PROJECT

Showing posts with label PROJECT. Show all posts
Showing posts with label PROJECT. Show all posts

Dec 14, 2011

Di Sini, Di Tempat Ini : Kenangan Yang Tergusur Oleh Tangan Besi







Di tempat inilah kami bertemu.
Di tempat inilah kami mengasah tawa.
Di tempat inilah kami menyimpan sebongkah harap.







Akhir tahun 2010. Saya ingat, saat itu adalah kali pertama saya menapakkan kaki di tempat ini. Saat itu pula seorang pria yang tidak pernah mau menyebutkan nama aslinya mengajak saya bergabung bersamanya dan kawan-kawan lainnya. Saat itu pula saya mulai mengasah tawa.

Adalah sebuah kampung seni dan budaya yang kami bentuk untuk pertama kalinya di akhir tahun 2010. Di dalamnya terdapat berbagai macam manusia. Ada mereka para seniman-seniman, baik dari ranah seni tradisi, seni rupa, seni musik, dan lain-lain. Ada mereka yang berlatarkan akademis, dan ada mereka juga yang berlatarkan jalanan. Namun, perbedaan-perbedaan itu tidak menjadi sekat di antara kami. Seperti yang selalu Kepala Suku katakan, "Anak jalanan yang ada di kampung ini harus ganti 'baju'. Mereka bukan anak jalanan, tapi mereka adalah orang-orang yang mau berproses dan berkreasi!".

Seperti halnya sebuah pembangunan, banyak gangguan-gangguan dari berbagai macam pihak memekikkan telinga kami. Namun apa daya, gangguan itu tidak pun kami hiraukan terlalu sulit. Tidak juga menyurutkan semangat kami yang menggebu-gebu.

Atas nama melestarikan budaya-budaya lokal, khususnya di tatar Sunda, dengan penuh semangat berbagai macam usaha kami lakukan. Walaupun secara pribadi, saya tahu hal itu hanyalah sebuah distopia yang patut dipertanyakan.

Namun, begitu membanggakan ketika kami menyadari bahwa ini adalah kami yang berjuang di balik celah-celah jerami kering dalam cengkraman pohon batu yang di dalamnya terdapat sebongkah kisah masa lalu yang kini pun sudah menjadi museum tanpa lampu.
Bahwa ini adalah kami yang berjuang memperjuangkan sesuatu yang telah 'terlupakan' di tengah-tengah dunia yang sudah tak bisa berkompromi dengan sejarah.
Bahwa ini adalah kami yang bersama meneriakkan cinta pada kekayaan leluhur di tengah modernisasi yang membabibuta.
Bahwa ini adalah kami yang merangkak di bawah kekuasaan yang buta akan hati atas nama budaya yang masih bermata tanda tanya.

Hey kalian, yang berseliweran di sekitarnya, sadarkah kalian bahwa kami adalah orang-orang kaya? Orang yang kaya akan bambu-bambu yang masih kami tancapkan dengan megah? Orang yang kaya akan jerami-jerami yang kami simpan dengan cantik?

Namun, apa daya. Kekayaan-kekayaan itu terpaksa harus tergusur oleh tangan-tengan besi yang haus akan kekuasaan. Perjuangan itu terpaksa harus luluh lantah bersama dengan debu yang menjadi saksi mereka yang berjuang. Kebersamaan itu pun terpaksa harus hilang direbut oleh mereka yang berseragam.

Mereka berontak. Mereka kepalkan tangan demi sebuah kemerdekaan. Namun, apa lacur, kepalan tangan itu sama sekali tidak menakutkan mereka para pembuat kebijakan yang terhormat. Hey, para pembuat kebijakan yang terhormat, perlukah saya ingatkan kembali, mungkin satu tahun yang lalu ketika kalian meminta kepada seseorang di antara kami untuk membangun sebuah kampung seni budaya di tempat ini? Tapi sudahlah, saya tidak marah sedikit pun. Saya sadar bahwa kalian akan selalu menjadi para pembuat kebijakan yang terhormat. Dan saya akan hormat kepada kalian. Namun, saya yakin, perjuangan kami tidak hanya berhenti di situ. Saya hanya meminta doa restu dari kalian, wahai paduka yang terhormat.


















DAN sekarang, mungkin beberapa bulan atau bahkan satu tahun berlalu. Saya merindukanmu wahai suasana. Suasana di mana saya bisa bercandagurau di sebuah saung yang di depannya berdiri dengan gagah seorang pocong, dan di dalamnya terdapat itik berwarna-warni, merah kuning dan hijau. Suasana di mana saya bisa saling berbagi cerita dengan kawan di dalam saung berlapiskan lembar koran demi koran yang di dalamnya bertebaran buku-buku yang tersimpan acak. Suasana di mana saya mengikuti rapat di sebuah saung yang di dalamnya berjejer alat-alat musik tradisional, mulai dari karinding, celempung, hingga jijeriju. Suasana di mana saya dibuatkan segelas teh oleh seorang Ibu di dalam saung yang penuh dengan lukisan-lukisannya. Atau suasana ketika saya mengikuti sebuah diskusi dadakan di sebuah meja yang terbuat dari kayu yang dikelilingin oleh dedaunan. Ah, terlalu banyak kenangan yang harus saya ceritakan. Karena kenangan itu sekarang telah tergusur oleh tangan-tangan besi yang ingin dihormati.

































