FEATURE

Showing posts with label FEATURE. Show all posts
Showing posts with label FEATURE. Show all posts

May 30, 2016

Tanah Merah Padusi




''Semak belukar memerah, lalu musnah.'' Begitu ucap Laksmi Notokusumo di antara sorot sinar lampu kemerahan yang mewarnai Hutan Kota Sangga Buana, Kali Pesanggrahan, Jakarta. Ia bersimpuh di antara empat pemusik yang tergeletak tanpa lupa meniup serunai, dijeridu (didgeridoo, alat musik tradisional Suku Aborigin), pupuik, dan saluang. Ia merintih menyesali rimbun kampung halamannya yang kini musnah rata dengan tanah. 

Sepenggal adegan monolog itu jadi bagian dari pertunjukan berjudul "Tanah Merah". Karya tersebut merupakan bagian dari presentasi besar berjudul Phase karya koreografer Jefri Andi Usman, yang dibawakan pada Sabtu, 23 April lalu di Hutan Kota Sangga Buana Kali Pesanggrahan, Jakarta Selatan. 

Gerimis turun perlahan ketika Laksmi merobek-robek sehelai kertas di antara ribuan surat penyebab hilangnya kampung halaman. ''Kita tahu sekarang lagi musim hujan. Tapi kita tidak menyiapkan pertunjukan untuk kondisi hujan,'' kata Jefri. Ia tidak menyesali hujan yang turun malam itu. 

Alas panggung berbahan kain terpal yang tipis pun lama-lama basah dan licin. Namun, itu tidak menghalangi gerakan dua penari (Maria Bernadeth dan Davit) yang intens mengetengahkan kosagerak ekspresif, lincah, dan tak terlihat ragu. Sebaliknya, hujan yang lama-lama turun dengan deras malah membuat kedua penari itu kian peka dengan improvisasi-improvisasi gerak di beberapa adegan. 

Jefri mengartikulasikan Phase sebagai masa yang ditempuh. Karya ini berbicara tentang waktu yang membuat hubungan antara manusia dengan manusia, juga manusia dengan alam, kian tidak bersinergi. Sebuah pernyataan koreografis tentang isu lingkungan dengan tidak meninggalkan koridor kebudayaan Minang yang melatari kehidupan Jefri. 

Phase terdiri dari dua repertoar gerak. Bagian pertama mengambil tema ''Tanah Merah'', sedangkan bagian kedua bertema ''Padusi''. Dalam keduanya, Jefri merepresentasikan kegelisahannya tentang kerusakan alam dan bergesernya nilai-nilai kultural perempuan dalam budaya matrilineal di Tanah Minang. 

''Berziarahlah... Berziarahlah ke pusara tanah merahmu,'' begitu bunyi pembuka monolog ''Tanah Merah'' yang naskahnya ditulis Damhuri Muhammad. 

Kekuatan repertoar ''Tanah Merah'' tak hanya terletak pada naskah dan kosagerak. Melainkan juga unsur-unsur lain yang dibuat sealami mungkin. Resonansi susunan bambu membuat musik yang dimainkan secara akustik tetap maksimal. Juga set panggung berupa dahan-dahan pohon bambu yang disusun dengan komposisi meniru alur pohon-pohon di sana sebagai visual latar. 

Dari susunan bambu itulah Jefri turun ke arena panggung. Setelah menjejak tanah, lantas ia mengangkat kakinya ke udara. Sekali waktu ia berdiri dengan kepala. Gambaran tentang alam yang keos itu bersambung dengan gerak tubuhnya yang menggelepar lalu jatuh, pasrah. Kemudian ia berguling lambat di atas lantai, pelan-pelan melepaskan bajunya satu per satu, hingga akhirnya ia bertelanjang dada dan menghilang. 

Jefri rupanya begitu nelangsa oleh kerusakan alam sebagai gambaran kekinian. Iya. Dalam dunia kontemporer ini, keluhan tentang kekayaan alam yang semakin tak terurus menjadi obrolan-obrolan yang tak pernah usai. Phase, bagi Jefri, adalah cara untuk mengingatkan bahwa perubahan telah mengubah alam tak lagi alami. Manusia sudah mengintervensi alam sedemikian rupa. 

Hutan telah hilang, menjadi pusara tanah merah. Setelahnya, giliran Jefri bercerita tentang perempuan di Tanah Minang dalam Padusi. Maria muncul sebagai gambaran perempuan Minang di zaman kiwari. Awalnya ia tampak anggun dan penuh wibawa. Tapi kemudian ia mencopot suntiang yang tertancap di kepalanya. Dengan rona getir wajah setiap kali suntiang itu dilemparnya. 

Bagi orang Minang, suntiang adalah simbol rumah tangga dan ikatan suami istri. Seorang perempuan Minang, selain dituntut kuat secara fisik, juga dituntut untuk memiliki kekuatan untuk memikul tanggung jawab dalam kehidupan berumah tangga. 

Adegan melepas suntiang yang dibawakan Maria ini merupakan simbol pembangkangan adat-istiadat di Tanah Minang. Gelegar suara tetabuhan dan tiupan saluang menggema tiap kali Maria melepas dan melempar suntiang-nya jauh-jauh. Seolah ikut meratapi pembangkangan perempuan Minang. 

Tapi di tengah pembangkangan itu muncul Davit. Mereka menari dengan tatapan tajam, seolah saling mencurigai. Di sini ada "pertarungan". Tapi juga ada kekuatan saling tarik-menarik. Momen cinta, hasrat, dan konflik, semua jadi satu dalam kosagerak yang tak tertahankan. 

Dalam babak "Padusi", sosok Jefri yang berdarah Minang terasa begitu kental. Padusi, dalam bahasa Minang, adalah perempuan sebagai simbol bumi yang melahirkan kehidupan. Baginya, padusi bukan hanya sebuah legenda. Justru, realitas mengatakan bahwa perempuan menjadi sosok yang utama. Perempuan naik ke rumah, laki-laki ke luar rumah. Tanpa perlu disejajarkan. Padusi adalah sosok perempuan sebagaimana makna gender dalam konstruksi budaya. 

Belum lagi kosagerak yang hampir menempatkan silek (silat) sebagai gerak dasar keseluruhan pertunjukan. Sajian tari tidak terlepas dari silek kumangosilek ulusilek ambek, dan silek harimau. Melalui seni bela diri Minang itu, Jefri mencoba mengembangkan koreografinya. 

Hujan makin deras. Davit perlahan menjauh. Maria terus bersilat hingga perlahan lunglai. Bersamaan dengan suara derak bambu yang diguncang Teuku Rifnu Wikana dari atas sususan bambu, sembari berkata: ''Kunamai engkau Padusi. Sorot matamu nyala api. Gelang antingmu kawat berduri.'' 


Dipublikasikan di : MAJALAH GATRA (XXII - 28)

Apr 22, 2016

Mengenang Sitor Lewat Pasar Senen


Foto : youtube.com

Ke mana kawan semua/ Supir, tukang delman/ Teman berdampingan/ Kita semua bersenda/ Menampung senyuman/ Si Kebaya Merah/ Dari kepulan asap merekah/ Hai Tukang Becak/ Bilang padaku/ Dewiku/ Ke mana kau bawa (Dari puisi ''Pasar Senen'', Sitor Situmorang)


Malam itu, kursi-kursi Teater Kecil Taman Ismail Marzuki penuh terisi. Ruangan sedikit sesak. Dari pintu masuk saja, orang-orang sudah berdiri, beradaptasi dan ''bertahan hidup'' dengan mengisi area-area pinggir ruang yang tidak berkursi. Riuh rendah. Lalu, di atas panggung, muncul tiga orang dengan masing-masing menenteng sebuah kursi lipat. ''Awas copet! ...Kopi! Kopi! Kopi! ...Mesin tik bekas! ...Mari, Mas, monggo... kehangatan,'' kata satu dari tiga orang itu setengah berteriak.

