OPINI

Showing posts with label OPINI. Show all posts
Showing posts with label OPINI. Show all posts

Jun 13, 2014

Kumpulan Diksi dari Si "Gila"




Photo by Dharma Wijayanto

Yayasan Jamrud Biru
Jalan Benda No. 105, Kelurahan Pedurenan, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi


Ssstt.. Jangan berisik. Ada yang datang mendekatiku. Warna merah semu hitam. Ia perlahan menjadi hitam yang ingin menggerayangi tubuhku dengan taring-taringnya yang ranum. Ini menakutkan, membuatku menggigil, ingin marah! Tapi mengapa mereka, orang-orang yang katanya ‘normal’, memandangku seolah jijik? Bak serangan optik yang menembak perasaanku. Matanya seolah bertanduk dan mengisyaratkan cibiran.

Ah, apa lacur. Itulah kami, aku dan kawan-kawanku. Kami, yang belum bisa diterima dengan apa adanya di dunia nyata. Pun tidak sedikit yang membuang kami layaknya sampah yang wajib ‘dibersihkan’. Sebutan ‘gila’ atau yang dalam bahasa ilmiahnya sebagai skizofrenia melekat jelas pada kami dan menjadi momok yang menakutkan bagi siapapun. Bahkan termasuk bagi keluarga kami yang seolah tidak peduli dan lebih memilih untuk menitipkan kami di tempat seperti ini.

Ya, tempat ini. Tempat di mana kami berkumpul dan beristirahat sembari menunggu mukjizat kesembuhan ataupun sekedar menunggu kematian. Dalam ruang berukuran kurang dari 10 x 15 meter inilah kami beserta 40 orang lain saling menatap penuh curiga. Tak jarang muncul kebencian di antara kami. Menjauh dari dunia luar, menjauh, dan terus menjauh hingga kami tak tahu lagi apa artinya kehidupan. Kehidupan yang katanya penuh warna. Jikapun di sini ada tawa, rasanya gelak tawa ini hanya bagaikan permainan orkes dangdut dengan nada-nada minor.

Seorang pria bernama Hartono bak seorang pahlawan bagi kami. Setidaknya, begitu yang aku rasakan. Yayasan Jamrud Biru yang bertempat di Jalan Benda No.105, Kelurahan Pedurenan, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi inilah yang memberi kami tempat tidur, makanan, dan fasilitas-fasilitas selayaknya manusia normal. Dengan begitu, kami tidak perlu berkeliaran di jalan yang penuh debu. Belum lagi sorotan mata menghina dari manusia-manusia pongah di luar sana.

Halusinasi adalah satu-satunya warna yang mengisi hari-hari kami. Panca indera kami menangkap semua yang ada. Yang belum tentu nyata, namun bagi kami itu nyata. Kami yakin, manusia lain belum tentu merasakan apa yang kami rasakan. Mereka bilang kami gila! Tapi tidakkah mereka tahu bahwa kami pun cukup tersiksa dengan ‘kegilaan’ ini? Kegilaan yang kami rasakan seperti cambuk yang terus menerus memecut tubuh kami hingga lunglai.

Mungkin memang hanya seorang Hartono yang mengerti. Ia mengontrak sebidang tanah yang luasnya tidak lebih dari 500 meter persegi dengan harga 25 juta rupiah per tahunnya termasuk biaya makan dan lain-lainnya. Ya! Artinya ia harus rela berbagi dengan kami dan menghadapi titik terekstrim kami yang mungkin saja bisa buat kacau balau. Tapi kami tidak tahu persis, apakah kami membebankan Hartono yang harus membiayai kehidupan kami sehari-harinya.

Zona hitam putih adalah bagian yang mengkungkung diri kami. Kau tahu? Sesungguhnya kami ingin keluar dari zona absurd ini. Tapi apa daya, nyatanya Negara kami yang tercinta ini masuk  ke dalam 25 persen Negara di dunia yang tidak memiliki undang-undang mengenai kesehatan jiwa. Padahal, 2,6 juta penduduk Indonesia dinyatakan mengidap kelainan jiwa.

Lihatlah, bahkan Negara yang  kami cintai pun seolah menutup mata dan telinga, juga mendadak dungu terhadap eksistensi kami. Lantas, ketika kami tetap eksis di tengah-tengah masyarakat, kami dicibir dan tidak sedikit dari kami yang dibuang. Seolah hanya kami lah biang kerok kondisi kegilaan zaman ini. Hih, apatis yang menikmati secangkir kopi hangat di teras rumahnya sembari membaca koar-koar tentang kemanusiaan di surat kabar, tanpa pun menjadikan dirinya seorang manusia yang memanusiakan manusia.

Kami sadar, mengharapkan sebuah Negara tanpa adanya manusia-manusia “gila” seperti kami hanyalah sebuah utopis belaka. Namun, kami hanya mengharap pengakuan atas eksistensi kami di sini atau di tempat-tempat lainnya.

Oh wahai.. Sesungguhnya kami tidak ingin lahir dengan kondisi seperti ini. Adakah alasan yang tepat untuk meminta dilahirkan dalam kondisi seperti ini? Tidak ada. Kami hanya menginginkan belaian manis di pundak kami. Kasih sayang dan kesabaran. Baik itu dari keluarga, maupun lingkungan terluar kami.

Ya, itu harap kami. Menjadi bagian dari kehidupan selayaknya seorang manusia sosial. Keluar dari dunia yang sebatas hitam dan putih, dengan sebuah rangkulan hangat yang mampu membantu kami berdiri. Membangunkan kami dari tidur panjang dan mimpi buruk.

Mungkin ini hanya sekumpulan diksi klasik, tapi ini bukan fiksi. Karena aku dan kawan-kawanku ada di sekeliling kalian, menunggu secercah senyuman dan dukungan.


#nowplaying: God Is An Astronaut - Fragile


Jun 21, 2011

Tiket Masuk Pintu Kemanusiaan


"Hei lihat, ada sebuah pintu di sana, warnanya keemasan. Apa yang ada di baliknya?"

"Sesuatu yang menarik ada di balik pintu itu, nona. Saya jamin, nona tidak akan diperlakukan secara semena-mena di sana."

"Bisakah saya masuk ke sana?"

"Tentu saja bisa, nona. Namun, nona harus membeli tiketnya terlebih dahulu."

"Berapa harga tiketnya?"

"Ah hanya empat koma tujuh milyar saja, nona.."