DAN, beberapa hari kemarin, sesuai dengan perbincangan dengan beberapa di antara mereka, mari rapatkan kembali jejak-jejak yang pernah menempel di telapak kaki kita. Mari kita buat sesuatu. Tak usahlah muluk-muluk dengan impian sebuah kampung. Mulailah dari yang terkecil. Mari, kawan! Tak usah kita bermain dengan kepalan tangan, mari kita bermain dengan sebuah semangat. Karena sesungguhnya, semangat itu masih membutuhkan jiwanya.


Kampung Seniman Bangun Pagi, Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (2010-2011)

Jul 14, 2011

RUNGLA, Part #1


"Meong.." Sayup-sayup erangan makhluk liar terdengar dari balik singgasana berkelambu. Di baliknya, ada makhluk berbadan kerdil penuh bebuluan hitam dan bermata hitam pekat. Dia meringis. Mungkin, semalam dia baru bermimpi basah. Bersetubuh dengan seekor tikus sebelum ia habisi dan lahap si tikus malang itu.

Apakah kamu akan berkata kalau makhluk itu liar? Mungkin iya. Tapi tidak untuk seorang gadis manis. Tidak untuk Rungla.

Ya! Rungla namanya. Perempuan cantik dengan paras bidadari yang sedang tertidur pulas di atas ranjang berkelambu. Mungkin, Rungla jatuh cinta pada makhluk manis nan liar di bawah ranjangnya itu. Setiap malam pun ia cumbui makhluk itu sampai orgasme.

-----

Matahari sepertinya mulai bangun dari tidurnya, membuat Rungla ikut terbangun. Karena pagi itu, seperti biasa, ia harus melaksanakan tugasnya di rumah sakit. Sebagai perawat ia berkewajiban untuk merawat setiap pasien yang ada. Ah, tapi ia merasa lebih senang jika harus merawat tubuh-tubuh yang bergeletakan di ruang mayat. Tubuh-tubuh itu sudah tidak berudara. Yang artinya, mati. Ia bisa bebas melakukan apapun pada tubuh-tubuh lunglai itu. Termasuk meraba penis dalam tubuh yang tergelepak lemas tak berdaya. Ya! Penis! Ia bisa meraba. Bisa memandang. Atau bahkan bisa memotongnya dengan lembut. Lagipula, apakah tubuh yang dikubur harus selalu utuh? Bukankah banyak mayat yang tubuhnya sama sekali sudah tidak utuh? Apa salahnya kalau salah satu organ tubuhnya aku potong dan aku ambil? Begitu pikir Rungla.

Seperti yang sekarang sedang ia amati. Sekelompok daging yang membusuk, yang ia simpan dalam aquarium berlampu merah dalam kamarnya. Daging busuk itu dikenal dengan nama penis. Anggap saja ia gila. Namun, penis itu bagaikan jiwa baginya. Kelamin, mungkin lebih tepat. Entah benci entah cinta yang ia rasakan pada kelamin.

Ah kelamin.. Sebenarnya aku cinta pada kelamin. Bagiku, kelamin adalah hal yang sangat sakral dalam hidup. Bayangkan, jika tidak ada kelamin, mungkin aku tidak akan ada di sini sekarang. Aku tidak akan hidup. Aku tidak akan menjadi nyata. Aku hanya akan menjadi imaji tanpa realisasi. Tapi buktinya, karena kelaminlah aku ada di sini. Namun, aku pun benci pada kelamin. Ibuku hidup terpuruk karena kelamin. Dulu, kelompok ibuku dianggap bersalah karena dituduh melakukan penyelewengan terhadap kelamin. Di sinilah awal mula aku membenci kelamin, khususnya kelamin pria. Ibuku dan teman-temannya dituduh bertindak tidak senonoh dan bertindak sangat amoral terhadap kelamin pria. Sampai pada akhirnya menjebloskan ibu ke dalam keterpurukan. Biar setelah beberapa tahun keterpurukannya berkurang, namun kembali lagi ia menemukan keterpurukan. Ia bertemu seorang pria yang kusebut Ayah. Seorang pria yang begitu kudamba, dulu. Dulu, sebelum aku tahu kalau Ayah menjual kelamin ibu pada setiap pria-pria petualang tubuh. Sebut saja ibuku seorang pelacur. Pelacur yang dipaksa melacur, pelacur yang terpaksa dilacur. Begitulah ibu. Begitu pasrah pada pria yang telah menyelamatkan keterpurukannya. Karena, siapa lagi kalau bukan pria itu yang mau menerima ibu saat itu. Label bekas tahanan hina membuatnya tak bisa kemana-mana selain kepada pria yang mau menerima dan mengurusnya. Ya.. Pria berwajah kelamin!

-----

Rumah sakit akan selalu menjadi rumah sakit. Di sana ia bisa melihat hiruk pikuk berbagai macam manusia. Ada seorang pria yang menangis setelah mendengar kematian kekasihnya yang baru saja ditemukan setelah beberapa hari menghilang. Ternyata kekasihnya hilang diculik sekelompok berandalan, diperkosa, dan dibunuh. Di kursi panjang yang kumuh itu pun duduk seorang pria paruh baya dengan mata yang berkaca-kaca. Pria itu baru saja kehilangan bayinya. Istrinya yang 25 tahun di bawahnya mengalami keguguran dan hampir mati.

Aku tak mau hamil, kalau bisa aku ingin menghamili orang lalu kutinggalkan. Aku tak mau diperkosa, aku ingin memperkosa. Aku tak mau dibunuh setelah diperkosa, aku ingin membunuh setelah memperkosa.