Begitu, pergelaran instalasi teks berjudul ''Pasar Senen, Sitor, dan Harimau Tua'', Rabu malam pekan lalu. Para penampil merekomendasikan suasana sebuah pasar dalam ruang Teater Kecil, TIM, Jakarta.

Di antara lontaran-lontaran promotif verbal dan peringatan banal khas pasar itu, muncul juga obrolan-obrolan ringan tentang politik, ekonomi, dan kebudayaan antara dua orang lainnya. Semuanya terlontarkan secara bersamaan dan saling beradu secara verbal mengetengahkan tiga teks: ''Mengatakan Jawa Adalah 'Sebuah Happening''' (Christopher John); ''Jawa Tempo Doeloe: 650 Tahun Bertemu Dunia Barat'' (James R. Rush); dan sajak ''Pasar Senen'' gubahan mendiang Sitor Situmorang.

Bersamaan itu, layar di belakang panggung menampilkan visual hitam putih Pasar Senen tempo dulu. Sehingga, semua kegaduhan bunyi, diksi, dan visual itu berhasil membawa penonton pada kenangan masa lampau tentang Pasar Senen.

Pasar Senen yang dimaksud adalah sebuah situs pertemuan yang tidak hanya merujuk pada fungsi-fungsi transaksional serta tukar-menukar barang dan jasa. Melainkan sebuah arena pertemuan lebih luas yang mengakomodir ekspresi kesenian, kebudayaan, sosial hingga politik. Ini tentang Pasar Senen yang kini berada di wilayah adminsitratif pemerintah Kota Madya Jakarta Pusat. Tentang hal-hal nostalgik yang tidak lagi ditemukan di tempat itu.

Obrolan instalatif malam itu terentang mulai dari bioskop Grand yang pasti ramai pada bulan muda. Lalu Restoran Setia yang hanya berjarak sepuluh meter dari bioskop, yang selalu kecipratan ramai ketika Grand memutar film Melayu. Gedung-gedung pertunjukan kesenian tradisional yang pamornya terang nian. Juga cerita tentang ide pembangunan Jakarta oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin untuk menggusur Pasar Senen menjadi Proyek Senen. Hingga akhirnya peradaban Pasar Senen pun lenyap.

Kini model pertemuan di Pasar Senen tidak lagi sehangat, dan sepenting dahulu jika ditinjau dari sudut pandang antropologi kebudayaan. Orang-orang tidak lagi berteriak-teriak saat menjual kopinya. Sudah tak ada lagi tukang becak, tukang delman, penjual mesin ketik bekas. Juga tak ada lagi teman-teman yang saling berdampingan.

''Pasar Senen bukan diubah, tapi dihancurkan,'' ujar Afrizal Malna, yang didaulat sebagai perangkai instalasi teks dalam gelaran malam itu.

Gelaran ''Pasar Senen, Sitor, dan Harimau Tua'' dibuat untuk memperingati momen satu tahun wafatnya penyair Sitor Situmorang. Pasar Senen, lengkap dengan segala tetek bengek yang terjadi di dalamnya, oleh Komunitas Bambu dan Studio Hanafi dijadikan sebagai medium untuk mengingat seorang penyair berjuluk "si anak hilang" itu.

Dulu, Pasar Senen bagaikan mahakarya. Sebuah ekosistem yang tumbuh sedemikian rupa, tempat berbagai suku bangsa mulai membangun budaya urban. Membuat para penjual kopi, tukang becak, dan tukang delman melebur bersama Sitor dan yang lainnya sebagai teman yang saling berdampingan. Situasi yang telah dibaca Sitor lewat sajak ''Pasar Senen'' digubahnya pada 1948.

Bagi Afrizal, ''Pasar Senen'' -yang lewat sebuah model penelusuran arsip oleh J.J. Rizal ditempatkan sebagai puisi pertama Sitor- adalah titik pijak perjalanan kepenyairan Sitor. Melibatkan keberpihakan kepada kelas bawah, senda gurau budaya lisan, dan juga perempuan, sebagai indeks penting yang sering muncul dalam karya-karya Sitor. Indeks yang tidak membuat belahan tajam antara tradisional dan modern, desa dan kota, cinta dan ideologi.

Dalam pergelaran ini, prosesi mengingat kembali penyair kelahiran Samosir, 2 Oktober 1924, itu tak hanya sampai di situ. Ada juga perntunjukan teater yang diadaptasi dari salah satu cerpen Sitor berjudul ''Harimau Tua''.

Narasi lakon ini bergerak antara seorang anak muda berambut pirang dengan dandanan necis perkotaan yang pulang kampung setelah 15 tahun merantau. Ia yang pulang membawa kebingungan lantas bertemu dengan seorang lelaki tua berkaki kiri buntung yang hidup seorang diri di lembah, dan seekor harimau tua, harimau terakhir di gunung. Ketiga sosok ini menjadi metafor hilangnya tanda-tanda di sekitar untuk saling mengenal.

Menurut pimpinan produksi pergelaran ini, J.J. Rizal, ''Harimau Tua'' merupakan pengalaman Sitor terkait kehidupan sebuah desa yang dilupakan. Sitor seolah hidup di dua dunia. Antara masa lalu dan masa kini. Antara desa dan kota. Nyatanya, di zaman kiwari ini, jarak antara desa dan kota menjadi sebuah problematika tersendiri. ''Seolah orang desa dan orang kota itu perbedaannya timpang,'' katanya.

Cerpen ''Harimau Tua'' dan sajak ''Pasar Senen'', bagi Rizal, menjadi bukti bahwa Sitor bukan seorang penyair yang hanya sibuk dengan revolusi pemikiran seorang diri. Ia juga sosok komunal. ''Sitor adalah orang rantau yang mencari tempat di tengah Ibu Kota,'' ujarnya.

Lebih jauh, gelaran ini mencoba menjawab pertanyaan tentang bentuk kebudayaan modern Indonesia dan cara mengontruksikannya melalui pemikiran-pemikiran Sitor Situmorang tentang Pasar Senen.

Sebab, kenyataannya, kini tak ada lagi ruang kerakyatan tempat suatu generasi berkumpul merumuskan pertanyaan-pertanyaan besar. Suatu ruang dan penuh dengan ide telah tamat. Sebuah medan revolusi telah berakhir. Yaitu, Pasar Senen, ''Tempat di mana kita tidak perlu takut gila,'' kata Rizal.

--------------------------------------------------
Dipublikasikan di Majalah GATRA - XXII/13

Instalasi Renik Dalam Dunia Terhah


Foto : syaifulgaribaldi.com

Perkenalkan, ini adalah Dunia Terhah. Sebuah dunia baru yang ada di Planet Bumi. Dunia imajiner tanpa batas yang hadir dengan liar dan tumbuh tak terduga. Dunia yang asyik sendiri dengan eksperimen-eksperimennya yang absurd. Dunia ini bahkan terkadang kasat mata, tapi sebenarnya eksis. Tapi ini bukan khayalan. Ini adalah yang nyata.

