KOL-AB-ORAS-I

Showing posts with label KOL-AB-ORAS-I. Show all posts
Showing posts with label KOL-AB-ORAS-I. Show all posts

Jun 13, 2014

Kumpulan Diksi dari Si "Gila"




Photo by Dharma Wijayanto

Yayasan Jamrud Biru
Jalan Benda No. 105, Kelurahan Pedurenan, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi


Ssstt.. Jangan berisik. Ada yang datang mendekatiku. Warna merah semu hitam. Ia perlahan menjadi hitam yang ingin menggerayangi tubuhku dengan taring-taringnya yang ranum. Ini menakutkan, membuatku menggigil, ingin marah! Tapi mengapa mereka, orang-orang yang katanya ‘normal’, memandangku seolah jijik? Bak serangan optik yang menembak perasaanku. Matanya seolah bertanduk dan mengisyaratkan cibiran.

Ah, apa lacur. Itulah kami, aku dan kawan-kawanku. Kami, yang belum bisa diterima dengan apa adanya di dunia nyata. Pun tidak sedikit yang membuang kami layaknya sampah yang wajib ‘dibersihkan’. Sebutan ‘gila’ atau yang dalam bahasa ilmiahnya sebagai skizofrenia melekat jelas pada kami dan menjadi momok yang menakutkan bagi siapapun. Bahkan termasuk bagi keluarga kami yang seolah tidak peduli dan lebih memilih untuk menitipkan kami di tempat seperti ini.

Ya, tempat ini. Tempat di mana kami berkumpul dan beristirahat sembari menunggu mukjizat kesembuhan ataupun sekedar menunggu kematian. Dalam ruang berukuran kurang dari 10 x 15 meter inilah kami beserta 40 orang lain saling menatap penuh curiga. Tak jarang muncul kebencian di antara kami. Menjauh dari dunia luar, menjauh, dan terus menjauh hingga kami tak tahu lagi apa artinya kehidupan. Kehidupan yang katanya penuh warna. Jikapun di sini ada tawa, rasanya gelak tawa ini hanya bagaikan permainan orkes dangdut dengan nada-nada minor.

Seorang pria bernama Hartono bak seorang pahlawan bagi kami. Setidaknya, begitu yang aku rasakan. Yayasan Jamrud Biru yang bertempat di Jalan Benda No.105, Kelurahan Pedurenan, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi inilah yang memberi kami tempat tidur, makanan, dan fasilitas-fasilitas selayaknya manusia normal. Dengan begitu, kami tidak perlu berkeliaran di jalan yang penuh debu. Belum lagi sorotan mata menghina dari manusia-manusia pongah di luar sana.

Halusinasi adalah satu-satunya warna yang mengisi hari-hari kami. Panca indera kami menangkap semua yang ada. Yang belum tentu nyata, namun bagi kami itu nyata. Kami yakin, manusia lain belum tentu merasakan apa yang kami rasakan. Mereka bilang kami gila! Tapi tidakkah mereka tahu bahwa kami pun cukup tersiksa dengan ‘kegilaan’ ini? Kegilaan yang kami rasakan seperti cambuk yang terus menerus memecut tubuh kami hingga lunglai.

Mungkin memang hanya seorang Hartono yang mengerti. Ia mengontrak sebidang tanah yang luasnya tidak lebih dari 500 meter persegi dengan harga 25 juta rupiah per tahunnya termasuk biaya makan dan lain-lainnya. Ya! Artinya ia harus rela berbagi dengan kami dan menghadapi titik terekstrim kami yang mungkin saja bisa buat kacau balau. Tapi kami tidak tahu persis, apakah kami membebankan Hartono yang harus membiayai kehidupan kami sehari-harinya.

Zona hitam putih adalah bagian yang mengkungkung diri kami. Kau tahu? Sesungguhnya kami ingin keluar dari zona absurd ini. Tapi apa daya, nyatanya Negara kami yang tercinta ini masuk  ke dalam 25 persen Negara di dunia yang tidak memiliki undang-undang mengenai kesehatan jiwa. Padahal, 2,6 juta penduduk Indonesia dinyatakan mengidap kelainan jiwa.

Lihatlah, bahkan Negara yang  kami cintai pun seolah menutup mata dan telinga, juga mendadak dungu terhadap eksistensi kami. Lantas, ketika kami tetap eksis di tengah-tengah masyarakat, kami dicibir dan tidak sedikit dari kami yang dibuang. Seolah hanya kami lah biang kerok kondisi kegilaan zaman ini. Hih, apatis yang menikmati secangkir kopi hangat di teras rumahnya sembari membaca koar-koar tentang kemanusiaan di surat kabar, tanpa pun menjadikan dirinya seorang manusia yang memanusiakan manusia.

Kami sadar, mengharapkan sebuah Negara tanpa adanya manusia-manusia “gila” seperti kami hanyalah sebuah utopis belaka. Namun, kami hanya mengharap pengakuan atas eksistensi kami di sini atau di tempat-tempat lainnya.

Oh wahai.. Sesungguhnya kami tidak ingin lahir dengan kondisi seperti ini. Adakah alasan yang tepat untuk meminta dilahirkan dalam kondisi seperti ini? Tidak ada. Kami hanya menginginkan belaian manis di pundak kami. Kasih sayang dan kesabaran. Baik itu dari keluarga, maupun lingkungan terluar kami.

Ya, itu harap kami. Menjadi bagian dari kehidupan selayaknya seorang manusia sosial. Keluar dari dunia yang sebatas hitam dan putih, dengan sebuah rangkulan hangat yang mampu membantu kami berdiri. Membangunkan kami dari tidur panjang dan mimpi buruk.

Mungkin ini hanya sekumpulan diksi klasik, tapi ini bukan fiksi. Karena aku dan kawan-kawanku ada di sekeliling kalian, menunggu secercah senyuman dan dukungan.


#nowplaying: God Is An Astronaut - Fragile


Jun 1, 2013

Pahlawan Kebisingan


Tersebutlah sebuah kota kecil di Semenanjung Intan bernama Mara. Penduduknya saling kenal satu sama lain. Apa yang bisa diharapkan dari populasi yang sedemikian erat? Konflik dan masalah tidak menjadi bagian hidup Kota Mara, benarkah demikian? Sebut saja Dom si tukang roti, sedemikian baiknya ia sering membagikan roti segar setiap pagi pada tetangganya. Atau Seti si penjual bunga, jika ada yang berduka maupun bahagia, dia selalu siap membantu membuat karangan bunga yang indah yang ia ambil sendiri dari kebun bunga miliknya. Bahkan Bapak Walikota Sera pun merupakan cerminan teladan, betapa baiknya ia menjalankan pemerintahan di kota berpenduduk lima ribu jiwa itu.

