REVIEW

Showing posts with label REVIEW. Show all posts
Showing posts with label REVIEW. Show all posts

May 30, 2016

Tanah Merah Padusi




''Semak belukar memerah, lalu musnah.'' Begitu ucap Laksmi Notokusumo di antara sorot sinar lampu kemerahan yang mewarnai Hutan Kota Sangga Buana, Kali Pesanggrahan, Jakarta. Ia bersimpuh di antara empat pemusik yang tergeletak tanpa lupa meniup serunai, dijeridu (didgeridoo, alat musik tradisional Suku Aborigin), pupuik, dan saluang. Ia merintih menyesali rimbun kampung halamannya yang kini musnah rata dengan tanah. 

Sepenggal adegan monolog itu jadi bagian dari pertunjukan berjudul "Tanah Merah". Karya tersebut merupakan bagian dari presentasi besar berjudul Phase karya koreografer Jefri Andi Usman, yang dibawakan pada Sabtu, 23 April lalu di Hutan Kota Sangga Buana Kali Pesanggrahan, Jakarta Selatan. 

Gerimis turun perlahan ketika Laksmi merobek-robek sehelai kertas di antara ribuan surat penyebab hilangnya kampung halaman. ''Kita tahu sekarang lagi musim hujan. Tapi kita tidak menyiapkan pertunjukan untuk kondisi hujan,'' kata Jefri. Ia tidak menyesali hujan yang turun malam itu. 

Alas panggung berbahan kain terpal yang tipis pun lama-lama basah dan licin. Namun, itu tidak menghalangi gerakan dua penari (Maria Bernadeth dan Davit) yang intens mengetengahkan kosagerak ekspresif, lincah, dan tak terlihat ragu. Sebaliknya, hujan yang lama-lama turun dengan deras malah membuat kedua penari itu kian peka dengan improvisasi-improvisasi gerak di beberapa adegan. 

Jefri mengartikulasikan Phase sebagai masa yang ditempuh. Karya ini berbicara tentang waktu yang membuat hubungan antara manusia dengan manusia, juga manusia dengan alam, kian tidak bersinergi. Sebuah pernyataan koreografis tentang isu lingkungan dengan tidak meninggalkan koridor kebudayaan Minang yang melatari kehidupan Jefri. 

Phase terdiri dari dua repertoar gerak. Bagian pertama mengambil tema ''Tanah Merah'', sedangkan bagian kedua bertema ''Padusi''. Dalam keduanya, Jefri merepresentasikan kegelisahannya tentang kerusakan alam dan bergesernya nilai-nilai kultural perempuan dalam budaya matrilineal di Tanah Minang. 

''Berziarahlah... Berziarahlah ke pusara tanah merahmu,'' begitu bunyi pembuka monolog ''Tanah Merah'' yang naskahnya ditulis Damhuri Muhammad. 

Kekuatan repertoar ''Tanah Merah'' tak hanya terletak pada naskah dan kosagerak. Melainkan juga unsur-unsur lain yang dibuat sealami mungkin. Resonansi susunan bambu membuat musik yang dimainkan secara akustik tetap maksimal. Juga set panggung berupa dahan-dahan pohon bambu yang disusun dengan komposisi meniru alur pohon-pohon di sana sebagai visual latar. 

Dari susunan bambu itulah Jefri turun ke arena panggung. Setelah menjejak tanah, lantas ia mengangkat kakinya ke udara. Sekali waktu ia berdiri dengan kepala. Gambaran tentang alam yang keos itu bersambung dengan gerak tubuhnya yang menggelepar lalu jatuh, pasrah. Kemudian ia berguling lambat di atas lantai, pelan-pelan melepaskan bajunya satu per satu, hingga akhirnya ia bertelanjang dada dan menghilang. 

Jefri rupanya begitu nelangsa oleh kerusakan alam sebagai gambaran kekinian. Iya. Dalam dunia kontemporer ini, keluhan tentang kekayaan alam yang semakin tak terurus menjadi obrolan-obrolan yang tak pernah usai. Phase, bagi Jefri, adalah cara untuk mengingatkan bahwa perubahan telah mengubah alam tak lagi alami. Manusia sudah mengintervensi alam sedemikian rupa. 

Hutan telah hilang, menjadi pusara tanah merah. Setelahnya, giliran Jefri bercerita tentang perempuan di Tanah Minang dalam Padusi. Maria muncul sebagai gambaran perempuan Minang di zaman kiwari. Awalnya ia tampak anggun dan penuh wibawa. Tapi kemudian ia mencopot suntiang yang tertancap di kepalanya. Dengan rona getir wajah setiap kali suntiang itu dilemparnya. 

Bagi orang Minang, suntiang adalah simbol rumah tangga dan ikatan suami istri. Seorang perempuan Minang, selain dituntut kuat secara fisik, juga dituntut untuk memiliki kekuatan untuk memikul tanggung jawab dalam kehidupan berumah tangga. 

Adegan melepas suntiang yang dibawakan Maria ini merupakan simbol pembangkangan adat-istiadat di Tanah Minang. Gelegar suara tetabuhan dan tiupan saluang menggema tiap kali Maria melepas dan melempar suntiang-nya jauh-jauh. Seolah ikut meratapi pembangkangan perempuan Minang. 

Tapi di tengah pembangkangan itu muncul Davit. Mereka menari dengan tatapan tajam, seolah saling mencurigai. Di sini ada "pertarungan". Tapi juga ada kekuatan saling tarik-menarik. Momen cinta, hasrat, dan konflik, semua jadi satu dalam kosagerak yang tak tertahankan. 

Dalam babak "Padusi", sosok Jefri yang berdarah Minang terasa begitu kental. Padusi, dalam bahasa Minang, adalah perempuan sebagai simbol bumi yang melahirkan kehidupan. Baginya, padusi bukan hanya sebuah legenda. Justru, realitas mengatakan bahwa perempuan menjadi sosok yang utama. Perempuan naik ke rumah, laki-laki ke luar rumah. Tanpa perlu disejajarkan. Padusi adalah sosok perempuan sebagaimana makna gender dalam konstruksi budaya. 

Belum lagi kosagerak yang hampir menempatkan silek (silat) sebagai gerak dasar keseluruhan pertunjukan. Sajian tari tidak terlepas dari silek kumangosilek ulusilek ambek, dan silek harimau. Melalui seni bela diri Minang itu, Jefri mencoba mengembangkan koreografinya. 

Hujan makin deras. Davit perlahan menjauh. Maria terus bersilat hingga perlahan lunglai. Bersamaan dengan suara derak bambu yang diguncang Teuku Rifnu Wikana dari atas sususan bambu, sembari berkata: ''Kunamai engkau Padusi. Sorot matamu nyala api. Gelang antingmu kawat berduri.'' 


Dipublikasikan di : MAJALAH GATRA (XXII - 28)

Apr 22, 2016

Cinta Sarwadi Untuk Kartini




Tahun 1983, sutradara kawakan Sjumandjaja (almarhum) menggubah film R.A. Kartini. Sebuah tawaran awal untuk menggambarkan pemikiran, kehidupan dan perjuangan tokoh pahlawan nasional Raden Ajeng Kartini. Tiga puluh tiga tahun kemudian, sutradara Azhar Kinoy Lubis mencoba memberikan penawaran lain lagi dalam membesut kisah inspiratif Kartini ke dalam layar lebar.

Melalui Surat Cinta Kartini, ia menghadirkan nostalgia tentang sosok pembela dan pejuang kemandirian perempuan pribumi itu dengan gaya fiksi yang kental, dan romantis.

Adalah Sarwadi (Chicco Jerikho), seorang pengantar surat yang kerap mengantarkan materi korespondensi antara Kartini (Rania Putrisari) dan ''dunia luar''. Ia seorang warga Jepara biasa yang bahagia minta ampun lantaran dapat kerja sebagai tukang pos. Pekerjaan itu pulalah yang secara platonis mempertemukannya dengan Kartini.

Awalnya, Sarwadi bingung dengan pendapat banyak orang yang menyebut Kartini sebagai sosok aneh lantaran keinginannya untuk mendobrak tradisi. Tapi perlahan kebingungan itu berubah jadi kekaguman demi mendapati rencana Kartini mendirikan sekolah bagi kaum Bumiputera. Ia terkesima oleh pandangan Kartini yang menganggap bahwa seorang perempuan harus terdidik agar pandai mendidik keluarga.

Dari kagum, Sarwadi bangga mencintai Kartini. Semakin bangga ketika ia mendengar keinginan Kartini untuk bersekolah di Belanda. Seperti lazimnya kisah cinta (meski kisah cinta yang ini tidak bersifat resiprokal), Sarwadi juga merasakan hancur hatinya demi mengetahui perempuan yang dicintainya dian-diam itu dilamar oleh Bupati Rembang. Sarwadi kacau balau, tak mau makan, jatuh sakit, tapi bukan semata-mata dibuat frustasi oleh cinta yang lazim, melainkan juga khawatir pernikahan itu akan menyadera mimpi dan perjuangan Kartini.

Sosok Sarwadi dalam Surat Cinta untuk Kartini ini memberikan penjelasan tentang keberpihakan sutradara kepada unsur fiktif film ini. Sarwadi bagaikan sebuah konsep pandangan masyarakat umum terhadap sosok R.A Kartini. Azhar Kinoy Lubis membungkus fiksi itu dengan catatan-catatan sejarah. Seperti diketahui, surat-surat Kartini adalah dokumen penting yang menunjukkan peran pentingnya dalam perjuangan pemberdayaan perempuan.