“Cgarmnuh homma nossolka aarm tos homma ujmiok bas nosneroah klimuh tos homma porculen,nossolre olarium terhah, atoah tos xem osmun (birbir epoksorban) solka. Porculen sorban uwew katoa manoaki, lowara hiu jiro laeoleou piang gorgor she. Yepii.”

Jangan takut, paragraf di atas bukan lontaran yang keluar dari mulut alien yang akan menginvasi bumi. Itu adalah lontaran yang keluar dari mulut manusia – dengan menggunakan bahasa Terhah - yang tidak takut untuk meyakinkan apa yang telah dipercayainya dan mencoba merekam penuh semua ide yang ada di sana, di dalam setiap kehidupan.

Misalnya, ide tentang dunia renik (mikroorganisme), sebagai konstruksi dari sesuatu yang tak nampak dan diam tak bergerak tapi sebenarnya hidup. Ide itu hadir dalam QUIESCENT. Sebuah pameran tunggal perupa Syaiful Garibaldi, si empunya Dunia Terhah. Hadir selama satu bulan sejak 13 Februari hingga 13 Maret 2016, dalam sebuah ruangan kecil di lantai 40 pada salah satu gedung ‘menak’ di Jakarta. ROH Gallery, yang agak tersembunyi. Seolah tak ingin banyak orang yang tahu. Yah, namanya juga Dunia Terhah. Dunia yang dikira tak ada, padahal ada.

Quiscent sendiri merupakan proses mati suri atau dormant. Dalam dunia biologi, quiescent dikenal dengan kondisi makhluk hidup yang diam tapi sebenarnya tidak mati. “Itu disebutnya dormant,” kata pria yang akrab disapa Tepu ini.

Rupa-rupa itu hadir dengan bentuk yang membingungkan. Bisa-bisa kita mengira kalau kita sedang berada di planet lain. Berbentuk bulat, batang, spiral, tampak memiliki kepala, tampak memiliki kaki. Hadir dengan medium bahasa, lukisan, patung, dan instalasi video. Rupa-rupa itu diam. Seperti patung besar berwarna hijau lumut yang diam di pojokan ruang. Disimpan sebagai imajinasi Tepu tentang lichen (lumut kerak) yang berjudul “Lartucira #12”. Dengan bentuk yang condong dan terpisah-pisah.  

Lichen atau biasa dikenal sebagai lumut kerak, merupakan mikroorganisme hasil simbiosis mutualisme ganggang dan jamur. Dikatakan sebagai makhluk perintis. Karenanya, maka kehidupan-kehidupan baru bermunculan. Landasan empiris bahwa makhluk-makhluk hidup dalam dunia renik yang berinteraksi itulah yang kemudian semakin mendekatkan dunia ‘Terhah’ pada dunia nyata. Di sini, batas antara apa yang imajiner dengan apa yang nyata menjadi kabur.

Lewat 14 karya yang hadir dalam Quiescent itu, Tepu ingin mempreservasi makhluk-makhluk dunia renik itu dalam setiap kondisi tertentu. Seperti interaksi-interaksi simbiosis mutualisme antara ganggang dan alga yang kemudian menghadirkan lichen, yang hadir dalam karya lukisnya yang berjudul “Lartucira #6”, “Lartucira #3”, “Lartucira #5”, dan “Lartucira #4”. Sebagai informasi, ‘lartucira’ yang dijadikan judul dari semua pameran itu, merupakan bahasa ‘Terhah’ yang artinya adalah mati suri.

Tepu selalu meyakini bahwa setiap proses yang dimiliki oleh makhluk hidup memiliki nilai estetis tersendiri. Mereka (makhluk hidup) akan memiliki kepentingan tersendiri bagi makhluk sekitar. Misalnya saja proses pertumbuhan mikroorganisme yang ditunjukannya dalam karya “Lartucira #8” yang dihadirkannya dalam bentuk lukisan. Mulai dari yang masih berukuran sangat mini, bervariasi hingga tampak seperti bahwa ia memiliki mata, kaki, dan tangan. Yang kesemuanya adalah hasil imajinasi Tepu terhadap makhluk-makhluk dunia renik yang diamatinya.

Pada intinya Tepu memindahkan apa yang dilihatnya dalam pengamatan dengan menggunakan mikroskop. Tapi memindahkan di sini bukan berarti apa yang dikaryakannya sama percis dengan yang asli. Tepu mengkonstruksi ulang apa yang telah dilihatnya. Hingga akhirnya memunculkan bentuk-bentuk imajiner dalam dunianya, dunia Terhah.

Konsep visual karya-karya Tepu dalam Quiescent ini diambil dengan cara pembesaran mikroskop. Ia bekerjasama dengan Laboraturium Biologi Institut Teknologi Bandung (ITB). Di sana ia belajar mengamati makhluk-makhluk dunia renik. Melalui pengamatan, Tepu bisa mengetahui apa-apa saja yang terjadi pada si mikroorganisme. Maka ditangkapnya lah bagian-bagian yang menurutnya penting dan menarik untuk kemudian dikonstruksikan dengan berbagai imajinasinya.

Tapi tak dinyana, makhluk-makhluk dunia renik ternyata memiliki kecenderungan untuk mengeluarkan warna yang cerah dan menyala ketika diamati dengan menggunakan mikroskop elektron. “Itu untuk sepuluh ribu kali lipat,” kata Tepu. Yang kemudian dituangkannya dalam beberapa karyanya di Quiescent seperti “Lartucira #6”, “Lartucira #3”, “Lartucira #5”, dan “Lartucira #4” yang menangkap simbiosis mutualisme antara ganggang dan jamur. Makhluk-makhluk renik dalam skala besar itu dilukiskannya dengan warna-warna menyala dan berkilau. Ia menduga, mungkin saja bahwa warna yang menyala itu muncul akibat pewarna yang diinjeksikan ke mikroorganisme tersebut saat akan diamati. “Karena gelap, jadi saya harus kasih warna supaya terang,” ia menambahkan.  

Dari serangkaian percobaan dan eksperimen terhadap lichen, lahir berbagai inspirasi baru yang ia terapkan pada proses penciptaan karyanya. Setiap perubahan bentuk, warna, dan sifat dari mikroorganisme itu kemudian akan jadi sebuah perkembangan yang mampu memperkaya Dunia Terhah.

Eksperimen Tepu dengan lichen yang dihadirkan dalam Quiescent ini memang merupakan eksperimen teranyar yang dilakukannya. Jauh sebelumnya, Tepu tak kuasa untuk menolak keinginannya untuk menciptakan Dunia Terhah yang digagasnya. ‘Terhah’ sendiri berasal dari bahasa Esperanto yang didefinisikan sebagai ‘ide’. Dunia Terhah menjadi wilayah mediasi bagi ilmu pengetahuan untuk berpadu dengan seni melalui imajinasi pada proses berkarya.

Salah satunya dengan menciptakan sistem tanda dan tata bahasa sendiri untuk para penghuni Dunia Terhah pada tahun 2007 silam. Bahkan sebenarnya bahasa Terhah inilah yang menjadi awal pembentukan Dunia Terhah. Sederhana saja, bahasa Terhah ini sebenarnya hanya merupakan celetukan Tepu sehari-hari yang kemudian ia kumpulkan dan catat. Hingga saat ini sudah lebih dari 1.500 kata terdaftar dalam Kamus Terhah.