Jun 3, 2011

Telanjang Itu Tidak Gila, Kawan!


Dia berkata, "Aku malu bertelanjang bulat.."
Eh.. Masihkah ada malu?
Tak perlu malu bila pun telanjang bulat, sayang.

Lihat mereka!
Mereka pun tak bermalu. Mereka bertelanjang di sana.
Ada borok di pahanya. Ribuan belatung sepertinya nikmat di sana. Dadanya bagai dua gunung meletus. Ada lava bernama nanah bergelinciran di sana. Haha! Bahkan penisnya pun terkulai seperti daun busuk tak beraroma.

Mereka.. sebagai yang katanya 'orang bermoral'.
Mereka.. sebagai yang katanya 'orang hebat'
Mereka.. sebagai yang katanya 'kaum intelektual'

Mereka pun berani telanjang bulat. Semua keburukan, orang bisa melihat.
Pamer kelamin dengan bangga.

Jadi.. Telanjang itu tidak gila, kawan!

May 24, 2011

Budaya Bermata Tanda Tanya


Nama saya Budaya,
yang lahir dan mati hari ini.

Nama saya Budaya,
yang menjadi wacana tanpa wacana di surat kabar.

Nama saya Budaya,
yang berbudaya suka-suka dan bergenerasi pongah.

Nama saya Budaya,
yang menjadi boneka di panggung komersil.

Nama saya Budaya,
yang berbudaya pontang-panting mencari sebongkah rupiah.

Nama saya Budaya,
yang terbuai dengan kemerdekaan sesaat.

Nama saya Budaya,
yang di mana ada uang, di situ 'aku budaya'.

Nama saya Budaya,
yang harus dilestarikan dan dibudayakan tanpa masa depan.



Nama saya Budaya,
yang masih bertanya-tanya apa arti nama saya, dan kemana saya akan dibawa.

Nama saya Budaya,
yang masih bermata tanda tanya.

Jun 13, 2010

Jun 6, 2010

The Fake is You



Rekayasa..
Siapa yang tidak suka dengan yang namanya rekayasa? Kalau kamu tidak mengerjakan peer dari guru, kamu bisa saja bilang "Pak, buku peernya ketinggalan di rumah" Atau kalau ternyata uang kuliah habis dipakai jajan, kamu bisa bilang "Maaf pak, orang tua saya belum ngirim nih dari kampung" Hal-hal kecil seperti itu termasuk rekayasa juga bukan? Begitu banyak rekayasa. Dan begitu mudah juga kita membuat rekayasa.

Rekayasa selalu dapat dengan mudah mempengaruhi pikiran orang lain, yah walaupun tidak semuanya terpengaruh juga. Sekarang, coba kita lihat acara-acara di televisi. Apakah menurut kamu, reality show yang sangat bejibun yang menjadi program TV favorit itu memang real? Seperti mencari orang hilang, bertemu dengan pacar pertama, yang kalau saya lihat pasti selalu saja ada masalah dalam proses pencariannya. Kapan sih reality show seperti itu bisa berjalan lancar tanpa ada masalah?

Mungkin untuk reality show seperti ini, kamu bisa menebak rekayasa atau bukan. Tapi coba tebak untuk acara-acara talk show, rekayasa atau bukan? Jawabannya adalah IYA. Contohnya, salah satu talk show yang menghadirkan mahasiswa-mahasiswa. Tadinya saya pikir si mahasiswa yang bertanya itu pintar dan kritisnya bukan main, mengeluarkan pertanyaan pertanyaan yang cukup berat seputar persinetron-politikan Indonesia. Tapi ternyata, sesuai pengalaman saya, sebelum acara dimulai, tim acara sudah memilih mahasiswa mana saja yang bertanya, bahkan pertanyaannya pun ditentukan oleh tim acaranya. Jadi, itu rekayasa juga bukan?

Selain itu, acara-acara pencari bakat, apakah real? Jawabannya TIDAK. Seperti yang diceritakan teman saya yang mengikuti salah satu ajang pencari bakat, dia cerita kalau dia disana disuruh untuk menjadi perempuan dengan karakter yang ceria. Untuk masalah karakter saja harus dibuat skenarionya. Jangan jauh-jauh ke acara reality show atau acara pencari bakat, kita lihat saja kasus markus palsu yang dilakukan oleh salah astu program berita di salah satu TV swasta. See? Bahkan program TV yang katanya formal dan bergengsi pun juga rekayasa. Rekayasa memang selalu mudah mempengaruhi orang yang menontonnya. Rekayasa juga menjadi suatu hal yang menarik, menarik banyak perhatian orang. And I say, hey media, you are FAKE!
Dedicated to all media in Indonesia, our lovely country.. I love ya!

Jan 31, 2010

use your heart, don't use your pride


Bilqis Anindya Passa, seorang bayi mungil dan lucu berusia 17 bulan ini mungkin tidak seberuntung bayi-bayi lainnya. Bayi kelahiran 20 Agustus 2008 tersebut telah mengidap penyakit Atresia Bilier sejak usia seminggu. Atresia Bilier adalah suatu keadaan dimana saluran empedu tidak terbentuk atau tidak berkembang secara normal. Hal ini bisa menyebabkan kerusakan pada hati dan sirosis hati, yang jika tidak segera diobati bisa berakibat fatal. Semakin kesini, kondisi Bilqis semakin memprihatinkan. Dia semakin ringkih, perutnya membuncit, kulitnya menghitam, dan matanya pun semakin berwarna kuning. Menurut dokternya, Bilqis harus segera di operasi, dan biaya operasinya membutuhkan biaya mencapai 1 Milyar.
Karena keterbatasan dana pun, akhirnya keluarga Bilqis berinisiatif untuk membuat semacam kotak sumbangan untuk membantu biaya pengobatan Bilqis. Mungkin hal ini tidak berbeda jauh dengan yang baru saja terjadi belum lama ini. Ketika orang-orang berbondong-bondong mengumpulkan uang untuk membantu Prita Mulyasari berkaitan dengan kasus hukumnya dengan pihak Rumah Sakit Internasional Omni. Pihak keluarga Bilqis pada akhirnya membuat posko-posko “koin untuk Bilqis”, posko-posko tersebut telah tersebar di beberapa kota. Selain itu juga mereka membuat account sendiri di jejaring sosial Facebook dengan nama “Koin Untuk Bilqis”. Account itu dibuat untuk mengetuk pintu hati masyarakat untuk membantu biaya pengobatan Bilqis, disana tersedia nomor rekening dari Ibunda Bilqis dan juga alamat lengkap posko “Koin Cinta Untuk Bilqis” di setiap kota.