Namun, setiap bagian sempurna dari sebuah cerita tidak lepas dari borok bukan? Di bagian ujung belakang kota, tempat yang tertutup dan terabaikan. Dimana cahaya matahari tidak selalu sampai di sana. Penyebabnya kepadatan, walaupun tidak bisa disebut miskin total. Nyonya Merau membuka salon kecantikan sejak 20 tahun lalu di daerah kumuh itu, Salon Bising namanya. Di sinilah segala ketidaksempurnaan terjadi, cerita-cerita bergulir secara cepat. Pelanggan-pelanggan si Nyonya bisa disebut sebagai biang gossip kelas wahid Kota Mara. Mereka selalu tahu apa yang sedang dan akan terjadi. Yah walaupun cerita mereka belum terbukti kebenarannya.

Nyonya Merau memperkerjakan tiga orang karyawan, dua perempuan Sali dan Emi, serta seorang, uhm, waria bernama Talia. Mungkin kehidupan mereka tidak lebih baik, tapi setidaknya Nyonya memperlakukan ketiganya dengan baik. Sali dan Emi tadinya wanita panggilan, bukan karena ingin, mereka terpaksa hanya untuk bertahan hidup dan menghidupi keluarga. Merau menyelamatkan mereka dari pelabuhan nelayan, keduanya ditemukan dalam keadaan kurus, kotor, dan mengenaskan. Sudah tidak ada harga dalam diri mereka jika bukan karena Merau.

Sementara Talia, ayolah, siapa yang akan menerima dirinya. Keluarganya sudah mengasingkan dirinya karena merasa ada yang salah dengan fisik dan gayanya. Bagian depan dan tengah kota terdiri dari keluarga terpandang dan baik-baik. Sistem norma Kota Mara – dari warga mayoritas tentunya – tidak mengijinkan hal-hal menyimpang terjadi. Wanita panggilan ditambah waria bukan sesuatu yang dianggap baik. Sementara Talia tahu betul dirinya tidak cocok menjadi lelaki, dia lebih senang berpakaian dan berkelakuan seperti wanita. Anggun dan cantik dengan rambut panjang yang tersibak lembut kala ditiup angin. Aku ini cantik. Begitulah dia bergumam pada dirinya sendiri.

Ketiganya ditawari pekerjaan di Salon Bising, sempurna menurut Merau, karena tidak ada yang perduli juga dengan latar belakang mereka di sini. Pelayanan yang baik jadi yang terpenting. Dengan begitu pelanggan merasa senang dan tidak segan berbicara hal-hal yang sebaiknya kau tahu tidak dibicarakan.

“Kau tahu tidak, ada yang bilang Seti itu sebenarnya sudah pisah ranjang dengan Sera sejak bertahun-tahun lalu!” seru seorang wanita gemuk berdada gempal, semangat. Teman baiknya segera menyahut, “Aku juga dengar itu, kabarnya Sera suka mengunjungi si penyanyi tenor Marla di rumahnya pada malam hari. Bukankah setiap ada acara di Gedung Kota dia selalu tidak absen diundang.”

Oh Sera, si walikota yang sedang berada dalam puncak gairahnya. Tampan dengan rambut ikal keabuan, hidung mancung dan mata bulat hitam. Kabar-kabar burung yang beredar dia suka melancong sana-sini. Tapi ya itu tadi, namanya juga gosip tidak ada yang tahu pasti kebenarannya. Kalau prestasinya memimpin Mara sih sudah tidak perlu diragukan lagi deh.

“Hmm nampaknya aku harus sering dan gencar bertanya pada pembantu-pembantu di Keresidenan, walalupun sebenarnya aku juga kasihan pada Seti, selalu murung dan muram durja.” balas si gempal.

Simpulan yang bisa diambil oleh para pekerja salon adalah sebenarnya hal-hal tidak sempurna itu juga terjadi di bagian depan dan tengah kota. Hanya dalam batasan yang berbeda, pandangan yang berbeda. Namun tidak dengan Talia, ada poin tambahan yang bisa didapatnya. Siapakah yang akan mengembalikan segala kekacauan ini pada tempatnya? Jika dia menjadi waria, itu sudah kodrat. Jika Sali dan Emi menjadi pelacur, itu karena nasib. Tapi, bagaimana dengan walikota yang berselingkuh? Bagaimana dengan tukang roti yang suka meracuni rotinya? Loh kok jadi panjang sih persoalannya? Makanya dibaca dulu ya cerita selanjutnya.

******

Di malam, di mana bintang-bintang di langit marah dan urung untuk menampakkan diri, Talia duduk bersimpuh di atas kasur kapuknya yang sudah berbolong. Ia teringat cerita yang bergulir di Salon Bising beberapa hari yang lalu. Tentang betapa kejamnya seorang ‘mami’ yang tinggal di perbatasan antara tengah dan belakang Kota Mara. Namanya Ketam, atau biasa dipanggil Mami Ketam.

Aku sering melihatnya. Bisik Talia dalam hati. Hmm.. ia adalah wanita berdada gempol yang tidak pernah lepas dari bumbu-bumbu yang menghiasi wajahnya. Apakah wajah seperti makanan, seperti daging anjing misalnya, yang jika diberikan bumbu, maka akan terasa lebih enak.

Bagi Talia, Mami Ketam bagaikan seekor anjing yang pantas diberi makian-makian berbahasa anjing. Ketam adalah iblis berbadan montok, yang menyiksa ‘anak-anak asuhnya’ sesuka hati. Bayangkan, menurut kabar yang bergulir beberapa hari lalu, para pelacur di sana, dipaksa harus melayani lebih dari tujuh pria dalam sehari. Ditambah setoran yang harus diberikan pada Ketam, yang jumlahnya tidak sedikit. Jika si pelacur mendapatkan upah lima puluh keping, maka mereka harus menyetor pada Ketam sebesar tiga puluh keping. Sisanya bisa mereka simpan untuk dikirim pada keluarga yang entah kapan bisa mereka sambangi.

