya, lalu berbisik, “Aku mencintaimu”. Sekali lagi Caesar berbisik, “Aku mencintaimu”, sambil melengkungkan tangannya ke tubuh di depannya yang tampak sedang tertidur lelap. Untuk terakhir kalinya Caesar berbisik, “Aku mencintaimu”, lalu menempelkan pipinya pada pipi kasar di depannya. Mereka tersungkur, mendengkur.

Ia merasakan dua kata yang dibisikkan ke telinganya. Kalimat itu berbunyi, Aku mencintaimu. Mendadak ia merasakan tubuhnya hangat karena getaran sebuah pelukan dari tangan kurus, dan sebelumnya ia sekali lagi mendengar bisikan, Aku mencintaimu. Lalu bisikan itu terdengar lagi, Aku mencintaimu. Hangat ia rasakan di pipinya yang kasar, ada pipi lain yang membelainya. Mereka tersungkur, mendengkur.

**********
SEBUAH gedung megah di pinggiran kota pun sudah hiruk pikuk dengan muda mudi yang berjalan kesana kemari. Mereka berkata, mereka datang ke tempat ini untuk menuntut ilmu. Tidakkah mereka menjadi manusia hipokrit semata? Ketika mereka datang penuh dengan brand-brand bergengsi yang menempel di tubuhnya sementara otak mereka tidak pun dipenuhi apa-apa. Atau tidakkah tujuan menuntut ilmu itu hanyalah alasan belaka kepada orang tua, karena sesungguhnya mereka datang ke tempat itu untuk mencari pacar, memadu kasih, atau mungkin sempat juga membolos dari jam belajar dengan alasan ini dan itu.

Semoga mereka benar-benar belajar. Belajar menjadi manusia sesungguhnya. Belajar memandang manusia lain tidak dengan sebelah mata. Tidak dengan memandang status sosial. Tidak dengan memandang brand yang dipakai. Ataupun dengan tidak memandang orang lain hanya karena orang lain itu mereka sebut sebagai orang yang menyimpang.


CAESAR berjalan sendiri di tengah penuhnya para mahasiswa yang saling bercengkrama berbicara atau mungkin mencemooh mahasiswa-mahasiswa lain yang selalu menjadi bahan olok-olok mereka. Caesar salah satunya. Si pintar yang selalu memakai kemeja panjang polos, tas yang menempel di punggung, dan celana panjang yang tidak mengecil di bagian bawah. Bukan karena kepintarannyalah ia dicemooh. Sudah tentu kepintarannya selalu dimanfaatkan oleh mereka-mereka si pencemooh. Namun, cemoohan itu datang bertubi-tubi karena seseorang yang dicintai Caesar. Namanya Elang. Mahasiswa fakultas sebelah, yang terkenal karena paras tampannya, diidolai oleh hampir setiap wanita yang memandangnya.

Caesar dan Elang. Caesar mencintai Elang. Namun, Caesar tak pernah tahu apa yang dirasakan Elang padanya. Ia hanya merasa Elang selalu baik padanya. Elang selalu melindunginya. Elang membenci mereka-mereka yang merasa paling hebat dan paling benar, seperti mereka yang selalu mencemooh Caesar. “Hey, Caesar! Bagaimana dengan tugas kelompok kita, mata kuliah reka bentuk media, harus dikumpulkan besok kan? Ah, sepertinya kami tidak bisa ikut mengerjakannya. Malam ini kami ada pesta. Tolonglah kamu kerjakan, ya. Jangan lupa tulis nama kami. Tenang saja, nanti Rimba siap kalau kamu ingin menyodominya”, teriak salah seorang di kerumunan mereka yang sedang bercengkrama berbicara mencemooh. Dan teriakan itu pun disusul dengan riuh tawa mereka yang bercengkrama berbicara mencemooh. Caesar hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ia tak sedikit pun bisa merasa senang karena bisa memamerkan namanya di tengah nama-nama mereka yang bercengkrama berbicara mencemooh.