Tapi apakah anda tau apa yang terjadi? Mungkin sampai sekarang koin-koin itu memang terkumpul. Menurut informasi yang saya dapat, penggalangan dana yang sudah dimulai sejak 28 Desember 2008 sampai saat ini sudah terkumpul kira-kira sebesar 90 Juta, sementara biaya yang dibutuhkan sebesar 1 Milyar. Betapa ironis apabila kita mengaca pada saat orang-orang mengumpulkan koin untuk Prita. Orang-orang berbondong-bondong mengumpulkan koin untuk membela yang namanya keadilan. Sementara untuk hal yang berkaitan dengan nyawa seseorang, bahkan seorang bayi yang tidak bersalah, mereka kurang peka.
Inikah Indonesia? Dimana orang-orang selalu peka dengan hal-hal yang bersifat populer, hal-hal yang sedang banyak dibicarakan orang dimana-mana. Sementara untuk hal yang agak tersembunyi, bahkan mungkin mereka tidak tahu dan tidak mau tahu. Disaat orang-orang berbondong-bondong mengumpulkan uang untuk yang namanya keadilan, tapi di sisi lain kehidupan ada bayi mungil yang lebih membutuhkan pertolongan karena hal tersebut berkaitan dengan nyawanya.
Untuk apa? Untuk apa mereka mengejar keadilan kalau ada bayi yang lebih membutuhkan pertolongan untuk nyawanya tetapi malah dibiarkan? Untuk menunjukkan kalau mereka berjiwa adil? Untuk menyombongkan diri kalau mereka sangat keren dengan peduli terhadap kasus keadilan?
Mengapa untuk kasus keadilan seperti kasus Prita dana bisa terkumpul dengan cepat, sementara untuk kasus yang berkaitan dengan nyawa seorang bayi yang tak bersalah malah sangat lama? Dimana hati mereka? Sadarkah anda, tatapan Bilqis seolah mengisyaratkan betapa tersiksanya dia dengan penyakitnya. Tidakkah anda bisa melihat, mulut mungilnya seolah-olah berkata ”Tolong aku, aku ingin sembuh”. Lihatlah betapa menggemaskannya dia apabila dia bisa hidup normal seperti bayi-bayi lainnya. Dia tidak harus menangis terus, dia akan bisa tertawa. Dia tidak harus merasa kesakitan terus, dia juga pasti bisa bermain dengan lincahnya layaknya seorang bayi.
Ternyata selain kasus century, kasus Antasari, kasus Prita, ada orang lain yang lebih butuh perhatian masyarakat. Kalau memang ingin mengejar yang namanya keadilan, mana keadilan untuk Bilqis?
Ayolah, sebagai warga Indonesia yang katanya akan selalu mengejar yang namanya keadilan, marilah kita bersama-sama membantu bayi mungil itu. Janganlah kita hanya menyombongkan diri dengan mengejar keadilan bagi kasus-kasus yang sedang naik di televisi-televisi. Gunakan hati kita. Dan untuk Bilqis, trust me. After the rain falls, the sun will come..

May 22, 2009

media sebagai pendidik?


Seperti kita ketahui saat ini sangat banyak bermunculan media massa - media massa yang baru. Entah itu dalam media elektronik, baik televisi ataupun radio. Dalam media cetak juga media online. Dan tiap-tiap media tersebut saling bersaing satu sama lain untuk mendapatkan perhatian dari masyarakat sebanyak-banyaknya.

Tapi sayang, sesuai dengan 4 fungsi media massa yaitu memberi informasi, mendidik, menghibur, dan mempengaruhi, ada satu fungsi yang sedikit terlupakan. Yaitu mendidik, coba kita perhatikan, apakah gosip-gosip itu mendidik? Apakah sinetron-sinetron itu mendidik?

Mungkin masih ada program-program mendidik, seperti program berita contohnya (menurut saya sih berita cukup mendidik). Tapi tetap, frekuensi tayang gosip dan sinetron lebih banyak dibanding program-program berita. Dan sesuai dengan fungsi media untuk mempengaruhi masyarakat yang pada ujungnya akan mempengaruhi tingkah laku tiap individunya, apakah sinetron yang isinya tentang merebut kekayaan atau perselingkuhankah yang bisa mempengaruhi setiap individu? Yah semuanya kembali ke masing-masing individu, dan bagaimana cara mereka memaknainya.

Keadaan yang seperti inilah yang sangat disayangkan. Kemana media-media mainstream dulu yang menampilkan program anak-anak? Kemana program "Dunia Dalam Berita" yang tayang setiap jam 9 malam? Kemana "Si Unyil"?

May 7, 2009

50 JUTA UNTUK SEBATANG



Saya yakin, pasti sudah banyak yang tahu tentang peraturan dilarang merokok di Jakarta. Perda yang setahu saya sudah ditetapkan sejak empat tahun yang lalu. Yang katanya akan digalakkan, tapi selama empat tahun ke belakang tampaknya masih banyak-banyak saja orang-orang berkeliaran yang merokok dimana saja. Dan baru tadi saya melihat di sebuah program berita di salah satu stasiun televisi swasta, yang menayangkan tentang pemerintah yang pada saat ini akan lebih menggiatkan program pelarangan merokok ini di tempat umum.

Yang saya sayangkan kenapa baru sekarang ini lebih digiatkan? Kalau memang hal itu akan digalakkan, kenapa tidak dari dulu saja dari awal-awal pencanangan peraturan ini? Kenapa baru sekarang setelah empat tahun berlalu?

Disini saya bukannya setuju dengan peraturan itu. Sebenarnya saya pribadi kurang setuju terhadap peraturan itu. Mungkin kalau aturannya diganti di tempat belajar, tempat bermain anak, rumah sakit misalnya, ya saya setuju. Tapi kalau sampai di tempat umum, saya pribadi sih kurang setuju.