Rungla melesat pergi dari pemandangan pilu yang bodoh di depan matanya. Menuju kamar seorang pasien. Kembali pada aktivitasnya seperti biasa. Merawat pasien hidup. Pasien yang banyak mengeluh. Pasien yang ingin dimanja. Pasien yang ingin dijadikan raja. Pasien yang membuatnya harus berkedok seolah-olah bidadari cantik dengan segala keramahan dan senyum manisnya memberikan pelayanan maksimal pada si mayat hidup. Ya, mayat hidup! Mengaku hidup, namun hanya bisa tidur merebahkan badan menunggu niat baik seseorang untuk memberikan pelayanan semaksimal mungkin dengan alasan mempermudah gerak si mayat hidup karena si mayat hidup masih merasakan lemas di badan. Pasien yang membosankan! Bisik Rungla dalam hati.

-----

Semakin sore, rumah sakit tidak semakin sepi, tapi semakin ramai. Manusia-manusia itu semakin hiruk pikuk, berkeliaran kesana kemari. Seperti semut-semut yang menempel pada dinding kamar mandi. Berseliweran kesana kemari. Rungla teringat kejadian pagi tadi di kamar mandinya. Ada semut-semut bertelur yang bergerombol menghiasi dinding-dinding kamar mandinya. Dan dengan lembutnya, dengan sengaja ia siramkan air pada gerombolan-gerombolan semut di dinding, sampai mereka terjatuh, dan masuk ke dalam lubang pembuangan. Apakah mereka mati? Atau mereka hidup mengambang di dalam sana? Haruskah aku melenyapkan manusia-manusia pikuk ini?

Tak lama, Rungla teringat janjinya pada seorang pria. Ranu, pria yang memanggilnya sebagai ‘pacar’. Apalah arti pacar? Siapa yang pertama kali menemukan kata pacar? Rungla tak pernah perduli pada kata yang dianggapnya tak bermakna itu. Siapalah dia. Dia hanya seorang lelaki yang selalu meminta tubuhnya. Karena merasa Rungla adalah miliknya, sering kali nampaknya pria itu berkata, “Sayang, ayo lepas celanamu..”. Ah begitulah pria busuk yang hanya menginginkan tubuh. Perempuan-perempuan bodoh sengaja dirayu hanya untuk dijadikan budak seksnya. Mereka merayu, lalu menggerayangi, dan menyetubuhi. Apalagi? Bukankan seperti itu? Atau mungkin setelah puas disetubuhi, si perempuan ditinggalkan. Begitulah.. Persetubuhan begitu nikmat bagi anjing-anjing bodoh seperti mereka. Tapi aku, aku tidak menikmati persetubuhan. Aku hanya tertarik pada lembutnya kulit penis. Seperti Ranu, yang mengaku sebagai kekasihku. Aku sama sekali tak perduli pada kata kekasih yang selalu ia ucap. Aku juga tidak begitu menikmati persetubuhanku dengan Ranu. Karena bukan itulah yang aku cari. Aku mencari sesuatu yang tersembunyi di dalam sana. Penis! Aku menginginkan penisnya. Ah.. Penisnya membuatku gemas, dan selalu aku ingin menariknya dari kulit Ranu. Ranu, tenanglah sayang, nanti malam kita akan bertemu, dan aku akan memberikan kejutan manis untukmu, pacar.

-----

Sambil menunggu kedatangan Ranu, Rungla sedikit bermesraan dengan si hitam kesayangannya. Ia menciumnya gemas, si hitam membalasnya dengan jilatan-jilatan liar di leher Rungla. Rungla tertawa manja, sedikit mendesah. Si hitam terus mengeong dan mengeram. Namun, kenikmatan itu terpaksa harus berhenti. Sebagai tanpa perpisahan, kembali Rungla menciumi bulu si hitam dengan gemas. Dan melaju masuk ke dalam mobil.

“Mau kemana kita?”, tanya Rungla.
“Kemana pun asal kita senang..”, jawab Ranu sambil memberikan sedikit jentikan di paha Rungla yang mulus.
“Senang yang bagaimana yang kamu inginkan? Senang bergelayut di atas tubuhku?”
Mendengar itu, Ranu hanya tersenyum sambil melirik mata Rungla yang nakal. Ranu tak menjawab apapun. Ia hanya berlanjut meremas pundak Rungla, dan sekali lagi memberi jentikan genit di paha Rungla. Baginya, itulah jawabannya.

Itulah Ranu. Seorang pria yang selalu haus tubuh wanita. Atau mungkin juga dia seorang pria yang memiliki kadar sperma berlebih di dalam tubuhnya sehingga mengharuskan ia untuk terus menerus mengeluarkan cairan itu. Rungla sendiri tak tahu apakah di belakangnya Ranu pun berpetualang bersama perempuan lain. Lagipula, Rungla sama sekali tak peduli.

Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke sebuah bar. Satu gelas, mereka masih duduk berhadapan. Ranu memang tak pernah jemu memandang wajah Rungla yang bak bidadari. Dua gelas, Ranu mulai menyentuh tangan Rungla yang halus bak kulit mentimun segar. Tiga gelas, Ranu berpindah tempat dan memilih untuk duduk di sebelah kekasih hatinya. Empat gelas, Ranu mulai merangkul pinggang Rungla sambil sedikit menyentuh bagian bawa payudara Rungla. Atau seperti di mobil, mencolek paha Rungla. Dan menciumi pipi Rungla yang merah. Lima gelas, Ranu tak tahan.

Rungla yang sedari tadi hanya diam menerima sentuhan-sentuhan maut dari Ranu pun tak tahan memberikan kejutan manis untuk Ranu. Rungla pun sadar melihat wajah Ranu yang seperti sudah tak tertahankan. “Baiklah.. Tapi sekarang aku ingin menantangmu. Sekarang sudah jam satu malam, aku rasa tempat-tempat di luaran sana sudah mulai sepi. Aku ingin ke salah satu tempat. Ikuti aku. Dan tusuk aku dengan belatimu di sana!”.