Abjad dalam Dunia Terhah pun ditemukannya dengan cara mengkultur bakteri yang ada pada e-coli. “Saya kultur dari salah satu unsur yang ada di bakteri ini,” ujarnya. Kemudian, pola-pola itu tumbuh sesuai dengan kemauan si mikroorganisme itu sendiri. Maka muncul lah abjad-abjad ajaib itu.

Seni, bagi Tepu bukan hanya sekedar artefak. Seni adalah ilmu pengetahuan. Pada jaman Renaissance, seniman dianggap sebagai seorang yang universal dimana ia mempelajari segala bidang. “Saya setuju sama hal itu,” katanya.


Tepu mengaku sangat tertarik untuk bekerjasama dengan makhluk hidup seperti mikroorganisme dalam setiap karyanya. Makhluk-makhluk dalam dunia renik adalah makhluk yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Di sana sering muncul kejutan-kejutan tersendiri. “Misal saya sudah menentukan dia bergerak kemana, kadang-kadang dia sering bergerak dengan keinginannya sendiri,” ia bercerita. Padahal, sebenarnya mereka (makhluk-makhluk dunia renik) itu memiliki dampak yang besar bagi lingkungan dan manusia itu sendiri.


------------------------------------------------------------
Dipublikasikan di Majalah GATRA- XXII/17

Dec 22, 2015

Merespon Ruang - Doing Graffiti Is Like Vacation!


Instagram - @katun_



Banksy, seorang bomber asal Inggris, yang tak pernah diketahui identitasnya, pernah membayangkan bagaimana sebuah kota dimana graffiti tidak ilegal, dimana semua orang bisa menggambar apapun yang mereka sukai, dimana setiap jalan dalam sebuah kota dibanjiri oleh jutaan warna dan frase, dimana berdiri di halte bus tidak terasa membosankan. “Imagine a city like that – it’s wet” – Banksy, Wall and Piece (2005).

Anggap saja sebagai miniatur imajinasi Banksy. Sabtu (19/12) silam, Gudang Sarinah yang terletak di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, membuat ‘basah’ para pelaku sekaligus pecinta seni jalanan atau biasa dikenal dengan street art. Pasalnya, hari itu dinding-dinding bangunan Gudang Sarinah yang sebelumnya tampak kusam dengan cat yang terkelupas sana sini disulap menjadi hampir habis terpakai untuk menjamu berbagai rupa karya street art.

Bagian dinding selatan salah satu dari tiga bangunan yang ada di Gudang Sarinah misalnya. Sebuah karya ‘narsis’ dari sekawanan street artist Jakarta yang menggambar nama grupnya sendiri, Berandal Aspaleho. Sebuah mural yang menyusupkan rupa-rupa karakter imajiner di sela-sela huruf yang digambarnya. Di sebelahnya, Dinas Artistik Kota seolah tak mau aksi corat-coret dindingnya terganggu dengan memasang plang bertuliskan : “Maap Jalan Anda Terganggu Kami Sedang Berkarya”.

Tak hanya di bagian dinding selatan. Tak jauh dari situ – di bagian timur dinding Gudang Sarinah -  tampak seekor monyet menggunakan topi bisbol terbalik dengan tape combo di tangannya tengah duduk santai di antara dua graffiti berbentuk lettering. Kali ini, Katun (MLY), Haser (NZ), dan TUTS mencoba merepresentasikan apa yang dinamakan dengan street culture yang biasanya diidentikan dengan budaya graffiti dan budaya musik hip-hop yang kerap ditampilkan dengan topi bisbol dan kebiasaan rapping di jalanan sembari menenteng tape combo.

Dua bagian itu merupakan beberapa spot yang dijadikan area menggambar dalam gelaran Street Dealin Festival #9 yang digagas oleh Gardu House, Jakarta. Menjadi salah satu program Jakarta Biennale 2015, Street Dealin Festival kali ini diakui sebagai acara street art terbesar yang pernah digarap oleh Gardu House. “Dari Street Dealin #1 sampai #8 kita biasa di satu spot, di Jalan Veteran Bintaro. Dan biasanya cuma diisi oleh 1-3 bomber saja,” ujar Direktur Street Dealin, Bima Chris, dalam konferensi pers yang digelar sebelum acara dimulai.

Jika biasanya hanya mengundang 1-3 seniman, kali ini sebanyak 27 seniman graffiti turut berpartisipasi dalam agenda Street Dealin #9. Street Dealin kali ini pun turut mengundang seniman graffiti dari beberapa negara tetangga seperti Eggfiasco (Filipina), Haser (Selandia Baru), Katun, Kenjichai, Pakey One (Malaysia), Slap Satu (Singapura), dan Very1 (Jepang). Selebihnya adalah nama-nama yang mungkin sudah tidak asing lagi di kalangan para bomber seperti TUTS, Darbotz, Wormo, Stereoflow, LoveHateLove, Dinas Artistik Kota, Abang8, Adr1, Berandal Aspaleho, Ais Kerim, F21st, Ghost, Jong Merdeka, Hard13, Kimoz, Noah, Older+, Rubs8, Sleeck, dan Sleepyone.

Street Dealin sendiri merupakan gelaran rutin yang digelar sebanyak dua kali dalam setiap tahunnya bagi para pelaku dan pecinta street art. Mengusung tema ‘street culture’, Bima dan kawan-kawan ingin menjadikan Street Dealin sebagai selebrasi street culture itu sendiri. Sekaligus, untuk menampik pandangan-pandangan negatif yang sering terlontar pada budaya skena jalanan. “Skena jalanan biasanya paradigmanya jelek. Ini kita mau menunjukkan bahwa skena jalanan juga ada yang positifnya,” jelas Bima.

Tak bisa ditampik memang, bahwa hingga saat ini pandangan sebelah mata masyarakat yang memandang kegiatan street art sebagai aksi vandalisme masih saja hadir. Padahal, tema-tema street art yang cenderung subversif mengingatkan masyarakat pada realita sekaligus menciptakan kesadaran terhadap hal-hal apa saja yang terjadi di sekitarnya.

Realita mengenai supir bus yang seringkali membawa kendaraan dengan gaya koboi pun menjadi salah satu suguhan beberapa street artist yang berkolaborasi kala itu. Abang8, Stereoflow, Wormo, Ais Kerim, dan Very 1 (JPN) menyulap sebuah bus jurusan Cililitan – Pasar Baru yang kusam menjadi lebih bersemangat dengan berbagai bentuk lettering di sekeliling badan bus. Belum lagi gambar dua mata berukuran besar di bagian depan bus. Seolah-olah menyuruh para pengendara bus untuk lebih awas dalam berkendaraan.

Begitulah. Bagi Bima, para street artist akan menangkap gejolak di masyarakat dengan merespon ruang-ruang publik. Tanpa sadar sebenarnya apa yang ditampilkan para street artist adalah suara-suara masyarakat yang seringkali mendapat perhatian sambil lalu. Sebut saja bahwa street art melucutkan keterbatasan dan mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam wujud rupa. Maka demikian, Bima kembali menegaskan bahwa apa yang disebut dengan street culture bukan selalu hal yang bersifat negatif.