Apalagi tadi saya lihat, seorang supir angkot yang tiba-tiba ditarik entah dibawa kemana (mungkin ke kantor polisi atau apalah) hanya karena sedang memegang sepuntung rokok. Dan si supir itu dibawa dengan cara paksa. Salah seorang petugas dari pemerintah daerah mengatakan kalau orang yang ketahuan merokok di tempat umum akan dikenakan sangsi denda sebesar 50 juta rupiah, atau sangsi kurungan penjara selama enam bulan. Bisa dibayangkan, bagaimana nasib para supir tadi yang ditarik dengan paksa? Darimana dia mendapatkan uang sebesar 50 juta? Kalau ia dipenjara, lalu bagaimana dia menghidupi keluarganya? Mungkin para supir itu memang salah karena telah merokok di tempat umum. Tapi kalau saya jadi supirnya, saya juga bakal tidak terima, toh selama empat tahun dari diberlakukannya perda merokok itu, saya tidak pernah sampai ketahuan seperti ini, dan hal ini memang baru terjadi sekarang. Jadi kalau memang mau seperti ini, kenapa tidak dari awal toh?

Peraturan sih peraturan pak, bu.. Tapi pakai hati nurani juga dong!Masak cuma gara-gara sebatang rokok harus bayar 50 juta? Yang bener aja.. Harga satu rokok ketengan aja paling 700!

Apr 10, 2009

HAK : narapidana aja bisa milih



"Saya kecewa berat dengan KPU. Saya juga warga Indonesia, ddan setiap warga Indonesia punya hak pilih masing-masing. Saya juga ingin memilih. Tapi kenapa nama saya tidak ada di daftar pemilih? Padahal jelas-jelas saya orang Bandung asli. Say tau saya cacat, terus kenapa? Narapidana aja bisa milih, kenapa saya tidak??"

Itulah kata-kata yang dilontarkan oleh salah seorang tuna netra, Bapak Subur di Yayasan Sosial Wyata Guna Bandung, tepat 9 April kemarin, yang ditemani oleh temannya yang memakai kursi roda. Bapak Subur adalah seorang tunanetra yang tidak mendapatkan hak pilihnya sebagai warga Indonesia di Pemilihan Legislatif (09/04). Dia mengaku sangat kecewa terhadap anggota KPU, yang memang bertugas dalam menjalankan jalannya dan persiapan Pemilihan Legislatif ini. Dan kebetulan pada saat kemarin siang, Bapak Ferry selaku ketua KPUD Jawa Barat datang mengunjungi Pemilihan Legislatif di Wyata Guna. Dan akhirnya terjadilah perbincangan antara Bapak Subur dan temannya dengan Bapak Ferry selaku ketua KPUD Jawa Barat yang langsung dikelilingi oleh teman-teman dari wartawan.

Bapak Subur mengeluh langsung kepada Bapak Ferry atas kekecewaannya di Pemilihan Legislatif ini sehubungan dengan tidak terdaftarnya beliau di daftar pemilih. Dan Bapak Ferry menanggapinya dengan tenang, "Oh iya mungkin itu memang kesalahan dari pihak kami ya, yang memang mungkin kurang teliti dalam menjalankan tugas. Pertama-tama saya minta maaf pada Bapak Subur dan juga kepada yang lain yang juga tidak mendapatkan hal pilihnya. Tapi saya janjikan, untuk pemilihan Presiden nanti, saya pastikan anda pasti terdaftar.", ujar Bapak Ferry. Sayangnya permohonan dari Bapak Ferry itu tidak begitu disambut dengan baik oleh Bapak Subur. "Oh iya, kalau saya masih hidup ya nanti", berikut jawab Bapak Subur yang mungkin memang sudah sangat kecewa pada KPUD.

Menanggapi kejadian di atas, saya jadi berpikir, memang benar kalau narapidana saja bisa memilih, kenapa kita atau Bapak Subur yang jelas-jelas bukan orang yang 'kriminal' tidak bisa memilih. Setiap orang punya hak masing-masing. Dan kita sebagai warga Indonesia pada saat acara Pemilihan Legislatif ini sudah dapat dipastikan mempunyai hak untuk memilih. Memilih apapun, memilih nama caleg, memilih nama partai, mencorat-coret kertas sebesar gajah, atau mungkin mencontreng tandatangan panwaslu seperti yang saya lakukan :D Yang penting kita sebagai warga Indonesia berhak memilih, entah golput atau memang memilih. Tapi sayang, ternyata masih banyak orang di sekitaran kita yang tidak mendapatkan hak pilih tersebut.

Mungkin bagi sebagian orang, memilih itu harus sebagai kewajiban warga Indonesia. Bagi sebagian orang juga mungkin tidak penting karena kebetulan untuk pemilihan sekarang ini memang saya akui sangat ribet. Tapi bagaimana jadinya bagi orang yang menganggap kita harus memilih dan dia tidak mendapatkan hak suara? Bisa dipastikan dia akan sangat kecewa terhadap KPU yang memang bertugas dalam mendata para pemilih.

Hal ini mungkin berhubungan dengan yang namanya Hak. Setiap orang tentunya berhak mendapatkan hak-nya. Sehubungan dengan hal ini, apakah pembagian hak bagi setiap warga Indonesia sudah adil? Jawabannya adalah, BELUM.

Feb 11, 2009

BUDAYA POP SEBAGAI SEBUAH CANDU


saat MTV telah menjadi gaya hidup, McD menjadi sasaran setiap orang kalau lapar, sale-sale di mall-mall yang menjadi incaran orang-orang semata-mata untuk menyenangkan batinnya. suatu waktu dimana pasar tradisional dilupakan, warung-warung pinggir jalan dibuang begitu saja. itulah saat gaya hdup menjadi segalanya. saat ini masyarakat modern sangat erat dengan yang namanya budaya populer atau biasa disebut pop culture. budaya yang lekat dengan hedonisme, budaya dimana sebuah citra lebih pentng dari segala-galanya.
bisa kita lihat sendiri, saat ibu-ibu arisan berlomba-lomba memamer-mamerkan emas ataupun kosmetik-kosmetik import, atau juga tas kulit keluaran paris dan sebagainya. dimana para anak muda yang mau menghabiskan uangnya demi membeli obat pemutih dari dokter, atau mereka juga yang rela mengeluarkan uang banyak untuk membeli baju-baju yang sedang 'ngetren' saat ini. kenapa itu semua bisa terjadi? jawabannya hanya satu, yaitu karena budaya populer yang semakin lama semakin melekat pada diri kita. menuntut setiap orang untuk bergaya atau berusaha semaksimal mungkin untuk menghasilkan citra yang sangat bagus untuk dirinya. dengan sebutan seorang yang cantik, fashionable, atau lain sebagainya. kehidupan yang WAH dan hura-hura sangat identik dengan gaya hidup POP tersebut.
dan pada saat itu juga sebuah moralitas patut dipertanyakan. saat setiap orang di kalangan atas yang sedang asik-asik mempercantik dandanannya demi memperkuat eksistensi mereka depan orang-orang banyak, tapi di sisi lain juga banyak orang-orang yang berteriak kelaparan.
sampai pada akhrnya, budaya pop ini menjadi sebuah ecstasy bagi orang-orang modern yang rela melakukan apapun demi eksistansi dirinya dan menjadi sebuah candu..