Sodomi mereka bilang? Aku memang penyuka sesama jenis. Tapi bukan hanya sodomi yang aku cari, bangsat! Aku mencari cinta. Aku mencintainya. Lagipula apa salahnya dengan seorang homoseksual? Bukankah tokoh-tokoh besar dunia pun banyak yang mengaku sebagai seorang homoseksual? Kimitae Hiraoka yang biasa kita kenal dengan Yukio Mishima dengan novelnya yang mengguncang, Confession of A Mask, yang berkisah tentang seorang anak muda ‘gay’ yang terpaksa menggunakan topeng heteroseksual agar diterima di tengah masyarakat, adalah seorang gay sejati. Sejak kecil ia sudah ejakulasi ketika melihat gambar setengah telanjang Santo Sebastian. Jangan salah, pencipta teknologi komputer pertama, Alan Turring juga seorang gay. Dan sekarang kita begitu menikmati karyanya!


DARI kejauhan, Caesar memandangi sang kekasih hati dengan kedua matanya yang tertutupi kacamata bulat dan tebal. Ia merasa teduh setiap kali memandangnya. Elang memanglah lelaki tampan, siapapun pasti menginginkannya. Sama seperti Caesar yang juga begitu menginginkannya.

Seperti wanita-wanita yang begitu menggandrungi Elang, selalu tersipu ketika Elang menancapkan senyum manis kepada mereka. Begitu juga Caesar. Tak jarang ia tersipu dan sedikitnya salah tingkah ketika Elang menancapkan senyum padanya. Ditambah lagi, ketika suatu saat Elang pernah dengan gagahnya membela Caesar di depan teman-temannya yang dengan begitu hinanya mencemooh Caesar habis-habisan.


“HEY CAESAR, kemarilah kau!” teriak seseorang kepada Caesar sambil menggenggam satu kertas besar dengan gambar Rocco Siffredi, seorang bintang porno dengan badan tinggi besar, kulit mengkilat, lengkap dengan otot-otot yang begitu mencolok. Caesar menghampirinya. Namun, tiba-tiba saja dari belakang tubuhnya terasa dorongan yang begitu menjentakkan, sehingga kepalanya mendadak terjun maju ke depan, tepat ke arah foto si artis porno dengan penis berukuran 23 centimeter. Ia menciumnya. Ia mencium dada dalam foto itu. Cukup lama, setidaknya cukup untuk satu jepretan foto dengan gambar sensasional.

Blitz foto menyambar. Di dalam layar kamera, terdapat sebuah gambar seorang pria yang mencium dada seorang pria seksi dalam gambar. Semua tertawa riuh. Aula yang pengap karena penuhnya kerumunan orang yang akan mengikuti seminar mendadak terasa damai karena semua orang tertawa bahagia. Bahagia atas pencemoohan seseorang yang juga manusia.

Tak lama kemudian, dinding aula sudah dipenuhi oleh sebuah gambar berukuran besar. Gambar seorang pria yang mencium dada pria seksi dalam foto. Sinar proyektor sungguh membantu kegiatan mencemooh ini. Dan tawa semakin riuh, semakin hangat, dan semakin bahagia.

Dan, seperti biasanya seseorang yang diinjak-injak. Caesar hanya bisa diam, menundukkan kepalanya, menatap sepatu dan lantai. Ia terlalu lemah. Terlalu lemah untuk melawan.

BUGGG! Tiba-tiba terdengar suara pukulan keras yang menghantam sebuah wajah. Laki-laki itu terjatuh, tersungkur di lantai. Elang telah memukulnya. Memukul kepalanya, tepat di bagian otak. Otak yang sudah seharusnya diperbaiki, mungkin harus ditanam hati baru di otak itu. Sehingga ia bisa berpikir menggunakan perasaan.

“Anjing kau!”, maki Elang. Ia mematikan gambar yang ada di dalam komputer, gambar yang sebelumnya terpampang jelas di dinding aula. Ia pergi keluar ruangan. Sesaat ia melewati Caesar yang masih saja menunduk. Namun, ia hanya melewatinya, tanpa memberikan basa basi. Caesar pun menyempatkan diri untuk memandangnya. Tak lama, Caesar mengikutinya pergi keluar dari ruangan.