Lebih parah lagi, Ketam memberikan perlakuan yang tidak sama pada anak-anak asuhnya. Untuk pelacur-pelacur berbadan bak biola tak berdawai, kulit seputih salju, hidung mancung walaupun mancungnya tidak melebihi hidung Pinokio, Ketam memberikan fasilitas khusus, seperti sebuah kamar dengan kasur empuk untuk melayani pelanggan. Dan tidak lupa, kamar mandi dalam. Sementara bagi pelacur yang tak berupa, tentunya kebalikan dari pelacur spesial tadi, Ketam hanya memberikan tempat di bawah solokan berbau pesing, yang hanya berbatas oleh kardus bekas.

Talia geram. Ia komat-kamit di dalam kaca. “Eh gila ya, sinting banget itu Mami. Talia, ayo dong.. Mampusin itu Mami. Kasihan dong pelacur-pelacur di sana. Apalagi yang harus ngelayanin om-om di bawah selokan. Mending kalau om-nya ganteng, ekeu juga mau. Gimana kalau yang datang itu supir truk yang membawa daging anjing untuk kota sebelah. Aaaaa ngga deh yeyyy.. Yang pasti ya, yey harus mampusin itu orang. Biar ngga ada lagi pelacur-pelacur yang kesiksa di sana. Biarin deh, mereka bisa usaha apa dari uang tabungannya. Atau kerja sama Nyonya Merau. Ah, dasar anjing bergincu merah kau Ketam!”

Jarum jam menunjukkan pukul setengah lima pagi. Waktu di mana para pelacur di perkampungan Mami Ketam sedang tertidur pulas bersimpuh di atas dada sang petualang terakhir di euphoria sejenak dalam malam itu. Begitu juga dengan Ketam. Ah ia juga sedang tertidur pulas dengan tangan seorang pria muda yang melingkar pada pinggangnya. Seolah menghabiskan sisa tenaga yang dikeluarkannya semalam tadi. Dan Talia berada di sana, di kompleks pelacuran kelas kakap Kota Mara. Kompleks yang terdiri dari pondok-pondok kecil dengan lampu yang berwarna-warni. Ada hijau, merah, biru, dan kuning. Tempat yang terlihat sepi tanpa kehidupan, namun di dalamnya tersimpan sejuta gejolak birahi yang saling sentil di sana dan di sini.
Talia mencari satu pondok paling istimewa. Pondok tempat Ketam dan pria mudanya beradu mimpi dalam liur yang keluar dari sela-sela kaki. Ha! Ia menemukannya. Sebuah pondok yang terletak agak menjorok ke dalam, terbuat dari rangkaian kayu jati yang dingin, dengan tirai merah yang lihai menyembunyikan pertarungan primitif antara dua binatang liar di dalamnya.

Talia pun bergegas mendekati pondok tersebut dengan perlahan. Berhati-hati jangan sampai ada yang melihatnya. Ah, lagipula siapa yang mau melihat. Di waktu yang begitu aneh ini, seluruh orang di sini sedang terlelap mendengkur di balik tubuh-tubuh yang telanjang. Ia sampai pas di depan pintu pondok kayu tersebut. Inilah waktunya. Bisik Talia dalam hati. Momen yang ia sebut sebagai momen “hap hap huray”. Hap! Ia menerkam mangsanya tanpa belas kasih. Lantas ia berteriak huraaaaaayyyyy.

Ya, momen yang sudah sering ia lalui. Seperti sebulan yang lalu, ketika ia memasukkan larutan hemlock ke dalam teh hangat yang ia berikan untuk Dom, si tukang roti. Yang tanpa menunggu waktu lama, meledakkan seluruh sel-sel yang berfungsi di dalam tubuh Dom. Sehingga ia lumpuh, lumpuh dari hidupnya. Ah suruh siapa! Dia sendiri yang mencari masalah, menyisipkan formalin ke dalam roti jualannya. Sudah banyak warga Kota Mara yang menjadi korbannya. Kalau dia terus dibiarkan hidup, harus berapa jiwa lagi yang melayang karena rotinya? Begitu teriak Talia dalam hati.

*****

Di dalam pondok kayu yang dingin dan remang-remang tersebut, Talia tersenyum beringas melihat dua monyet jantan dan betina yang sedang berlomba untuk mendengkur lebih keras. Di kedua tangannya sudah tersimpan dua bilah pisau tajam yang akan ia gunakan untuk menghabisi si anjing bergincu merah. Bodohnya, Ketam dan si pria pun malah tetap asyik dengan dengkurannya. Tanpa tunggu waktu lama, Talia langsung menerkam mangsanya. Ia tusukkan kedua pisau yang ada di kedua tangannya langsung ke tubuh bahenol Ketam dan perut pria di sebelahnya. HAP! HAP! HAP!

Berkali-kali ‘HAP’ ia keluarkan dari mulutnya. Yang berarti berkali-kali tusukan ia berikan kepada Ketam dan pria teman kencannya. Tak lupa, ia tusukkan pisau di leher keduanya, yang disusul dengan muncratan darah yang keluar dari kedua leher tersebut. Sambil terus berpesta tusuk menusuk, Talia berkata: “Mampus kau Ketam.. Ekeu sebel banget sama yeyyyy.. Auch, maaf pria ganteng, tapi sayang kamu malah bobo sama Ketam, jadi ketusuk juga deh..”

Semerbak wangi darah segar menghiasi pondokan tersebut. Setelah semalam pondokan tersebut penuh dengan wangi sperma yang bercak-bercaknya masih menempel di kasur berlapis kain sutera, sekarang wangi itu berubah menjadi wangi darah segar.

Setelah puas dengan pesta tusuk menusuk yang meriah, dan setelah yakin bahwa Ketam dan si pria sudah tidak bernyawa lagi, Talia bergegas meninggalkan pondokan. Dengan cekatan, ia lari menjauh dari area kompleks pelacuran yang mungkin sebentar lagi akan mati. Ataukah akan ada pemimpin baru yang lebih kejam? Entahlah.. Jikapun ada, maka bersiaplah dengan pesta meriah persembahan Talia. “HURAY”. Talia pergi menjauh.

*****

Keesokan harinya Mara gempar. Penemuan dua tubuh tanpa busana, yang satu dikenal sebagai Mami Ketam. Tidak ada yang heran kalau dia ditemukan mati tanpa busana. Tapi pria yang ditemukan mati bersamanya tanpa busana. Sera! Ya ampun benar saja geger satu kota karena penemuan itu. Ternyata benar apa yang digosipkan oleh ibu-ibu di Bising. Kalau Sera suka melancong. Ih rusak semua repitasi baik-baik Sera sebagai walikota.