-----

Ternyata benar, di luaran memang sudah mulai sunyi dari manusia-manusia yang berseliweran. Salah satu monumen yang orang-orang bilang sebagai bentuk perjuangan rakyat menjadi pilihan Rungla malam itu. Bukan ia membenci perjuangan rakyat. Namun ia membenci benda yang berdiri kokoh di atas monumen itu. Garuda palsu, dengan badan yang terburai, dan di dalamnya terdapat kebohongan-kebohongan.

“Kau lihat Ranu? Di atas itu ada seekor garuda palsu. Kasihan sekali garuda itu, harus terus menengok ke kanan. Lihat, dadanya pun terburai sehingga dalaman-dalamannya dapat terlihat oleh orang-orang yang melihatnya, termasuk kita. Kamu percaya pada garuda palsu itu? Aku tidak. Bagiku itu hanyalah perlambang palsu. Ah tapi sudahlah, kita di sini tidak akan membicarakan masalah itu. Mari mendekatlah padaku. Tusuk aku dengan belatimu. Jangan khawatir, nikmati saja. Lalu, ciduk binatang palsu itu dengan air manimu."

Dalam remang, mereka saling ciduk.
Dalam remang, mereka saling caci.
Dalam remang, mereka saling maki.
Dalam remang, mereka saling desah.
Beradu mata. Beradu hidung. Beradu mulut. Beradu leher. Beradu keringat.
Beradu kelamin.
Dan..selesai sudah!

Persetubuhan adalah kenikmatan sesaat. Kenikmatan sesaat yang terus dinikmati. Ranu tampaknya lelah. Ranu masih menempelkan tubuhnya pada tubuh Rungla. Tampaknya ia terkulai. Karena nafsu birahi yang begitu memanas,keringat pun membasahi tubuhnya yang kekar bak bintang-bintang porno Asia.

"Aku lelah..", keluh Ranu.
"Ya aku tahu. Tapi ini belum selesai, sayang.", sahut Rungla.

Tak lebih dari beberapa detik, tiba-tiba Ranu merasakan mual yang begitu menggila. Merasakan perutnya yang terasa aneh. Merasakan sakit yang tak tertahankan. Merasakan pandangan yang seakan-akan kabur dari bola mata. Dan ia jatuh. Jatuh sambil merasakan dirinya beberapa detik lagi akan menjadi mayat. Merasakan mayat yang muncul karena tertusuk sebilah pisau 10 inci.

BRAAKKK! Ranu jatuh, terkulai tanpa nafas. Terkulai tanpa jantung yang berdetak.
Ranu, mati.

Di depannya, berdiri Rungla dengan senyuman manisnya. Ya, manis! Manis melihat sebuah drama kematian yang ia buat sendiri di depannya. Ia terpesona pada darah dan bolong di perut pria si petualang tubuh yang tergelepak tak berdaya di depannya. Dan tak lupa, ia juga terpesona pada seonggok daging yang dimiliki pria yang tak beruntung itu. Ya, kelamin!

Tanpa merasakan berat, Rungla membawa mayat itu ke balik dinding yang baru saja terciduk oleh sperma pria yang mati di bawahnya. Tanpa rasa takut, ia mengangkat pisau 10 inci yang masih berlumur darah. Tanpa rasa jijik, perlahan ia membelai penis milik Ranu yang sudah ia tunggu-tunggu. Dan tanpa rasa bersalah, perlahan ia mengguratnya, lalu memotongnya, dan memotongnya dengan kuat. Dan..ah! Akhirnya terlepas.

Akhirnya kau terlepas dari sangkarmu. Dulu, kau selalu disiksa oleh tuanmu. Tuanmu yang haus birahi. Tapi tenanglah, mulai sekarang, kau akan ikut denganku. Kau bisa hidup bebas bersamaku, tanpa harus melaksanakan perintah-perintah tuanmu. Tuanmu telah mati, dan kau pun terbebas.


(bersambung)

May 24, 2011

Budaya Bermata Tanda Tanya


Nama saya Budaya,
yang lahir dan mati hari ini.

Nama saya Budaya,
yang menjadi wacana tanpa wacana di surat kabar.

Nama saya Budaya,
yang berbudaya suka-suka dan bergenerasi pongah.

Nama saya Budaya,
yang menjadi boneka di panggung komersil.

Nama saya Budaya,
yang berbudaya pontang-panting mencari sebongkah rupiah.

Nama saya Budaya,
yang terbuai dengan kemerdekaan sesaat.

Nama saya Budaya,
yang di mana ada uang, di situ 'aku budaya'.

Nama saya Budaya,
yang harus dilestarikan dan dibudayakan tanpa masa depan.



Nama saya Budaya,
yang masih bertanya-tanya apa arti nama saya, dan kemana saya akan dibawa.

Nama saya Budaya,
yang masih bermata tanda tanya.