Pembagiannya cukup jelas. Hal-hal yang terkait dengan kejadian dalam kehidupan Kartini dan pemikiran-pemikirannya digarap dengan pendekatan historis. Itu ditopang dengan penataan artistik yang berusaha menjangkau akhir era 1800-an. Sementara itu, yang terkait dengan kekaguman, perasaan, dan kehidupan Sarwadi adalah rekaan. Intensitas rekaannya bahkan dibuat berlapis dengan kehadiran narasi dan skena berlatar kiwari dengan gambaran proses belajar mengajar pelajaran sejarah di sekolah dasar.

Bolak-balik sejarah, fiksi perasaan dan narasi sekolah itu, harus diakui, cukup berhasil membuat film ini tidak melelahkan untuk ditonton. Itu membuat Surat Cinta Untuk Kartini sebagai film yang ramah bagi penonton awam dengan pemahaman sejarah terbatas. Meski di lain sisi, hal itu berdampak pada tidak fokusnya pernyataan kekartinian yang hendak ditonjolkan.

Usaha Kinoy untuk menyampaikan pesan-pesan Kartini dengan modus tersebut terasa segar dan boleh dicatat sebagai penawaran berbeda menyambut Hari Kartini yang jatuh saban 21 April. Selain Kinoy, sutradara Hanung Bramantyo juga dikabarkan siap meluncurkan film Kartini, yang mengambil insiprasi dari tokoh yang sama. Bedanya, Hanung lebih memilih pendekatan sejarah; tepatnya masa ketika Kartini dipingit hingga menikah.

--------------------------------------------------
Dipublikasikan di Majalah GATRA - XXII-24

Mengenang Sitor Lewat Pasar Senen


Foto : youtube.com

Ke mana kawan semua/ Supir, tukang delman/ Teman berdampingan/ Kita semua bersenda/ Menampung senyuman/ Si Kebaya Merah/ Dari kepulan asap merekah/ Hai Tukang Becak/ Bilang padaku/ Dewiku/ Ke mana kau bawa (Dari puisi ''Pasar Senen'', Sitor Situmorang)


Malam itu, kursi-kursi Teater Kecil Taman Ismail Marzuki penuh terisi. Ruangan sedikit sesak. Dari pintu masuk saja, orang-orang sudah berdiri, beradaptasi dan ''bertahan hidup'' dengan mengisi area-area pinggir ruang yang tidak berkursi. Riuh rendah. Lalu, di atas panggung, muncul tiga orang dengan masing-masing menenteng sebuah kursi lipat. ''Awas copet! ...Kopi! Kopi! Kopi! ...Mesin tik bekas! ...Mari, Mas, monggo... kehangatan,'' kata satu dari tiga orang itu setengah berteriak.

Begitu, pergelaran instalasi teks berjudul ''Pasar Senen, Sitor, dan Harimau Tua'', Rabu malam pekan lalu. Para penampil merekomendasikan suasana sebuah pasar dalam ruang Teater Kecil, TIM, Jakarta.

Di antara lontaran-lontaran promotif verbal dan peringatan banal khas pasar itu, muncul juga obrolan-obrolan ringan tentang politik, ekonomi, dan kebudayaan antara dua orang lainnya. Semuanya terlontarkan secara bersamaan dan saling beradu secara verbal mengetengahkan tiga teks: ''Mengatakan Jawa Adalah 'Sebuah Happening''' (Christopher John); ''Jawa Tempo Doeloe: 650 Tahun Bertemu Dunia Barat'' (James R. Rush); dan sajak ''Pasar Senen'' gubahan mendiang Sitor Situmorang.

Bersamaan itu, layar di belakang panggung menampilkan visual hitam putih Pasar Senen tempo dulu. Sehingga, semua kegaduhan bunyi, diksi, dan visual itu berhasil membawa penonton pada kenangan masa lampau tentang Pasar Senen.

Pasar Senen yang dimaksud adalah sebuah situs pertemuan yang tidak hanya merujuk pada fungsi-fungsi transaksional serta tukar-menukar barang dan jasa. Melainkan sebuah arena pertemuan lebih luas yang mengakomodir ekspresi kesenian, kebudayaan, sosial hingga politik. Ini tentang Pasar Senen yang kini berada di wilayah adminsitratif pemerintah Kota Madya Jakarta Pusat. Tentang hal-hal nostalgik yang tidak lagi ditemukan di tempat itu.

Obrolan instalatif malam itu terentang mulai dari bioskop Grand yang pasti ramai pada bulan muda. Lalu Restoran Setia yang hanya berjarak sepuluh meter dari bioskop, yang selalu kecipratan ramai ketika Grand memutar film Melayu. Gedung-gedung pertunjukan kesenian tradisional yang pamornya terang nian. Juga cerita tentang ide pembangunan Jakarta oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin untuk menggusur Pasar Senen menjadi Proyek Senen. Hingga akhirnya peradaban Pasar Senen pun lenyap.

Kini model pertemuan di Pasar Senen tidak lagi sehangat, dan sepenting dahulu jika ditinjau dari sudut pandang antropologi kebudayaan. Orang-orang tidak lagi berteriak-teriak saat menjual kopinya. Sudah tak ada lagi tukang becak, tukang delman, penjual mesin ketik bekas. Juga tak ada lagi teman-teman yang saling berdampingan.

''Pasar Senen bukan diubah, tapi dihancurkan,'' ujar Afrizal Malna, yang didaulat sebagai perangkai instalasi teks dalam gelaran malam itu.

Gelaran ''Pasar Senen, Sitor, dan Harimau Tua'' dibuat untuk memperingati momen satu tahun wafatnya penyair Sitor Situmorang. Pasar Senen, lengkap dengan segala tetek bengek yang terjadi di dalamnya, oleh Komunitas Bambu dan Studio Hanafi dijadikan sebagai medium untuk mengingat seorang penyair berjuluk "si anak hilang" itu.

Dulu, Pasar Senen bagaikan mahakarya. Sebuah ekosistem yang tumbuh sedemikian rupa, tempat berbagai suku bangsa mulai membangun budaya urban. Membuat para penjual kopi, tukang becak, dan tukang delman melebur bersama Sitor dan yang lainnya sebagai teman yang saling berdampingan. Situasi yang telah dibaca Sitor lewat sajak ''Pasar Senen'' digubahnya pada 1948.

Bagi Afrizal, ''Pasar Senen'' -yang lewat sebuah model penelusuran arsip oleh J.J. Rizal ditempatkan sebagai puisi pertama Sitor- adalah titik pijak perjalanan kepenyairan Sitor. Melibatkan keberpihakan kepada kelas bawah, senda gurau budaya lisan, dan juga perempuan, sebagai indeks penting yang sering muncul dalam karya-karya Sitor. Indeks yang tidak membuat belahan tajam antara tradisional dan modern, desa dan kota, cinta dan ideologi.

Dalam pergelaran ini, prosesi mengingat kembali penyair kelahiran Samosir, 2 Oktober 1924, itu tak hanya sampai di situ. Ada juga perntunjukan teater yang diadaptasi dari salah satu cerpen Sitor berjudul ''Harimau Tua''.

Narasi lakon ini bergerak antara seorang anak muda berambut pirang dengan dandanan necis perkotaan yang pulang kampung setelah 15 tahun merantau. Ia yang pulang membawa kebingungan lantas bertemu dengan seorang lelaki tua berkaki kiri buntung yang hidup seorang diri di lembah, dan seekor harimau tua, harimau terakhir di gunung. Ketiga sosok ini menjadi metafor hilangnya tanda-tanda di sekitar untuk saling mengenal.

Menurut pimpinan produksi pergelaran ini, J.J. Rizal, ''Harimau Tua'' merupakan pengalaman Sitor terkait kehidupan sebuah desa yang dilupakan. Sitor seolah hidup di dua dunia. Antara masa lalu dan masa kini. Antara desa dan kota. Nyatanya, di zaman kiwari ini, jarak antara desa dan kota menjadi sebuah problematika tersendiri. ''Seolah orang desa dan orang kota itu perbedaannya timpang,'' katanya.

Cerpen ''Harimau Tua'' dan sajak ''Pasar Senen'', bagi Rizal, menjadi bukti bahwa Sitor bukan seorang penyair yang hanya sibuk dengan revolusi pemikiran seorang diri. Ia juga sosok komunal. ''Sitor adalah orang rantau yang mencari tempat di tengah Ibu Kota,'' ujarnya.

Lebih jauh, gelaran ini mencoba menjawab pertanyaan tentang bentuk kebudayaan modern Indonesia dan cara mengontruksikannya melalui pemikiran-pemikiran Sitor Situmorang tentang Pasar Senen.

Sebab, kenyataannya, kini tak ada lagi ruang kerakyatan tempat suatu generasi berkumpul merumuskan pertanyaan-pertanyaan besar. Suatu ruang dan penuh dengan ide telah tamat. Sebuah medan revolusi telah berakhir. Yaitu, Pasar Senen, ''Tempat di mana kita tidak perlu takut gila,'' kata Rizal.