Dec 31, 2008

BHP - BAU HASEUM (ASAM) PENDIDIKAN


Menanggapi suatu program TV di salah satu stasiun TV swasta Indonesia yang kebetulan saat itu sedang membahas tentang BHP (Badan Hukum Pendidikan). Entah itu memang Badan Hukum Pendidikan atau juga mungkin Bau Haseum (asam) Pendidikan. Yah saya juga tidak tahu..
Memang sering kita lihat sekarang, banyak mahasiswa khususnya di Jakarta yang ramai-ramai berdemo mengatakan bahwa mereka tidak setuju atas diadakannya undang-undang BHP. Sementara pemerintah tetap bersih keras pada apa yang telah mereka putuskan bersama. Dalam acara itu diterangkan bahwa dalam BHP sendiri dituliskan bahwa akan diadakannya “privatisasi pendidikan” yang dimana artinya mungkin penyempitan lahan-lahan pendidikan dan mungkin juga membuat biaya pendidikan semakin mahal, karena hanya orang-orang tertentu saja yang bisa merasakan yang namanya pendidikan. Tapi kenapa harus begitu? Bukannya seharusnya itu pemerintah bertanggung jawab penuh terhadap pendidikan? Tapi kenapa dalam BHP ini menurut yang saya dengan si pendidikan malah dipegang oleh industri-industri pendidikan yang bisa dibilang swasta, bukan lagi milik pemerintah. Dan dengan adanya privatisasi pendidikan menurut Ketua BEM UI, berarti dengan dikuranginya sekolah-sekolah di Indonesia. Lalu mau sekolah dimana kita warga Indonesia yang jelas-jelas penduduknya sangat banyak? Dan saya yakin, mereka juga pasti ingin mendapatkan pendidikan.
Dalam acara itu juga ada seorang narasumber yang saya nggak tahu itu siapa, yang jelas pada saat sedang membicarakan biaya kuliah yang semakin mahal, dia berkata bahwa biaya yang mahal itu untuk pembangunan kampus. Sekarang bisa kita lihat sendir buktinya, dari mulai angkatan 2008 ini, biaya kuliah yang dibayar oleh seorang calon mahasiswa itu langsung masuk ke tangan pemerintah, dan sedikt info, untuk mengambl uang itu saja kita dikenai pajak sebesar 21%. Contohnya, waktu pelaksanaan ospek di kampus saya, ketika kami ingin mengambil uang yang dibayar para calon mahasiswa yang memang diberikan untuk biaya ospek, itupun dipotong sebesar 21%. Dan ketika kami meminta dana untuk kemahasiswaan saja, susahnyaaaaa minta ampun. Ditambah perkataan si narasumber itu tentang biaya mahal untuk pembangunan kampus. HEY HEY HEY!!!! Dari angkatan di bawah saya, untuk masuk ke kampus saya saja harus mengaluarkan 25juta, dan kampus saya mungkin hanya bisa dibilang sepert posyandu. Ruangan kuliah cuma ada 6, dan tidak ada fasilitas kampus sama sekali. Jadi pertanyaannya apakah benar biaya besar itu untuk pembangunan kampus, HAH??
Yang lucunya lagi, pada saat si ketua BEM UI menyatakan kalau ia menemukan dokumen yang menyatakan bahwa si BHP itu juga termasuk salah satu program dari pihak asing. Saya tidak tau bagaimana-bagaimananya, pokoknya itu berhubungan dengan utang-utang Indonesia ke pihak asing. WOW!!!!
Bagaimana Negara kita mau maju kalau terus bergantung pada pihak asing? Bagaimana kita bisa pintar kalau mengurus pendidikan saja berhubungan dengan pihak asing?
Ternyata benar kata peramal yang tadi ada di salah satu program gossip tadi siang, Indonesia itu lahir di tahun kerbau, bershio kerbau, yang artinya bodoh. Ya! Orang Indonesia memang bodoh karena mau mau aja di bodoh-bodohi oleh pemerintahnya yang bodoh!

Sep 23, 2008

SHOEGAZE?