Street culture sendiri merupakan subkultur yang tumbuh di dalam kultur urban masyarakat perkotaan. Dalam Urban Dictionary dikatakan bahwa street culture merupakan gaya popular dari masyarakat perkotaan yang menjadikan jalanan sebagai ruang bersama. Yang kemudian menyerap ide-ide kreatif yang muncul dari jalanan, yang popular disebut street art. Esensi street art sendiri, dikatakan Bima, terletak pada kejelian para street artist dalam menindak dan menyiasati ruang sebagai medium gambarnya.

Di Indonesia sendiri sebenarnya sejak masa perang kemerdekaan, street art dalam bentuk graffiti bisa menjadi alat propaganda yang efektif dalam menggelorakan semangat melawan penjajah Belanda. Misalnya saja, pelukis Affandi yang menuliskan “Boeng Ajo Boeng!” di tembok-tembok jalanan sebagai sebuah slogan yang dibuatnya sendiri.

Sementara secara modern, street art di Indonesia mulai digandrungi pada awal tahun 2000. Hingga sekarang, perkembangan street art di Indonesia begitu masif dan sporadis. Berbeda dengan dulu dimana pelaku street art hanya berada di dalam kalangan mahasiswa di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Kini, cakupan pelaku street art semakin panjang secara geografis dan merata. Mulai daari kota besar sampai kota kecil di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan Bali yang semakin banyak memunculkan bomber-bomber baru.

Dalam kurun waktu kurang lebih 15 tahun, street art di Indonesia telah berevolusi menjadi sebuah kultur yang lengkap dengan segala atribut bawaannya. Sebuah kultur yang berhasil menciptakan salah satu skena street art terbesar di Asia. “Ini adalah pencapaian yang layak dirayakan oleh para pelakunya,” kata Bima. Dan saat ini saja, Indonesia sudah menjadi salah satu tujuan berlibur kebanyakan street artist mancanegara.

Tutu a.k.a TUTS, salah seorang street artist dalam Street Dealin #9 mengakui bahwa street art di Indonesia sangat berkembang pesat. “Luar biasa!” katanya. Salah satu penyebabnya adalah era digital yang menghadirkan berbagai macam media sosial yang pada akhirnya membantu para street artist mempublikasikan karya-karyanya. Berbeda dengan awal tahun 2000, ketika media sosial belum terlalu marak. “Kalau dulu sekali gambar, gak lama dari situ udah dihilangin Satpol PP. Enggak sempat dipublikasikan,” tambahnya sedikit mengenang.

Dari segi teknik dan ide pun, Tutu merasa bahwa karya-karya street artist Indonesia sudah tak berbeda jauh dengan karya-karya street artist mancanegara. “Enggak beda jauh kok. Kita sudah cukup liar,” ujarnya. Meskipun begitu, ia mengakui bahwa masih adanya karya-karya street artist Indonesia yang masih terlihat emosional. Tapi dari segi teknik, ia merasa Indonesia mampu menyaingi street artist mancanegara. Terbukti dengan TUTS sendiri yang seringkali hadir dengan gaya 3D dalam setiap karyanya. Selain itu, menurutnya pun banyak street artist Indonesia yang diundang untuk berpartisipasi dalam gelaran-gelaran street art di luar negeri. “Bahkan ada juga yang diminta menggambar untuk komersil,” tambahnya.

Doing graffiti is like vacation! Begitu Tutu berkata. Baginya, menggambar adalah terapi untuk merilekskan tubuh. Oleh karena itu juga, biasanya para street artist jarang mengkonsepkan terlebih dahulu apa yang akan digambarnya. Semuanya dilakukan secara spontan dan bersama-sama.

“Kalau mau dibilang seni, justru itu sisi seru seninya. Kita gambar bareng. Gambar apapun yang kita pikirkan masing-masing. Lalu pas selesai kita lihat, enggak tahunya hasil begini. Itu surprise! Itu chemistry! Karena bagaimanapun street art itu dimulai dari jalan dan dilakukan oleh orang yang berbeda-beda. Bagi kami, jalanan itu seperti medium untuk melahirkan ide,” ujar Tutu.


Mungkin gambar-gambar di dinding itu terkadang akan terasa mengganggu pemandangan, atau terkadang akan terasa menarik untuk dilihat dan dikagumi, pun terkadang bisa hanya untuk dipandang sejenak dan dilewati begitu saja. Terlepas dari apapun impresi yang dirasakan, street art tanpa disadari telah menjadi bagian pengalaman visual sehari-hari masyarakat memberikan gambaran realita masyarakat itu sendiri. Meskipun itu hanya sebatas coretan pensil bertuliskan “Aci Was Here”. 

Oct 14, 2015

SENLIMA : Batas Yang Tanpa Batas


Dok. Salihara



Bagaimana rasanya jika dunia hadir tanpa batas? Tanpa harus adanya garis-garis yang mengkotak-kontakan masyarakat dari berbagai pandangan yang telah disepakati bersama. Seperti kehidupan seorang kakek tua dan seekor burung di dalam kotak. Ah Senlima...........

-------------------- 

Seorang wanita hilir mudik ke kanan dan ke kiri. Membawa sebuah kotak dengan penuh kehati-hatian. Disusul dengan empat kawannya yang muncul sembari berteriak “Senlima.. Senlima..” secara bergantian. Maka, tampaknya isi dalam kotak itu. Seorang pria tua yang kemudian diikuti seekor burung.


Empat manusia itu tampaknya penasaran. Tak henti-henti mereka mencoba memanggil si pria tua dan si burung di dalam kotak. Seolah mengajak bermain bersama. Sekali ketuk, lantas si burung langsung menjawab : “Kukuk..”. Dan begitu seterusnya. Hingga keluarlah si burung dari dalam kotak, lalu terbang berkeliling. Bukannya menikmati alam bebas, si burung malah masuk kembali ke dalam sangkarnya. 

Secuil adegan itu menjadi pembuka pertunjukan "SENLIMA", sebuah pertunjukan teater boneka yang digelar di Teater Salihara, Jakarta, Minggu, 4 Oktober lalu. Pertunjukan ini merupakan kolaborasi antara Teater Papermoon Puppet (Indonesia) dan Kelompok Teater Boneka Retrofuturisten (Jerman), dimana Ghoethe Institute menjadi 'mak comblang' nya. 

Sementara itu, boneka pria tua yang sebelumnya berada di dalam kotak memilih narasi yang berbeda dengan narasi yang dirasakan burung. Si pria tua diceritakan memiliki masa lalu kelam yang membuatnya harus berhadapan dengan stigma masyarakat. Pun yang pada akhirnya mengharuskannya untuk hidup di dalam sebuah ‘kotak’. Senlima, seolah menjadi sebuah harapnya.

Dalam perjalanannya keluar dari kotak tersebut, si pria tua dan si burung bertemu dengan sepasang mata besar yang dengan pongahnya berkedip-kedip tajam. Seolah berkata : “Saya ada dimana-mana”. Menjadi mata-mata dengan kekuatannya yang begitu digdaya, yang kemudian disebut sutradara pertunjukan SENLIMA, Maria Tri Sulistyani (Teater Papermoon Puppet) dan Roscha A Saldom (Retrofuturisten) sebagai “the big power”.

SENLIMA sendiri merupakan bahasa Esperanto, bahasa yang sebelumnya dicita-citakan sebagai bahasa universal. Artinya, tanpa batas. Mencoba menceritakan batas-batas yang kerap terjadi dalam kehidupan manusia, SENLIMA menjadikan simbol sepasang mata besar sebagai kekuatan yang maha digdaya sebagai si pembuat batas-batas tersebut. Sementara kotak dalam pertunjukan SENLIMA, dihadirkan sebagai metafor dari batas-batas yang dibuat oleh manusia.