Sementara itu, kabar mengenai kematian Ketam dan Sera tersebar cepat bagaikan semut menemukan gula. Talia juga sudah mendengarnya“Bok ya ampuuun gak nyangka deh kalau yang semalam eike bunuh tuh salah satunya si Sera. Mampus aja tuh orang, ketahuan deh sekarang belangnya, selamat tidur dalam kubur sayang! Hahahahah.” Talia yakin setidaknya dua keadaan sudah terkendali, tidak perlu ada gunjingan lagi soal Walikota yang hobinya selingkuh. Tidak ada lagi mami germo yang suka menyiksa anak buahnya.

Pemakaman Sera dilakukan secara sederhana, aib sudah tersebar, tidak ada warga yang sudi mendatangi penguburannya. Tapi Talia sengaja datang untuk melihat bagaimana reaksi janda Sera, Seti, di pemakaman. Ya amplopp, ternyata dia nangis kenceng banget! “Eh Seti, guwe kasih lu pelajaran nih, jangan terlalu cinta sama orang mau aja yey ditipu selama bertahun-tahun. Lekong yey tuh gak pantes hidup. Kebanyakan cita-cita tanpa ada perbaikan deh.” cerocos Talia sambil berbisik dari balik pohon.

Kalau saja hidup bisa diatur seperti apa yang diinginkan Talia, Mara pastinya sudah menjadi kota paling becus di dunia. Tapi Talia sungguh naif, dia bisa mengerjai Dom dan membunuh Ketam serta Sera karena merasa mereka memang pantas menerimanya. Tapi dalam hidup setiap manusia, bahkan yang paling keras sekalipun akan ada satu momen dimana kenyataan bisa jadi lebih menyebalkan dari hidup manusia itu sendiri.

*****

Suatu pagi yang cerah, suasanan hati Talia sedang bagus, tapi setiap hari juga begitu. Selalu heboh dan ceria siap membuka salon. Sebenarnya sih salon baru buka pukul 10, tapi okelah demi kepuasan pelanggan dan Nyonya Merau, Talia sengaja datang lebih pagi untuk membersihkan salon. Dia tahu Sali dan Emi habis berkencan dengan pelaut-pelaut dari Laut Seberang semalam, jadi mereka sudah pasti tidak akan datang tepat waktu untuk berbenah.

Jalanan masih sepi, berkas debu menari tertimpa sinar matahari. Dua belokan lagi sebelum sampai salon, tepat di lorong besar penuh dengan sampah dan jemuran, Talia melihat Merau tergesa keluar dari rumah peracik obat sambil membawa bungkusan hitam besar. “Eh mau kemana tuh si Nyonya? Pagi-pagi gini udah ada di jalan ajah.” pikir Talia heran dengan penuh selidik. Diputuskannya untuk mengikuti kemana Merau pergi, salon bisa menunggu.

Seperti detektif, Talia semakin mahir membuntuti orang, sukses dia mengikuti Merau yang ternyata kembali ke rumahnya. “Kok mencurigakan gitu sih. Gak kaya orang abis belanja dari pasar deh, lagian pasar kan bukan di situ tadi.”

Dengan cekatan Talia memanjat tembok pagar rumah dan mengintip ke dalamnya. Dia bisa melihat pemandangan dapur Merau dari situ. Eh apa itu? Tampak Merau sedang mengeluarkan paket-paket bungkusan yang lebih kecil, Talia memicingkan matanya. IDIIIH! Jadi ternyata ternyata…selama ini Nyonya yang jualan obat terlarang pada para penduduk kota! Talia pun tertegun, kepalanya pening, tubuhnya seolah membeku. Haruskah dia mengerjai Nyonya Merau yang selama ini telah begitu baik padanya? Nyonya yang telah memberi kesempatan pada Talia yang hampir dikalahkan oleh kodrat. Segera kau putuskan ya Talia…


(Asri Wuni & Yasmina Anindyajati | Dari Awiligar menuju Gegerkalong)

May 27, 2013

Mantram Gayatri (Covering by Seniman Bangun Pagi)





"Mantram Gayatri" 


Saya dan kawan-kawan Seniman Bangun Pagi mencoba mengcover sebuah lelaguan doa universal yang tercantum dalam kitab Weda di Festival Keprabon Cirebon, Juli 2012. Sayangnya, masih ada beberapa nada yang kurang pas. Mohon maaf, kesalahan memang ada pada saya, yang sedikit lupa lirik dan takut menghadapi orang-orang di depan saya. Padahal doa mantram gayatri ini adalah doa yang seharusnya diucapkan dengan penuh kerinduan. Konon, pengulangan-pengulangan mantra ini akan mengembangkan akal budi. Yayaya, yang seharusnya mendapatkan kondisi yang khusyuk malah gagal karena lupa lirik dan goncangan rasa takut. Poor me.


Om..
Bhur bhuwa svaha..
Tat savitur varenyam..
Bhargo devasya dhiimahi..
Dhi yo yonah prachodayat..


Jan 11, 2012

Kisah Cinta Manusia dan Setan Pemangsa Berak


Ini adalah sepenggal kisah cinta.. Kisah cinta antar dua wujud yang sama-sama terlahir atas izin Tuhan.


Aku tidak bisa mencintaimu karena aku adalah setan berwujud wanita botak dengan bibir yang berlumuran darah berwarna biru.

Maukah kau melihatku menari telanjang dengan berak di mana-mana?

Iya, aku ingin kamu menari telanjang dengan berak di mana-mana. Karena sesungguhnya aku lebih mencintai berakmu dibandingkan wajahmu. Dan aku akan siapkan ember untuk menampung semua berak-berakmu. Lalu, aku simpan baik-baik, sehingga aku bisa mencium dan memakan berakmu setiap hari, sayang.

Kamu suka berakku atau lubang anusku? Tapi kamu licik.

Tentu saja aku menyukai berakmu. Kenapa kamu katakan aku licik? Karena aku adalah setan pemangsa berak, dan berakmu selalu kujadikan santapan lezat?

Perutmu penuh berak, dan pantatku banyak lubang anus. Jangan khawatir sayang.

Lalu, mengapa tadi kamu bilang aku licik?

Apakah berakku terlalu lezat buat kamu mengendusnya?

Tidak, aku selalu tergoda mengendusnya. Tidakkah kau rasakan sekarang? Bibirku bergerak lincah di selangkanganmu. Darah di bibirmu ikut mengalir ke dalam lubang anusmu. Semoga kamu tidak kencing darah.