Mar 7, 2010

Feb 11, 2009

BUDAYA POP SEBAGAI SEBUAH CANDU


saat MTV telah menjadi gaya hidup, McD menjadi sasaran setiap orang kalau lapar, sale-sale di mall-mall yang menjadi incaran orang-orang semata-mata untuk menyenangkan batinnya. suatu waktu dimana pasar tradisional dilupakan, warung-warung pinggir jalan dibuang begitu saja. itulah saat gaya hdup menjadi segalanya. saat ini masyarakat modern sangat erat dengan yang namanya budaya populer atau biasa disebut pop culture. budaya yang lekat dengan hedonisme, budaya dimana sebuah citra lebih pentng dari segala-galanya.
bisa kita lihat sendiri, saat ibu-ibu arisan berlomba-lomba memamer-mamerkan emas ataupun kosmetik-kosmetik import, atau juga tas kulit keluaran paris dan sebagainya. dimana para anak muda yang mau menghabiskan uangnya demi membeli obat pemutih dari dokter, atau mereka juga yang rela mengeluarkan uang banyak untuk membeli baju-baju yang sedang 'ngetren' saat ini. kenapa itu semua bisa terjadi? jawabannya hanya satu, yaitu karena budaya populer yang semakin lama semakin melekat pada diri kita. menuntut setiap orang untuk bergaya atau berusaha semaksimal mungkin untuk menghasilkan citra yang sangat bagus untuk dirinya. dengan sebutan seorang yang cantik, fashionable, atau lain sebagainya. kehidupan yang WAH dan hura-hura sangat identik dengan gaya hidup POP tersebut.
dan pada saat itu juga sebuah moralitas patut dipertanyakan. saat setiap orang di kalangan atas yang sedang asik-asik mempercantik dandanannya demi memperkuat eksistensi mereka depan orang-orang banyak, tapi di sisi lain juga banyak orang-orang yang berteriak kelaparan.
sampai pada akhrnya, budaya pop ini menjadi sebuah ecstasy bagi orang-orang modern yang rela melakukan apapun demi eksistansi dirinya dan menjadi sebuah candu..

Feb 5, 2009

INTELEGENCE DANCE MUSIC (IDM)


Jika kamu tertarik dengan musik elektronik tetapi tidak nyaman dengan crowd-nya, atau bosan dengan tipikalitas musik elektronik, cobalah mulai berkenalan dengan salah satu sub genre musik elektronik yang dinamai Intelegence Dance Music, disingkat IDM. Suatu jenis musik yang banyak terpengaruh beragam jenis musik lainnya, mulai dari tipikal musik elektronik seperti ambient, drm ‘n bass, dan jungle, hingga gaya musik diluar elektronik seperti jazz, hip hop, R’nB, bahkan musik orkestra. Yang membedakan IDM dengan musik elektronik lainnya pada dasarnya adalah IDM merupakan sejenis musik elektronik eksperimental dimana audio process dan sequencing-nya tidak dilakukan secara konvensional.

Genre musik yang lahir pada tahun 1993 ini diisi juga dengan karakter sound yang dicirikan seperti adanya bunyi-bunyi CD yang skip dan gemericik. Hal lain yang membedakan IDM dengan musik elektronik lainnya adalah, tidak seperti musik elektronik lainnya, dalam musik IDM kamu akan jarang menemui artis seperti di rave party. Mereka biasa tampil dengan laptop dan midi controller. Di Amerika terdapat festival khsusus, yaitu festival MUTEK.

Walaupun ada kata ‘dance’, tetapi musik ini pada umumnya sangat tidak dancefloor. Kata ‘dance’ dalam singkatan IDM sebenarnya hanya karena pembuatan musiknya yang sama dengan pembuatan musik dance pada umumnya.



Pelopor musik IDM sendiri diantaranya adalah Autechre, Aphex Twin, Squarepusher, dan beberapa musisi lainnya yang berawal dari forum atau pada bulan Agustus 1993, dimana pada saat itu mereka sedang mendiskusikan musik Richard D. James (Aphex Twin) dan Rephlex Records. Dari forum tersebut pula, lahirlah nama IDM. Setelah tahun 200-an, musik ini kian berkembang dan ada yang perkembangannya signifikan.

Perkembangan yang signifikan tersebut ditandai dengan hadirnya records label dan musisi yang mengusung IDM, seperti Boards of Canada, Telefon Tel Aviv, dan lainnya. Dan records label seperti Skan Records, Merck Records, dan Hefty Records. Di Asia sendiri ada Cyndi Seui artis dari Smallroom Records Thailand yang mengusung musik IDM juga. Dan di Indonesia sendiri, musik IDM cukup berkembang

Jul 21, 2008


Jais
26 Tahun Sebagai Pawang Ular

Badan tinggi kurus, berkulit hitam, berkumis, dan keriput. Itulah sosok seorang Pak Jais. Seorang pawang ular di Kebun Binatang Kota Bandung. Pria kelahiran kelahiran Garut, 3 April 1946 ini sedang sibuk mengelap kaca akuarium ular di tengah ramainya pengunjung Kebun Binatang Kota Bandung tersebut. Selama hampir 26 tahun dia bekerja sebagai penjaga ular di kebun binatang tersebut. Seorang yang sangat berani. Padahal kalau kita pikir-pikir lagi ular merupakan salah satu binatang yang sangat berbahaya. Salah satu binatang buas. Apabila kita tidak hati-hati, mungkin bisa saja kita celaka. Sungguh pekerjaan yang sangat membutuhkan nyali yang sangat tinggi.
Pada saat itu saya mendatangi Pak Jais ke Kebun Binatang Kota Bandung. Di pinggir kandang-kandang ular yang sangat besar, Pak Jais menjawab pertanyaan saya. Sungguh menakutkan memang berdiri di sebelah kandang ular yang terbuka. Berikut wawancaranya.