--------------------------------------------------
Dipublikasikan di Majalah GATRA - XXII/13

Instalasi Renik Dalam Dunia Terhah


Foto : syaifulgaribaldi.com

Perkenalkan, ini adalah Dunia Terhah. Sebuah dunia baru yang ada di Planet Bumi. Dunia imajiner tanpa batas yang hadir dengan liar dan tumbuh tak terduga. Dunia yang asyik sendiri dengan eksperimen-eksperimennya yang absurd. Dunia ini bahkan terkadang kasat mata, tapi sebenarnya eksis. Tapi ini bukan khayalan. Ini adalah yang nyata.

“Cgarmnuh homma nossolka aarm tos homma ujmiok bas nosneroah klimuh tos homma porculen,nossolre olarium terhah, atoah tos xem osmun (birbir epoksorban) solka. Porculen sorban uwew katoa manoaki, lowara hiu jiro laeoleou piang gorgor she. Yepii.”

Jangan takut, paragraf di atas bukan lontaran yang keluar dari mulut alien yang akan menginvasi bumi. Itu adalah lontaran yang keluar dari mulut manusia – dengan menggunakan bahasa Terhah - yang tidak takut untuk meyakinkan apa yang telah dipercayainya dan mencoba merekam penuh semua ide yang ada di sana, di dalam setiap kehidupan.

Misalnya, ide tentang dunia renik (mikroorganisme), sebagai konstruksi dari sesuatu yang tak nampak dan diam tak bergerak tapi sebenarnya hidup. Ide itu hadir dalam QUIESCENT. Sebuah pameran tunggal perupa Syaiful Garibaldi, si empunya Dunia Terhah. Hadir selama satu bulan sejak 13 Februari hingga 13 Maret 2016, dalam sebuah ruangan kecil di lantai 40 pada salah satu gedung ‘menak’ di Jakarta. ROH Gallery, yang agak tersembunyi. Seolah tak ingin banyak orang yang tahu. Yah, namanya juga Dunia Terhah. Dunia yang dikira tak ada, padahal ada.

Quiscent sendiri merupakan proses mati suri atau dormant. Dalam dunia biologi, quiescent dikenal dengan kondisi makhluk hidup yang diam tapi sebenarnya tidak mati. “Itu disebutnya dormant,” kata pria yang akrab disapa Tepu ini.

Rupa-rupa itu hadir dengan bentuk yang membingungkan. Bisa-bisa kita mengira kalau kita sedang berada di planet lain. Berbentuk bulat, batang, spiral, tampak memiliki kepala, tampak memiliki kaki. Hadir dengan medium bahasa, lukisan, patung, dan instalasi video. Rupa-rupa itu diam. Seperti patung besar berwarna hijau lumut yang diam di pojokan ruang. Disimpan sebagai imajinasi Tepu tentang lichen (lumut kerak) yang berjudul “Lartucira #12”. Dengan bentuk yang condong dan terpisah-pisah.  

Lichen atau biasa dikenal sebagai lumut kerak, merupakan mikroorganisme hasil simbiosis mutualisme ganggang dan jamur. Dikatakan sebagai makhluk perintis. Karenanya, maka kehidupan-kehidupan baru bermunculan. Landasan empiris bahwa makhluk-makhluk hidup dalam dunia renik yang berinteraksi itulah yang kemudian semakin mendekatkan dunia ‘Terhah’ pada dunia nyata. Di sini, batas antara apa yang imajiner dengan apa yang nyata menjadi kabur.

Lewat 14 karya yang hadir dalam Quiescent itu, Tepu ingin mempreservasi makhluk-makhluk dunia renik itu dalam setiap kondisi tertentu. Seperti interaksi-interaksi simbiosis mutualisme antara ganggang dan alga yang kemudian menghadirkan lichen, yang hadir dalam karya lukisnya yang berjudul “Lartucira #6”, “Lartucira #3”, “Lartucira #5”, dan “Lartucira #4”. Sebagai informasi, ‘lartucira’ yang dijadikan judul dari semua pameran itu, merupakan bahasa ‘Terhah’ yang artinya adalah mati suri.

Tepu selalu meyakini bahwa setiap proses yang dimiliki oleh makhluk hidup memiliki nilai estetis tersendiri. Mereka (makhluk hidup) akan memiliki kepentingan tersendiri bagi makhluk sekitar. Misalnya saja proses pertumbuhan mikroorganisme yang ditunjukannya dalam karya “Lartucira #8” yang dihadirkannya dalam bentuk lukisan. Mulai dari yang masih berukuran sangat mini, bervariasi hingga tampak seperti bahwa ia memiliki mata, kaki, dan tangan. Yang kesemuanya adalah hasil imajinasi Tepu terhadap makhluk-makhluk dunia renik yang diamatinya.

Pada intinya Tepu memindahkan apa yang dilihatnya dalam pengamatan dengan menggunakan mikroskop. Tapi memindahkan di sini bukan berarti apa yang dikaryakannya sama percis dengan yang asli. Tepu mengkonstruksi ulang apa yang telah dilihatnya. Hingga akhirnya memunculkan bentuk-bentuk imajiner dalam dunianya, dunia Terhah.

Konsep visual karya-karya Tepu dalam Quiescent ini diambil dengan cara pembesaran mikroskop. Ia bekerjasama dengan Laboraturium Biologi Institut Teknologi Bandung (ITB). Di sana ia belajar mengamati makhluk-makhluk dunia renik. Melalui pengamatan, Tepu bisa mengetahui apa-apa saja yang terjadi pada si mikroorganisme. Maka ditangkapnya lah bagian-bagian yang menurutnya penting dan menarik untuk kemudian dikonstruksikan dengan berbagai imajinasinya.

Tapi tak dinyana, makhluk-makhluk dunia renik ternyata memiliki kecenderungan untuk mengeluarkan warna yang cerah dan menyala ketika diamati dengan menggunakan mikroskop elektron. “Itu untuk sepuluh ribu kali lipat,” kata Tepu. Yang kemudian dituangkannya dalam beberapa karyanya di Quiescent seperti “Lartucira #6”, “Lartucira #3”, “Lartucira #5”, dan “Lartucira #4” yang menangkap simbiosis mutualisme antara ganggang dan jamur. Makhluk-makhluk renik dalam skala besar itu dilukiskannya dengan warna-warna menyala dan berkilau. Ia menduga, mungkin saja bahwa warna yang menyala itu muncul akibat pewarna yang diinjeksikan ke mikroorganisme tersebut saat akan diamati. “Karena gelap, jadi saya harus kasih warna supaya terang,” ia menambahkan.  

Dari serangkaian percobaan dan eksperimen terhadap lichen, lahir berbagai inspirasi baru yang ia terapkan pada proses penciptaan karyanya. Setiap perubahan bentuk, warna, dan sifat dari mikroorganisme itu kemudian akan jadi sebuah perkembangan yang mampu memperkaya Dunia Terhah.

Eksperimen Tepu dengan lichen yang dihadirkan dalam Quiescent ini memang merupakan eksperimen teranyar yang dilakukannya. Jauh sebelumnya, Tepu tak kuasa untuk menolak keinginannya untuk menciptakan Dunia Terhah yang digagasnya. ‘Terhah’ sendiri berasal dari bahasa Esperanto yang didefinisikan sebagai ‘ide’. Dunia Terhah menjadi wilayah mediasi bagi ilmu pengetahuan untuk berpadu dengan seni melalui imajinasi pada proses berkarya.

Salah satunya dengan menciptakan sistem tanda dan tata bahasa sendiri untuk para penghuni Dunia Terhah pada tahun 2007 silam. Bahkan sebenarnya bahasa Terhah inilah yang menjadi awal pembentukan Dunia Terhah. Sederhana saja, bahasa Terhah ini sebenarnya hanya merupakan celetukan Tepu sehari-hari yang kemudian ia kumpulkan dan catat. Hingga saat ini sudah lebih dari 1.500 kata terdaftar dalam Kamus Terhah.

Abjad dalam Dunia Terhah pun ditemukannya dengan cara mengkultur bakteri yang ada pada e-coli. “Saya kultur dari salah satu unsur yang ada di bakteri ini,” ujarnya. Kemudian, pola-pola itu tumbuh sesuai dengan kemauan si mikroorganisme itu sendiri. Maka muncul lah abjad-abjad ajaib itu.

Seni, bagi Tepu bukan hanya sekedar artefak. Seni adalah ilmu pengetahuan. Pada jaman Renaissance, seniman dianggap sebagai seorang yang universal dimana ia mempelajari segala bidang. “Saya setuju sama hal itu,” katanya.


Tepu mengaku sangat tertarik untuk bekerjasama dengan makhluk hidup seperti mikroorganisme dalam setiap karyanya. Makhluk-makhluk dalam dunia renik adalah makhluk yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Di sana sering muncul kejutan-kejutan tersendiri. “Misal saya sudah menentukan dia bergerak kemana, kadang-kadang dia sering bergerak dengan keinginannya sendiri,” ia bercerita. Padahal, sebenarnya mereka (makhluk-makhluk dunia renik) itu memiliki dampak yang besar bagi lingkungan dan manusia itu sendiri.


------------------------------------------------------------
Dipublikasikan di Majalah GATRA- XXII/17

Dec 22, 2015

Merespon Ruang - Doing Graffiti Is Like Vacation!


Instagram - @katun_



Banksy, seorang bomber asal Inggris, yang tak pernah diketahui identitasnya, pernah membayangkan bagaimana sebuah kota dimana graffiti tidak ilegal, dimana semua orang bisa menggambar apapun yang mereka sukai, dimana setiap jalan dalam sebuah kota dibanjiri oleh jutaan warna dan frase, dimana berdiri di halte bus tidak terasa membosankan. “Imagine a city like that – it’s wet” – Banksy, Wall and Piece (2005).