BUKU itu dibuka, lalu ditutup. Dibuka dan ditutup kembali. Tampaknya malam ini ia tak bisa tidur. Lagu-lagu sendu sudah diputarnya. Mulai dari Box Of Stones dari Benjamin Francis Leftwich hingga lagu bunuh diri ala Elliot Smith.

Namun, tiba-tiba saja terdengar ketukan pintu dari luar. Ada seseorang yang berdiri di belakang pintu, meminta Caesar untuk membukakan pintu. Caesar beranjak, berjalan ke arah pintu, dan membukanya.

Elang, ia berdiri kaku di hadapan Caesar. Ia tersenyum. “Boleh aku masuk?”. Caesar membalas senyum, mempersilahkan Elang, tamu istimewanya untuk masuk.

Untuk beberapa lama, Elang dan Caesar hanya bisa berdiam diri di depan dua cangkir teh hangat yang menemani malam yang dipenuhi oleh suara rintikan air hujan. Hujan yang membuat tubuh Elang basah kuyup. Hujan yang membuat Elang harus bertelanjang dada untuk sementara waktu.

Sayup-sayup terdengar tikus dan tikus saling mencicit. Mungkin mereka bertengkar riuh. Sama seperti Caesar dan Elang yang baru saja terbawa arus emosi yang meledak-ledak sehingga mereka harus adu mulut sesaat pagi tadi. Adu mulut karena Caesar yang mendapati Elang bersama seorang perempuan cantik yang sedang dipeluknya. Pagi tadi, Caesar hanya sempat berkata, “Aku bukan mainanmu, Elang”. Caesar mengumandangkan suaranya dengan lantang, dari kejauhan, sehingga cukup banyak orang yang mendengar. Dan tentunya, kalimat lantang yang dikeluarkan Caesar lambat laun menjadi pergunjingan hari ini. Elang marah, ia menghampiri Caesar. Elang mengeluarkan segala caci maki. Caesar berlari. Ia pulang. Dan ia menangis.

“Apa yang kau gambar?” tanya Elang memulai perbincangan sambil tidak merubah pandangannya pada gambar kusut yang tertempel di dinding kamar Caesar. Gambar yang untuk pertama kalinya ia lihat menempel di kamar Caesar, karena sebelum-sebelumnya, selama Elang bulak-balik keluar kamar Caesar, ia tak pernah melihat ada satu pun gambar yang menempel di dinding kamar Caesar. Caesar masih diam. Caesar pun tak tahu apa yang ia gambar. Ia hanya menggambar dua orang pria yang saling bergandengan tangan, namun gambar itu ditimpa oleh coretan-coretan kusut. Seperti coretan-coretan yang terlempar di wajahnya, coretan-coretan hina yang menempel di wajahnya. Coretan-coretan hina yang diberikan orang-orang untuknya. Coretan-coretan hina yang membuatnya menjadi incaran cemoohan mereka kaum penindas. Coretan-coretan yang membuatnya dipandang jijik bagi sebagian orang. Ia tak habis pikir, mengapa ada coretan-coretan seperti itu dalam hidupnya. Padahal, ia hanya menjalankan apa yang ingin ia jalani. Ia hanya mengikuti kata hatinya. Salahkah, bila ia menolak untuk berhubungan dengan seorang perempuan, dan lebih memilih untuk mencintai seorang lelaki? Mengapa hanya dengan mencintai seseorang, ia harus rela menerima cemooh demi cemooh yang dilempar orang per orang? Apakah hati punya peraturan? Jika kita percaya pada kisah-kisah keNabian, perilaku homoseksual sudah ada sejak dulu, sejak jaman keNabi-an. Walaupun pada akhirnya kaum mereka habis tanpa sisa oleh murka Tuhan, tapi bagaimana pun mereka tetap pernah eksis. Lagipula, jika memang Tuhan membenci mereka para kaum homoseksual, mengapa Tuhan menciptakannya? Karena pengaruh dari setan yang menyamar menjadi seorang pria tampan, lalu menggoda seorang prajurit, dan mengajarinya seks lewat ‘pintu belakang’? Lalu mengapa Tuhan menciptakan setan untuk menggoda mereka, menggoda kita para manusia? Bukankah setan juga ciptaan Tuhan?