Satu pertanyaan di otak saya dari dulu, sebenarnya SHOEGAZE itu sebuah aliran atau bukan sih? Banyak orang bilang shoegaze itu sebuah aliran, tapi ada juga yang bilang shoegaze itu hanya sebuah istilah. Lalu apa sebenarnya shoegaze itu?
Yang saya dapat dari teman-teman saya, shoegaze itu berasal dari kata sepatu. Jadi menurut mereka, band-band yang bisa dibilang shoegaze adalah band yang pada saat perform mereka selalu melihat ke bawah ke arah sepatu mereka. Yah itu memang masuk akal, memang banyak yang berkata begitu. Contohnya di Indonesia atau khususnya di Bandung mungkin, THE MILO. Band itu adalah band yang setiap manggung biasanya adem ayem, dan selalu melihat ke arah sepatu mereka. Lagu shoegaze biasanya down beat, banyak orang bilang “bikin ngantuk”. Karena memang lagunya yang sangat pelan sekali, jadi kebanyakan orang bilang “kalau dengerin shoegaze itu ngantuk ah!”. Atau mungkin shoegaze biasa diidentikkan dengan suasa ‘galau’. Yah entahlah apa itu shoegaze, yang saya utarakan diatas hanya selintas-selintas yang saya tahu tentang shoegaze dari perbincangan-perbincangan saya bersama teman saya.
Sementara teman saya yang sangat menyukai shogaze berkata, kalau shoegaze itu benar-benar sebuah aliran. Setelah saya mencari dalam google, yang saya dapat musik shoegaze itu berawal dari musik-musik indie rock, lalu berbuah lagi menjadi shoegaze. Jadi situs tersebut mengatakan bahwa shoegaze memanglah sebuah aliran. Band-band shogaze yang saya tahu seperti mogwai, atau mungkin yang cukup dikenal yaitu my bloody valentine. Lagu-lagu yang mereka bawakan memang cukup membuat mata mengantuk, atau mungkin jenuh. Seperti contohnya mogwai, musik mereka hanyalah musik instrumental yang dilengkapi distorsi-distorsi dan noise-noise pada gitar. Lagu mereka sangatlah pelan, tapi kadang di tengah-tengah lagu ada saatnya mereka membawa adrenalin kita naik, yah kalau dalam emosi mungkin bisa dikatakan sebagai puncak emosi. Judul-judl lagu mereka juga rata-rata bertemakan kesedihan atau ke’galau’an.
Tapi saya juga tahu dari teman saya, dia membaca buku yang berjudulkan “shoegaze”. Disana diterangkan bahwa shoegaze bukanlah sebuah aliran lagu, melainkan hanyalah sebuah istilah. Benar katanya yang shoegaze itu berasal dari kata sepatu. Jadi dalam buku itu diterangkan bahwa shoegaze itu sebuah istilah untuk suasana-suasana gelap, ‘galau’, dan sebagainya. Buku itu menyebutkan untuk aliran sendiri mungkin musik post-rock bisa dikatakan musik shoegaze. Yah yang dibilang musik post rock itu yang seperti mogwai, explotions in the sky, jesu, dan lain-lain.
Jadi sampai sekarang pun saya tidak tahu pasti apa itu shoegaze. Yang bisa saya tangkap mungkin, shoegaze memang sebuah istilah, dan yang masuk dalam kategori shoegaze itu adalah musik-musik beraliran post rock, yang seperti mogwai, explotions in the sky, jesu, dan lain-lain. Maka banyak orang mengatakan kalau mogwai itu shoegaze! Haha itu cuma kesimpulan ngga jelas yang keluar dari otak saya yang mini ini. Kalau ada yang tahu apapun tentang shoegaze, kasih tau saya ya!

MAU PINTAR? HARUS KAYA!


Seiring berkembangnya zaman, untuk masuk ke universitas negeri makin kesini makin aneh saja. Mungkin kita sekarang sudah tau sendiri, setiap universitas negeri di Indonesia sekarang berlomba-lomba mengadakan Ujian Saringan Masuk, yang berbeda dengan SPMB atau mungkin biasa disebut dengan jalur khusus. Apakah itu bagus? Yah mungkin bagus untuk orang yang mampu, tapi tidak bagus untuk orang yang tidak mampu yang ingin berkuliah meneruskan pendidikannya.
Contohnya saja, saya tahu ada seorang mahasiswa yang pada tahun ini berhasil duduk di perguruan tinggi negeri, dengan mengikuti jalus khusus, dan dengan bayaran sebesar Rp 500.000.000,- Hey, bisa dilihat sendiri kan? Sekarang semua orang bisa saja dengan mudahnya duduk di perguruan tinggi favorit hanya dengan mengeluarkan uang beratus-ratus juta rupiah. Mungkin untuk sebagian orang yang mampu itu memang gampang, tapi bagaimana dengan nasib teman-teman yang tidak mampu tapi dia ingin meneruskan kuliahnya duduk di perguruan tinggi negeri?
Saya mendapatkan info dari seorang teman saya yang mengikuti SPMB salah satu perguruan tinggi di Jakarta, bahwa kursi yang disediakan di fakultas yang dia inginkan yang melewati jalus SPMB itu hanya sekitar puluhan orang. Lalu kemana sisanya? Yap, sisanya adalah mereka-mereka orang yang mampu membayar berapapun untuk duduk di perguruan tinggi tersebut.
SunggUh malang nasib teman-teman yang bias dibilang kurang mampu. Mereka harus berjuang mengikuti ujian SPMB yang bisa dibilang sangat susah, dan hanya disediakan sedikit kursi. Apakah pemerintah tidak pernah memikirkan mereka yang kurang mampu? Apakah pemerintah hanya memikirkan uang, uang, dan uang? Saya ridak tahu pasti akan hal itu. Cuma mungkin kita sudah bias menebak sendiri dari apa yang telah terjadi di Indonesia ini.
Kalau menurut logika, dengan uang yang mahal berarti fasilitas di perguruan tinggi tersebut pun harus “mahal” juga. Tapi buktinya yang terjadi, tidak usah jauh-jauh, di kampus saya saja, fasilitas masih tetap seperti itu. Tidak ada yang berubah dan tidak ada yang istimewa. Padahal sejak tahun 2007, mahasiswa yang duduk di kampus saya adalah orang-orang yang mengikuti jalus khusus tersebut, yang pasti mereka membayar cukup mahal untuk bisa duduk di kampus posyandu itu. Saya beruntung dilahirkan terlebih dulu, jadi saya tidak perlu merepotkan orang tua. Tapi apa yang ada di kampus saya itu? Tidak ada satupun fasilitas untuk praktek perkuliahan yang tersedia disana. Bahkan untuk praktek pun, kita harus pergi ke kampus pusat yang berada nun jauh disana. Para pejabat-pejabat kampus hanya bisa berbicara, tidak bisa membuktikan. Entah apa yang terjadi, tapi yang saya dengar memang birokrasi dari pejabat-pejabat yang lebih atas lagi yang memang dipersulit. Saya tidak tahu pasti, tapi setahu saya, uang mahasiswa itu dipegang oleh universitas atau kampus pusat yang nun jauh disana, uang itu tidak dipegang langsung oleh kampus saya.
Saya sebagai mahasiswa hanya mengeluarkan unek-unek saya saja. Saya hanya kasihan pada mereka orang-orang yang bisa dibilang kurang mampu, padahal mereka sangat ingin sekali bisa duduk di perguruan tinggi negeri. Karena biaya perguruan tinggi biasanya lebih murah daripada biaya untuk duduk di perguruan tinggi swasta. Tapi kenyatannya sekarang, negeri dan swasta sama saja, tidak ada bedanya. Bahkan mungkin negeri lebih “gila-gilaan” disbanding swasta.
Saya hanya bisa berharap, tolong pemerintah lebih berpikir lebih jernih lagi. Jangan egois yang dipentingkan, tapi pikirkan juga rakyatnya. Katanya ingin rakyatnya sejahtera, bagaimana bisa sejahtera kalau pemerintahnya saja begini?

Jul 21, 2008

FOTOGRAFI.. trend atau hobi?