Anggap saja sebagai miniatur imajinasi Banksy. Sabtu (19/12) silam, Gudang Sarinah yang terletak di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, membuat ‘basah’ para pelaku sekaligus pecinta seni jalanan atau biasa dikenal dengan street art. Pasalnya, hari itu dinding-dinding bangunan Gudang Sarinah yang sebelumnya tampak kusam dengan cat yang terkelupas sana sini disulap menjadi hampir habis terpakai untuk menjamu berbagai rupa karya street art.

Bagian dinding selatan salah satu dari tiga bangunan yang ada di Gudang Sarinah misalnya. Sebuah karya ‘narsis’ dari sekawanan street artist Jakarta yang menggambar nama grupnya sendiri, Berandal Aspaleho. Sebuah mural yang menyusupkan rupa-rupa karakter imajiner di sela-sela huruf yang digambarnya. Di sebelahnya, Dinas Artistik Kota seolah tak mau aksi corat-coret dindingnya terganggu dengan memasang plang bertuliskan : “Maap Jalan Anda Terganggu Kami Sedang Berkarya”.

Tak hanya di bagian dinding selatan. Tak jauh dari situ – di bagian timur dinding Gudang Sarinah -  tampak seekor monyet menggunakan topi bisbol terbalik dengan tape combo di tangannya tengah duduk santai di antara dua graffiti berbentuk lettering. Kali ini, Katun (MLY), Haser (NZ), dan TUTS mencoba merepresentasikan apa yang dinamakan dengan street culture yang biasanya diidentikan dengan budaya graffiti dan budaya musik hip-hop yang kerap ditampilkan dengan topi bisbol dan kebiasaan rapping di jalanan sembari menenteng tape combo.

Dua bagian itu merupakan beberapa spot yang dijadikan area menggambar dalam gelaran Street Dealin Festival #9 yang digagas oleh Gardu House, Jakarta. Menjadi salah satu program Jakarta Biennale 2015, Street Dealin Festival kali ini diakui sebagai acara street art terbesar yang pernah digarap oleh Gardu House. “Dari Street Dealin #1 sampai #8 kita biasa di satu spot, di Jalan Veteran Bintaro. Dan biasanya cuma diisi oleh 1-3 bomber saja,” ujar Direktur Street Dealin, Bima Chris, dalam konferensi pers yang digelar sebelum acara dimulai.

Jika biasanya hanya mengundang 1-3 seniman, kali ini sebanyak 27 seniman graffiti turut berpartisipasi dalam agenda Street Dealin #9. Street Dealin kali ini pun turut mengundang seniman graffiti dari beberapa negara tetangga seperti Eggfiasco (Filipina), Haser (Selandia Baru), Katun, Kenjichai, Pakey One (Malaysia), Slap Satu (Singapura), dan Very1 (Jepang). Selebihnya adalah nama-nama yang mungkin sudah tidak asing lagi di kalangan para bomber seperti TUTS, Darbotz, Wormo, Stereoflow, LoveHateLove, Dinas Artistik Kota, Abang8, Adr1, Berandal Aspaleho, Ais Kerim, F21st, Ghost, Jong Merdeka, Hard13, Kimoz, Noah, Older+, Rubs8, Sleeck, dan Sleepyone.

Street Dealin sendiri merupakan gelaran rutin yang digelar sebanyak dua kali dalam setiap tahunnya bagi para pelaku dan pecinta street art. Mengusung tema ‘street culture’, Bima dan kawan-kawan ingin menjadikan Street Dealin sebagai selebrasi street culture itu sendiri. Sekaligus, untuk menampik pandangan-pandangan negatif yang sering terlontar pada budaya skena jalanan. “Skena jalanan biasanya paradigmanya jelek. Ini kita mau menunjukkan bahwa skena jalanan juga ada yang positifnya,” jelas Bima.

Tak bisa ditampik memang, bahwa hingga saat ini pandangan sebelah mata masyarakat yang memandang kegiatan street art sebagai aksi vandalisme masih saja hadir. Padahal, tema-tema street art yang cenderung subversif mengingatkan masyarakat pada realita sekaligus menciptakan kesadaran terhadap hal-hal apa saja yang terjadi di sekitarnya.

Realita mengenai supir bus yang seringkali membawa kendaraan dengan gaya koboi pun menjadi salah satu suguhan beberapa street artist yang berkolaborasi kala itu. Abang8, Stereoflow, Wormo, Ais Kerim, dan Very 1 (JPN) menyulap sebuah bus jurusan Cililitan – Pasar Baru yang kusam menjadi lebih bersemangat dengan berbagai bentuk lettering di sekeliling badan bus. Belum lagi gambar dua mata berukuran besar di bagian depan bus. Seolah-olah menyuruh para pengendara bus untuk lebih awas dalam berkendaraan.

Begitulah. Bagi Bima, para street artist akan menangkap gejolak di masyarakat dengan merespon ruang-ruang publik. Tanpa sadar sebenarnya apa yang ditampilkan para street artist adalah suara-suara masyarakat yang seringkali mendapat perhatian sambil lalu. Sebut saja bahwa street art melucutkan keterbatasan dan mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam wujud rupa. Maka demikian, Bima kembali menegaskan bahwa apa yang disebut dengan street culture bukan selalu hal yang bersifat negatif.

Street culture sendiri merupakan subkultur yang tumbuh di dalam kultur urban masyarakat perkotaan. Dalam Urban Dictionary dikatakan bahwa street culture merupakan gaya popular dari masyarakat perkotaan yang menjadikan jalanan sebagai ruang bersama. Yang kemudian menyerap ide-ide kreatif yang muncul dari jalanan, yang popular disebut street art. Esensi street art sendiri, dikatakan Bima, terletak pada kejelian para street artist dalam menindak dan menyiasati ruang sebagai medium gambarnya.

Di Indonesia sendiri sebenarnya sejak masa perang kemerdekaan, street art dalam bentuk graffiti bisa menjadi alat propaganda yang efektif dalam menggelorakan semangat melawan penjajah Belanda. Misalnya saja, pelukis Affandi yang menuliskan “Boeng Ajo Boeng!” di tembok-tembok jalanan sebagai sebuah slogan yang dibuatnya sendiri.

Sementara secara modern, street art di Indonesia mulai digandrungi pada awal tahun 2000. Hingga sekarang, perkembangan street art di Indonesia begitu masif dan sporadis. Berbeda dengan dulu dimana pelaku street art hanya berada di dalam kalangan mahasiswa di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Kini, cakupan pelaku street art semakin panjang secara geografis dan merata. Mulai daari kota besar sampai kota kecil di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan Bali yang semakin banyak memunculkan bomber-bomber baru.

Dalam kurun waktu kurang lebih 15 tahun, street art di Indonesia telah berevolusi menjadi sebuah kultur yang lengkap dengan segala atribut bawaannya. Sebuah kultur yang berhasil menciptakan salah satu skena street art terbesar di Asia. “Ini adalah pencapaian yang layak dirayakan oleh para pelakunya,” kata Bima. Dan saat ini saja, Indonesia sudah menjadi salah satu tujuan berlibur kebanyakan street artist mancanegara.

Tutu a.k.a TUTS, salah seorang street artist dalam Street Dealin #9 mengakui bahwa street art di Indonesia sangat berkembang pesat. “Luar biasa!” katanya. Salah satu penyebabnya adalah era digital yang menghadirkan berbagai macam media sosial yang pada akhirnya membantu para street artist mempublikasikan karya-karyanya. Berbeda dengan awal tahun 2000, ketika media sosial belum terlalu marak. “Kalau dulu sekali gambar, gak lama dari situ udah dihilangin Satpol PP. Enggak sempat dipublikasikan,” tambahnya sedikit mengenang.

Dari segi teknik dan ide pun, Tutu merasa bahwa karya-karya street artist Indonesia sudah tak berbeda jauh dengan karya-karya street artist mancanegara. “Enggak beda jauh kok. Kita sudah cukup liar,” ujarnya. Meskipun begitu, ia mengakui bahwa masih adanya karya-karya street artist Indonesia yang masih terlihat emosional. Tapi dari segi teknik, ia merasa Indonesia mampu menyaingi street artist mancanegara. Terbukti dengan TUTS sendiri yang seringkali hadir dengan gaya 3D dalam setiap karyanya. Selain itu, menurutnya pun banyak street artist Indonesia yang diundang untuk berpartisipasi dalam gelaran-gelaran street art di luar negeri. “Bahkan ada juga yang diminta menggambar untuk komersil,” tambahnya.

Doing graffiti is like vacation! Begitu Tutu berkata. Baginya, menggambar adalah terapi untuk merilekskan tubuh. Oleh karena itu juga, biasanya para street artist jarang mengkonsepkan terlebih dahulu apa yang akan digambarnya. Semuanya dilakukan secara spontan dan bersama-sama.

“Kalau mau dibilang seni, justru itu sisi seru seninya. Kita gambar bareng. Gambar apapun yang kita pikirkan masing-masing. Lalu pas selesai kita lihat, enggak tahunya hasil begini. Itu surprise! Itu chemistry! Karena bagaimanapun street art itu dimulai dari jalan dan dilakukan oleh orang yang berbeda-beda. Bagi kami, jalanan itu seperti medium untuk melahirkan ide,” ujar Tutu.