Lidahmu tak terlalu basah, anusku tak bereaksi apapun. Dan perlu kau tahu, kencing darah itu puncak dari kenikmatan memberakimu, aku cukup ahli menahan klimaks.

Bagaimana anusmu bisa bereaksi jika di dinding-dindingnya penuh plester penutup luka? Lagipula aku tak yakin kencing darahmu sebagai puncak kenikmatan. Apa jangan-jangan kau berselingkuh dengan sesamamu, dan semangat selingkuhanmu itu berhasil membuat dinding anusmu terluka?

Aku memang tidak dengan jenismu saja. Membuat klimaks anusku memang tak gampang, tapi aku dengan mudah membuatmu menginginkanku memberakimu.

Kamu selingkuh! Kamu jahat! Ternyata kamu sama seperti manusia lainnya. Selalu tak pernah puas dan selalu merasa paling hebat. Aku akan melaporkanmu pada Mama Setan, karena kamu membuatku sakit hati.


Dan si setan berwujud wanita botak itu pun menangis pilu. Masih dengan posisinya, di bawah, di belakang, dengan pandangan tertuju kepada sisa-sisa berak di anus di manusia. Sementara, si manusia puas. Ia tertawa terbahak-bahak, tanpa sedikitpun memalingkah wajahnya pada setan di belakangnya.


Mojang Bandung & Pemuda Sokaraja

Dipublikasikan di Kumcer : Kisah Cinta Manusia dan Setan Pemangsa Berak

Dec 14, 2011

Di Sini, Di Tempat Ini : Kenangan Yang Tergusur Oleh Tangan Besi







Di tempat inilah kami bertemu.
Di tempat inilah kami mengasah tawa.
Di tempat inilah kami menyimpan sebongkah harap.







Akhir tahun 2010. Saya ingat, saat itu adalah kali pertama saya menapakkan kaki di tempat ini. Saat itu pula seorang pria yang tidak pernah mau menyebutkan nama aslinya mengajak saya bergabung bersamanya dan kawan-kawan lainnya. Saat itu pula saya mulai mengasah tawa.

Adalah sebuah kampung seni dan budaya yang kami bentuk untuk pertama kalinya di akhir tahun 2010. Di dalamnya terdapat berbagai macam manusia. Ada mereka para seniman-seniman, baik dari ranah seni tradisi, seni rupa, seni musik, dan lain-lain. Ada mereka yang berlatarkan akademis, dan ada mereka juga yang berlatarkan jalanan. Namun, perbedaan-perbedaan itu tidak menjadi sekat di antara kami. Seperti yang selalu Kepala Suku katakan, "Anak jalanan yang ada di kampung ini harus ganti 'baju'. Mereka bukan anak jalanan, tapi mereka adalah orang-orang yang mau berproses dan berkreasi!".

Seperti halnya sebuah pembangunan, banyak gangguan-gangguan dari berbagai macam pihak memekikkan telinga kami. Namun apa daya, gangguan itu tidak pun kami hiraukan terlalu sulit. Tidak juga menyurutkan semangat kami yang menggebu-gebu.

Atas nama melestarikan budaya-budaya lokal, khususnya di tatar Sunda, dengan penuh semangat berbagai macam usaha kami lakukan. Walaupun secara pribadi, saya tahu hal itu hanyalah sebuah distopia yang patut dipertanyakan.

Namun, begitu membanggakan ketika kami menyadari bahwa ini adalah kami yang berjuang di balik celah-celah jerami kering dalam cengkraman pohon batu yang di dalamnya terdapat sebongkah kisah masa lalu yang kini pun sudah menjadi museum tanpa lampu.
Bahwa ini adalah kami yang berjuang memperjuangkan sesuatu yang telah 'terlupakan' di tengah-tengah dunia yang sudah tak bisa berkompromi dengan sejarah.
Bahwa ini adalah kami yang bersama meneriakkan cinta pada kekayaan leluhur di tengah modernisasi yang membabibuta.
Bahwa ini adalah kami yang merangkak di bawah kekuasaan yang buta akan hati atas nama budaya yang masih bermata tanda tanya.

Hey kalian, yang berseliweran di sekitarnya, sadarkah kalian bahwa kami adalah orang-orang kaya? Orang yang kaya akan bambu-bambu yang masih kami tancapkan dengan megah? Orang yang kaya akan jerami-jerami yang kami simpan dengan cantik?

Namun, apa daya. Kekayaan-kekayaan itu terpaksa harus tergusur oleh tangan-tengan besi yang haus akan kekuasaan. Perjuangan itu terpaksa harus luluh lantah bersama dengan debu yang menjadi saksi mereka yang berjuang. Kebersamaan itu pun terpaksa harus hilang direbut oleh mereka yang berseragam.

Mereka berontak. Mereka kepalkan tangan demi sebuah kemerdekaan. Namun, apa lacur, kepalan tangan itu sama sekali tidak menakutkan mereka para pembuat kebijakan yang terhormat. Hey, para pembuat kebijakan yang terhormat, perlukah saya ingatkan kembali, mungkin satu tahun yang lalu ketika kalian meminta kepada seseorang di antara kami untuk membangun sebuah kampung seni budaya di tempat ini? Tapi sudahlah, saya tidak marah sedikit pun. Saya sadar bahwa kalian akan selalu menjadi para pembuat kebijakan yang terhormat. Dan saya akan hormat kepada kalian. Namun, saya yakin, perjuangan kami tidak hanya berhenti di situ. Saya hanya meminta doa restu dari kalian, wahai paduka yang terhormat.


















DAN sekarang, mungkin beberapa bulan atau bahkan satu tahun berlalu. Saya merindukanmu wahai suasana. Suasana di mana saya bisa bercandagurau di sebuah saung yang di depannya berdiri dengan gagah seorang pocong, dan di dalamnya terdapat itik berwarna-warni, merah kuning dan hijau. Suasana di mana saya bisa saling berbagi cerita dengan kawan di dalam saung berlapiskan lembar koran demi koran yang di dalamnya bertebaran buku-buku yang tersimpan acak. Suasana di mana saya mengikuti rapat di sebuah saung yang di dalamnya berjejer alat-alat musik tradisional, mulai dari karinding, celempung, hingga jijeriju. Suasana di mana saya dibuatkan segelas teh oleh seorang Ibu di dalam saung yang penuh dengan lukisan-lukisannya. Atau suasana ketika saya mengikuti sebuah diskusi dadakan di sebuah meja yang terbuat dari kayu yang dikelilingin oleh dedaunan. Ah, terlalu banyak kenangan yang harus saya ceritakan. Karena kenangan itu sekarang telah tergusur oleh tangan-tangan besi yang ingin dihormati.

