“Maafkan aku”, Elang memohon maafnya kepada Caesar. Caesar menjawabnya dengan diam. Elang menarik wajah Caesar. Elang memandangnya dalam. Tatapan seperti itulah yang selalu membuat Caesar salah tingkah. Elang mendekatkan wajahnya menuju wajah Caesar. Kedua kening saling bersentuhan. Kedua mata saling memandang. Kedua hidung saling menyentuh dan mendengus. Bibir pun tak mau kalah. Kedua bibir saling bersentuh kemudian saling melumat. Lumatan halus, yang diberikan oleh yang terkasih. Elang melingkarkan tangannya di leher Caesar. Pelukan halus, yang diberikan oleh yang terkasih. Caesar mengelus dada lelaki di depannya yang masih telanjang. Buaian halus, yang diberikan oleh yang terkasih.

“Mengapa kau menciumku, Caesar? Aku kan seorang lelaki, sama sepertimu.”

“Karena hatiku menyuruhku untuk menciummu. Karena hatiku menyuruhku untuk mencintaimu.”

“Mengapa kau mencintaiku, Caesar? Aku kan seorang lelaki juga, sama sepertimu.”

“Mungkin karena namaku Caesar. Kau ingat, kisah-kisah di jaman Romawi kuno? Di usianya yang ke-20, Julius Caesar berselingkuh dengan Raja Nicomedes dari Bitinia. Kau tahu, dulu orang-orang menganggap Julius Caesar sebagai pria yang diidamkan setiap wanita, dan wanita yang diidamkan setiap pria.”

Elang tertawa. Tertawa sambil membelai rambut dan punggung Caesar yang membelakanginya. Mungkin Elang senang mendengarnya.

“Apakah bagimu aku aneh? Biarpun baru-baru ini telah diadakan resolusi persamaan hak yang menyatakan bahwa setiap manusia berhak untuk memperoleh hak dan kebebasannya dalam diskriminasi apapun, termasuk salah satunya menyangkut orientasi seksual. Namun aku heran, mengapa aku tetap saja seakan-akan menjadi momok masyarakat? Hampir semua orang mencemoohku. Kau ingat kerusuhan Stone Wall yang terjadi bertahun-tahun yang lalu, ketika terjadi adu kekerasan antara polisi dengan kaum gay dan wanita transgender? Kerusuhan yang dianggap sebagai awal pergerakan perjuangan hak asasi gay di Amerika Serikat dan dunia. Aku menginginkan hal itu terjadi lagi saat ini. Aku ingin seperti mereka, mampu melawan mereka-mereka yang dengan kejamnya mencemoohku.”

“Itulah aturan sosial, sayang. Aku ingat, Plato pernah berkata bahwa homoseksualitas seperti halnya filsafat yang dipandang sebagai aib yang memalukan bagi kaum barbar di bawah pemerintahannya yang lalim. Sama sepertimu, mereka masih menganggap homoseksual adalah aib, perilaku yang sangat menyimpang sehingga menjadi momok masyarakat. Kita hidup dalam lingkaran budaya Timur. Jelas berbeda dengan yang terjadi di negara-negara lain. Seperti di Belanda misalnya, ketika perkawinan sesama jenis diperbolehkan. Namun, sikapmu yang melawan juga bukan merupakan suatu kesalahan. Seperti yang kau bilang, sudah ada hak-hak asasi manusia dalam memilih pasangan hidup. Lagipula, aku juga heran, padahal dengan adanya pasangan sesama jenis, kita membantu dunia mengurangi populasi yang terus berkembang tanpa kenal lelah. Jika menurut kabar, dan jika kau percaya teori konspirasi, bahwa orang-orang konspirasi akan melakukan pengurangan populasi dunia secara besar-besaran di tahun 2012, maka kita sudah melakukannya dari sekarang,” jawab Elang sembari meluarkan tawanya terbahak-bahak.