Pak, disini jabatan Bapak sebagai apa ?
Disini saya bekerja sebagai pawang ular mungkin disebutnya .. Apa itu disebutnya ? Keeper gitu yaa ? Nah iya .. Disini saya bekerja sebagai keeper ..Sudah berapa lama Bapak kerja disini ?
Kalo menjadi penjaga ular kira-kira 26 tahun ya ..Bapak suka menemukan ular-ular di luar kandang ini ?Oh suka itu .. Sering malah !Terus ular-ular itu dibagaimanakan Pak ? Di masukan ke kandang atau gimana Pak ?
Oooh itu sih sukanya dimasukin ke kandang. Tapi kadang juga dikasihkan sama orang-orang yang mau aja .. Dijadikan inventaris kebun binatang biasanya..Suka dukanya jadi penjaga ular seperti ini apa ?
Kalau dukanya paling yaa seperti sekarang ini. Yang paling besar kan sedang sakit, udah ada lima bulan nggak mau makan. Itu paling susah .. Disuapin nggak mau. Di pegang juga nggak bisa sendiri, tenaganya kuat banget .. Jadi butuh banyak orang untuk mengurusnya ..Kalau sukanya apa ?
Sukanya sih kalau ularnya pada sehat .. Makannya bagus .. Itu enak ..Merawat ular sendiri bagi Bapak susah nggak ?
Dibilang susah yaa nggak begitu susah .. Makannya kalau disini yang didalam kandang dirawat satu bulan sekali. Biasanya setiap tanggal 15 .. 35 ekor bebek untuk beberapa ular.
Yaa tergantung besar kecilnya ular .. Ada yang habis enam ekor, lima ekor, dua ekor juga ada.Apa Bapak nggak takut merawat ular seperti ini ?
Ah nggak .. Udah biasa saya sih .. Sudah lama berurusan dengan ular ..Ular disini masih ada bisanya nggak ?
Tapi nggak semuanya nggak ada bisa ! Seperti yang ini (sambil menunjuk ke arah ular yang sangat besar), ular sanca kembang namanya. Nggak ada bisa. Tapi lilitannya bisa membuat patah tulang di tangan ..Kalau boleh tau disini ada berapa jenis ular ?
Kalau disini sih ada empat jenis. Ada sanca kembang, sanca bodo, king cobra, sama ular koros ..Ular-ular itu didapat darimana Pak ?
Ular-ular itu biasanya sih di dapet dari hasil penangkapan di hutan .. Atau kalau ada yang ngasih dari orang-orang .. Yah macam-macamlah !

Bapak ikut nangkap nggak ?
Yaaa kadang saya juga suka ikut nangkap ..Susah nggak Pak nangkap ular itu ?
Nggak susah-susah banget sih .. Tergantung ularnya .. Ada ular yang jalannya cepet banget, nah kalau yang itu lumayan susah. Ada juga yang gampang diambil ..Kenapa Bapak suka sama pekerjaan ini ?
Ya soalnya saya suka sama ular ..Suka sama ular dari kapan ?
Dari kecil saya suka main-main sama ular .. Jadi yaa sampai sekarang pun saya masih suka ular. Dan sekarang saya bekerja jadi penjaga ular ..Bapak nggak takut sama ular ?
Ah saya sih sudah biasa .. Nggak perlu ada yang ditakutkan sekalilah ..Bapak sendiri melihara ular nggak di rumah ?
Oh iya .. Dirumah juga saya punya ular. Sudah lumayan banyak. Ada sekitar enam ekor ular dirumah.Bapak dirumah tinggal sama siapa ?
Saya tinggal bersama istri dan keluarga anak saya yang paling besar ..Terus bagaimana dengan keluarga Bapak yang lain ? Nggak pada takut sama ular ?
Hahahahahaha .. Nggak juga .. Mereka nggak suka ular. Cuma saya saja yang suka ular dirumah .. Mereka sih biasa aja .. Udah terbiasa juga mungkin yaaa.Bapak sendiri pernah nggak makan daging ular ?
Ah saya nggak pernah makan daging ular .. Sampai sekarang belum tau rasanya seperti apa. Buat saya ular lebih baik dipelihara daripada dijadikan makanan. Hahahaha ...Apa harapan Bapak sendiri terhadap kemajuan Kebun Binatang?
Yaa saya sih pengen sekali koleksi binatangnya bertambah .. Yaa tambah koleksi ular juga. Biar makin lengkap .. Kalau buat yang lainnya sih semoga kebun binatang ini terus maju saja deh ..


Interview With everybody loves irine
“Musik kita emang segmented ! Tapi kita suka kalau musik kita dibilang segmented. Itu berarti orang-orang dengerin lagu kita karena emang suka, bukan karena ikut-ikutan ..”

Kenapa namanya “Everybody Loves Irine” ?
Karena dulu kan nama bandnya cuma masih kaya bercandaan aja. Dulu juga kita pengen yang lebih seriuslah. Akhirnya gw nyari nama, waktu itu lagi ada sitkom “Everybody Loves Raymond” terus juga lagi ada film “Me, My Self, and Irine”. Nah kebetulan nama vokalis kita Irine .. Jadilah Everybody Loves Irine! Enggak ada niat-niat khusus sih .. Cuma tiba-tiba aja. Pengen aja kaya gitu ..
Terus kenapa sih namanya panjang banget ?
Yaaa kita pengen aja biar orang-orang susah nginget namanya. Dan biasanya kan kalau yang susah pasti di inget. Walaupun banyak orang yang suka menyingkat jadi ELI. Sebenernya kita sih enggak mau di sebut ELI. Kita pengen orang-orang nyebut yang panjang ..