DAN, beberapa hari kemarin, sesuai dengan perbincangan dengan beberapa di antara mereka, mari rapatkan kembali jejak-jejak yang pernah menempel di telapak kaki kita. Mari kita buat sesuatu. Tak usahlah muluk-muluk dengan impian sebuah kampung. Mulailah dari yang terkecil. Mari, kawan! Tak usah kita bermain dengan kepalan tangan, mari kita bermain dengan sebuah semangat. Karena sesungguhnya, semangat itu masih membutuhkan jiwanya.


Kampung Seniman Bangun Pagi, Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (2010-2011)

Dec 10, 2011

Perdebatan di Depan Secangkir Teh Hangat


Ada sebuah kasus yang baru terjadi beberapa hari ini. Kasus yang diberitakan oleh semua media massa. Kasus yang menggemparkan, yang menguak hati nurani. Seorang mahasiswa membakar diri di depan Istana Negara.

Hampir semua media mengatakan bahwa kejadian itu sarat dengan muatan politik. Hal ini tentu dikaitkan oleh profil si pembakar diri yang bisa dikatakan seorang aktivis HAM. Namun, siapa tahu jika ternyata penyebabnya bukanlah seperti yang dibicarakan tiap media? Tidak ada yang tahu, dan belum ada yang tahu.

"Saya salut akan perjuangannya. Demi membela rakyat, dia berani mengorbankan dirinya sendiri," begitu kira-kira katanya. Kata seorang lelaki, sebut saja namanya Ranu. Namun, dengan lantang saya menolaknya. Untuk apa salut pada orang-orang yang tidak berpikir panjang? Bahkan saya menyebutnya sebagai hal yang konyol. Ketika seseorang, atas nama kekecewaan terhadap pemerintah, lalu ia membakar dirinya. Saya berpikir mungkin dia memang sudah bosan hidup. Dan, hal inilah yang mengawali perbincangan kami.

Saya tahu, hal seperti membakar diri sudahlah sebuah hal yang wajar. Banyak aksi-aksi yang terjadi di negara-negara lain yang berdasar atas kekecewaan terhadap pemerintah. Namun, haruskah seperti itu?

Itulah yang membuat saya kontra terhadap gerakan-gerakan masyarakat yang mengatasnamakan membela rakyat. Mungkin ini hanya pandangan saya semata. Tapi banyak saya menemukan kisah seperti ini. Saya selalu menentang aksi anarkis, atau setidaknya aksi yang merugikan orang lain. Seperti cerita di sebuah kota di Jawa Tengah sana. Terlibat konflik antara pedagang pasar dengan pemerintah. Beberapa aktivis masyarakat dengan semangat membela para pedagang. Sampai akhirnya mereka harus bentrok dengan Satpol PP, mereka kalah, dan beberapa dari mereka ada yang dilarikan ke rumah sakit. Atau seperti yang sering kita lihat di televisi. Aksi mahasiswa-mahasiswa yang turun ke jalan. Dan tidak jarang dari mereka yang melakukan aksi brutal. Seperti membakar ban dan lain sebagainya. Dan baru saja kemarin, ketika Indonesia mendapatkan masalah perbatasan wilayah negara dengan Malaysia. Ada sebuah wacana yang mengatakan bahwa kita harus perang melawan Malaysia. Haruskah saya menyebut negara ini sebagai negara 'barbar'?

Pernyataan itulah yang membuat Ranu naik pitam. Ia sangat menyetujui perang, karena menurutnya semua harus diberantas. "Sampai kapan kita akan diam jika mereka-mereka para pejabat tidak peduli pada kita?" begitu jawabnya. Sungguh, saya pun sama dengannya. Menginginkan hal yang sama. Namun, saya hanya bertanya-tanya, apakah cara yang harus ditempuh hanya dengan kekerasan? Namun, saya akui itu benar adanya. Terbukti pada tragedi Mei 1998. Ketika korban berjatuhan, banyak orang yang hilang entah kemana, akhirnya Indonesia mengalami pergantian rezim. Mungkin, saya harus berkata, masalah pemerintah-rakyat adalah masalah yang tak akan pernah ada habisnya. Jika mau habis, jatuhkanlah korban terlebih dahulu. Maka dari itu, lakukanlah perang! Tapi sekali lagi, anggap saja saya seorang pecinta damai. Saya tidak suka kekerasan. Atau ada pihak-pihak yang sebenarnya tidak tahu menahu, lalu menjadi korban. Seperti, ada seorang anak berseragam putih-biru, di tengah-tengah kerumunan massa yang berorasi.

Dan, sekali lagi, dia menyanggah saya. Baginya tak ada cara lain selain melawan dan berontak. Cara dialog pun dirasanya sudah tidak berguna. Seperti mungkin yang dilakukan oleh si pembakar diri. Dia sudah mengalami titik buntu, karena pemerintah tidak pernah melaksanakan tuntutan-tuntutannya. "Lagipula jika kita melihat kasus di pembakar diri, siapa yang dirugikan? Toh dia hanya merugikan dirinya sendiri." Saya menjawab, bahwa memang tidak ada yang dirugikan secara fisik. Tapi bisakah kita membayangkan bagaimana perasaan keluarganya yang tiba-tiba saja mendengar kabar naas tersebut. Hal kecil memang, tapi menyentuh.

"Lalu, jika kamu memang tidak ingin ada kekerasan, bagaimana caranya? Bahkan berdialog pun rasa-rasanya sudah tak berguna. Akankah kamu terus menjadi orang yang apatis, tak pernah peduli pada apa yang dirasakan rakyat bawah?"

Sambil meneguk secangkir teh hangat, saya diam sejenak. Dan saya menjawab, tidak. Saya memang tidak bisa berorasi di depan kantor-kantor pemerintahan. Saya juga tidak begitu paham dengan wacana-wacana politik yang begitu membabibuta. Saya juga malas harus berpanas-panasan berdemonstrasi di jalanan. Lagipula, saya merasakan begitu bencinya ketika saya hendak berpergian, lalu tiba-tiba saja ada kelompok masyarakat yang sedang berdemonstrasi, macet! Ya, saya memang malas melakukan semuanya. Tapi perlu kita tahu, sesungguhnya aksi yang dibutuhkan rakyat bukan hanya aksi dengan turun ke jalan menuntut kebijakan pemerintah lalu disiarkan ke seluruh penjuru negara. Pernahkah kita berpikir untuk do something pada mereka, yang kita sebut sebagai rakyat bawah? Apakah pengabdian kita pada rakyat bawah harus selalu dilakukan dengan berteriak menuntus kebijakan pemerintah atas nama rakyat? Saya menjawab, tidak.