Elang tahu, ada dendam di balik hati Caesar. Dendam kepada orang-orang yang mencemoohnya, dan juga kepada orang tuanya yang dengan tegasnya tidak menerima seorang anak dengan penyimpangan orientasi seksual. Jangankan teman-teman di sekelilingnya, orang tuanya pun terkadang ikut mencemoohnya. Dan sekali lagi, Elang mencoba menenangkannya dengan membelai rambut Caesar yang sedikit basah oleh keringat.

“Elang, aku tak pernah bercinta denganmu.”

“Untuk apa? Kau mau?”

“Jika kau memang menyayangiku, berikan tubuhmu kepadaku. Tapi perlu kau tahu, bukan berarti aku hanya menginginkan tubuh dan kepuasan seks darimu. Tapi, aku ingin mencobanya. Mungkin kau sering bercinta dengan wanita-wanita, tapi aku tak pernah merasakannya sekalipun. Aku ingin memberikan perjakaku untukmu.”

“Hati-hati kau kalau berbicara. Jika kita bercinta, aku akan menjadikanmu sang Adipati yang kesakitan ketika lubang anusnya ditusuk oleh penis sang penari pria, Cebolang. Ia begitu penasaran, karena selama mereka bercinta, selalu lah Cebolang yang merelakan anusnya untuk ditusuk. Dan ia ingin tahu bagaimana rasanya ditusuk. Sama sepertimu, yang penasaran bagaimana rasanya bercinta, bercinta dengan pria. Dan aku akan menjadi Cebolang malam ini untukmu.”

Elang menarik tubuh Caesar membalik ke arahnya. Dengan cepat, Elang memagut bibir Caesar. Mereka saling memagut, saling menggigit, dan saling menjilat. Elang berusaha keras melepaskan kaus lusuh yang masih menempel di badan Caesar. Dan sekarang, dua tubuh bertelanjang dada saling bersentuhan di atas kasur kecil dengan kapuk yang berloncat-loncatan dari dalam kasur. Seperti dua paus abu-abu yang berenang bersama sambil menggosokkan perut mereka agar organ genital mereka tersentuh satu sama lain.

Elang dan Caesar terus saling memagut. Belaian demi belaian diberikan Caesar untuk lelaki pujaannya. Lelaki yang membuatnya salah tingkah. Lelaki yang membuatnya tersipu malu. Lelaki itu mencoba menurunkan celana pendek yang masih juga menempel di tubuh Caesar dan di tubuhnya. Lelaki itu membanting dan membalikkan tubuh Caesar. Caesar tidur telungkup di atas kasur. Terasa olehnya kulit liat dari lelaki yang dipujanya menempel di atas punggungnya. Terasa olehnya keringat membasahi tubuhnya dan tubuh lelaki yang dicintanya. Akhirnya, terasa juga olehnya rasa sakit ketika ada sesuatu yang memasuki dan menusuk lubang anusnya berulang-ulang.

Dengan sekuat tenaga, Elang terus mengulang-ngulang gerakannya. Ia terus mendorong tubuhnya. Ia mendengar lelaki yang disayanginya mengeram. Ia tahu lelaki itu mengeram kesakitan. Eraman itu semakin lama semakin liar. Dan ia pun tahu, eraman yang semakin liar itu pertanda bahwa lelaki yang dilindunginya itu sedang diliputi sakit yang bercampur dengan kenikmatan. Kenikmatan bercinta untuk pertama kali. Kenikmatan dalam membuang perjakanya. Kenikmatan orgasme untuk pertama kali. Kenikmatan orgasme bersama dengan seseorang yang dicintai. Seorang pria, yang adalah dirinya.

“Caesar, kau adalah endorphinku..”


ELANG mendengkur halus. Ia tampak tertidur lelap. Dari belakang Caesar mengamatinya. Elang memanglah sesosok pria yang begitu didambanya. Caesar merasakan kehangatan malam itu. Malam di mana ia menyerahkan segalanya kepada Elang, lelaki yang dicintanya.

“Aku mencintaimu,” Caesar berbisik di telinga Elang yang bergerak-gerak kecil. Caesar memeluk Elang dengan tangannya yang kurus, dan kembali berbisik, “Aku mencintaimu.” Caesar menempelkan pipinya pada Elang, sambil berbisik yang sama, “Aku mencintaimu..”.