Ceritain dong gimana bisa sampai kebentuk Everybody Loves Irine ?
Kalau Everybody Loves Irine sendiri kebentuknya tahun 2001. Awalnya cuma Yudi, Dimas, sama Mulyadi dari SMP, itu juga ada 2 orang lagi. Kita maen britpop, yaaa Oasislah .. Akhirnya kita beda-beda SMA. Nah di SMA, Yudi ketemu Irine, ya udah diajak maen. Dan Aulia itu temen kuliahnya Irine, dan diajaklah lagi .. Dan terbentuklah sampai sekarang ..
Terus aliran musik kalian sendiri apa sih ?Triphop ! Yaaa triphop itu kan luas. Ada rocknya, ada popnya .. Serahin ke pendengar ajalah. Tapi kita trpihop ! Kalau di album pertama mungkin emang triphop yang gloomy gitulah .. Tapi di album kedua mungkin kita bakal bikin yang up-beat dikitlah .. Jadi kita pengen orang-orang enggak nganggep kita lagi sebagai band galaw !

Kenapa kalian milih triphop ?
Karena dulu masih jarang banget triphop di Indonesia. Terus katanya sih suara Irine itu lebih ke triphop. Dulu kan kita pernah rekaman empat lagu. Tiga lagu tweepop sama satu lagu triphop, nah ternyata orang-orang lebih banyak seneng sama yang triphop itu. Yaa mungkin emang ternyata dapet feelnya kesitu ..
Influence kalian darimana aja ?
Kalau Dimas mungkin lebih ke indiepop, Mulyadi ke britpop, Irine lebih ke solo pop kaya Mariah Carey, kalau Aulia sama kaya Mulyadi, kalau Yudi sama aja sih. Kalau Yudi sih labil .. Macem - macemlah !
Gimana sama album baru ? Rencana keluar kapan ?
Maunya sih tahun depan. Secepatnya ! Antara April – Meilah. Awalnya Februari tuh pengennya udah selesai. Cuma ada kesalahan tekniklah. Kaya misalnya suara si Irine yang tiba-tiba hilang. Terus kita juga ada kerjaan masing-masing. Lagian kita juga ngeband gimana yaaaa ?? Hmmm semacam hobi .. Tapi hobi yang digilai. Ga harus tapi wajib ! Bukan yang utama tapi utama !
Kalau dengerin lagu kalian kan liriknya gelap-gelap gitu, yang paling banyak nulis liriknya siapa ?
Yudi yang sering nulis ! Inspirasi sih dari mana aja. Tapi kalau yang di album pertama, itu bukan nyeritain tentang kehidupan pribadi. Itu lebih ke yang gimana yaaa kalau kita itu jadi dia. Mungking lirik-lirik kita kaya yang nyuruh bunuh diri. Tapi yaa kita ga nyuruh buat bunuh diri sih .. Lebih ke empatilah ! Lebih ke ‘jikalau’ .. Kita pengenlah ngerasain kalau kita jadi orang itu gimana rasanya ..
Musik kalian kan bisa dibilang segmented banget, gimana menurut kalian sendiri?
Musik kita emang segmented ! Tapi kita suka kalau musik kita dibilang segmented. Itu berarti orang-orang yang denger lagu kita emang bener-bener karena suka, bukan karena ikut-ikutan. Yaa emang banyak orang bilang lagu kita itu paling cocok didenger sebelum tidur. Tapi emang kita pengennya orang-orang yang nonton kita itu diem, duduk ..

Yang paling sering ngaransemen lagu siapa ?
Yudilah ..
Emang sengaja dibikin gloomy kaya gitu ?
Nah kita juga bingung ! Di album pertama emang semua lagu di album kita itu sama semua ! Datar .. Bukan karena dikonsepin kaya gitu. Tapi enggak tau ternyata hasilnya kaya gitu. Emang agak monoton sih. Makannya di album kedua nanti bisa dilihat ada perubahanlah. Nanti disana juga bakal ada chill out, agak sedikit ramelah !
Waktu itu pernah ada berita tentang show kalian yang di Malaysia, sempet ada masalah kan ? Bener enggak sih ?
Bener .. Kita hampir dipenjara .. Soalnya kemaren waktu Everybody Loves Irine ke Malaysia enggak ada izin unutk manggung, Cuma buat wisata aja .. Jadi kalau disana, kalau orang asing itu enggak bisa melakukan apa-apa. Mungkin yaa karena ada beberapa event disitu, atau mungkin juga karena ada rasa cemburu .. Terus ketahuanlah ada anak-anak Indonesia mau manggung disini enggak ada izin .. Nah akhirnya ke venue-lah kita .. Udah banyak orang-orang yang mau nonton. Tapi kalau manggung itu ya bisa ditangkap. Nah kebetulan di Event Organizer tersebut punya beberapa pengacara bebas. Mereka nego sama pihak imigrasi. Tapi pihak imigrasi tetep enggak mau, katanya harus ada izin. Yaaa jadi akhirnya kita enggak manggung .. Tapi cuma di tempat itu aja. Nah itu juga yang agak aneh buat kita .. Kenapa Cuma di satu tempat aja.
Ceritain dong suka duka kalian waktu manggung ?
Kita lebih banyak dukanya ! Tapi sukanya yaa kita bisa bekreatifitaslah, ngeluarin karya-karya kita .. Sama seneng bisa maen di luar negeri ! Seneng aja gitu ke luar negeri dari hasil nabung sendiri .. Kalau dukanya yaa kita enggak ada kru. Kita semua kerja sendiri. Jadi bawa barang-barang sendiri .. Dan waktu di Singapura itu pertama kalinya band Indonesia datang kesana. Sama satu-satunya band Indonesia yang diundang kesana. Dan senengnya lagi, kan musik kita segmented banget. Enggak semua orang bisa dengerin, tapi yaa karena musik kita yang dibilang aneh ini, malah jadi unik. Terus jadi banyak yang bilang kita band mahal ! Yaa karena kita udah manggung di luar .. Padahal kita gini-gini aja.
Tanggapan kalian sendiri tentang scene indie di Indonesia ?
Menggila ! Menjamur ! Indie itu gila. Dapet duit darimana gitu bisa buat rekaman sampai ngerelease sendiri. Hebat aja gitu ! Yang diharepin dari Indie sendiri sih lebih profesional gitu .. Terus bikin musik yang berkualitas, jangan asal maenlah ! Kan kebanyakan indie di Indonesia itu pop, rock, emo, metal .. Masih banyak gitu aliran laen .. Dibikin variasilah !
Harapan Everybody Loves Irine ke depan ?
Ngeluarin album kedua .. Pengen terus bersama .. Dipanggil ke luar negeri .. Lalu ada satu yang jadi kebanggaan kita. Lagu kita udah didenger sama orang yang nanganin portishead .. Dan tadinya kita itu udah disuruh kesana buat rekaman di studionya portishead. Jadi itu orang yang nanganin album pertama portishead. Yah satu kebanggaanlah buat kita ! Siapa sih kita ? Cuma Everybody Loves Irine !