FOTOGRAFI.. kalau dalam ilmunya sih artinya melukis dengan cahaya. dulu, fotografi bisa dikatakan sebagai sebuah hobi. tapi apa sekarang fotografi bisa dikatakan sebuah hobi? atau mungkinkah fotografi skr, bisa dikatakan sebagai sebuah lifestyle?
Yah, sekarang dimana-mana kita pasti menemukan orang-orang khususnya anak muda, berjalan-jalan sambil membawa kamera-kamera DSLR. hari gini siapa yg ga punya DSLR? Saya ga punya! haha kebetulan sekali, saya masih memakai kamera Canon T50 tersayang.. yang sangat memerlukan dana kalau mau memotret! Yah tp seperti yang kita tahu juga, sekarang ini semua orang menyukai fotografi. Dari mulai anak SMP, SMA, mahasiswa, sampai orang dewasa pun menyukai fotografi. tapi apakah mereka benar-benar hobi fotografi? atau apakah mereka hanya mengikuti jaman?
yah saya juga ga bisa menjudge gitu aja.. Cuma dari jawaban yang pernah saya denger, ada seorang cewek, yah kira-kira masih SMA lah.. dia bilang "fotografi? mmm cuma ngikutin jaman aja sih.." atau ada juga yang bilang, terdapat suatu komunitas fotografi di satu kota, dan ternyata menurut info yang saya dengar, malah anak-anak dalam komunitas itu ga semuanya jago motret. yah mereka memang memegang SLR..
yah dari situ aja bisa dibilang, kalau sekarang ini fotografi bukanlah hanya sebagai sebuah hobi. atau mungkin untuk saat ini, fotografi bisa dibilang sebagai sebuah lifestyle. yang tentunya diikuti oleh orang banyak.. Itu sih terserah bagaimana kita melihatnya. cuma kalau menurut saya, fotografi untuk saat ini bisa dikatakan sebagai sebuah lifestyle! semua orang berlomba-lomba mengumpulkan banyak jepretan dengan menggunakan DSLR, lalu di edit di photoshop CS, dan dipajanglah..
Yah seperti itulah mungkin kronologisnya. saya juga ga tau pasti sih.. Yah moga-moga aja dari awal yang cuma mengikuti jaman, bisa jadi bener" hobi!

KISAH ANGKOT


Angkutan Kota yang biasa kita sebut dengan angkot. Kendaraan berwarna warni yang bertuliskan nama-nama daerah di suatu kota. Yang sering kali membuat para pengendara mobil pribadi ataupun motor emosi, karena tingkahnya yang sering kali berhenti tiba-tba tanpa memberinya tanda-tanda terlebih dahulu. Sehingga membuat jalanan macet dan yaaah membuat para pengguna jalanan emosi pastinya. Yah itulah ANGKOT..

Dari mulai orang-orang eksklusif, wanita-wanita bergaya hedonis dengan make up setebal batang pohon karet, wanita-wanita karir dengan rok mininya yang selalu membuat orang-orang yang duduk di pinggir jalan ternganga melihat pemandangan yang ada di dalamnya, mahasiswa-mahasiswa berotak dengan kacamata setebal daging gajah, mahasiswi dengan krudung panjang, mahasiswi dengan dandanan tanteu-tanteu, anak-anak muda dengan gaya masa kini, anak-anak SMA atau SMP yang ribut kaya tikus-tikus yang sedang berkelahi dengan kucing, anak-anak SD dengan jajanan-jajanannya yang belum tentu bersih, penjual kue-kue kering, sampai ke orang gila pun bisa kita temui di angkot! Yah orang gila, sesuai pengalaman saya, dua kali seangkot dan duduk di sebelah orang gila.

Cukup menyenangkan, karena kocak melihat aksi-aksinya yang AJAIB.Cukup AJAIB saya melihat orang gila perempuan duduk di depan saya, memakai kaos berwarna abu, rok kotak-kotak berwarna merah, sendal jepit, rambut kemerahan serasa bule, menjinjing kantong kresek hitam yang entahlah apa itu isinya, yah mungkin itu bekal makanannya dari rumah sakit jiwa. Dan sangat kaget sekali ketika melihat dia mengangkat bajunya sambil bergaruk-garuk ke arah dadanya. Oh Tuhan, seronok sekali ya ternyata orang gila itu? Dan tiba-tiba saya menjadi deg-degan ketika orang gila itu memandang saya, dan berbicara “neng, minta seribu neng..”. Daripada saya dapat masalah, yah lebih baik saya kasih dia uang seribu rupiah, dan ujung-ujungnya dia malah mengajak saya berbincang. Dan respon saya hanya mengangguk-anggukkan kepala dan tersenyumm-senyum, padahal entahlah orang gila itu ngomong apa kepada saya. Kira-kira saya sudah bisa menjadi seorang psikologi tidak ya? Saya sudah bisa berkomunikasi dengan orang gila!

Yah banyak sekali hal-hal yang sering membuat kita tertawa-tawa kalau lagi ada di angkot. Ada juga orang di angkot, yang malah asyik sama handphonenya, dengan memainkan games sambil mendengarkan MP3 lagu kencang-kencang. Hey, situ pikir ini mobil volvo milik presiden apa?
Dan lucunya pernah juga saya melihat anak SMA yang duduk pas di sebelah saya, dan pas juga di depan pintu masuk angkot. Yah sewajarnya siswi SMA, dia memakai rok abu-abu. Sewaktu angkot berhenti alias NGETEM, orang-orang yang ada di luar teriak-teriak, “hai, kuning.. kuning..”. Saya heran, ada apa dengan warna kuning? Perasaan tidak ada yang memakai warna kuning. Apa mungkin ada yang boker di angkot? Ah tapi tidak.. Setelah saya perhatikan, gadis SMA sebelah saya ngomel-ngomel “ah sebel.. ah bete..”. Hahaha ternyata dalaman dia terlihat sama para preman pinggir jalan itu. Ya neng, mbo ya kalau duduk di angkot itu hati-hati toh.. Beramal sih boleh, tapi itu terlalu beramal banyak namanya!