Proyek ini, dikatakan Ria, melibatkan perjalanan tanpa batas. Berawal dari kegelisahannya terhadap orang-orang yang pada akhirnya harus mendapatkan stigmatisasi dari masyarakat umum. Bagaimana begitu kuatnya Tembok Berlin yang memisahkan antara Jerman Barat dan Jerman Timur. Atau begitu kuatnya sejarah pada peristiwa tragedi 1965 silam yang pada akhirnya menjadikan status ‘eks tapol’ sebagai sebuah momok masyarakat.

Namun, batas-batas yang diusulkan oleh SENLIMA bukan berarti merujuk pada satu peristiwa. “Tidak ada satu pun peristiwa yang membuat kami bikin cerita ini,” ujarnya. Ini adalah murni cerita tentang perjalanan tanpa batas secara universal. Namun memang secara diam-diam, baik Ria maupun Roscha mencoba menceritakan sejarah-sejarah negara masing-masing yang nyatanya memiliki kesamaan sejarah. “Kami merasa sama. Yakni adanya stigmatisasi kuat yang akhirnya membangun kotak-kotak batas bagi masyarakat di negara kami masing-masing,” papar Ria.

Meskipun begitu, diakui Ria, bahwa salah satu hal yang ingin diungkapkannya dengan pementasan SENLIMA ini adalah perkara batas dalam pertunjukan teater boneka itu sendiri. Bentuk teater yang dilakoni oleh Papermoon Puppet dan Retrofuturisten. “Umumnya kan teater boneka orangnya enggak dimunculin. Tapi di sini kita munculin para aktornya. Bahkan si pemain punya peran sendiri,” ujarnya.


Dipublikasikan di Majalah GATRA 8-14 Oktober 2015

Oct 9, 2015

125.660 Spesimen Sejarah Alam : Kacamata 'Kekinian' Untuk Wallace


Dok. Salihara
Dua baju putih itu dipajang berdampingan. Yang satu bermotif aneka flora khas Indonesia dan kupu-kupu berbagai warna dari material kayu. Cantik, tak terganggu. Baju lainnya tampak serupa, padahal berbeda. Mengetengahkan rupa beberapa pulau besar di Indonesia secara acak dan menjadi tempat hinggap kupu-kupu -yang kali ini dibuat dengan teknologi cetak digital. Itulah sepasang baju yang membawa pesan perbedaan kondisi keanekaragaman hayati di Indonesia; antara masa lampau dan saat ini. 

Lewat karya berjudul Svara Nusantara itu, perupa Intan Prisanti mencoba menginterpretasikan perjalanan Alfred Russel Wallace di Nusantara dahulu melalui fakta yang terjadi hari ini. Sejumlah catatan yang dibuat Wallace di masa lalu menyajikan gambaran tentang aneka ragam kupu-kupu berupa cantik, mengisi alam Indonesia. Namun kini, mudah kita temui catatan berkurangnya populasi kupu-kupu seiring dengan menyusutnya kawasan hutan di Indonesia. 

Alfred Russel Wallace (1823-1913) adalah naturalis Inggris yang menginspirasi Charles Darwin dalam menyempurnakan teori evolusinya, yang berkaitan dengan gagasan seleksi alam. Makalah-makalah Wallace yang ''mencerahkan'' Darwin itu ditulis dalam kurun eksplorasinya di bumi Nusantara selama delapan tahun (1854-1862). 

Wallace menjelajahi Nusantara, mendokumentasikan keanekaragaman hayatinya, dan mengumpulkan koleksi spesimen-spesimennya. Wallace mengklaim telah menemukan 125.660 spesimen untuk menopang pendapatnya tentang Nusantara sebagai megabiodiversity

Dalam makalahnya yang berjudul ''On the Zoological Geography of the Malay Archipelago'', yang diterbitkan dalam jurnal Linnean Society, Wallace menuliskan pengamatannya mengenai keragaman dan penyebaran satwa, serta tumbuhan untuk mengidentifikasi dua wilayah biogeografi yang berbeda: barat dan timur. Dua wilayah ini rupanya terpisah oleh batas alam yang tegas. 

Perbedaan itu relevan dengan tarikan garis hipotetik yang ''mengiris'' peta Indonesia dari ujung utara (mulai Selat Makassar yang terletak antara Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi) hingga ujung selatan (Selat Lombok yang memisahkan Pulau Bali dan Pulau Lombok). Delapan tahun setelah makalah itu dipublikasikan, Thomas H. Huxley, ahli anatomi, menyebut garis imajiner itu sebagai "Garis Wallace" atau "Wallace's Line".
Lebih 150 tahun setelah perjalanan besar Wallace itu, ada garis faktual yang tegas membedakan kondisi keanekaragaman hayati Indonesia; eksistensi dan kepunahan. Berangkat dari kondisi kepunahan sebagai situasi kontemporer itu, Intan dan 25 perupa lainnya menggarap karya-karya seni rupa untuk dipajang dalam pameran bertajuk "125.660 Spesimen Sejarah Alam'' di Galeri Salihara, Jakarta, 15 Agustus-15 September 2015 lalu.
Secara eksplisit, duo kurator pameran ini, Etienne Turpin dan Anna-Sophie Springer, menempatkan spesimen-spesimen temuan Wallace sebagai narasi protagonis. Ratusan spesimen koleksi Pusat Biologi-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ikut mewarnai ruang pamer. Dari berbagai spesimen burung, capung, kupu-kupu, kumbang, sampai binatang mamalia seperti orangutan dan harimau sumatera. 

Selain itu, dinding ruang pamer Galeri Salihara pun ditempeli oleh foto-foto jepretan Fred Langford Edwards. Foto-foto itu adalah hasil proyek panjang Edwards dalam memetakan dan mendokumentasikan spesimen asli penemuan Wallace dalam koleksi zoologi Inggris. Di antaranya terdapat koleksi milik Natural History Museum of London and Tring, Cambridge University Museum of Zoology, World Museum Liverpool, juga Linnean Society of London yang menyimpan buku catatan asli Wallace. 

Para seniman dibebaskan untuk mempersempit fokusnya terhadap perubahan penggunaan lahan alam saat ini dengan menggunakan deskripsi mendetail milik Wallace. Contohnya, Ari Bayuaji, lewat karyanya berjudul Paradise Almost Lost yang menyajikan gambaran alam masa kini dalam empat buah foto. 

Termasuk sebuah foto yang menipu seperti fatamorgana. Yang dari jauh terlihat seperti gambaran burung-burung cantik bertengger di antara rerantingan pohon. Ternyata, dari dekat itu adalah gambaran plastik-plastik bekas berbagai warna yang tersangkut di pepohonan. Sebuah karya yang satir. 

Secara teknis, pameran ini menyandingkan karya seni dengan materi arsip. Di antara pesan yang hendak diikemukakan melalui persandingan itu adalah mempertanyakan pergerakan pengetahuan dalam mentransformasi lingkungan melalui praktek kolonialisme dan problem-problem kontemporer. 

Perupa Andreas Siagian, misalnya, mencoba menuturkan kisah kepunahan dua sub-spesies, harimau jawa (Panthera tigris Sondaica) dan harimau bali (Panthera tigris balica), yang dinyatakan telah punah pada pertengahan abad ke-20. Serta, sub-spesies harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang kini terancam punah. 