WARIA JUGA MANUSIA


Saat ini dimana-mana dengan mudahnya kita menemukan waria. Khususnya di Kota Bandung. Setiap sudut Kota Bandung dipenuhi oleh waria-waria yang sedang beraktivitas. Ada yang mengamen di siang harinya, atau ada yang menjadi pekerja seks komersial di malah harinya. Pada umunya pandangan orang terhadap waria itu menggambarkan sesuatu yang negatif. Tapi apa semuanya negatif?

Waria sangat erat dengan dandanannya yang seronok dan menor. Baju-bajunya yang terbuka, layaknya wanita-wanita malam. Waria adalah lelaki, lelaki yang berdandan seperti wanita. Apa sebabnya mereka seperti itu? Selain karena hal biologi yang entahlah apa itu, sifat ini muncul karena pengaruh lingkungan terdekat. Atau mungkin memang sudah dari sananya seperti itu. Seperti yang diceritakan oleh Mbak Hani, ketua IWABA (Ikatan Waria Bandung), “Saya itu dari SD emang sudah tertarik sama laki-laki. Terus pas SMP saya nyoba-nyoba aja dandan, eh keterusan..”. Lingkungan bisa sangat mempengaruhi pertumbuhan seseorang. Lingkungan yang kurang baik bisa membuat seseorang menjadi buruk. Semua ini terjadi karena proses sosial, dan proses pembentukan jati diri.

Dan seperti yang kita tahu, waria kebanyakan dipandang negatif oleh khalayak. Tapi sebenarnya, waria tidak seburuk yang mereka kira. Ada yang bilang waria itu jahat. Padahal kalau kita mendekatinya dengan baik-baik, mereka juga akan berlaku baik pada kita. Seperti waktu saya menemui seorang waria yang biasa mengamen di bawah jembatan Pasupati, Mbak Ega. Dia menyambut saya dengan ramah. Awalnya saya memang takut, tapi lama kelamaan, saya merasa enak berbincang-bincang dengannya. Banyak sekali pengalaman-pengalaman mereka dalam kehidupan. Dan hal tersebutlah yang patut kita banggakan dari seorang waria.

Mereka tetap bertahan dengan keanehan mereka. Banyak orang mencemooh mereka, tetapi mereka terus bertahan. Waria bukanlah makhluk-makhluk hina. Walaupun tingkah laku mereka bisa dibilang menyimpang dari agama, tapi pada kenyataannya mereka tetap beragama. Ada suatu komunitas waria di Jakarta, yang rutin mengadakan pengajian. Dari situ juga kita bisa lihat, bahwa mereka tetap menjalankan kewajibannya sebagai orang yang beragama. Selain itu, solidaritas antar waria itu sangat tinggi. Dalam IWABA misalnya, kalau ada salah seorang waria yang sakit, waria-waria yang lain akan mengumpulkan uang untuk membantu si waria yang sedang sakit itu. Waria juga suka bersosial. Contohnya, salah satu waria di Kota Yogyakarta, dia sudah mempunyai beberapa anak asuh. Dan ketiga hal itu cukup mebuktikan kalau waria itu tidak selalu buruk.

Mungkin mereka memiliki alasan-alasan tersendiri mengapa mereka memilih menjadi waria. Ada beberapa diantara mereka yang karena memang untuk mencukupi kebutuhan hidup. Dan juga karena ada yang memang karena mereka nyaman dengan wujud dan kehidupannya yang seperti itu. Yang namanya nyaman memang susah diubah. Kita juga sama, kalau sudah merasa nyaman dengan sesuatu hal, kita juga pasti akan memilih hal tersebut.

Tapi sayangnya, perlakuan dari masyarakat masihlah memandang waria sebagai sesuatu yang buruk. Banyak dari mereka yang mencemooh waria. Seperti yang dikatakan Project Pop “Jangan Ganggu Banci!”. Kalau kita tidak mengganggunya, saya yakin mereka juga tidak akan macam-macam kepada kita. Seperti kata pepatah “Don’t judge a book by it’s cover”. Itulah yang seharusnya kita lakukan pada waria. Jangan saja karena waria itu berpenampilan sangat menyimpang lalu kita menganggap mereka juga buruk. Waria juga manusia. Kita sebagai manusia yang diberi kenormalan oleh Tuhan YME, tidak seharusnya mencemooh waria, tetapi mari kita rangkul waria. Mereka juga sama seperti kita, manusia yang memiliki hati dan perasaan.