Yah masih banyak lagi cerita-cerita lucu yang terjadi di angkot. Saya yakin, kalian juga pasti pernah mengalaminya. Selain kebodohan-kebodohan juga terjadi tindakan kriminal. Pastinya kita juga tahu, angkot itu tidak aman! Semua orang pasti sudah tahu kalau di angkot itu sering terjadi tindak kriminal, yaitu penjambretan! Beberapa pria yang datang bergiliran dari satu tempat ke tempat yang lain dengan jarak kira-kira 10 meter, duduk mengerubungi target, membawa tas ransel yang besar padahal isinya cuma udara saja. Hati-hati kalau ada yang seperti itu. Biasany setelah mereka masuk ke dalam angkot, salah satu dari mereka yang duduk di sebelah target persis pura-pura muntah-muntah, padahal itu motif dia untuk mengalihkan perhatian para penumpang. Dan pada saat dia muntah-muntah, seseorang yang duduk di sebelah targetnya juga mengambil handphone di dalam tas target, dengan ditutupi oleh tas ransel yang sebesar gunung tangkupan perahu itu. Setelah itu, mereka turun bersama-sama. Dan si target kaget-kaget, kebingungan, menangis, dan menyesal karena tidak hati-hati. Sepreti itulah kronologi standarnya. Jadi buat para penumpang setia angkot, PEDULI PENUHLAH..

Begitulah kisah sebuah angkot, dari orang gila, mendengarkan MP3 keras-keras, sampai penjambretan, baru sedikit dari kisah-kisah yang terjadi di angkot. Yah memang ada sisi positifnya, mungkin dengan menjadi penumpang setia angkot kita bisa berkomunikasi dengan orang tidak waras. Tapi ada juga sisi negatifnya, jangan sampai handphone kita ikut-ikutan dijambret, jadi ada baiknya kita memakai tas 1000 lapis, atau kalau perlu koper dari kulit biar tidak bisa di gores pakai silet.

Tapi mau bagaimanapun juga, angkot sudah menjadi bagian kita hidup sehari-hari, khususnya bagi saya. Setiap hari saya berkecimuk dengan angkot. Setiap hari saya cemberut gara-gara angkot yang ngetem lama sekali. Biarkanlah jadikan kisah-kisah angkot ini sebagai pengalaman unik.. HIDUP ANGKOT!

WARIA JUGA MANUSIA


Saat ini dimana-mana dengan mudahnya kita menemukan waria. Khususnya di Kota Bandung. Setiap sudut Kota Bandung dipenuhi oleh waria-waria yang sedang beraktivitas. Ada yang mengamen di siang harinya, atau ada yang menjadi pekerja seks komersial di malah harinya. Pada umunya pandangan orang terhadap waria itu menggambarkan sesuatu yang negatif. Tapi apa semuanya negatif?

Waria sangat erat dengan dandanannya yang seronok dan menor. Baju-bajunya yang terbuka, layaknya wanita-wanita malam. Waria adalah lelaki, lelaki yang berdandan seperti wanita. Apa sebabnya mereka seperti itu? Selain karena hal biologi yang entahlah apa itu, sifat ini muncul karena pengaruh lingkungan terdekat. Atau mungkin memang sudah dari sananya seperti itu. Seperti yang diceritakan oleh Mbak Hani, ketua IWABA (Ikatan Waria Bandung), “Saya itu dari SD emang sudah tertarik sama laki-laki. Terus pas SMP saya nyoba-nyoba aja dandan, eh keterusan..”. Lingkungan bisa sangat mempengaruhi pertumbuhan seseorang. Lingkungan yang kurang baik bisa membuat seseorang menjadi buruk. Semua ini terjadi karena proses sosial, dan proses pembentukan jati diri.

Dan seperti yang kita tahu, waria kebanyakan dipandang negatif oleh khalayak. Tapi sebenarnya, waria tidak seburuk yang mereka kira. Ada yang bilang waria itu jahat. Padahal kalau kita mendekatinya dengan baik-baik, mereka juga akan berlaku baik pada kita. Seperti waktu saya menemui seorang waria yang biasa mengamen di bawah jembatan Pasupati, Mbak Ega. Dia menyambut saya dengan ramah. Awalnya saya memang takut, tapi lama kelamaan, saya merasa enak berbincang-bincang dengannya. Banyak sekali pengalaman-pengalaman mereka dalam kehidupan. Dan hal tersebutlah yang patut kita banggakan dari seorang waria.

Mereka tetap bertahan dengan keanehan mereka. Banyak orang mencemooh mereka, tetapi mereka terus bertahan. Waria bukanlah makhluk-makhluk hina. Walaupun tingkah laku mereka bisa dibilang menyimpang dari agama, tapi pada kenyataannya mereka tetap beragama. Ada suatu komunitas waria di Jakarta, yang rutin mengadakan pengajian. Dari situ juga kita bisa lihat, bahwa mereka tetap menjalankan kewajibannya sebagai orang yang beragama. Selain itu, solidaritas antar waria itu sangat tinggi. Dalam IWABA misalnya, kalau ada salah seorang waria yang sakit, waria-waria yang lain akan mengumpulkan uang untuk membantu si waria yang sedang sakit itu. Waria juga suka bersosial. Contohnya, salah satu waria di Kota Yogyakarta, dia sudah mempunyai beberapa anak asuh. Dan ketiga hal itu cukup mebuktikan kalau waria itu tidak selalu buruk.

Mungkin mereka memiliki alasan-alasan tersendiri mengapa mereka memilih menjadi waria. Ada beberapa diantara mereka yang karena memang untuk mencukupi kebutuhan hidup. Dan juga karena ada yang memang karena mereka nyaman dengan wujud dan kehidupannya yang seperti itu. Yang namanya nyaman memang susah diubah. Kita juga sama, kalau sudah merasa nyaman dengan sesuatu hal, kita juga pasti akan memilih hal tersebut.

Tapi sayangnya, perlakuan dari masyarakat masihlah memandang waria sebagai sesuatu yang buruk. Banyak dari mereka yang mencemooh waria. Seperti yang dikatakan Project Pop “Jangan Ganggu Banci!”. Kalau kita tidak mengganggunya, saya yakin mereka juga tidak akan macam-macam kepada kita. Seperti kata pepatah “Don’t judge a book by it’s cover”. Itulah yang seharusnya kita lakukan pada waria. Jangan saja karena waria itu berpenampilan sangat menyimpang lalu kita menganggap mereka juga buruk. Waria juga manusia. Kita sebagai manusia yang diberi kenormalan oleh Tuhan YME, tidak seharusnya mencemooh waria, tetapi mari kita rangkul waria. Mereka juga sama seperti kita, manusia yang memiliki hati dan perasaan.