Lewat karya berjudul Loreng: Kisah dari Jejak Citra Harimau Indonesia, Andreas menghadirkan penelusuran dokumentasi visual dari masa lampau yang merekam tahap-tahap kepunahan harimau di Indonesia. Sebagian besar isinya menggambarkan kekejaman praktek kolonial terhadap harimau-harimau di Indonesia. Seperti gambaran seekor harimau sumatera yang diikat dengan keras di depan kap mobil para meneer.
Konon, pada awal 1900-an, harimau dianggap sebagai ''hama'' karena populasinya yang dinilai sangat tinggi. Maka, para meneer dari perusahaan-perusahaan asing di Indonesia kala itu, menyewa para pemburu untuk menangkap harimau-harimau yang berkeliaran supaya terlindungi area lahan miliknya. 

Turpin menyebutkan bahwa pada awalnya kehancuran keanekaragaman hayati di Indonesia, mau tidak mau, berkaitan erat dengan praktek kolonialisme. Seperti rekaman foto seekor harimau jawa yang digantung terbalik layaknya kambing guling, yang di sekelilingnya tampak mereka --kaum kulit putih-- berdiri santai namun pongah.
Meski demikian, strategi penyajian pameran ini pada satu sudut pandang tertentu membuat aspek seninya tenggelam dalam pernyataan-pernyataan ilmiahnya. Sophie menyebut proyek pamerannya ini sebagai skenario ''seni/ilmiah''. Caranya, dengan menempatkan karya seni dan ilmu eksak dalam satu ruangan. Menurutnya, strategi itu akan membuka kesempatan yang menakjubkan kepada publik untuk mengetahui cara medium pameran dijadikan sebagai wadah penelitian. 

"Pameran yang memorable adalah pameran yang membuat kita kesulitan memahami apa yang sebenarnya kita lihat," kata Sophie. 


Feb 11, 2009

BUDAYA POP SEBAGAI SEBUAH CANDU


saat MTV telah menjadi gaya hidup, McD menjadi sasaran setiap orang kalau lapar, sale-sale di mall-mall yang menjadi incaran orang-orang semata-mata untuk menyenangkan batinnya. suatu waktu dimana pasar tradisional dilupakan, warung-warung pinggir jalan dibuang begitu saja. itulah saat gaya hdup menjadi segalanya. saat ini masyarakat modern sangat erat dengan yang namanya budaya populer atau biasa disebut pop culture. budaya yang lekat dengan hedonisme, budaya dimana sebuah citra lebih pentng dari segala-galanya.
bisa kita lihat sendiri, saat ibu-ibu arisan berlomba-lomba memamer-mamerkan emas ataupun kosmetik-kosmetik import, atau juga tas kulit keluaran paris dan sebagainya. dimana para anak muda yang mau menghabiskan uangnya demi membeli obat pemutih dari dokter, atau mereka juga yang rela mengeluarkan uang banyak untuk membeli baju-baju yang sedang 'ngetren' saat ini. kenapa itu semua bisa terjadi? jawabannya hanya satu, yaitu karena budaya populer yang semakin lama semakin melekat pada diri kita. menuntut setiap orang untuk bergaya atau berusaha semaksimal mungkin untuk menghasilkan citra yang sangat bagus untuk dirinya. dengan sebutan seorang yang cantik, fashionable, atau lain sebagainya. kehidupan yang WAH dan hura-hura sangat identik dengan gaya hidup POP tersebut.
dan pada saat itu juga sebuah moralitas patut dipertanyakan. saat setiap orang di kalangan atas yang sedang asik-asik mempercantik dandanannya demi memperkuat eksistensi mereka depan orang-orang banyak, tapi di sisi lain juga banyak orang-orang yang berteriak kelaparan.
sampai pada akhrnya, budaya pop ini menjadi sebuah ecstasy bagi orang-orang modern yang rela melakukan apapun demi eksistansi dirinya dan menjadi sebuah candu..

Feb 5, 2009

INTELEGENCE DANCE MUSIC (IDM)


Jika kamu tertarik dengan musik elektronik tetapi tidak nyaman dengan crowd-nya, atau bosan dengan tipikalitas musik elektronik, cobalah mulai berkenalan dengan salah satu sub genre musik elektronik yang dinamai Intelegence Dance Music, disingkat IDM. Suatu jenis musik yang banyak terpengaruh beragam jenis musik lainnya, mulai dari tipikal musik elektronik seperti ambient, drm ‘n bass, dan jungle, hingga gaya musik diluar elektronik seperti jazz, hip hop, R’nB, bahkan musik orkestra. Yang membedakan IDM dengan musik elektronik lainnya pada dasarnya adalah IDM merupakan sejenis musik elektronik eksperimental dimana audio process dan sequencing-nya tidak dilakukan secara konvensional.

Genre musik yang lahir pada tahun 1993 ini diisi juga dengan karakter sound yang dicirikan seperti adanya bunyi-bunyi CD yang skip dan gemericik. Hal lain yang membedakan IDM dengan musik elektronik lainnya adalah, tidak seperti musik elektronik lainnya, dalam musik IDM kamu akan jarang menemui artis seperti di rave party. Mereka biasa tampil dengan laptop dan midi controller. Di Amerika terdapat festival khsusus, yaitu festival MUTEK.

Walaupun ada kata ‘dance’, tetapi musik ini pada umumnya sangat tidak dancefloor. Kata ‘dance’ dalam singkatan IDM sebenarnya hanya karena pembuatan musiknya yang sama dengan pembuatan musik dance pada umumnya.



Pelopor musik IDM sendiri diantaranya adalah Autechre, Aphex Twin, Squarepusher, dan beberapa musisi lainnya yang berawal dari forum atau pada bulan Agustus 1993, dimana pada saat itu mereka sedang mendiskusikan musik Richard D. James (Aphex Twin) dan Rephlex Records. Dari forum tersebut pula, lahirlah nama IDM. Setelah tahun 200-an, musik ini kian berkembang dan ada yang perkembangannya signifikan.

Perkembangan yang signifikan tersebut ditandai dengan hadirnya records label dan musisi yang mengusung IDM, seperti Boards of Canada, Telefon Tel Aviv, dan lainnya. Dan records label seperti Skan Records, Merck Records, dan Hefty Records. Di Asia sendiri ada Cyndi Seui artis dari Smallroom Records Thailand yang mengusung musik IDM juga. Dan di Indonesia sendiri, musik IDM cukup berkembang