Saya memang tidak bisa berorasi atas nama revolusi reformasi. Tapi, saya hanya bisa ikut turun ke jalan untuk 'membantu' mereka. Saya mencoba bergabung dengan mereka-mereka, kawan-kawan dari jalan. Pernah juga, saya bersama beberapa teman menyediakan perpustakaan kecil-kecilan yang dikhususkan untuk kawan-kawan jalanan. Saya juga dengan senang hati akan menjawab bila ada seseorang dari mereka bertanya suatu hal yang tidak mereka mengerti. Atau sekedar memberikan pelajaran mewarnai gambar pada mereka bocah-bocah yang terpaksa harus bergumul dengan kerasnya kehidupan di jalan tanpa bisa membaca dan menghitung. Dan mungkin, berkunjung ke sebuah perkampungan kumuh, memberi bantuan ala kadarnya. Dan mencoba bergaul bersama mereka. Menjadi teman yang baik bagi mereka. Menunjukkan pada mereka, bahwa tidak pernah ada batas antara kita dan mereka.

Atau juga, jika saat ini negara kita sedang goyah karena masalah-masalah budaya lokal negara kita yang seringkali dengan mudahnya direbut oleh negara-negara tetangga. Dan cukup banyak saya mendengar orang-orang berteriak, "Lestarikan kebudayaan lokal Indonesia!". Saya pun melakukannya dengan turut aktif berpartisipasi membantu teman-teman para penggiat seni tradisi dalam menggelar berbagai kegiatan-kegiatan kecil.

Memang, yang kami lakukan hanyalah hal-hal dalam lingkup kecil. Mungkin, tidak ada yang mengetahuinya. Kami juga tidak masuk ke dalam layar televisi. Tapi, kami melakukannya dengan tulus. Biar hanya dalam lingkup kecil, tapi kami melakukannya secara langsung dan berguna.

Seperti perbincangan saya dengan salah seorang seniman sekaligus aktivis di Bandung. Saya ingat, dulu dia sering melakukan aksi di mana-mana. Namun sekarang, dia membangun sebuah kampung budaya dan industri di perkampungan di mana ia tinggal. Ia sadar akan SDM yang ada di wilayah tersebut. Ia mengolah SDM-SDM yang ada di sana untuk bisa produktif. Ketika saya bertanya, mengapa ia jadi lebih fokus di kampung ini, ia menjawab, "Ah, saya capek terus-terusan aksi, nggak ada gunanya. Mending langsung saja aksi dalam bentuk nyata."

Begitulah kira-kira yang saya ambil. Aksi dan orasi tidak menyelesaikan masalah. Memang, jika aksi dan orasi-orasi itu berhasil, akan membawa pengaruh yang sangat besar untuk seluruh lapisan masyarakat. Namun, entah kapan. Dan, bagi saya, lebih baik kita turun untuk melakukan sebuah aksi nyata dan langsung menyentuh mereka yang kita bela. Setidaknya, itu jawaban saya pada Ranu.

Malam semakin dingin, air teh dalam cangkir semakin menyusut. Mungkin sudah waktunya perdebatan ditutup. Pada akhirnya, secangkir teh hangat menjadi saksi perdebatan malam tadi.


Bandung-Sokaraja, 091211


Aug 21, 2011

YANG MENCARI


Siapa yang bisa menemukannya?
Yang lebih dekat dengan sesuatu pada dirimu sendiri jika hilang di tengah hutan
Ada banyak pohon kebebasan di sekitar
Dipanjatnya menjulang tak sampai kemana
Akhirnya terperosot licin dicengkram jatuh buyar jadi gila

Di gelap ada desah
Itu suara dirimu mengolah mimpi
Namun tak ada bentuk, dihilangkan pandangan sedari kau mengenal mata
Lalu siapa yang membutuhkannya?
Diraba kasar maupun halus, masih sedikit menipu
Di balik ada duri mengintip bagi yang dilihat layak oleh mata

Bentuk kebingungan yang membingungkan
Setiap mencoba menyelubung ketersembunyian
Dalam ketiadaan manakah dapat mendapati dirimu telanjang dan menggigil?

Dunia yang begitu angkuh
Seperti aku yang dikurung takut dan harapan
Kau beri diriku kepadaku
Lalu kau bisa membebaskan kemana saja yang dirasa
Namun kau menolak kuberi dirimu kepadamu

Tinggallah jika kau paham

Jun 9, 2011

Drama Elok Perempuan


Melajang jalang pada nafsu untuk menghidupi kesediaan dalam segala kebutuhan
Ada kebinatangan sampai tunduk, akhirnya menetes rupiah pada lendir jahat
Drama elok panggung maksiat. Menghibur yang pilu, menyemukan peliknya kehidupan
Menjadi realita kenikmatan bagi kaum kuasa

Perempuan purba yang menteteki kambing jantannya pun mengomel karena lumbung hinanya menguap dendam
Disuruhnya sinup kencur melahat semua lelaki yang dibelainya


Aku gagap dalam dunia hingar bingar
Aku merasa malu
Aku laki-laki namun bertangan halus


Dijabatnya engkau penuh duri bekas keramat

Siapa wanita? Seperti apakah perempuan?
Yang menjadi tanah meredam ganasnya hujan
Yang memeluk setiap langit erat dan hampaan kejiwanya
Tidak sepi matanya meski dirundung hinaan yang menderu

Jun 3, 2011

Pusara Pencarian


Aku pusara pencarian
Di sekeliling tirai batasan kami bernafsu lezat
Aku kesumat berbaur dendam
Benar-benar kurasa merobek resah ketika engkau mengabaikan

Sungguh, aku air mata gelora
Merangkul kematian sendu tembang temaran yang jatuh di pangkuan berwajah hitam muram
Melirik sekali, lenyap seketika
Setiap hari hanya pahit kesedihan
Aku remuk. Kau jatuh cinta lagi pada yang tak berwujud

Aku buta warna, buta aksara, buta bentuk dan rupa, buta peka, buta berseni, buta kencing, buta sakit pinggang, buta kantung kemis yang meledak, buta prostat, buta mengapa aku buta.

Bukankah aku sudah terkapar, masihkah kau memisteri?