Mungkin gambar-gambar di dinding itu terkadang akan terasa mengganggu pemandangan, atau terkadang akan terasa menarik untuk dilihat dan dikagumi, pun terkadang bisa hanya untuk dipandang sejenak dan dilewati begitu saja. Terlepas dari apapun impresi yang dirasakan, street art tanpa disadari telah menjadi bagian pengalaman visual sehari-hari masyarakat memberikan gambaran realita masyarakat itu sendiri. Meskipun itu hanya sebatas coretan pensil bertuliskan “Aci Was Here”. 

Oct 14, 2015

SENLIMA : Batas Yang Tanpa Batas


Dok. Salihara



Bagaimana rasanya jika dunia hadir tanpa batas? Tanpa harus adanya garis-garis yang mengkotak-kontakan masyarakat dari berbagai pandangan yang telah disepakati bersama. Seperti kehidupan seorang kakek tua dan seekor burung di dalam kotak. Ah Senlima...........

-------------------- 

Seorang wanita hilir mudik ke kanan dan ke kiri. Membawa sebuah kotak dengan penuh kehati-hatian. Disusul dengan empat kawannya yang muncul sembari berteriak “Senlima.. Senlima..” secara bergantian. Maka, tampaknya isi dalam kotak itu. Seorang pria tua yang kemudian diikuti seekor burung.


Empat manusia itu tampaknya penasaran. Tak henti-henti mereka mencoba memanggil si pria tua dan si burung di dalam kotak. Seolah mengajak bermain bersama. Sekali ketuk, lantas si burung langsung menjawab : “Kukuk..”. Dan begitu seterusnya. Hingga keluarlah si burung dari dalam kotak, lalu terbang berkeliling. Bukannya menikmati alam bebas, si burung malah masuk kembali ke dalam sangkarnya. 

Secuil adegan itu menjadi pembuka pertunjukan "SENLIMA", sebuah pertunjukan teater boneka yang digelar di Teater Salihara, Jakarta, Minggu, 4 Oktober lalu. Pertunjukan ini merupakan kolaborasi antara Teater Papermoon Puppet (Indonesia) dan Kelompok Teater Boneka Retrofuturisten (Jerman), dimana Ghoethe Institute menjadi 'mak comblang' nya. 

Sementara itu, boneka pria tua yang sebelumnya berada di dalam kotak memilih narasi yang berbeda dengan narasi yang dirasakan burung. Si pria tua diceritakan memiliki masa lalu kelam yang membuatnya harus berhadapan dengan stigma masyarakat. Pun yang pada akhirnya mengharuskannya untuk hidup di dalam sebuah ‘kotak’. Senlima, seolah menjadi sebuah harapnya.

Dalam perjalanannya keluar dari kotak tersebut, si pria tua dan si burung bertemu dengan sepasang mata besar yang dengan pongahnya berkedip-kedip tajam. Seolah berkata : “Saya ada dimana-mana”. Menjadi mata-mata dengan kekuatannya yang begitu digdaya, yang kemudian disebut sutradara pertunjukan SENLIMA, Maria Tri Sulistyani (Teater Papermoon Puppet) dan Roscha A Saldom (Retrofuturisten) sebagai “the big power”.

SENLIMA sendiri merupakan bahasa Esperanto, bahasa yang sebelumnya dicita-citakan sebagai bahasa universal. Artinya, tanpa batas. Mencoba menceritakan batas-batas yang kerap terjadi dalam kehidupan manusia, SENLIMA menjadikan simbol sepasang mata besar sebagai kekuatan yang maha digdaya sebagai si pembuat batas-batas tersebut. Sementara kotak dalam pertunjukan SENLIMA, dihadirkan sebagai metafor dari batas-batas yang dibuat oleh manusia.

Proyek ini, dikatakan Ria, melibatkan perjalanan tanpa batas. Berawal dari kegelisahannya terhadap orang-orang yang pada akhirnya harus mendapatkan stigmatisasi dari masyarakat umum. Bagaimana begitu kuatnya Tembok Berlin yang memisahkan antara Jerman Barat dan Jerman Timur. Atau begitu kuatnya sejarah pada peristiwa tragedi 1965 silam yang pada akhirnya menjadikan status ‘eks tapol’ sebagai sebuah momok masyarakat.

Namun, batas-batas yang diusulkan oleh SENLIMA bukan berarti merujuk pada satu peristiwa. “Tidak ada satu pun peristiwa yang membuat kami bikin cerita ini,” ujarnya. Ini adalah murni cerita tentang perjalanan tanpa batas secara universal. Namun memang secara diam-diam, baik Ria maupun Roscha mencoba menceritakan sejarah-sejarah negara masing-masing yang nyatanya memiliki kesamaan sejarah. “Kami merasa sama. Yakni adanya stigmatisasi kuat yang akhirnya membangun kotak-kotak batas bagi masyarakat di negara kami masing-masing,” papar Ria.

Meskipun begitu, diakui Ria, bahwa salah satu hal yang ingin diungkapkannya dengan pementasan SENLIMA ini adalah perkara batas dalam pertunjukan teater boneka itu sendiri. Bentuk teater yang dilakoni oleh Papermoon Puppet dan Retrofuturisten. “Umumnya kan teater boneka orangnya enggak dimunculin. Tapi di sini kita munculin para aktornya. Bahkan si pemain punya peran sendiri,” ujarnya.


Dipublikasikan di Majalah GATRA 8-14 Oktober 2015

Oct 9, 2015

125.660 Spesimen Sejarah Alam : Kacamata 'Kekinian' Untuk Wallace


Dok. Salihara
Dua baju putih itu dipajang berdampingan. Yang satu bermotif aneka flora khas Indonesia dan kupu-kupu berbagai warna dari material kayu. Cantik, tak terganggu. Baju lainnya tampak serupa, padahal berbeda. Mengetengahkan rupa beberapa pulau besar di Indonesia secara acak dan menjadi tempat hinggap kupu-kupu -yang kali ini dibuat dengan teknologi cetak digital. Itulah sepasang baju yang membawa pesan perbedaan kondisi keanekaragaman hayati di Indonesia; antara masa lampau dan saat ini. 

Lewat karya berjudul Svara Nusantara itu, perupa Intan Prisanti mencoba menginterpretasikan perjalanan Alfred Russel Wallace di Nusantara dahulu melalui fakta yang terjadi hari ini. Sejumlah catatan yang dibuat Wallace di masa lalu menyajikan gambaran tentang aneka ragam kupu-kupu berupa cantik, mengisi alam Indonesia. Namun kini, mudah kita temui catatan berkurangnya populasi kupu-kupu seiring dengan menyusutnya kawasan hutan di Indonesia. 

Alfred Russel Wallace (1823-1913) adalah naturalis Inggris yang menginspirasi Charles Darwin dalam menyempurnakan teori evolusinya, yang berkaitan dengan gagasan seleksi alam. Makalah-makalah Wallace yang ''mencerahkan'' Darwin itu ditulis dalam kurun eksplorasinya di bumi Nusantara selama delapan tahun (1854-1862). 

Wallace menjelajahi Nusantara, mendokumentasikan keanekaragaman hayatinya, dan mengumpulkan koleksi spesimen-spesimennya. Wallace mengklaim telah menemukan 125.660 spesimen untuk menopang pendapatnya tentang Nusantara sebagai megabiodiversity

Dalam makalahnya yang berjudul ''On the Zoological Geography of the Malay Archipelago'', yang diterbitkan dalam jurnal Linnean Society, Wallace menuliskan pengamatannya mengenai keragaman dan penyebaran satwa, serta tumbuhan untuk mengidentifikasi dua wilayah biogeografi yang berbeda: barat dan timur. Dua wilayah ini rupanya terpisah oleh batas alam yang tegas. 

Perbedaan itu relevan dengan tarikan garis hipotetik yang ''mengiris'' peta Indonesia dari ujung utara (mulai Selat Makassar yang terletak antara Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi) hingga ujung selatan (Selat Lombok yang memisahkan Pulau Bali dan Pulau Lombok). Delapan tahun setelah makalah itu dipublikasikan, Thomas H. Huxley, ahli anatomi, menyebut garis imajiner itu sebagai "Garis Wallace" atau "Wallace's Line".
Lebih 150 tahun setelah perjalanan besar Wallace itu, ada garis faktual yang tegas membedakan kondisi keanekaragaman hayati Indonesia; eksistensi dan kepunahan. Berangkat dari kondisi kepunahan sebagai situasi kontemporer itu, Intan dan 25 perupa lainnya menggarap karya-karya seni rupa untuk dipajang dalam pameran bertajuk "125.660 Spesimen Sejarah Alam'' di Galeri Salihara, Jakarta, 15 Agustus-15 September 2015 lalu.
Secara eksplisit, duo kurator pameran ini, Etienne Turpin dan Anna-Sophie Springer, menempatkan spesimen-spesimen temuan Wallace sebagai narasi protagonis. Ratusan spesimen koleksi Pusat Biologi-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ikut mewarnai ruang pamer. Dari berbagai spesimen burung, capung, kupu-kupu, kumbang, sampai binatang mamalia seperti orangutan dan harimau sumatera. 