Dec 31, 2008

BHP - BAU HASEUM (ASAM) PENDIDIKAN


Menanggapi suatu program TV di salah satu stasiun TV swasta Indonesia yang kebetulan saat itu sedang membahas tentang BHP (Badan Hukum Pendidikan). Entah itu memang Badan Hukum Pendidikan atau juga mungkin Bau Haseum (asam) Pendidikan. Yah saya juga tidak tahu..
Memang sering kita lihat sekarang, banyak mahasiswa khususnya di Jakarta yang ramai-ramai berdemo mengatakan bahwa mereka tidak setuju atas diadakannya undang-undang BHP. Sementara pemerintah tetap bersih keras pada apa yang telah mereka putuskan bersama. Dalam acara itu diterangkan bahwa dalam BHP sendiri dituliskan bahwa akan diadakannya “privatisasi pendidikan” yang dimana artinya mungkin penyempitan lahan-lahan pendidikan dan mungkin juga membuat biaya pendidikan semakin mahal, karena hanya orang-orang tertentu saja yang bisa merasakan yang namanya pendidikan. Tapi kenapa harus begitu? Bukannya seharusnya itu pemerintah bertanggung jawab penuh terhadap pendidikan? Tapi kenapa dalam BHP ini menurut yang saya dengan si pendidikan malah dipegang oleh industri-industri pendidikan yang bisa dibilang swasta, bukan lagi milik pemerintah. Dan dengan adanya privatisasi pendidikan menurut Ketua BEM UI, berarti dengan dikuranginya sekolah-sekolah di Indonesia. Lalu mau sekolah dimana kita warga Indonesia yang jelas-jelas penduduknya sangat banyak? Dan saya yakin, mereka juga pasti ingin mendapatkan pendidikan.
Dalam acara itu juga ada seorang narasumber yang saya nggak tahu itu siapa, yang jelas pada saat sedang membicarakan biaya kuliah yang semakin mahal, dia berkata bahwa biaya yang mahal itu untuk pembangunan kampus. Sekarang bisa kita lihat sendir buktinya, dari mulai angkatan 2008 ini, biaya kuliah yang dibayar oleh seorang calon mahasiswa itu langsung masuk ke tangan pemerintah, dan sedikt info, untuk mengambl uang itu saja kita dikenai pajak sebesar 21%. Contohnya, waktu pelaksanaan ospek di kampus saya, ketika kami ingin mengambil uang yang dibayar para calon mahasiswa yang memang diberikan untuk biaya ospek, itupun dipotong sebesar 21%. Dan ketika kami meminta dana untuk kemahasiswaan saja, susahnyaaaaa minta ampun. Ditambah perkataan si narasumber itu tentang biaya mahal untuk pembangunan kampus. HEY HEY HEY!!!! Dari angkatan di bawah saya, untuk masuk ke kampus saya saja harus mengaluarkan 25juta, dan kampus saya mungkin hanya bisa dibilang sepert posyandu. Ruangan kuliah cuma ada 6, dan tidak ada fasilitas kampus sama sekali. Jadi pertanyaannya apakah benar biaya besar itu untuk pembangunan kampus, HAH??
Yang lucunya lagi, pada saat si ketua BEM UI menyatakan kalau ia menemukan dokumen yang menyatakan bahwa si BHP itu juga termasuk salah satu program dari pihak asing. Saya tidak tau bagaimana-bagaimananya, pokoknya itu berhubungan dengan utang-utang Indonesia ke pihak asing. WOW!!!!
Bagaimana Negara kita mau maju kalau terus bergantung pada pihak asing? Bagaimana kita bisa pintar kalau mengurus pendidikan saja berhubungan dengan pihak asing?
Ternyata benar kata peramal yang tadi ada di salah satu program gossip tadi siang, Indonesia itu lahir di tahun kerbau, bershio kerbau, yang artinya bodoh. Ya! Orang Indonesia memang bodoh karena mau mau aja di bodoh-bodohi oleh pemerintahnya yang bodoh!

Jul 21, 2008

WARIA JUGA MANUSIA


Saat ini dimana-mana dengan mudahnya kita menemukan waria. Khususnya di Kota Bandung. Setiap sudut Kota Bandung dipenuhi oleh waria-waria yang sedang beraktivitas. Ada yang mengamen di siang harinya, atau ada yang menjadi pekerja seks komersial di malah harinya. Pada umunya pandangan orang terhadap waria itu menggambarkan sesuatu yang negatif. Tapi apa semuanya negatif?

Waria sangat erat dengan dandanannya yang seronok dan menor. Baju-bajunya yang terbuka, layaknya wanita-wanita malam. Waria adalah lelaki, lelaki yang berdandan seperti wanita. Apa sebabnya mereka seperti itu? Selain karena hal biologi yang entahlah apa itu, sifat ini muncul karena pengaruh lingkungan terdekat. Atau mungkin memang sudah dari sananya seperti itu. Seperti yang diceritakan oleh Mbak Hani, ketua IWABA (Ikatan Waria Bandung), “Saya itu dari SD emang sudah tertarik sama laki-laki. Terus pas SMP saya nyoba-nyoba aja dandan, eh keterusan..”. Lingkungan bisa sangat mempengaruhi pertumbuhan seseorang. Lingkungan yang kurang baik bisa membuat seseorang menjadi buruk. Semua ini terjadi karena proses sosial, dan proses pembentukan jati diri.

Dan seperti yang kita tahu, waria kebanyakan dipandang negatif oleh khalayak. Tapi sebenarnya, waria tidak seburuk yang mereka kira. Ada yang bilang waria itu jahat. Padahal kalau kita mendekatinya dengan baik-baik, mereka juga akan berlaku baik pada kita. Seperti waktu saya menemui seorang waria yang biasa mengamen di bawah jembatan Pasupati, Mbak Ega. Dia menyambut saya dengan ramah. Awalnya saya memang takut, tapi lama kelamaan, saya merasa enak berbincang-bincang dengannya. Banyak sekali pengalaman-pengalaman mereka dalam kehidupan. Dan hal tersebutlah yang patut kita banggakan dari seorang waria.

Mereka tetap bertahan dengan keanehan mereka. Banyak orang mencemooh mereka, tetapi mereka terus bertahan. Waria bukanlah makhluk-makhluk hina. Walaupun tingkah laku mereka bisa dibilang menyimpang dari agama, tapi pada kenyataannya mereka tetap beragama. Ada suatu komunitas waria di Jakarta, yang rutin mengadakan pengajian. Dari situ juga kita bisa lihat, bahwa mereka tetap menjalankan kewajibannya sebagai orang yang beragama. Selain itu, solidaritas antar waria itu sangat tinggi. Dalam IWABA misalnya, kalau ada salah seorang waria yang sakit, waria-waria yang lain akan mengumpulkan uang untuk membantu si waria yang sedang sakit itu. Waria juga suka bersosial. Contohnya, salah satu waria di Kota Yogyakarta, dia sudah mempunyai beberapa anak asuh. Dan ketiga hal itu cukup mebuktikan kalau waria itu tidak selalu buruk.

Mungkin mereka memiliki alasan-alasan tersendiri mengapa mereka memilih menjadi waria. Ada beberapa diantara mereka yang karena memang untuk mencukupi kebutuhan hidup. Dan juga karena ada yang memang karena mereka nyaman dengan wujud dan kehidupannya yang seperti itu. Yang namanya nyaman memang susah diubah. Kita juga sama, kalau sudah merasa nyaman dengan sesuatu hal, kita juga pasti akan memilih hal tersebut.

Tapi sayangnya, perlakuan dari masyarakat masihlah memandang waria sebagai sesuatu yang buruk. Banyak dari mereka yang mencemooh waria. Seperti yang dikatakan Project Pop “Jangan Ganggu Banci!”. Kalau kita tidak mengganggunya, saya yakin mereka juga tidak akan macam-macam kepada kita. Seperti kata pepatah “Don’t judge a book by it’s cover”. Itulah yang seharusnya kita lakukan pada waria. Jangan saja karena waria itu berpenampilan sangat menyimpang lalu kita menganggap mereka juga buruk. Waria juga manusia. Kita sebagai manusia yang diberi kenormalan oleh Tuhan YME, tidak seharusnya mencemooh waria, tetapi mari kita rangkul waria. Mereka juga sama seperti kita, manusia yang memiliki hati dan perasaan.