Aku bukan Yahudi, aku bukan Nasrani, aku bukan Muslim, aku tak mau Atheis, bukan Agnostik, bukan Majesti, bukan pun tak menemukan siapa aku.

Aku ingin berpindah ke pencarian kematian, itu saja
Dan di sana aku hidup tidak sakit, tidak pula buta, dan tidak perlu lemas karena ginjal tak berfungsi

Mana jalan menuju ke sana?

Feb 28, 2011

Penyembah Belatung Gigi


Aku adalah penyembah gigi yang sakit.

Karena sakit, aku jadi penyembah dikala sehat ku abaikan. Aku bebas.

Tapi kau harus bertanggungjawab, karena gigiku begitu pilu. Menangis tercerai berai.

Apa aku didakwa seperti bakteri dan belatung gigi?

Kau seperti belatung hitam jahat. Gerogoti tiap lapis, menunggu busuk. Bangsat!

Aku hanya lapar, itu saja. Kau seharusnya memujiku. Dikala sakit itu menderu, rohku hadir menjamah tiap lapisan. Busuk adalah aromaku, wewangian setajam rindu dupa.

Padahal sesajen telah kusaji, namun kau tetap menjamah tubuhku. Tak peduli rupa tampan roh mu. Aku terusik. Enyah kau!

Sesajenmu tamu muslihat berjeda. Tak kuterima jika itu hatimu dan semakin kau kuusik. Maka, gemukkanlah aku.

Persembahanku untukmu telah terlampau batas. Aku bukan kaum marjinal yang seenaknya bisa kau kentuti.

Munafik! Kau membunuhku!

Membunuhmu? Kau pikir siapa yang menjamah tubuhku sampai tinggal tulang belulang? Ingin rasanya aku rampas topeng penuh pedang itu.

Bagiku itu bukan membunuh, karena kau menikmati nyerinya hampir setiap hadir dalam kesengsaraan puja laknat kau kudekap.

Bukan dekap, tapi bekap. Sampai titik embus hilang. Ah.. Aku selalu berdia, agar kau dilahap sekumpulan ulat bulu hingga hanya jiwa busukmu yang berdiri tegak.

Doamu kering sungguh. Keringat nanah diminum jadi pelega. Yang busuk yang ada padaku hakekatnya kembali ke busuk. Tanah busuk, buah busuk, nabi busuk, Tuhan busuk.

Kekuatannya hanya busuk. Kuasai lubang hasrat tanpa titik puas. Aku bukan gerwani yang pasrah pada penis busukmu.

Tanpa aku, kau kosong dan limpung lupa arah. Puja puji aku dengan erangan kesakitan penuhi kantong-kantong sperma. Benih belatung penebar wangi busuk.

Dunia gila! Kutemukan kepalaku tertusuk duri di gurun kaktus, tangan-tanganku terjerat daun rimba di puncak Gunung Himalaya, perut dan dadaku sebentar lagi tenggelam dalam rawa pening, kedua kakiku meronta-ronta kepedihan di mulut buaya. Aku sesat! Sesat dalam penyembahanku padamu, wahai belatung gigi..

Oct 2, 2010

Langga Lunka : Lalu


Aku takut pada lalu..

Maukah kau menggandeng tanganku?

Kenapa kalau aku menggandeng tanganmu?

Sekiranya kau mau memegang tangan kasar penuh kapal.

Aku ingin naik kapal. Ingin berlayar sejauh-jauhnya. Bersediakah, kau menemaniku?

Aku takut mabuk.

Kalau kau mabuk, kau bisa memelukku. Cium aroma badanku. Sebagian aromaku adalah saripatimu.

Kedua sisimu wangi kesturi, gesekkanlah punggungmu.. Aku kedinginan.

Punggungku terlalu rapuh. Hancurkan kepalaku! Buat aku amnesia! Aku hanya ingin mengingat satu nama, LANGGA.

Sorban sutra ini masih kubawa. Izinkan aku membalutnya di kepalamu.
Lalu bagaimana? Bagaimana lalu?

Murung setiap kali kuingat lalu.

Bagaimana harus kulepas lalu? Lalu itu banyak kerikil tajam. Lindungi aku. Kakiku sakit.

Pakailah sepatumu sebelum aku tidur pulas di pundakmu.

Jangan terlelap, Langga.. Aku takut lalu membawaku. Kembali sudut ruang gelap.

(Diam)

Ah, tampak mimpi telah menari di benakmu. Jentik manis darimu masih kubutuhkan. Jangan kau jadi lalu. Semoga Lalu pergi bersama benih. Terimakasih..

____________________________________________________

Lalu adalah lalu. Jangan pernah pergi bersama lalu. Biarkan lalu pergi bersama embun mencium awal hari. Setiap manusia memiliki lalu. Laluku, lalumu. Haruskah lalu ada di sampingmu?

Lunka, seorang gadis dengan masa lalu yang sangat buruk. Masa lalu itu selalu membuatnya merasa tercekik di udara panas yang pengap. "Aku ingin amnesia.", begitu selalu kilahnya.

"Lunka, haruskah lalu terus ada di sampingmu? Biarkan lalu jadi ceritamu. Nanti akan kubuatkan buku lalumu, atau akan kubuatkan filmnya." (Langga)

Langga Lunka : Perkenalan


Aku suka Lunka.

Aku suka Langga.

Tapi aku sudah berpasang.

Aku pun sudah berpasang.

Aku tak mau kamu. Aku ingin Lunka.

Yang kuinginkan Langga. Bukan kamu.

Kemana Lunka?

Aku mencari Langga!
____________________________________________________________Langga. Seorang pria matang pencinta kudeta, makar, dan gerilya. Seorang pria yang baru menemukan kebebasannya. Berkelana dari kota ke kota. Mencari setitik karang dalam cerah. Saripatinya memekarkan. Tergoda oleh ladang luas. Rumput hijau ketenangan. Lunka. Seorang gadis pencinta seni. Seorang gadis yang selalu berkata, "Aku manusia bebas". Hidup di satu kota. Mencari sehelai rumput hijau dari lembah ke lembah. Langit, bintang, dan bulan, sahabatnya. Menari, menyanyi, sesukanya. Hidup dalam jerat budaya. Seorang gadis penggoda adam.

Langga dan Lunka. Mereka pecinta Langga dan Lunka. Mereka pemilik Langga dan Lunka. Mencari titik sudut beku di ujung jalan setapak. Langkah kaki membawa mereka ke dalam kurungan. Mereka, pencari kesenangan.

Mar 7, 2010