Selain itu, dinding ruang pamer Galeri Salihara pun ditempeli oleh foto-foto jepretan Fred Langford Edwards. Foto-foto itu adalah hasil proyek panjang Edwards dalam memetakan dan mendokumentasikan spesimen asli penemuan Wallace dalam koleksi zoologi Inggris. Di antaranya terdapat koleksi milik Natural History Museum of London and Tring, Cambridge University Museum of Zoology, World Museum Liverpool, juga Linnean Society of London yang menyimpan buku catatan asli Wallace. 

Para seniman dibebaskan untuk mempersempit fokusnya terhadap perubahan penggunaan lahan alam saat ini dengan menggunakan deskripsi mendetail milik Wallace. Contohnya, Ari Bayuaji, lewat karyanya berjudul Paradise Almost Lost yang menyajikan gambaran alam masa kini dalam empat buah foto. 

Termasuk sebuah foto yang menipu seperti fatamorgana. Yang dari jauh terlihat seperti gambaran burung-burung cantik bertengger di antara rerantingan pohon. Ternyata, dari dekat itu adalah gambaran plastik-plastik bekas berbagai warna yang tersangkut di pepohonan. Sebuah karya yang satir. 

Secara teknis, pameran ini menyandingkan karya seni dengan materi arsip. Di antara pesan yang hendak diikemukakan melalui persandingan itu adalah mempertanyakan pergerakan pengetahuan dalam mentransformasi lingkungan melalui praktek kolonialisme dan problem-problem kontemporer. 

Perupa Andreas Siagian, misalnya, mencoba menuturkan kisah kepunahan dua sub-spesies, harimau jawa (Panthera tigris Sondaica) dan harimau bali (Panthera tigris balica), yang dinyatakan telah punah pada pertengahan abad ke-20. Serta, sub-spesies harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang kini terancam punah. 

Lewat karya berjudul Loreng: Kisah dari Jejak Citra Harimau Indonesia, Andreas menghadirkan penelusuran dokumentasi visual dari masa lampau yang merekam tahap-tahap kepunahan harimau di Indonesia. Sebagian besar isinya menggambarkan kekejaman praktek kolonial terhadap harimau-harimau di Indonesia. Seperti gambaran seekor harimau sumatera yang diikat dengan keras di depan kap mobil para meneer.
Konon, pada awal 1900-an, harimau dianggap sebagai ''hama'' karena populasinya yang dinilai sangat tinggi. Maka, para meneer dari perusahaan-perusahaan asing di Indonesia kala itu, menyewa para pemburu untuk menangkap harimau-harimau yang berkeliaran supaya terlindungi area lahan miliknya. 

Turpin menyebutkan bahwa pada awalnya kehancuran keanekaragaman hayati di Indonesia, mau tidak mau, berkaitan erat dengan praktek kolonialisme. Seperti rekaman foto seekor harimau jawa yang digantung terbalik layaknya kambing guling, yang di sekelilingnya tampak mereka --kaum kulit putih-- berdiri santai namun pongah.
Meski demikian, strategi penyajian pameran ini pada satu sudut pandang tertentu membuat aspek seninya tenggelam dalam pernyataan-pernyataan ilmiahnya. Sophie menyebut proyek pamerannya ini sebagai skenario ''seni/ilmiah''. Caranya, dengan menempatkan karya seni dan ilmu eksak dalam satu ruangan. Menurutnya, strategi itu akan membuka kesempatan yang menakjubkan kepada publik untuk mengetahui cara medium pameran dijadikan sebagai wadah penelitian. 

"Pameran yang memorable adalah pameran yang membuat kita kesulitan memahami apa yang sebenarnya kita lihat," kata Sophie. 


May 9, 2015

SIMULAKRA : Realita Maya Dalam Dunia Kontemporer


Foto diambil dari www.thejakartapost.com


Konon, dewasa ini kita dihadapi dalam situasi absurd. Ruang dan waktu telah berpisah. Majunya peradaban membuat ruang dan waktu dinisbikan. Yang muncul kini adalah ruang yang tanpa batas. Teknologi kian menghadirkan ‘manusia-manusia hantu’, yang hadir tapi sesungguhnya absen. Seperti kejadian seorang perempuan berbaju merah (Mila Rosinta) di Jakarta yang berusaha memeluk sang kekasih (I Wayan Adi Gunarta) di Denpasar, Bali.

Pelan-pelan ia mendekat, dicobanya diraih tangan lelaki pujaan yang mengenakan udeng Bali itu. Kedua telapak tangan itu tampak saling bersentuhan. Tapi apa lacur, ketika ia mencoba untuk memeluk sang kekasih, nyatanya yang dipeluk hanyalah kenyataan akan sebuah ketiadaan.

Secuil adegan tersebut merupakan salah satu gambaran tentang sesuatu yang ada namun tiada, yang keseluruhannya disajikan secara terpusat dalam pementasan tari bertajuk “Simulakra” karya koreografer senior Martinus Miroto. Dalam waktu 40 menit, seluruh isi ruang auditorium Galeri Indonesia Kaya (GIK) dijejali oleh pertanyaan antara ada dan tiada. Sebagai sebuah respon atas fenomena yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari di tengah semakin berkembangnya teknologi internet dimana dunia-dunia virtual tercipta di sana. “Seolah nyata padahal belum tentu itu nyata. Itulah, Simulakra,” ujar Miroto usai pementasan, Minggu (19/4) sore.

Simulacra atau simulakra, bentuk jamak simulacrum, berasal dari kata bahasa Latin simulare yang kurang-lebih berarti "representasi" atau "imaji". Dalam Merriam Webster Dictionary and Thesaurus, disebutkan bahwa kata ini pertama kali tercatat dalam bahasa Inggris pada abad ke-15. Digunakan untuk menggambarkan representasi seperti pada patung atau lukisan. 

Sosiolog dan filsuf post-strukturalisme Prancis, Jean Baudrillard, menyebut bahwa manusia abad kontemporer hidup dalam dunia penuh gambar, citra atau simbol yang telah menggantikan pengalaman. Hidup dalam simulakra. Baudrillard menempatkan simulakra sebagai konstruksi pikiran imajiner terhadap sebuah realitas, tanpa menghadirkan realitas itu sendiri secara esensial. Menurutnya, dunia tidak lagi nyata, sebab ''yang nyata'' hanyalah simulasi. 

Berangkat dari wacana posmodern yang dijejali oleh pertanyaan antara ada dan tiada, kenyataan dan simulasi, serta seturut perkembangan teknologi internet yang mencipta kenyataan-kenyataan virtual, Miroto menggubah Simulakra

Sebelumnya, pementasan ini diawali oleh perempuan berbaju merah yang menari pelan. Gemulai ia menggerakkan tubuhnya. Seperti gerak tetesan anggur merah yang ditumpahkan perlahan, yang lama-lama jadi candu dan memabukkan. Gerakan itu disambut oleh kehadiran tiba-tiba seorang pria (Mugiyono Kasido) yang berjalan cepat tapi kaku layaknya robot ciptaan teknologi yang mutakhir. Di belakangnya, tampak gambar tiga dimensi seorang pria (Martinus Miroto) menari bebas seolah melayang. Tak lama kemudian, terdengar alunan saluang yang mengantar seorang perempuan berbaju putih (Lora Vianti) untuk menarikan tari lilin.

Mereka seolah berbaur dalam satu ruang, padahal tidak. Pementasan kali itu terbagi dalam tiga ruang: Denpasar, Bali; Galeri Indonesia Kaya, Jakarta; dan Institut Seni Indonesia (ISI), Padang Panjang, Sumatera Barat. Nyatanya, teknologi yang dinamakan internet lah yang menyatukan mereka dalam satu waktu yang nyata walaupun dari tempat yang saling berjauhan.

Melalui teknik teleholographic pepper's ghost, Miroto mencoba bereksperimentasi dengan ruang dan waktu. Sebuah ide untuk menggabungkan antara yang maya dan yang nyata.  Teknik pepper ghost sendiri merupakan teknik yang dimunculkan pada sekitar abad ke-18 oleh John Henry Pepper. Adalah suatu teknik ilusi yang mampu mengubah gambar dua dimensi menjadi tiga dimensi. Biasanya, teknik tersebut digunakan dalam pertunjukan teater dan juga sebagai trik-trik sulap pada masanya.

Dalam pertunjukan tari “Simulakra” ini, Miroto menggunakan bounce screen yang disebutnya sebagai ruang yang memiliki kedalaman untuk membangun citra dari bentuk-bentuk yang ada. Misalnya saja ketika Mila menjatuhkan dirinya ke atas bounce screen, dan menggerakkan tubuhnya yang lalu disinari oleh lampu dari dua sisi kanan dan kiri. Gambar tersebut dipantulkan oleh holographic screen, sebuah layar tembus pandang yang terbuat dari foil yang dipasang 45 derajat. Lantas di layar, muncul visual hologram Mila yang seolah-olah melayang. “Maka itulah yang dinamakan teknik pepper's ghost,” ujar Miroto.

Kemudian, Miroto menggabungkan teknik pepper's ghost tersebut dengan teknologi telepresensi yang pada umumnya dikenal dengan video call ataupun teleconference. “Nah jadi pertunjukan ini penggabungan dimana yang maya merupakan citra dari teleholografis suatu bentuk yang bisa berupa benda atau manusia, yang posisinya berjauhan,” jelas pria kelahiran Yogyakarta, 23 Februari 1959 ini. Suatu bentuk yang tampak di panggung nyatanya hanyalah bentuk-bentuk siluman, yang sebenarnya merupakan kiriman secara stimulatif melalui koneksi internet.

Sebuah usaha merespon perkembangan zaman yang patut diacungi jempol, khususnya dalam dunia seni tari. Namun, layaknya siswa baru di sekolah yang masih harus mencari-cari cara untuk lebih menyesuaikan diri, eksperimentasi Miroto kali ini pun nyatanya masih menghadirkan beberapa celah yang menjadi hambatan.

Misalnya saja, kehadiran I Wayan Adi Gunarta di Bali yang menari kecak dengan gerak yang terpatah-patah. Bukan gerak patah-patah yang disengaja, melainkan patah akibat koneksi internet yang masih kurang mumpuni. Miroto sendiri mengakui bahwa dalam ‘uji coba’-nya kali ini, insfrastruktur internet di Indonesia yang kacau menjadi kendala yang paling kentara. “Bagaimana tidak? Di Bali saja, kecepatannya hanya mencapai 1Mb/s,” katanya santai.

Gangguan koneksi internet pun dirasakan Lora Vianti di Padang Panjang sana. Usai pementasan, melalui teleconference yang dilakukan usai pertunjukan, ia mengaku agak terganggu dengan koneksi internet yang membuat gambar di akhir pertunjukan sedikit menghilang. “Konsep ini menarik. Namun kami harus stay di satu titik demi menjaga kestabilan koneksi internet,” akunya.

Selain hambatan dalam koneksi internet, sayangnya pada pementasan kali itu, tata cahaya pun masih dirasa kurang pas. Dalam satu scene di pertunjukan yang dibuat dengan plot yang random itu, Mugiyono di Jakarta berkesempatan untuk menari berdampingan bersama dengan Lora Vianti di Padang Panjang. Mereka tampak berdiri berdampingan dengan ukuran tubuh yang sama persis, layaknya dua manusia yang berjalan berdampingan. Mereka menari dengan gerak yang sama, bahkan saling menabrakkan diri. Namun sayang, perbedaan warna yang kentara di antara keduanya membuat penonton dengan cepat dapat sadar untuk membedakan mana yang penari nyata dan mana yang penari maya. Mugiyono yang begitu bersinar kekuningan dengan sorotan lampu pijarnya, sedangkan Lora begitu pucat dengan warna teleholografis alakadarnya. “Padahal idealnya, tari dengan teknik seperti ini bisa membuat penonton kebingungan membedakan mana yang nyata dan mana yang maya,” kata Miroto.

Sebenarnya, Miroto mengaku sudah menyiapkan lampu yang sesuai dengan warna sosok yang dihasilkan dari pencitraan teleholografis yang akan ditampilkan. Hanya saja, karena keterbatasan ruang, lampu tersebut tidak bisa dipergunakan. “Lampunya besar, 70 sentimeter,” kata pria yang unggul dengan sebuah karya berjudul “Penumbra” itu. Alhasil, Miroto pun mengakalinya dengan menyoroti para penari nyata dengan lampu pijar alakadarnya. Walaupun diakuinya hal tersebut membuat pementasan kali itu tidak maksimal. “Jadi mungkin ini masalah ruang. Mungkin hanya stage-stage tertentu yang bisa,” tambahnya.


Celah-celah kosong yang membuat dahi berkerut mungkin masih muncul dalam pertunjukan tari “Simulakra” ini. Bagaimana tidak, pementasan tari yang menggabungkan medium konvensional dan medium kekinian ini masih anak baru dalam dunia tari Indonesia. Anggap saja uji coba Miroto ini sebagai pesan avant-garde untuk masa yang akan datang. Toh, tak ada salahnya untuk tetap menghargai pakem namun pun sembari terus menyelaraskannya dengan perkembangan zaman yang semakin digdaya ini. 


Wawancara : Martinus Miroto

Indonesia dikatakan sedang dihantam oleh perang kebudayaan. Perang kebudayaan di sini bukan dalam arti saling membunuh, melainkan saling menarik perhatian masyarakat. Maka itu, Indonesia, khususnya dalam bidang seni budaya, dituntut untuk suatu strategi yang lebih kreatif sebagai modal bersaing. Dalam dunia tari misalnya, pementasan tari “Simulakra” yang walaupun masih memiliki celah-celah yang robek disana-sini, disebut Martinus Miroto, sang koreografer, sebagai salah satu bentuk pembaruan dunia tari yang menyelaraskan dirinya dengan perkembangan zaman. Berikut petikan wawancara dengan sang penari lima topeng ini:

Apa sebenarnya gagasan awal dari munculnya “Simulakra” ini?

Saya mendapatkan inspirasi ini dari pengalaman sehari-hari dalam berinteraksi di dunia maya dengan orang lain. Pengalaman ini memunculkan perasaan dekat tapi jauh. Rasanya hadir, tapi sebetulnya absen. Ini menimbulkan pertanyaan bagi saya, apakah bisa pengalaman ini diangkat dalam sebuah seni pertunjukan.

Kemudian saya membuat tiga konsep, yaitu tema, bentuk, dan medium. Temanya sendiri sudah jelas, saya mengambil kehidupan antara nyata dan maya. Karena sekarang ini dengan budaya internet, kita terus menerus masuk ke dalam dunia virtual. Lalu dalam konsep bentuk, saya mengambil bentuk pertunjukan realitas teleholografis dimana salah satunya saya adopsi dari teknik pepper's ghost yang digabungkan dengan teknik telepresensi. Teleholografis sendiri sebenarnya nama yang saya buat sendiri untuk teknik ini, karena memang belum ada. Awalnya, karena saya terinspirasi juga oleh teori realitas bertambah. Yang terakhir adalah konsep medium, dimana saya menggunakan dua medium, yakni penari nyata dan penari maya.


Pada umumnya pertunjukan menggunakan interaksi antar manusia nyata. Apa ini bisa jadi cara baru dalam dunia tari?

Sekarang ide saya ini memang bertabrakan dengan paradigma seni pertunjukan yang seharusnya hanya menggunakan medium tubuh nyata. Tapi kan sekarang dengan teknologi internet itu, kenyataannya kita sering bergaul dengan manusia maya toh? Memang ada aspek paradigma yang baru di sini. Cara pandang pun harus berbeda daripada cara pandang lazim yang digunakan. Ya tergantung masing-masing penonton, jika ia terbuka, maka ia akan menganggap ini sebagai sebuah seni pertunjukan. Jika tidak, ya tidak apa-apa kalau ini tidak dianggap sebagai sebuah seni pertunjukan.


Lalu, apa yang mendorong untuk membuat satu teknik seni pertunjukan baru seperti ini?

Bagi saya, ini adalah sebuah strategi dalam dunia global saat ini. Ini bisa jadi salah satu modal bersaing kita dalam konteks perang kebudayaan. Saya melihat dewasa ini masyarakat begitu digandrungi oleh budaya-budaya luar yang berlomba-lomba menarik perhatian. Sayangnya, kita melupakan apa yang kita miliki. Padahal kan kita kaya! Mangkanya dibutuhkan pembaruan-pembaruan seperti ini.

Ketika kita semakin kreatif melakukan pengembangan-pengembangan, misal salah satunya dalam bidang seni pertunjukan, saya yakin kok kita bisa mengalahkan budaya-budaya luar yang digandrungi saat ini.


Artinya seni kontemporer Indonesia harus lebih dikembangkan lagi sebagai modal saing?

Saya bilang bahwa karya-karya kontemporer Indonesia saat ini bukan sekedar perayaan kreativitas dari para seniman untuk mengekspresikan atau merespon jaman. Tapi sebenarnya ini bisa dijadikan juga sebagai strategi untuk meng-counter kreativitas luar yang datang ke Indonesia. Indonesia ini kan kaya! Hingga seolah-olah kita kurang agresif dalam menandingi kreativitas dari bangsa lain.


Dalam pelaksanaan teknik baru pertunjukan tari ini, apa saja yang menjadi kendala? Lalu, bagaimana mengakalinya?

Internet. Tubuh manusia teleholografis itu kan dapat dihadirkan dengan ketergantungan kita pada koneksi internet. Kalau koneksinya buruk ya jadinya patah-patah seperti kemarin itu. Saya harap sih ada kebijakan dari pemerintah untuk meningkatkan kecepatan internet di Indonesia secara merata. Perkembangan jaman kan sudah direspon, tapi kalau fasilitasnya tetap belum merespon, bagaimana?

Mengakalinya ya terus jalan saja. Kalau bandwith-nya rendah ya biarin. Toh ide saya cepat tapi disediakannya segitu ya gimana. Saya anggap ini sebagai resiko pilihan. Memang sih tidak idealis, tapi bagi saya ini harus tetap jalan walaupun ini merupakan karya baru yang belum terpenuhi persyaratannya.


Asri Wuni Wulandari

Diterbitkan di Majalah GATRA Tahun 21, Edisi 26 (30 April - 6 Mei 2015)



Sep 23, 2014

Perempuan Surreal dan Pelaku Hal-Hal Yang Njelimet (Nawal El Saadawi - Love in The Kingdom of Oil)




Perempuan itu. Yang konon katanya bekerja di sebuah balai arkeologi, pergi cuti dengan meninggalkan selembar surat cuti. Alasannya : tidak diketahui dan dicari oleh suaminya, atasannya, dan polisi yang menangani. Lantas ia menghilang, berkelana dengan tempayan berisi minyak hitam. Pergi - datang - pergi - datang. Sesukanya. Sampai ia bertemu dengan gambaran lelaki buram yang membuatnya ia tidur terbalik telanjang. 

Sudahkah kalimat di atas terasa surealis? Ah, rasanya saya masih kurang canggih untuk bermain simbol dengan tanda tanya yang memenuhinya. Tapi begitulah Love in The Kingdom of Oil milik Nawal El Saadawi ini. Gambaran surealis dengan nada satir tampak mengisi setiap halamannya. Yang membuat saya cukup keblinger membacanya. 

Adalah si 'perempuan itu', tokoh utama dalam novel ini, yang selalu mengakhiri hubungannya bersama setiap lelaki dengan tempayan berisi minyak yang harus dibawanya di atas kepala. Yang mungkin saja, menurut interpretasi pribadi saya, menggambarkan budaya patriarki Arab, di mana hak-hak perempuan sangat dibatasi. Menjadi seorang arkeolog saja mendapatkan cibiran. Mungkin bagi Arab, ia dianggap sedang mengalami dilema moral. 

Adalah si 'lelaki itu', tokoh kedua yang mungkin banyak rupa. Yang menempeleng si 'perempuan itu' ketika 'perempuan itu' enggan memasak. Yang selalu menempelkan bagian bawah perutnya ke tubuh si 'perempuan itu'. Setelah puas, lantas ia tidur berbalik memunggungi si 'perempuan itu'. Dapur dan kasur. Istilah klasik yang seringkali diberikan kepada kaum perempuan.

Adalah 'Baginda Raja', yang mungkin menjadi tokoh ketiga. Yang bodoh dan tak bisa membaca, tapi sangat senang jika banyak media memberitakannya apalagi jika fotonya dipasang begitu besar. Juga sebagai seorang 'bos' yang membuat si 'perempuan itu' harus selalu mengangkut guci minyak dengan kepalanya dan badannya yang mungkin saja rapuh. Iya, bagaimana minyak begitu mendominasi di Arab Saudi.

Lalu, tokoh suami, atasan kerja, dan polisi. Yang kepalanya penuh teka-teki : apa yang terjadi para si 'perempuan itu'? 

Jujur saja, membuat review untuk buku ini rasanya agak menjelimet. Tapi ketahuilah, sederhana saja, apa yang ada di buku ini adalah apa yang Saadawi ungkapkan seperti biasanya. Menggambarkan budaya patriarki dan dominasi pria di Arab Saudi. Perempuan sebagai yang tindas. Ujung-ujungnya, akan ada jarak antara laki-laki dan perempuan. Ujung-ujungnya lagi, sedikitnya muncul perlawanan dari kaum perempuan. Mudahnya, begitu.

Sayangnya, untuk mendapatkan kesimpulan seperti itu dengan novel ini rasanya cukup sulit. Ditulis secara acak dan tak lazim. Dimana-mana ada metafora. Dan harus jujur lagi, gaya surealis yang sangat surealis ini membuat saya sedikit pusing membacanya. Kadang pun merasa lelah. 

Mungkin saja (dan ini sungguh baru mungkin), jika novel ini dijadikan sebuah karya visual mungkin akan lebih menarik. Perupa bisa bebas berimajinasi dan rasanya lebih pas jika dibandingkan dibuat sebuah novel dengan tebal 250 halaman. Pasalnya, Saadawi cukup sukses membuat simbol-simbol tersebut. Hanya saja penyajiannya mungkin agak njelimet


Rawajati, 23 September 2014

Soundtrack kali ini yang begitu random : Patti Smith - Smells Like Teen Spirit (Nirvana Cover) 
*** 
Mungkin seperti Saadawi, Patti Smith pun mencoba men-cover lagu ini jadi lebih njelimet tapi menarik untuk dirasakan. 

Sep 2, 2014

Eufimisme Itu Bernama Perubahan Yang (Mungkin) Buruk Rupa (Ayu Utami - MAYA)


Asri Wuni

Manusia 'dijadikan' kerdil, bukan dilahirkan. Dijadikan oleh nilai-nilai yang mengepung dan membentuk mereka. Dan tak semua mampu membebaskan diri. (Halaman 227)

Kira-kira begitulah kalimat yang dikeluarkan Suhubudi. Siapa yang ingin menjadi kerdil dan buruk rupa? Semua orang menginginkan keindahan toh? 

Adalah Maya, si perempuan cebol buruk rupa berbulu ayam. Salah seorang 'manusia buruk rupa' yang dirawat oleh Suhubudi di padepokannya. Orang-orang melihatnya aneh, bukan takjub. Lebih lagi orang-orang pun melihatnya dengan pandangan jijik. 

Lalu, ingatkah pada kisah Saman yang jatuh cinta pada Upi, perempuan gila yang senang menggesekan selangkangannya? Lagi-lagi, orang-orang melihatnya menjijikan. Terlebih orang-orang merasa takut dengannya. Karena katanya, Upi gila. 

Namun nyatanya, baik Maya ataupun Upi membuat Yasmin dan Saman jatuh cinta. Siapa sangka mereka akan jatuh cinta pada yang buruk rupa? Keindahan tersembunyi di balik yang buruk rupa. 

Bahwa nilai-nilai yang sengaja dibentuk oleh masyarakatlah yang membuat Maya dan Upi buruk rupa. Sama halnya seperti melihat tumpukan sampah yang berair dan penuh lalat, tentu kita sontak akan menutup hidung atau melepaskan pandangan darinya. Bahwa kita dengan mudah melihat yang sesuatu dengan buruk. Tapi kadang kita luput untuk melihat sesuatu yang indah. Ataukah yang indah hanya sebatas langit biru lengkap dengan hamparan rumput hijau yang terasa sejuk?

Sekilas, saya teringat kepada salah satu tulisan Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir-nya (yang maaf sekali saya lupa judulnya). Tentang Tuhan yang dapat kita temukan dalam hal-hal kecil, baik itu dalam pemukiman padat dan kumuh sekalipun.  Bukankah menemukan Tuhan itu katanya indah? (Maaf lagi, untuk kalimat tadi, mungkin kita tidak perlu menyamakan persepsi.) 

Banyak dari kita yang luput dari keindahan yang tersembunyi di balik yang buruk rupa. Yang mampu membuat kita jatuh cinta dan memberikan segenap rasa sayang. Walaupun terkadang rasanya cara kita memberikan kasih sayang pada yang 'buruk rupa' seringkali salah cara. Seperti yang dilakukan Yasmin dan Saman. Dalam konkretnya, seperti cara kita memjajalkan pemikiran-pemikiran untuk maju kepada berandalan-berandalan jalanan yang tentu akan agak sulit diterima akal. 

Begitulah kira-kira bagian yang menurut saya cukup tercetak di kepala saya setelah membacanya. Selebihnya, maaf harus saya katakan, saya kecewa. Mulai dari Saman, Larung, Bilangan Fu, Manjali Cakrabirawa dan Lalita, rasanya selalu ada penasaran setiap kali menyelesaikan satu halaman. Rasa semangat begitu mendidih untuk terus membuka-buka halaman berikutnya. Tapi tidak untuk kali ini. 

Biasanya, roman-roman karya Ayu Utami akan identik dengan pandangan-pandangan perempuan yang mungkin sedikit meletakkan dirinya di atas atau sejajar dengan laki-laki. Tapi tidak dengan roman Maya. 

Apakah harga seorang manusia? Setiap mahkluk sejatinya adalah abdi. Pilihlah kepada apa engkau akan mengabdi dan berbaktilah dengan sejati. Tidakkah wanita sepantasnya mengabdi kepada lelaki? Sekalipun lelaku itu cebol belang. (Halaman 210)

Sementara, dalam roman Saman, masih tercetak di kepala saya ucapan Yasmin kepada Saman melalui surat elektroniknya yang menyatakan keinginan Yasmin untuk memperkosa Saman. 

Tidak. Tidak ada yang salah memang. Mungkin kodratnya memang seperti itu. Tapi rasanya seperti kurang melihat Ayu Utami. Mungkin jika boleh sedikit nyinyir, ini adalah akibat dirinya yang akhirnya memutuskan untuk menikah dan mengabdi pada sang fotografer, suaminya.

Selain itu, rasanya pun di sini tidak ada semangat yang menggebu-gebu. Yang ada hanyalah dramatika rindu Yasmin kepada Saman yang telah hilang selama dua tahun. Akhirnya, pembaca pun dibawa dalam suasana sendu rasa rindu. Jadi, hati-hati bagi yang sedang merindu kekasih atau mantan kekasih, kamu akan semakin sendu jika membacanya.

Selebihnya, masih sama seperti karya-karya Ayu Utami sebelumnya. Ramai dengan cerita-cerita masa lalu. Yang mungkin kita tidak tahu, atau mungkin kita lupa. Untuk itu rasanya saya tidak perlu membahasnya. Intinya, kekecewaan saya pada roman Maya sama seperti kekecewaan saya pada kicau-kicau Ayu Utami di akun Twitter-nya yang secara eksplosif mendukung Jokowi-JK. Dan terkadang, pun secara eksplosif menghardik mereka yang memilih untuk tidak memilih Jokowi-JK.

Bukankah memilih Presiden dan Wakil Presiden adalah pilihan? Bukankah berubah menjadi yang baru juga sebuah pilihan? Mungkin kali ini Ayu Utami memilih seperti ini. Cukup sopankah saya untuk menggambarkan perubahan Ayu Utami?